TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 10 S2. Berpamitan Dengan Rachel


__ADS_3

Dita membuka mata dengan malas ketika alarm digital itu menghentak kesadarannya. Dia menutup mata dengan bantal ketika sinar matahari masuk lewat celah jendelanya, membuatnya merasa sedikit silau.


Dia menghela nafas dalam, sudah merasakan bahwa ada sesuatu yang harus dia lakukan saat ini. Jelas sebelum dia memutuskan untuk pergi ke luar kota, dia merasa harus berpamitan setidaknya dengan Rachel yang tidak lain adalah ibu dari Axel.


"Apa aku bisa melakukannya pagi ini?" Dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Sedikit ragu, dia merasa bahwa dia harus melakukan hal ini. Tidak enak rasanya apabila pergi begitu saja mengingat bahwa wanita itu sangat baik padanya selama ini bahkan juga mengharapkan agar dia dan Axel tetap bisa melanjutkan hubungan dengan baik.


Dengan langkah yang sangat berat dia beranjak dari kasurnya, pergi ke kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah pucat yang sangat menyedihkan. Selama beberapa hari terakhir ini, bisa dibilang dia memang sudah terlalu sering menangis. Rasanya memang berat apabila harus menerima kenyataan tentang Axel. Dia berusaha untuk melanjutkan hidupnya sendiri.


Seperti biasa dia menghabiskan banyak waktu di kamar mandi, apalagi dalam keadaan malas seperti ini. Dia keluar dari kamar mandi setelah hampir setengah jam. Memakai pakaian seadanya hari ini kemudian pergi ke rumah Axel.


Dita pamit dengan ibunya untuk pergi ke rumah Axel. Ibunya Yuni melihat dengan dahi berkerut.


"Apa kamu yakin ke sana sendirian, tidak mau Ibu temani?" tanya Yuni.


"Aku yakin, Ibu. Justru jika ada ibu aku bisa canggung," jawab Dita.


"Baiklah, Sayang. Sampaikan salam ibu untuk Mama Rachel," ucap Yuni.


Dita pamit dengan bersalaman dan mengecup kedua pipi ibunya.


Dita sampai di rumah itu dengan hati berdebar. Entah kenapa dia merasa kalau rumah ini bagaikan neraka baginya. Ada rasa takut ketika harus bertemu dengan Axel, namun dia juga ingin sekali berpamitan dengan Rachel.


Akhirnya, dengan sedikit memaksakan diri, dia pun memencet bel pintu rumah itu. Menunggu sejenak sampai wanita yang dia harapkan benar-benar membukakan pintu itu, merasa beruntung ketika menyadari bahwa yang membuka pintunya bukanlah Axel.


Rachel tersenyum dengan sangat ramah kepada dirinya seperti biasa. "Oh, aku tidak menyangka kamu datang kemari. Mama sangat merindukanmu, Sayang. Masuklah."

__ADS_1


Dita tersenyum gugup kemudian melangkah masuk ke ruang tamu itu. Duduk sejenak di salah satu sofanya yang nyaman. Dia tertunduk dengan nafas tersengal.


Jantungnya semakin berdebar kencang, ada keinginan untuk mundur namun juga sudah terlanjur datang kemari. Tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun hanya karena merasa gugup.


"Jadi apa hal yang membuatmu datang kemari? Ah, tunggu dulu! Biarkan mama menyiapkan cemilan untukmu."


Dita hanya bisa tertunduk dan tidak mengatakan apa pun ketika Rachel pergi menuju dapur untuk memberikan cemilan kepadanya. Dia menunggu dalam beberapa menit hingga kemudian wanita itu kembali ke ruang tamu bersama beberapa toples cemilan yang terlihat sangat enak. Ada kue brownies di sana, kue yang paling Dita sukai.


"Silakan, makanlah. Kamu suka kue brownies, bukan?" tanya Rachel.


Dita hanya bisa tersenyum ketika menyadari kalau Rachel bahkan tahu betul apa yang paling dia sukai. Rachel mungkin sudah menganggap dirinya sebagai anak sendiri selama ini. Sehingga dengan sangat mudah mengetahui apa pun yang disukai atau tidak disukai oleh Dita.


Dita tetap tertunduk dalam beberapa menit. Hingga kemudian Rachel mengatakan sesuatu. "Apa perlu mama panggilkan Axel? Saat ini dia sedang berada di kamarnya. Mungkin kamu ingin berbicara dengannya? Telah lama rasanya kamu tidak main ke sini, jika bukan mama yang ke rumah kamu tidak mau lagi ke sini!"


"Ah, tidak perlu, Ma. Sebenarnya aku ke sini bukan untuk berbicara dengannya." Dia menghela nafas lagi, merasa berat untuk mengatakan hal itu kepada Rachel.


"Jadi apa yang ingin kamu katakan, Sayang?" tanya Rachel lagi dengan penasaran, cukup sadar bahwa Dita merasa sangat berat untuk mengatakan hal itu dari ekspresinya. Dia malah semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh anak ini.


"Aku hanya ingin berpamitan karena beberapa hari lagi aku harus keluar kota. Aku akan melanjutkan kuliah di luar kota. Mungkin akan kembali selama beberapa tahun lagi,Ma." Dita merasakan jantungnya berdebar hebat ketika mengatakan hal itu, tapi juga ada rasa lega karena berhasil mengatakannya.


Sedangkan Rachel langsung terdiam, tidak menyangka sama sekali kalau inilah yang akan dikatakan oleh Dita. Tadinya dia mengira kalau Dita ingin membicarakan tentang hubungan dengan Axel dan meminta saran darinya, namun ternyata pikirannya itu jauh berbeda dengan apa yang terjadi sekarang.


Ruang tamu itu terasa sunyi. Angin masuk lewat celah jendela. Mereka berdua tidak mengatakan apa pun dalam beberapa menit, malah terjebak dalam situasi yang dingin dan beku itu. Dita untuk sekarang juga hanya bisa menunggu respon dari Rachel. Dia tahu kalau barangkali dia memang sudah mengecewakan wanita itu. Biar bagaimanapun perpisahan tetaplah menyakitkan, bagaimanapun bentuknya.


"Aku tidak menyangka sama sekali kalau kamu akan mengatakan itu. Jadi sebenarnya kamu sudah merencanakan ini jauh-jauh hari?" tanya Rachel akhirnya.

__ADS_1


Dita tersenyum pahit, dia mengangguk dengan hati yang sangat berat. "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini. Hanya saja memang sangat berat untuk mengatakannya, aku baru bisa mengatakannya sekarang, itu pun dengan sangat berat hati."


Rachel menghela nafas. Dia mengerti keadaan yang dihadapi oleh Dita saat ini. Dia juga mendukung apapun yang dipilih oleh Dita, bahkan barangkali jika memang hal ini bisa mengalihkan perhatiannya terhadap hubungannya dengan Axel, maka memang akan jauh lebih baik agar Dita pergi keluar kota untuk menempuh pendidikannya.


"Mama mengerti. Mama sama sekali tidak menyalahkanmu dalam hal ini. Kam berhak menentukan apapun yang ingin kamu lakukan. Lagi pula tidak ada yang mengatakan bahwa pendidikan itu adalah hal yang tidak perlu. Kamu akan punya teman baru dan juga pengalaman yang baru. Setidaknya kau bisa melanjutkan hidupmu setelah apa yang terjadi."


Dita kembali tersenyum. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Rachel. "Aku tidak bisa memaksakan apa yang dia inginkan. Kita tidak bisa juga mengatur dia harus suka kepada siapa."


Rachel menghela nafas, merasa ingin memberikan penghargaan kepada Dita yang sangat besar hati. Walaupun ini memang sangat sulit, dia juga mengakui bahwa mereka berdua tidak bisa memaksa Axel untuk tetap bersama Dita jika memang lelaki itu sudah menyukai perempuan lain dan ingin bersamanya.


"Tentu saja. Mama juga mengerti hal itu. Lakukan semua yang ingin kamu lakukan. Semoga kuliahmu berjalan dengan lancar di luar kota."


Dita tersenyum dan mengangguk. Setidaknya dia merasa lega karena berhasil berpamitan dengan Rachel. Dia tidak perlu lagi memikirkan sesuatu.


"Mama minta maaf, atas nama Axel," ucap Rachel akhirnya.


"Ma, tidak ada yang salah. Jadi tidak perlu minta maaf," ucap Dita.


Dita berpamitan. Rachel mencoba menahan air matanya agar Dita tidak merasa berat. Rachel berharap itu yang terbaik bagi gadis itu.


Malam ini dia sudah melakukan semuanya. Dia sudah berhasil meminta izin kepada ibunya dan juga sudah berhasil berpamitan kepada Rachel. Tidak ada lagi sesuatu yang terasa sangat berat dalam hatinya. Semua beban itu lepas begitu saja pagi ini. Tidak ada lagi sesuatu yang dia pikirkan selain persiapannya.


Tanpa Dita tahu, Axel mengintip kepergiannya dari kamar. Dia penasaran kenapa gadis itu datang ke rumah, tapi hanya sebentar. Biasanya Dita bermain hingga sore bahkan menginap.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2