
Seorang pria membuka pintu kos yang membuat Dita terkejut. Namun, pria itu sepertinya belum mengenali siapa dirinya.
"Kak Gafi, aku kira siapa? Kak Rionya mana?" tanya Elfa.
"Rio keluar cari makanan. Pantas tadi dia semangat keluar buat beli makanan, ternyata mau kedatangan dua bidadari," ucap Gafi.
Pria itu memandangi Dita dengan intens, sehingga dia malu dan menunduk. Dita menarik napas dalam. Heran karena Gafi tidak mengenalnya.
Dita memang merubah semua penampilannya. Dia tidak menggunakan kaca mata lagi. Di ganti dengan lensa kontak. Dia juga memanjangkan rambutnya.
"Jangan menggoda temanku, Kak. Dia tidak tertarik dengan laki-laki," ucap Elfa.
"Whattt ...? Jadi dia penyuka sesama?" tanya Gafi.
Tangan Elfa langsung mendarat di lengan Gafi mendengar ucapan pria itu. Bagaimana mungkin pria itu bisa berpikir sejauh itu. Gadis itu tidak bisa menahan tawanya.
"Bukan maksudnya begitu, Kak. Dia lagi tidak tertarik dengan pria. Masih konsentrasi dengan pendidikan. Kekasihnya hanya mata pelajaran kuliah," jawab Elfa.
Dita awalnya kesal mendengar pertanyaan Gafi menjadi tersenyum setelah mendengar jawaban dari sahabatnya Elfa. Gadis itu memang selalu saja meledaknya dengan sebutan itu. Berpacaran dengan buku mata pelajaran.
"Syukurlah, aku kira dia berbeda. Takut juga jika kamu berteman dengan gadis seperti itu," ucap Gafi.
Dita yang sudah tidak tahan lagi mendengar ucapan Gafi menegakan kepalanya dan menatap Gafi dengan sorot mata tajam. Kesal melihat pria itu yang tidak juga mengenal dirinya. Apakah perubahan pada dirinya begitu banyak sehingga dia lupa? Tanya Dita dalam hatinya.
__ADS_1
"Kak Gafi jangan ngomong sembarangan, nanti aku adukan sama Mama Alya," ucap Dita akhirnya.
Gafi jadi terkejut saat nama mamanya di sebut. Dia balas menatap Dita tanpa kedip. Setelah itu dia menepuk jidatnya.
"Dita ...?" tanya Gafi hampir tak percaya. Gadis itu jauh berubah. Dia tampak sangat cantik dengan rambut tergerai.
Elfa yang kini memandangi keduanya dengan terkejut. Tidak percaya mereka telah saling kenal.
"Jadi kalian sudah saling kenal, nih?" tanya Elfa.
Gafi dan Dita hanya menjawab dengan anggukan kepala. Mereka juga tidak menyangka akan bertemu di sini. Memang Dita pernah dengar jika Gafi kuliah di kota ini tapi dia pikir kota sebesar ini tidak akan mungkin mereka bisa bertemu.
Gafi mengajak Dita dan Elfa duduk di bawah pohon yang rindang di halaman depan kos. Mereka mengobrol sambil menunggu kedatangan Rio.
"Axel tidak pernah cerita jika kamu kuliah di kota ini," ucap Gafi.
Gafi terdiam mendengar ucapan Dita. Dia sempat mendengar dari mamanya jika Axel telah memiliki kekasih. Gafi saat itu juga heran. Semua keluarga tahu jika Axel dan Dita selalu bersama. Cuma Gafi tidak bertanya banyak saat itu.
Belum sempat Gafi bertanya banyak, Rio datang dengan membawa dua tentengan. Ternyata gorengan dan jus. Dia meletakan di meja yang ada dihadapan mereka.
"Sudah lama datangnya?" tanya Rio.
"Baru satu jam," ucap Elfa dengan nada sedikit kesal.
__ADS_1
Dia dan Dita memang telah cukup lama datang. Mungkin gadis itu kesal karena menunggu sang kekasih.
"Maaf, tadi ban motorku bocor dan harus ditambal," jawab Rio.
"Alasan yang sangat klasik. Apa tidak ada alasan selain itu," ujar Elfa masih dengan nada ketus.
Rio yang sadar sang kekasih marah, lalu duduk mendekatinya. Dia meraih tangan Elfa dan menggenggamnya. Tidak peduli di sana juga ada Gafi dan Dita.
"Sayang, aku tak mungkin bohong. Jika kamu tidak percaya, kita bisa datangi tukang tambal ban itu. Bagaimana mungkin aku berani berkata bohong. Kamu itu segalanya bagiku, Sayang. Aku juga keluar untuk membeli camilan untukmu," ucap Rio merayu.
Mendengar gombalan receh dari sahabatnya, Gafi tidak bisa menahan tawanya. Hal itu membuat Rio menatap dengan mata melotot ke arah pria itu. Dia telah capek merayu kekasihnya, tapi ditertawakan sahabatnya.
"Kenapa tertawa?" tanya Rio dengan suara ketus.
"Gombalan kamu receh banget," jawab Gafi masih dengan tertawa.
"Mending receh tapi ada yang digombalin. Dari pada kamu, cuma bisa mengkhayal terus," ucap Rio.
Pandangan Rio jatuh ke Dita yang duduk di samping Gafi. Dia memandangi dengan intens wanita itu. Dita memang sangat cantik, apa lagi saat ini dia telah mengganti kaca mata minusnya dengan lensa kontak. Gadis itu tersenyum membalas tatapan Rio.
Elfa yang melihat Rio menatap Dita tanpa kedip langsung mencubit lengan kekasihnya itu. Kembali Gafi tertawa melihatnya.
"Di depan aku saja kamu bisa menatap gadis lain seperti itu, apa lagi jika dibelakang aku," ucap Elfa marah cemberut.
__ADS_1
Rio mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Dalam hatinya berkata jika dia harus merayu dan menggombal lebih lagi agar sang kekasih tidak marah.
...----------------...