TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 35 S2. Apakah Kamu Mencintai Gafi?


__ADS_3

Tepat jam tujuh, Gafi telah sampai di kos Dita. Gadis itu baru saja selesai mandi dan solat magrib. Dengan rambut yang masih digulung dengan handuk, Dita membukakan pintu.


"Baru habis mandi?" tanya Gafi melihat penampilan sang kekasih. Dita mengangguk sambil tersenyum.


"Mana hair dryer?" tanya Gafi. Dita mengambilnya dari dalam lemari dan memberikan pada Gafi.


"Duduklah di sini!" perintah Gafi pada sang gadis. Dia meminta Dita duduk di sofa. Gafi lalu menghidupkan pengering rambut itu, dan mulai mengeringkan rambut Dita.


"Biar aku saja, Kak. Aku bisa sendiri," ucap Dita. Gafi tidak mengindahkan ucapan gadis itu. Dia tetap mengeringkan rambut gadis itu.


"Sekarang sudah kering rambutnya, kamu sisirlah yang rapi. Aku tunggu di mobil." Gafi lalu keluar dari kamar kos Dita. Dia berjalan menuju mobilnya.


Lima belas menit lamanya, Dita selesai dandan dan menuju mobil. Gafi membukakan pintu dan mempersilakan gadisnya masuk.


Sebelum ke hotel, Gafi membeli pizza untuk makan di hotel. Mama Alya juga sedang menantikan kedatangan gadis itu. Semua sedang berkumpul di restoran hotel buat makan malam.


Saat Gafi dan Dita masuk ke restoran, semua telah menunggu kedatangan mereka. Lisa yang wajahnya paling kesal melihat mereka berdua.


"Seperti bos saja, harus menunggu dia aja terus kita nih," omel Lisa pelan, tapi masih dapat di dengar yang lain.


"Kamu sudah lapar, Lisa? Kenapa tidak ngomong dari tadi. Kamu bisa makan duluan. Kalau Tante mau menunggu calon menantu dulu," ucap Alya dengan tersenyum.


Dita yang mendengar ucapan Alya yang menyebut dia calon menantu jadi tertunduk malu. Gafi tersenyum melihat kekasihnya itu.


"Keinginan Mama untuk memiliki menantu akan segera terwujud, kamu mau menikah muda 'kan, Dita?" tanya Gafi.

__ADS_1


"Kakak ngomong apa, malu," ucap Dita.


"Kenapa malu, Dita. Kamu 'kan memang calon menantu kami. Duduklah. Ada yang sudah kelaparan. Takutnya nanti pingsan," ucap Alya lagi.


Gafi menarik kursi untuk tempat Dita duduk. Mereka semua langsung menyantap hidangan yang di sediakan. Setelah makan Alya mengeluarkan sesuatu.


"Dita, tadi Tante dan Om mampir ke toko perhiasan, kami melihat ada gelang yang bagus. Cocok untuk kamu. Sini tangannya, biar Tante pasangkan," ucap Alya.


"Tante, kenapa harus repot," ucap Dita.


"Kami tidak merasa repot, Kok."


Alya memakaikan gelang ke tangan Dita. Dia tampak tersenyum melihat gelang itu pas di tangan sang gadis.


"Kenapa matamu tidak bisa lepas dari Dita? Kamu menyesal memilihku dari pada Dita?" tanya Lisa dengan berbisik.


Axel lalu mengalihkan pandangannya. Dia lalu berbisik, "Jangan memulai pertengkaran lagi, Lisa. Dari kemarin kamu selalu saja mencari masalah."


Dita kembali duduk ketempatnya. Dia mengeluarkan kalung dari baju dan memperlihatkan pada Alya.


"Ini juga dari Kak Gafi, dua tahun lalu," ucap Dita.


Rachel tampak sangat terkejut saat Dita mengatakan jika dia diberikan kalung dua tahun lalu. Dalam hati wanita itu berkata, jadi selama ini Gafi menyembunyikan keberadaannya Dita. Dia merasa ditipu sama ponakannya itu.


"Jadi dua tahun lalu, Gafi telah tahu Dita kuliah di sini?" tanya Rachel dengan lirih.

__ADS_1


Dita yang tidak mau Gafi disalahkan, langsung bersuara membela pria itu. Karena semua memang atas permintaannya, agar Gafi menyembunyikan keberadaannya dari siapa pun.


"Aku yang minta Kak Gafi menyembunyikan semua ini, Ma," jawab Dita.


"Termasuk Mama?" tanya Rachel lagi.


Dita hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaannya Rachel. Dia bisa pastikan jika Mamanya Axel itu sangat kecewa mengetahui ini.


Semua terdiam, tidak ada yang bersuara. Hingga akhirnya bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Dita lalu mendekati Rachel yang berjalan seorang diri. Gadis itu memeluk pinggang Mamanya Axel itu.


"Mama, pasti Mama saat ini sangat marah denganku. Tapi aku punya alasan melakukan semua itu!" ucap Dita.


Rachel tidak bersuara. Masih diam. Mungkin dia terlalu kecewa dengan sikap Dita. Padahal Dita tahu, betapa dia sangat menyayangi gadis itu. Kenapa dia bisa menyembunyikan keberadaannya?


Sampai di kamar, Rachel mengajak Dita duduk di sofa yang ada dekat jendela. Gafi tidak mengikuti mereka. Dia memberi waktu untuk Rachel bicara empat mata dengan Dita. Dia harus memberikan ruang agar mereka berdua bisa saling terbuka dan mengeluarkan semua keluh kesah mereka berdua.


"Banyak yang ingin mama tanyakan padamu. Mama harap kamu menjawab dengan jujur," ucap Rachel.


"Silakan, Ma! Semuanya akan aku jawab dengan jujur," jawab Dita.


"Apakah kamu mencintai Gafi, bukan hanya sebagai pelarian?" tanya Rachel.


Dita menarik napas dalam. Dia sudah bisa menebak jika Rachel pasti akan menanyakan ini.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2