TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 53. Diari Ibu


__ADS_3

Farhan telah memdapat kepastian dari orang kepercayaannya jika kedua orang tuanya memang telah tiada. Pria itu tidak bisa lagi menahan air matanya.


Malam hari setelah solat isya, Farhan masuk ke kamar orang tuanya. Sejak dia dewasa, tidak pernah lagi masuk ke kamar itu. Dulu dia sering tidur bareng kedua orang tuanya hingga tamat sekolah dasar.


Farhan menghidupkan lampu kamar. Tampak jika suasananya masih sama. Kamar tetap tertata rapi karena bibi setiap hari tetap membersihkan.


Di dinding ada foto dia dan kedua orang tuanya. Farhan mendekati lemari. Dibukanya pintu lemari. Baju kedua orang tuanya itu juga masih tersusun rapi. Bau wangi baju tercium.


Farhan membuka laci yang ada dalam lemari. Ada buku diari di dalamnya. Pria itu mengambil dan membawa ke tempat tidur. Duduk di tepi ranjang buku diari di buka lembar perlembar.

__ADS_1


Diari ibu berisikan doa-doa dan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Farhan masih membuka satu-satu lembarannya. Hingga sampai pada satu lembaran yang menarik perhatian Farhan.


Farhan membacanya kata demi kata dengan teliti. Di sana tertuang perasaan ibu pada Andin, wanita yang dia cintai.


"Maafkan ibu, Nak. Bukannya ibu ingin menentang pilihanmu, tapi hati ibu yang tidak bisa menerima kehadirannya. Saat bicara dengan ibu, selalu saja bertanya tentang keuangan ayahmu. Padahal itu sangat pribadi. Dan dengan lantang dia mengatakan pada ibumu, jika nanti kami datang melamarnya, kami harus membawa uang yang banyak. Ibu kurang suka wanita yang matre, Nak. Maafkan ibu jika tidak merestui hubunganmu dengan Andin."


Farhan menarik napas dalam setelah membacanya. Menyesali kenapa ayah dan ibunya tidak pernah mengatakan ini. Pria itu lalu membuka lembaran berikutnya.


Air mata Farhan tidak bisa dibendung lagi. Jatuh membasahi pipinya. Menyesal karena pernah marah pada kedua orang tuanya hingga satu tahun lamanya dia tidak pulang ke kampung. Dengan tangan gemetar pria itu membuka lembaran berikutnya.

__ADS_1


"Untukmu putraku, dengarlah pesan ibumu ini, jika kamu nanti telah punya pasangan jagalah baik-baik dua hal ini, yaitu jaga hatimu dan jaga mata pasanganmu. Jaga hatimu dari perempuan selain istrimu. Jaga mata istrimu, jangan buat dia menangis. Karena air mata istrimu bisa membawamu ke neraka. Ratukan istrimu, seperti orang tuanya memperlakukan dia."


Membaca lembaran ini, Farhan langsung teringat istrinya Rachel. Dia sering membuat wanita itu menangis. Dia juga menduakan hatinya. Farhan menarik rambutnya frustrasi. Teringat akan kesalahan yang dia lakukan pada istrinya.


Farhan menutup diari. Mengusap matanya yang berair. Setelah sedikit tenang, dia membuka kembali lembaran selanjutnya.


"Anakku, jika kamu berpikir ibu akan selalu ada untukmu itu salah. Saat kamu sering mengabaikan ibu, sering membantah, sering berdebat, bahkan sering mengecewakan, ibu harap kamu tidak akan menyesal, karena ibu hanyalah manusia, bukan makhluk yang bisa hidup kekal selamanya. Suatu saat ibu pasti akan pergi meninggalkan kamu. Allah bisa memanggil ibu kapanpun, tanpa persetujuan darimu. Di sisa hidup, ibu hanya ingin perlakuanmu yang bersahabat. Karena jika kelak kita berpisah, tidak ada rasa sesal dan kecewa."


Membaca lembaran yang ini, kembali Farhan terisak. Teringat saat terakhir dia bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia masih saja memperdebatkan tentang Andin.

__ADS_1


"Ayah, ibu, maafkan anakmu ini. Aku janji akan menjaga amanahmu. Akan aku bawa Rachel ke rumah ini. Akan aku serahkan padanya. Maafkan aku ayah, maafkan aku ibu," ucap Farhan dengan terisak.


...----------------...


__ADS_2