
Farhan termenung di dalam kamar seorang diri. Subuh dia sampai di kampung halaman. Bibi yang menjaga rumah orang tuanya mengatakan jika Rachel tidak ada ke sini.
Bibi menjadi heran saat Farhan bertanya tentang istrinya itu. Pria itu meminta pada bibi untuk tidak mengatakan semua ini saat ayah dan ibu kembali dari tanah suci.
Farhan duduk di taman belakang rumahnya. Teringat dengan Rachel yang selalu manja sebelum wanita itu tahu jika dia mencintai wanita lain.
"Kamu di mana, Chel? Aku janji Chel, akan menjaga ucapanku. Aku tidak akan menerima tamu jika kamu tidak suka. Pulanglah Chel. Aku rindu masakanmu, menjamu, dan ucapanmu yang selalu menasihati aku. Aku rindu semua yang ada pada diri kamu, Chel," ujar Farhan sambil memandangi foto yang ada ditangannya.
Saat Farhan masih termenung memikirkan istrinya, bibi datang dengan wajah pucat membuat Farhan heran.
"Bi, kenapa?" tanya Farhan.
"Anu den. Anu ...." Bibi tidak bisa bicara apa-apa selain itu.
__ADS_1
Farhan menatap bibi dengan keheranan. Apa yang ingin wanita paruh baya itu katakan. Mengapa bibi gugup sekali? Tanya Farhan dalam hatinya.
"Bibi, coba tarik napas dalam. Buang. Dan tarik lagi. Setelah agak tenang, baru bicara," ucap Farhan. Entah mengapa pikiran Farhan sebenarnya juga sedang tidak baik. Hatinya gelisah dari pagi.
"Maaf Den. Bibi dapat telepon dari ketua rombongan haji ayah dan ibu, kalau mereka ...."
Bibi kembali menghentikan ucapannya. Dia menangis terisak. Melihat itu Farhan lalu mendekati bibi. Pria itu memegang kedua bahu bibi. Wanita paruh baya yang telah bekerja dengan keluarganya sejak dua puluh tahun silam, saat dia masih berusia delapan tahun.
"Bi, ayah dan ibu kenapa? Katakan dengan jelas!" ucap Farhan sedikit gemetar. Dia takut akan mendengar sesuatu berita buruk.
Farhan tidak bisa lagi menahan bobot tubuhnya, hingga jatuh ke lantai. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tidak mungkin ibu dan ayahnya meninggalkan dia.
"Bibi tidak bercanda 'kan?" tanya Farhan dengan suara gemetar.
__ADS_1
Rasanya dunia ini seperti runtuh mendengar kabar itu. Bibi berjongkok dihadapkan anak majikannya itu. Memeluk Farhan untuk memberikan kekuatan.
"Sabar, Den. Bibi juga rasanya tidak percaya mendengar berita Itu. Dua hari yang lalu ibu masih menghubungi bibi," ucap Bibi.
"Apa yang ibu katakan, Bi?" tanya Farhan dengan suara gemetar menahan tangisnya.
"Ayah dan ibu berpesan agar bibi tetap jaga rumah ini. Dia bilang, ingin rumah ini ditempati nak Rachel. Ibu juga berpesan jika Rachel datang, sampai kan pesannya. Bibi juga heran kenapa ibu berkata begitu. Bibi lalu tanya, kenapa ibu berkata begitu?" Bibi mengatakan semua pesan ibunya.
Ternyata sebelum melihat Rachel di rumah sakit, ayah dan ibu berpesan jika rumah ini diberikan untuk menantunya Rachel. Farhan makin terisak mendengar pesan kedua orang tuanya.
"Pantas saja ayah dan ibu begitu kecewa saat mendengar aku dan Rachel akan berpisah. Ternyata dia begitu menyayangi Rachel dan ingin dia yang menjaga rumah ini," ucap Farhan pada dirinya sendiri.
Farhan bangun dan menghubungi orang suruhannya untuk mencari kepastian mengenai kabar meninggalnya kedua orang tuanya. Dia belum yakin jika ayah dan ibu meninggal di Mekah.
__ADS_1
"Aku hanya bisa menyesali kegagalan yang aku alami. Aku yang seharusnya bisa menjadi seseorang yang kalian banggakan, justru mengecewakan kalian. Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan atas kegagalanku untuk membahagiakan kalian. Beribu kata maaf yang aku ucapkan kepada kalian, tidak akan pernah bisa menghapus segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku yang selama ini sibuk dengan dunia sendiri, hanya bisa menyesali apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku lupa bahwa ada yang lebih penting dibandingkan kebahagiaan diriku sendiri yaitu kebahagiaan kalian berdua. Ayah dan Ibu, maafkan anakmu ini."
...----------------...