TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 97. Kepergian Andin


__ADS_3

Andin berhenti di salah satu kantin. Dia kembali menghubungi Yuni. Andin ingin meminta maaf pada sahabatnya itu. Tempat dia biasa berbagi jika ada masalah. Saat ini semua yang dia rasakan hanya dia pendam dan rasskan sendiri. Tidak ada lagi teman yang selalu mendukungnya.


Setelah meminta maaf dengan Yuni, rencananya Andin juga akan meminta maaf pada Rachel. Dia juga telah berjanji dengan wanita itu sore hari setelah Farhan pulang kerja.


Setelah mengisi perutnya Andin lalu berjalan menuju sebuah toko mainan. Dia membeli boneka buat Grecia. Andin menunggu di pinggir jalan sambil minum air tebu.


Di kafe yang berada seberang jalan tempat dia janji akan bertemu Yuni, dia melihat mobil Reno. Andin segera berdiri. Wanita itu berteriak memanggil nama Yuni.


"Yuni ...," teriak Andin. Sahabatnya itu menoleh. Reno yang berada di samping Yuni menggenggam tangan calon istrinya itu. Awalnya Yuni enggan bertemu, tapi Reno meminta dia untuk menemui Andin saja. Reno bilang, mungkin dengan mereka bicara berdua akan membuat sakit hati Yuni berkurang.


Dengan berlari Andin menyeberang jalan. Entah karena ingin cepat bertemu Yuni, dia tidak melihat ada motor yang melaju kencang.


Motor itu menabrak tubuh Andin begitu kerasnya hingga terpelanting dan terhempas ke aspal dengan keras. Yuni yang melihat sendiri kecelakaan itu menjadi syok dan tubuhnya gemetar.

__ADS_1


"Andin ...." Teriakan Yuni bergema. Orang-orang sudah berkumpul di sekitar tubuh sahabatnya. Dengan berlari Yuni menuju ke tempat di mana tubuh Andin tergeletak bersimbah darah.


Yuni memeluk tubuh sahabatnya itu, sementara Reno mengambil mobilnya untuk membawa Yuni ke rumah sakit.


"Andin, bertahanlah. Aku akan membawa kamu ke rumah sakit," ucap Yuni terbata karena tangisannya. Dia tidak peduli pakaiannya yang kotor terkena darah yang banyak keluar dari kepala Andin.


"Maaf ...." Hanya satu kata itu yang Andin ucapkan sebelum akhirnya pingsan.


Reno menggendong tubuh Andin, meletakan dipangkuan Yuni di kursi belakang mobil. Pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Yuni terus saja menangis sambil memeluk tubuh sahabatnya itu.


Sampai di rumah sakit, Reno langsung menggendong tubuh Andin masuk ke IGD. Setelah itu Reno menunggu di luar. Dokter sedang menangani Andin.


"Ren, Andin pasti selamat 'kan? Dia tidak akan meninggalkan aku 'kan?" Yuni menangis dalam pelukan pria itu.

__ADS_1


"Kita berdoa semoga semua baik-baik saja." Hanya itu yang bisa Reno katakan. Dia juga tidak percaya dengan apa yang terjadi. Rasanya begitu cepat kejadian itu.


Pengendara motor yang menabrak Andin langsung melarikan diri. Reno dan Yuni menunggu dengan gelisah. Tidak berapa lama, Dokter keluar dari ruang IGD.


Reno dan Yuni langsung berdiri menghampiri Dokter. Ingin tahu keadaan Andin.


"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" tanya Yuni begitu berada dihadapan Dokter.


Dokter itu tidak langsung menjawab, dia tampak menarik napas panjang. Hal itu membuat Yuni makin kuatir.


"Maaf, Bapak, Ibu, kami telah memeriksa keadaan teman Anda. Saat sampai tadi, korban memang sudah tidak bernyawa. Mungkin telah pergi sejak di jalan. Kami turut berduka cita," ucap Dokter.


Tubuh Yuni terasa lemas mendengar ucapan Dokter itu. Rasanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Reno langsung memeluk tubuh Yuni yang hampir jatuh. Dunia seakan berhenti berputar. Dia menyesal kenapa tidak mau memaafkan sahabatnya itu. Akhirnya Yuni pingsan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2