
Rachel masuk ke dalam kamar saat Farhan mengantar teman-temannya hingga ke mobil. Andin berjalan pelan menuju mobil yang terparkir. Dia masih terus memandangi Farhan, berharap di tahan untuk menginap.
"Besok malam masih ada takziah lagi?" tanya Dodi.
"Masih ada dua malam lagi, aku mau selama tiga hari takziahnya," ucap Farhan.
Yuni dan Andin masuk ke mobil, duduk di kursi belakang. Sedangkan Mia duduk di depan.
"Kalau begitu kami akan di sini selama tiga hari. Setelah itu baru kembali ke kota. Kamu kapan kembalinya?" tanya Mia.
"Aku tergantung Rachel saja. Kapan dia mau kembali. Aku sudah mengambil cuti. Kerja dari sini juga bisa," ucap Farhan.
Mendengar jawaban dari Farhan, Andin makin cemberut dan membuang mukanya. Dia berbisik sesuatu dengan Yuni. Lalu wanita teman Farhan itu mengeluarkan kepalanya untuk mengobrol dengan Farhan.
"Bukannya kalian ada masalah?" tanya Yuni.
Farhan memandangi Yuni sambil tersenyum. Dia menarik napas dalam, dan kembali tersenyum. Mencari jawaban apa yang terbaik.
"Siapa yang bilang kami lagi ada masalah? Kamu lihat sendiri tadi kami baik-baik saja. Rachel lagi keluar kota, ke rumah saudaranya. Makanya baru datang," ucap Farhan.
__ADS_1
"Tapi sepertinya Rachel kaget saat tahu kedua orang tuamu meninggal," ucap Mia.
"Tentu saja dia kaget. Aku tidak mengatakan apa-apa tentang meninggalnya ayah dan ibu," ujar Farhan.
Ketiga teman wanita Farhan itu saling pandang. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.
"Sudahlah, aku rasa kalian memang terlalu ikut campur urusan rumah tangga Farhan. Pantas Reno sering kesal. Hargai apapun yang menjadi keputusan Farhan. Dia pasti dapat menilai, mana yang pantas sebagai pendamping hidupnya. Farhan, masuklah. Kami pamit. Siang besok kami datang lagi, itu juga jika istrimu mengizinkan," ucap Dodi.
"Aku yakin Rachel setuju saja kalian datang. Tapi aku tetap akan tanyakan dulu pendapatannya, besok aku kabari," ucap Farhan.
"Jika istrimu tidak mengizinkan, berarti kami tidak boleh datang?" tanya Andin dengan nada kesal.
"Maaf semuanya, aku tidak ingin ada salah paham lagi dengan istriku seperti saat di apartemen. Sekali lagi aku mohon maaf. Apa lagi ini rumah istriku, dia yang berhak bukan aku," ujar Farhan lagi.
"Rumah ini telah diserahkan dan diberi untuk Rachel," ucap Farhan.
Keempat teman Farhan kaget dan heran mendengar ucapan pria itu. Terutama Andin yang cukup mengenal ayah dan ibu pria itu. Seminggu tinggal di rumah ini, dia merasa telah mengenal baik sifat dan karakter orang tua mantan kekasihnya itu. Sedikit mengherankan jika dia begitu baiknya dengan Rachel, berbeda dengan dirinya.
"Itulah makanya aku tidak bisa menawarkan kalian menginap," ucap Farhan menambahkan ucapannya.
__ADS_1
"Tidak apa, aku mengerti. Kami juga seharusnya sadar, jika kamu telah berkeluarga dan tentu saja memiliki kehidupan yang berbeda, tidak bisa disamakan dengan saat lajang," ucap Dodi.
Kembali Dodi pamit dan menjalankan mobilnya. Tidak ingin teman wanitanya masih berdebat dan bertanya tentang rumah tangga Farhan lagi. Dodi mengerti juga dengan sikap Yuni dan Mia, jika dia lebih membela Andin dan mendukung Farhan dengan wanita itu karena mereka yang telah bersahabat lama.
Farhan masuk ke kamar dan melihat Rachel yang telah berbaring. Dia ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya itu. Farhan memeluk pinggang Rachel membuat wanita itu kaget dan membuka matanya.
Rachel melepaskan pelukan Farhan di perutnya. Itu cukup membuat suaminya keheranan.
"Maaf Mas, aku mau tidur sendirian. Bisakah Mas tidur di kamar tamu dulu?" tanya Rachel.
Bukannya dia dendam jika belum bisa menerima Farhan dan memaafkan semua salahnya, tapi Rachel masih belum bisa melupakan kejadian yang dialaminya selama menikah dengan pria itu.
Farhan bangun dari tidurnya. Dia masih berusaha tetap tersenyum. Menarik napas dalam. Dadanya terasa sesak mendapat penolakan dari istrinya.
"Aku tidur di sofa itu saja ya? Dosa loh kalau usir suami. Lagi pula apa kata bibi melihat aku tidur di kamar tamu. Nanti kita digosipin," ucap Farhan.
Dia turun dari ranjang. Berdiri di samping istrinya. Mengecup dahi wanita itu lembut.
"Selamat tidur istriku, semoga mimpi indah. Lupakan semua yang pernah menyakiti hatimu," bisik Farhan sambil mengecup pipi istrinya itu.
__ADS_1
Farhan lalu berjalan menuju sofa yang berada di dekat jendela kamar. Membaringkan tubuhnya di atas sofa.
...----------------...