
Farhan mendekati istrinya yang sedang berbaring sambil bermain ponsel. Duduk di tepi ranjang.
"Rachel, aku mengerti saat ini kamu masih lelah sehabis sakit. Tapi bukan berarti kamu bisa bicara kasar begitu dengan mereka. Teman-temanku tidak tahu jika kamu baru pulang dari rumah sakit. Aku harap kamu mengerti. Jangan tersinggung dengan ucapan mereka," ucap Farhan.
Rachel meletakan ponsel yang dia pegang di atas nakas. Menatap suaminya nanar. Dia memang lelah dan capek, bukan hanya fisik tapi juga pikiran.
"Mas mau aku melakukan apa? Minta maaf dengan mereka? Baiklah, akan aku lakukan semua yang membuat kamu senang," ucap Rachel.
"Termasuk pergi dari hidupmu, akan aku lakukan segera untuk membuat hidupmu senang, Mas," ucap Rachel dalam hatinya.
__ADS_1
Wanita itu berdiri dan tanpa pedulikan Farhan, langsung keluar dari kamar. Rachel berdiri dihadapan semua teman suaminya.
"Atas kemauan suamiku, aku minta maaf jika kata-kataku tadi salah dan menyinggung kalian semua. Seperti yang aku katakan tadi, suamiku pasti akan marah jika temannya marah. Dia lebih peduli perasaan kalian semua. Sekali lagi aku minta maaf. Kalian semua tidak salah, aku yang salah. Bukankah ini apartemen milik suamiku bukan aku. Kalian bisa di sini sesuka hati. Sekali lagi maaf. Aku pamit," ucap Rachel.
Farhan memegang tangan wanita itu, tapi ditepisnya. Rachel masuk ke kamar tamu, bukan kamar yang biasa mereka tempati. Sampai di kamar air matanya langsung tumpah.
"Mas Farhan yang sangat aku cintai, Di saat sabar menjadi sadar, perhatian menjadi cuek, cemburu menjadi diam, peduliku menjadi terserah, tidak ada lagi penuntutan, tidak ada lagi perdebatan bahkan semua ucapanmu selalu aku iyakan. Percayalah batas lelahku telah mencapai batas wajar. Aku sudah tidak berharap apapun, karena aku pastikan hari ini adalah batas akhir aku mengganggumu, kamu tidak perlu repot lagi menghadapiku, kamu bebas sekarang. Bukannya berubah ataupun pasrah, namun sikapmu selama ini sudah sangat jelas jika kamu inginkan aku menyerah."
Rachel menghentikan tulisannya sejenak. Dia mengusap air matanya sebelum melanjutkan untuk menulis lagi.
__ADS_1
"Maaf Mas, aku mundur. Aku pergi bukan karena rasa itu hilang, tapi aku memghargai perubahan sikapmu denganku. Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk memberikan feedback yang baik. Terima kasih karena telah menerima aku, mengangkat derajatku dan terima kasih telah singgah. Maaf aku sudah berusaha memberikan yang terbaik, tapi akhirnya aku gagal. Hari ini adalah hari terakhir aku mengagumi kamu, semoga kamu dipertemukan dengan pilihan terbaik. Percayalah, wanita itu tidak akan mudah menyerah dalam hal mempertahankan sebuah hubungan, tapi ketika dia memutuskan untuk pergi, dia pasti sudah berdebat dengan dirinya sendiri hingga ribuan kali. Sampai pada akhirnya dia memilih mundur dan pergi."
Kembali Rachel menghentikan tulisannya. Dia kembali mengusap air matanya. Setelah beberapa saat dia melanjutkan lagi menulis.
"Mungkin Allah hanya mempertemukan kita sesaat. Aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kamu, Mas. Aku akan selalu ingat hari di mana kamu mengambilku dari kubangan lumpur. Terima kasih atas semua kebaikan yang kamu lakukan padaku selama ini. Aku pamit. Semoga kamu selalu bahagia dan mendapatkan wanita baik yang lebih pantas mendampingi kamu."
Setelah menulis semua yang ada dihatinya, Rachel membaringkan tubuhnya. Dia akan pergi besok di saat suaminya pergi kerja. Tekatnya telah bulat. Rachel juga telah mengirim pesan pada Reno yang dia panggil Kak Nando meminta bantuan, carikan kontrakan yang sedikit jauh dari kota.
...----------------...
__ADS_1