TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 3 S2. Menjauhlah Dariku!


__ADS_3

Axel terdiam saat Mamanya bertanya mengenai cewek lain yang mungkin dia sukai. Farhan menatap putranya, menunggu jawaban dari sang putra.


"Ma, aku juga ingin mengenal dekat seorang wanita. Bukankah usiaku sudah hampir delapan belas tahun. Di sekolah aku selalu diledeki karena Dita yang selalu mengikutiku. Mereka selalu saja mengatakan jika Dita itu calon istriku. Aku tidak suka itu.Dia seperti benalu yang selalu saja menempel pada tumbuhan," ucap Axel.


Farhan yang mendengar ucapan putranya mengerutkan dahinya. Dia tidak suka dengan ucapan Axel.


"Axel, jaga ucapanmu, Nak. Jika Dita atau orang tuanya mendengar, mereka bisa tersinggung," ucap Rachel.


"Mama kamu benar, Papa tidak pernah mengajari kamu bicara seperti itu. Apa salahnya Dita mengikuti kamu. Dia mungkin merasa nyaman saat denganmu. Dari kecil bukankah kamu dan Dita selalu bersama, kenapa saat ini kamu baru merasa keberatan?" tanya Farhan.


Axel menarik napas dalam. Dia tahu kedua orang tuanya sangat menyayangi Dita seperti putri mereka sendiri. Dita juga sering menginap di rumah ini.


"Papa, saat ini kami sudah sama dewasa. Tentu saja berbeda sewaktu kecil. Aku juga memiliki privasi. Jika Dita selalu saja mengekor kemana pun aku pergi, aku juga merasa risih!" ucap Axel lagi.


"Katakan saja dengan jujur, apakah kamu memiliki gebetan? Sehingga merasa terganggu dengan kehadiran Dita," tanya Papa Farhan lagi.


Axel menunduk. Dia tidak berani menjawab ucapan Papanya. Walau sesungguhnya apa yang diucapkan Papa Farhan ada benarnya. Dia memang sedang mendekati seorang gadis, murid baru disekolahnya.


"Dita itu cantik, baik, lembut, apa lagi yang kamu cari dari seorang gadis. Semua ada pada dirinya," ucap Mama Rachel.

__ADS_1


Axel bergumam dalam hatinya, jika gadis itu tidak cantik. Jauh lebih cantik cewek yang dia taksir.


"Dita itu manja dan kolokan. Apa-apa harus di bantu. Aku tidak suka gadis manja. Aku suka yang mandiri!" ucap Axel.


Kedua orang tua Axel hanya diam saja. Mereka tidak mungkin memaksa putranya untuk menerima Dita. Walau dalam lubuk hati terdalam dia menginginkan sang putra menikah dengan Dita, tapi mereka tidak akan memaksa. Pilihan tetap jatuh pada diri anaknya.


Setelah jam sepuluh malam, Axel masuk ke kamar. Kedua orangnya juga ikutan masuk ke kamar mereka.


***


Axel berjalan dengan tersenyum setelah memarkirkan motornya. Dia ingin bertemu dengan cewek yang dia taksir. Sebelum tidur kemarin mereka saling chat.


"Axel, tunggu," panggil Dita.


Pria itu terpaksa berhenti. Dia tidak ingin suara teriakan Dita di dengar seluruh penghuni sekolah jika dia tetap berjalan.


"Ini ibu tadi menitipkan bekal untukmu," ucap Dita. Dia memberikan bekal yang diberikan ibunya untuk Axel.


"Tolong sampaikan ucapan terima kasihku untuk Tante Yuni," ucap Axel dan berjalan meninggalkan Dita tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


Dita mengikuti langkah Axel dengan sedikit berlari untuk mengimbangi langkah pria itu yang panjang-panjang. Menyadari ada yang mengikuti, Axel menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya.


"Kenapa kamu masih mengikutiku?" tanya Axel.


"Aku ingin sarapan denganmu," ucap Dita dengan suara lembut. Namun, itu tidak bisa membuat hati Axel terenyuh. Dia tampak kesal.


"Harus berapa kali aku katakan. Aku tidak suka kamu ikuti terus. Mulai hari ini aku harap kamu menjauh dariku. Aku juga punya privasi," ucap Axel dengan suara penuh penekanan.


Dita menarik napas berat. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan pria itu. Apakah Axel begitu membencinya sehingga berkata begitu. Dari kecil mereka selalu bersama tapi tidak pernah Axel merasa keberatan.


"Jangan ikuti aku. Ingat itu. Kamu bisa mencari teman wanita. Sebanyak ini murid, kamu pasti bisa mencari satu sebagai teman!" ucap Axel.


Axel kembali berjalan meninggalkan Dita seorang diri. Wanita itu menatap tanpa kedip kepergian pria yang dari kecil sangat dikaguminya.


Di depan Dita tampak Axel sedang mendekati seorang gadis, murid baru di sekolah mereka. Gadis itu memang sangat cantik dan gaul. Banyak siswa berlomba ingin dekat dengannya.


"Kamu pasti merasa sesak melihat pria yang kamu sukai bicara akrab dan tertawa dengan wanita lain," ucap seseorang.


Dita menoleh ke samping, ada Syifa teman satu-satunya selain Axel. Dita yang selalu bersama Axel dari kecil, memang pemalu dan tidak mudah akrab dengan orang lain.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2