TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 88. Apakah Ini Karma?


__ADS_3

Tujuh hari telah berlalu, Mia belum bisa menerima kenyataan jika dia akan menjadi seorang yang cacat seumur hidupnya. Wanita itu menyimpan dendam yang begitu besar pada mantan kekasihnya dan juga dengan Dina.


Mama Mia sudah mendengar berita tentang pernikahan Lucas dan Dina. Keluarga besar mereka semua sangat kaget dengan keputusan keduanya. Hanya tatapan kasihan yang mereka perlihatkan saat menjenguk dia di rumah sakit.


Mia duduk di kursi roda. Memandangi jalanan. Bertanya dalam hati, kenapa nasib dia dan mamanya sama. Diselingkuhi pasangan mereka.


"Apakah semua ini karma bagiku? Karena sering membela Andin? Apakah aku salah membela sahabat sendiri?" gumam Mia pada dirinya sendiri.


Mia menarik napas dalam. Saat ini dia diibaratkan sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah ditinggal mantan tunangan, dia harus menerima kenyataan jika kakinya akan cacat seumur hidup.


"Apakah begini yang Rachel dan Yuni rasakan saat tahu kekasihnya masih mencintai wanita lain? Aku rasa tidak sama rasanya. Jika Rachel, suaminya Farhan hanya menyimpan nama Andin, bukan mengkhianati dengan berhubungan. Begitu juga Yuni, Dodi dan Andin hanya masa lalu. Namun, aku yang paling menyedihkan. Menyaksikan sendiri tunangan bercinta dengan sepupu lagi," ucap Mia dengan suara lirih.


Tujuh hari ini selera makannya tidak ada. Selalu saja meratapi nasibnya yang malang. Papanya saja tidak peduli dengan keadaannya. Hanya menjenguk sebentar lalu pulang. Dengan alasan anaknya masih kecil dan tidak bisa ditinggal lama.

__ADS_1


"Apa memang tidak ada yang mencintai aku selain mama?" Pertanyaan itu selalu berkeliaran di otak Mia.


Mia membalikkan tubuhnya mendengar suara ketukan di pintu. Dia mempersilakan orang yang mengetuk pintu masuk. Saat pintu terbuka, Mia terkejut melihat siapa yang datang.


Tiga orang sahabatnya, Yuni, Reno, Farhan dan istrinya Rachel berjalan masuk. Tampak Rachel yang pertama mendekatinya. Mia terpaku menatap wanita itu.


Rachel memberikan buket buah yang dibawanya. Menyalami Mia dengan senyum semringah. Mia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya terasa kelu.


"Apa kabar, Mia?" tanya Yuni. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Sejak pertemuan di restoran waktu itu, baru kali ini mereka bertemu lagi. Terasa sangat canggung. Apa lagi terakhir bertemu mereka saling debat.


Yuni hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Mia. Dia bisa mengerti perasaan Mia saat ini. Pasti sangat berat menerima kenyataan jika dia harus memutuskan hubungan dengan tunangan. apa lagi harus menerima kenyataan dia saat ini cacat.


"Maaf ...." Hanya itu yang keluar dari mulutnya Yuni.

__ADS_1


Mereka berempat duduk di sofa yang ada di kamar rawat inap itu. Hanya kebisuan yang ada di antara mereka. Farhan akhirnya membuka suara.


"Percayalah Mia, jika tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi karena takdir Allah. Hal baik akan melatih kita bagaimana caranya bersyukur, dan hal buruk yang menimpa kita, akan melatih kita bagaimanan cara untuk bersabar. Bahagia itu bukan ketika saat segala keinginan kita terwujud melainkan ketika kita mengerti bahwa semua kehendak dan ketetapan Allah adalah yang terbaik." Farhan mengucapkan sambil tersenyum.


"Apa kah ini karma bagiku?" tanya Mia.


"Tidak ada karma dalam Islam, yang ada hanyalah ketentuan dan takdir Allah yang telah diatur untuk kepentingan hidup manusia.Hukum karma dalam Islam tidak ada dan tidak boleh dipercayai. Namun, kita tidak boleh melakukan perbuatan buruk karena apa pun yang kita lakukan di dunia akan mendapatkan balasan yang setimpal entah di dunia maupun di akhirat," jawab Farhan.


Mia mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi. Teringat sering berkata yang menyakitkan, terutama untuk Rachel. Mungkin ini balasan dari perbuatannya.


"Kenapa Tuhan msnghukumku seberat ini?" tanya Mia dengan suara pelan.


"Ini bukan hukuman, tapi pembelajaran diri. Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, dari mana kita belajar ikhlas. Jika semua yang kita impikan terwujud, dari mana kita belajar arti sabar? Jika setiap doa kita selalu dikabulkan Allah, dari mana kita belajar ikhtiar? Jika hidup kita selalu bahagia, bagaimana kita dapat mengenal Allah lebih dekat? Yakin dan Percayalah semua ketentuan Allah itu adalah yang terbaik untuk kita. Sabar dan Ikhlas kuncinya," ucap Rachel.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2