
Dita masuk ke rumah dengan berlari kecil. Baru empat hari tidak bertemu dengan ayah dan ibu, rasa kangennya telah memuncak. Melihat ayah dan ibunya yang sedang menonton, Dita langsung duduk di tengah keduanya.
Dita mengecup pipi ayah dan ibunya. Begitu juga kedua orang tuanya, melakukan hal yang sama.
"Ayah, aku kangen banget. Apa Ayah dan Ibu sehat?" tanya Dita.
Gafi menyalami kedua orang tua istrinya. Dia lalu duduk di sofa sebelah kanan mertuanya. Dita masih terus memeluk ayahnya.
"Kamu tak malu dengan Gafi? Sekarang sudah menikah, tapi masih manja sama ayah," ucap Reno. Dia mengusap kepala sang putri.
"Kenapa malu? Aku sudah katakan sama Kak Gafi, kalau Ayah adalah cinta pertamaku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Ayah dalam hati ini," ucap Dita manja.
"Kalian sudah makan?" tanya Ibu Yuni.
"Belumlah, Bu. Aku sengaja tidak makan di rumah mama, biar lapar. Jadi bisa makan masakan Ibu banyak-banyak," jawab Dita.
"Kalau gitu, makanlah dulu. Ayah dan Ibu sudah makan. Nanti kita mengobrol lagi," ucap Yuni.
"Siap, Bos!" ujar Dita. Dia lalu berdiri dan mengajak Gafi ke dapur.
Di atas meja tersedia lauk kesukaan Dita. Ibu Yuni memang tahu jika putrinya akan pulang. Dia sengaja masak lauk kesukaan anaknya.
"Lahap benar makannya, Sayang!" ucap Gafi, melihat istrinya makan dengan sangat lahap.
__ADS_1
"Tidak ada masakan seenak makanan yang ibu masak. Aku selalu rindu. Makanya Ibu sering mengirim makanan ke kos karena tahu, aku begitu menyukai semua lauk yang ibu masak," jawab Dita.
Keduanya makan sambil mengobrol. Gafi sesekali menyuapi nasi di dalam piringnya ke mulut sang istri. Gafi begitu memanjakan istrinya.
***
Rachel membuka pintu kamar putranya. Axel yang sedang bermain ponsel tersenyum dengan sang mama.
"Mama boleh masuk?" tanya Rachel.
"Silakan, Ma!" jawab Axel.
Rachel berjalan masuk dan duduk di tepi ranjang. Dia tersenyum sebelum bicara. Wanita itu ingin bertanya, kenapa hubungannya dengan Lisa berakhir.
"Tanyakan saja apa yang ingin ibu ketahui," jawab Axel.
Rachel kembali tersenyum. Dia menarik napas dalam. Wanita itu ingin tahu, apakah perubahan sikap anaknya seminggu ini karena pengaruh dari putusnya hubungan sang putra dengan kekasihnya atau ada masalah lain.
Seminggu belakangan ini putranya tampak pendiam dan sering mengurung diri di kamar. Walau Rachel kurang menyukai Lisa tapi jika perubahan sikap Axel karena putusnya hubungan dengan Lisa, tentu saja dia sebagai ibu akan merasa sedih juga.
"Kenapa hubungan kamu dengan Lisa bisa berakhir?" tanya Rachel dengan suara lembut.
Axel langsung menunduk, tidak berani menatap wajah sang mama. Dia teringat saat pertama berhubungan dengan Lisa, Rachel sudah menentang. Tapi dia tetap dengan pendiriannya. Baru sekarang dia menyesal dan mengakui jika mamanya benar.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja mendengar percakapan Lisa dan teman satu kamarnya, jika dia tidak pernah benar-benar mencintaiku. Dia mendekatiku karena tahu aku satu-satunya ahli waris. Dia berharap setelah menikah denganku bisa menguasai harta kita," ucap Axel pelan dengan menunduk.
Rachel meraih tangan putranya. Menggenggam eratnya untuk menujukan rasa simpati pada sang putra. Dari awal bertemu sudah terlihat jika Lisa bukan gadis yang tulus, walau mungkin tetap ada cinta dihatinya untuk Gafi.
"Apa kamu telah bicarakan ini pada Lisa?"
"Tidak ada yang perlu diomongin lagi, Bu. Aku telah memutuskan tidak ada lagi hubungan di antara kami. Semua telah berakhir!" jawab Axel.
"Mama tidak bisa melakukan apa pun. Semua terserah kamu, karena yang akan menjalankan kamu. Cuma ibu harap semua tidak ada hubungan dengan Dita. Ibu takutnya perasaan kamu berubah setelah bertemu Dita lagi. Ingat, Nak, kamu dulu yang melepaskan dia pergi, dan seharusnya kamu ikhlas dan rela saat dia berlabuh di hati orang lain. Lepaskan semua perasaan yang mungkin masih tersisa. Apa lagi yang menjadi pilihan Dita adalah sepupu kamu. Jangan karena ini hubungan persaudaraan jadi terganggu," ucap Rachel.
Dia menasihati putranya setelah melihat masih ada cinta di mata anaknya untuk Dita. Itu terlihat jelas setiap Axel menatap Dita tanpa kedip.
"Aku tahu, Ma. Tidak akan aku mengorbankan persaudaraan hanya karena cinta," jawab Axel.
"Baguslah kalau kamu berpikir begitu. Nanti Lisa mau datang, dia tadi menghubungi mama, mengatakan ada yang ingin dia bicarakan dengan mama. Apa kamu ingin menemuinya?" tanya Rachel.
"Tidak, Ma. Katakan saja aku sedang di luar. Aku sudah malas bertemu dengannya," jawab Axel.
"Baiklah. Kamu istirahatlah lagi. Mama akan turun. Pasti sebentar lagi Lisa sampai."
Setelah mengucapkan itu, Rachel berdiri dan berjalan keluar dari kamar sang putra. Saat menuruni tangga, dia melihat bibi sedang membuka pintu dan melihat Lisa berjalan masuk.
...----------------...
__ADS_1