TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 6 S2. Aku Membencimu, Axel


__ADS_3

Dita telah mengatakan pada ibunya untuk tidak menitipkan bekal lagi untuk Axel. Saat ini dia belum mau bicara dengan pria itu.


Sampai di sekolah, Dita memarkirkan mobil dan langsung menuju kelas. Ternyata di dalam kelas ada Axel yang sedang duduk mesra dengan Lisa. Memeluk pundak kekasihnya itu. Mereka tertawa dengan bahagia.


Pandangan mereka bertemu. Dita menarik napas dalam agar bisa menahan rasa sebak dalam dadanya.


Tatapan mata Axel selalu dingin dirasakan Dita dan itu hanya ditujukan padanya. Kapan terakhir kali Axel memberi tatapan hangat. Mungkin saat mereka Axel belum merasakan jatuh cinta pada kawan jenisnya. Axel saat ini cenderung kasar, dingin dan tidak tersentuh.


Dita mengambil bekal yang dia bawa. Berjalan tanpa melihat ada kaki Lisa melintang. Gadis itu terjatuh. Bekal yang dia bawa berserakan dan mengenai sepatu Lisa.


Melihat sepatu kekasihnya kotor, Axel marah. Dia berjongkok membersihkan sepatu Lisa.


"Biar aku saja yang Bersihkan, Axel," ucap Lisa.


"Apa matamu tidak bisa melihat?" tanya Axel dengan penuh penekanan.


Dita yang menunduk karena mengutip makanannya, jadi terkejut. Dia tidak menyangka Axel makin kasar dalam berucap. Memandangi Axel dengan tajam.


"Kenapa? Tidak terima? Aku berkata yang benar. Kamu tidak bisa apa melihat ada kaki hingga tersandung. Kaki sebesar ini loh, bukan pasir yang halus," ucap Axel.


"Aku memang buta. Buta karena pernah mengagumi kamu. Padahal pria seperti kamu itu tidak pantas untuk dikagumi. Saat ini mataku mulai terbuka. Terima kasih karena telah menyadarkan aku," ucap Dita.


Tanpa mereka sadar, kelas sudah mulai penuh dengan siswa yang berdatangan. Mereka heran melihat Axel dan Dita yang berdebat. Semua juga tahu, dari kelas satu mereka selalu bersama.


Dita berdiri dan berlari keluar dari kelas. Masuk ke kamar mandi tangisan Dita pecah. Dia tidak menyangka jika hatinya sesakit ini mendengar ucapan kasar dari pria itu. Cukup lama menangis, Dita keluar dari kamar mandi dengan tergesa. Takut jika pelajaran telah dimulai.


Dita yang berjalan tergesa tidak melihat saat ada sepasang kekasih yang sedang menuju ke toilet sehingga menabraknya.


"Maaf, aku tidak sengaja!" ucap Dita. Dia mendongakkan kepalanya dan kembali terkejut melihat siapa yang dia tabrak.

__ADS_1


Lagi-lagi dia melakukan kesalahan yang sama dengan menabrak Lisa dan Axel. Mungkin mereka juga ingin membersihkan sepatu Dita.


"Sebenarnya mau kamu apa, Dita? Jangan bilang kalau kamu tidak sengaja? Dua kali kamu sengaja menabrak Lisa. Apa salah Lisa denganmu!" ucap Axel dengan suara cukup keras.


Beberapa siswa yang ingin ke toilet memperhatikan mereka. Dita menjadi malu.


"Aku benar-benar tidak sengaja," ucap Dita.


"Tolong katakan pada Tante Yuni untuk membawa kamu periksa mata!" ucap Axel lagi.


"Jangan bawa-bawa ibuku. Aku yang salah. Aku minta maaf," ucap Dita masih mencoba menahan tangisnya.


"Apa kamu iri karena Lisa menjadi kekasihku?" tanya Axel lagi.


"Sudahlah Axel. Jangan begitu. Lihatlah, kita jadi pusat perhatian. Dita juga sudah meminta maaf," ucap Lisa mencoba menahan Axel agar tidak lebih marah.


Axel bukannya berhenti, tapi dia kembali berkata kasar. Dengan suara yang lebih besar lagi.


Dita tidak bisa lagi menahan air matanya mendengar bentakan Axel. Baru kali ini dia dibentak selama mengenal pria itu. Melihat Dita yang menangis ada rasa bersalah di diri Axel.


Dita berlari dari hadapan Axel dan Lisa. Dia berhenti di sudut taman. Berjongkok memeluk lututnya dengan tangan gemetar.


Rasanya semua seperti mimpi. Dia tidak percaya jika Axel yang sangat dia kagumi membentaknya. Dita kecewa pada diri sendiri yang masih saja mengagumi pria itu.


Axel dan Lisa mengikuti Dita. Ada juga Syifa dan beberapa teman lainnya. Pelajaran telah di mulai sehingga yang lain bubar akhirnya.


Di taman hanya tinggal mereka berempat. Dita, Axel, Lisa dan Syifa. Axel berdiri dihadapan Dita. Mengulurkan tangannya. Tanpa pria itu duga tangannya di tepis Dita.


"Berdirilah, kau sangat menyedihkan jika begitu," ucap Axel.

__ADS_1


Dita mendongakan kepalanya, tatapannya beradu dengan Lisa, kekasih Axel. Wanita itu tampak tersenyum.


"Berdirilah ...! Sangat memalukan menangis di sini!" ucap Axel lagi.


"Apa pedulimu?" Dita berucap dengan suara bergetar.


Dita masih berjongkok. Mengacuhkan Axel dan Lisa. Pria itu tampak tidak sabaran. Dia menarik tangan Dita dengan keras sehingga gadis itu terpaksa berdiri.


"Aku tidak peduli denganmu. Aku hanya tidak mau orang berpikiran jelek tentangku apa lagi dengan Lisa. Aku tidak mau nanti satu sekolah menyalahkan Lisa!" ucap Axel.


"Sakit, Axel," ucap Dita. Air matanya makin deras mengalir membasahi pipi.


Syifa yang melihat dari tempat dia bersembunyi mengepalkan tangan geram. Ingin rasanya mendorong Axel agar menjauh dari Dita.


Mendengar ucapan Dita, Axel sempat terdiam. Dia melihat pergelangan tangan wanita itu memerah bekas cengkeraman tangannya tadi.


"Jangan mencari perhatianku dengan bersikap menyedihkan seperti ini, Dita," ucap Axel.


Dita memandangi Axel dengan mata melotot dan tajam. Sepertinya emosi Dita mulai tersulut. Dia mendorong tubuh Axel dengan kuat, hampir saja pria itu tersungkur jika Lisa tidak menahan tubuhnya.


"Dengar Axel, aku membencimu. Aku sangat membencimu ... Demi apa pun aku tidak akan pernah melupakan perlakuanmu ini padaku. Sekali lagi, dengarkan aku Axel ... Aku sangat sangat membencimu!" teriak Dita.


Dita mengusap air mata di pipi dengan kasar. Dadanya terasa sangat sesak. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi.


Axel sempat tertegun dan terdiam. Baru kali ini dia melihat Dita berteriak dan marah. Selama ini dia mengenal Dita sangat lembut dalam bertutur kata.


"Bencilah aku sebanyak yang kamu mau, Dita. Aku tahu kamu memiliki perasaan lebih padaku. Jadi aku harap dengan membenciku, kau akan bisa mengubur semua perasaanmu padaku. Tapi jangan lupa, kau juga harus menjauh dariku. Menjauh sejauhnya. Carilah pria lain. Aku tahu perasaan sukamu padaku hanya karena kita telah terbiasa bersama!" ucap Axel.


Setelah berkata itu, Axel membawa Lisa pergi dari hadapan Dita. Tanpa pedulikan gadis itu lagi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2