TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 89. Menjelang Persalinan


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Tidak terasa empat bulan telah berlalu. Mia saat ini masih menggunakan kursi roda atau tongkat penyangga.


Sedangkan Andin harus bekerja di sebuah kafe untuk menyambung hidupnya. Dia tidak peduli lagi siapa ayah biologis putrinya. Grecia telah di asuh Alex. Dia mengambil hak asuh atas anak itu.


Andin saat ini tinggal di sebuah kamar liat yang sempit. Gajinya tidak cukup untuk menyewa yang lebih besar.


Di rumah kediaman Farhan, pria itu telah terbuai dengan mimpi bersama istri tercintanya Rachel.


Saat ini kehamilan Rachel telah memasuki bulan kedelapan. Farhan yang melihat istrinya sering kelelahan dan terkadang tampak kesulitan tidur makin posesif saja dengan wanita itu.


Farhan lebih sering menghabiskan waktu bersama Rachel di rumah dari pada di kantor. Setiap malam ketika Rachel sudah terlelap, dia akan mengelus perut istrinya dan selalu menangis mengingat waktu persalinan istrinya yang makin dekat. Farhan takut jika memikirkan itu.


Rachel yang perutnya sudah membesar tampak kesulitan ketika tidur, dia memiringkan tubuhnya menghadap Farhan dan menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya.Farhan yang merasakan pergerakan didadanya, membuka mata dan melihat wajah istrinya yang tampak meringis.


"Kenapa, Sayang? Apa ada yang terasa sakit?" tanya Farhan sambil mengusap punggung istrinya.


"Mas, kenapa pinggangku terasa sakit banget?" Rachel balik bertanya, bukannya menjawab pertanyaan Farhan.


"Apa ...?" tanya Farhan kaget. "Bukankah Dokter mengatakan tanda-tanda akan melahirkan pinggul dan pinggang sakit. Perut terasa keram, apa kamu merasakan semua itu" tanya Farhan dengan cemas.


"Iya, Mas. Saat ini aku merasakan semua itu," jawab Rachel sambil meringis.


"Hari perkiraan lahir masih bulan depan 'kan?" tanya Farhan untuk memastikan.


"Iya, tapi dari tadi pinggul dan pinggangku sakit banget, Mas," ucap Rachel mulai menangis.


"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya. Kakak akan ganti baju dulu. Kamu juga ganti bajunya. Kita lebih baik periksakan saja ke Dokter." Farhan langsung bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Farhan lalu mengambil pakaian Rachel dan membantu menggantinya, setelah Rachel berpakaian baru pria itu mengganti pakaiannya.


Farhan lalu meminta supir menyiapkan mobil, dia langsung menggendong Rachel masuk ke mobil. Beruntung saat ini kedua kakaknya Farhan sedang berada di kota ini. Pria itu lalu menghubungi keduanya.


Farhan mengelus pinggang Rachel agar ia sedikit nyaman. Memeluk istrinya erat. Sesekali mengecup pipi dsn dahi wanitanya.


"Mas, sakit banget." Rintih Rachel memegang pinggangnya.


"Tahan sebentar, Sayang. Pak bisa percepat bawa mobilnya." Farhan meminta supir mempercepat lajunya mobil.


"Ya Allah, aku mohon jaga istri dan anakku. Selamatkan nyawa keduanya." Doa Farhan dalam hati.


"Mas, aku ngompol ya" ucap Rachel begitu menyadari ada air yang keluar dari jalan rahimnya.


"Nggak apa, Sayang, nggak apa, jangan pikirkan itu. Kamu harus ingat jika kamu wanita kuat. Aku mau kamu bertahan demiku. Jangan pernah menyerah, kamu harus semangat." Farhan mengucapkan itu dengan terbata karena menahan tangis.


Farhan jadi teringat saat dia mengantar Arnetta, istri asistenya Rendi, ketika akan melahirkan. Dia juga mengeluarkan air yang dikira ngompol.


"Mas, sepertinya aku sudah nggak kuat, sakit banget." Rachel memeluk tubuh Farhan dan mencakar lengan suaminya untuk menahan rasa sakit.


"Sayang, jangan berkata begitu, kamu harus kuat, harus semangat. Jangan menyerah!Kamu janji akan menemani aku dan anak-anak kita nantinya sampai tua bersama." Air mata Farhan sudah tidak bisa di tahan, mengalir membasahi pipi.


"Jika saja rasa sakit itu bisa dipindahkan, lebih baik aku yang merasakan. Aku nggak kuat melihat kamu kesakitan begini," ucap Farhan pelan. Dia tidak merasakan sakit walau lengannya banyak bekas cakaran dari Rachel.


Mobil akhirnya sampai dihalaman rumah sakit. Farhan langsung menggendong Rachel menuju ruang IGD dan meminta istrinya segera diperiksa.


Dokter kandungan Rachel yang kebetulan sedang piket, langsung menanganinya. Dokter itu yang bernama Zulaida mengatakan jika Rachel sudah waktunya melahirkan. Saat ini sebenarnya kehamilan istri Farhan itu baru memasuki bulan kedelapan.

__ADS_1


Farhan menemani istrinya masuk ke ruang persalinan. Pria itu menangis saat melihat Rachel yang masih terus merintih kesakitan.


Dokter kembali memeriksa dan mengatakan jika Rachel tidak memungkinkan buat melahirkan secara normal karena plasenta berada di bawah menutupi jalan rahim. Apa lagi saat ini Rachel telah kehabisan tenaga.


Dokter meminta Farhan untuk menanda tangani surat persetujuan untuk melakukan operasi. Pria itu segera melakukan agar istrinya cepat masuk ruang operasi.


Setelah penanda tanganan surat persetujuan operasi, Rachel segera masuk ruang operasi. Farhan menggenggam tangan Rachel ketika akan masuk ruang operasi. Perasaan cemas dan takut dia rasakan.


"Mas, maafkan aku jika selama menjadi istri kamu aku banyak melakukan kesalahan," ucap Rachel ketika akan masuk ruang operasi.


"Sayang, kamu nggak ada salah. Kamu istri yang baik. Tak pernah kamu menyinggung ataupun menyakiti hatiku."


"Mas, jika Kak Nazwa dan Kak Alya telah sampai, katakan juga maafku untuknya."


"Sayang, sudah jangan kamu pikirkan semuanya. Kamu wanita yang baik. Aku yakin tidak ada salahmu pada kedua kakakku dan juga keluarga yang lain. Begitu juga salahmu pada yang orang lain, nggak ada sama sekali. Yang harus kamu ingat, kamu harus berjuang, kamu harus kuat. Ingat janji kita untuk menua bersama," ujar Farhan.


Farhan lalu mengecup dahi, kedua pipi dan bibir Rachel. Air matanya jatuh membasahi wajah istrinya. Wanita itu mengulurkan tangannya menghapus air mata pria yang sangat dia cintai.


"Jangan menangis, Mas. Aku pasti akan berjuang untuk melahirkan putra kita," ucap Rachel dengan terbata.


Dokter dan perawat datang dan mendorong tempat tidur Rachel masuk ke ruang operasi. Sementar itu Farhan kembali menghubungi kedua kakaknya agar secepatnya ke rumah sakit. Saat ini ternyata mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Farhan terduduk di lantai depan ruang operasi. Pria itu duduk dengan tangan yang memegang kepalanya. Sesekali menarik rambutnya dengan frustasi. Dia tak bisa menahan air mata yang terus mengalir di pipi.


"Ya Allah, aku tak akan pernah berhenti memohon padamu, selamatkan anak dan istriku. Panjangkan umur mereka, sehatkan anak dan istriku. Biarkan kami hidup bersama sampai kami menua. Aku tahu , aku ini bukanlah ahli surga, tapi aku memohon dan meminta pada Mu, kabulkanlah doaku, kuatkan istri dan anakku, buat mereka bertahan." Kembali Farhan berdoa. Wajahnya tampak pucat karena cemas memikirkan istri dan calon anaknya.


...----------------...

__ADS_1


Selamat Pagi. SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA. Bagi yang merayakan. Novel ini tinggal beberapa bab lagi menjelang tamat.


Maunya HAPPY END ATAU SAD END. Terima kasih. Lope-lope sekebon. ❤❤😍😍


__ADS_2