TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 69 S2. Dita Sadar


__ADS_3

Yuni dan Reno melihat dari kaca, apa benar putri mereka Dita telah sadar. Axel meminta perawat yang berjaga segera panggilkan dokter.


Dokter jaga masuk dan memeriksa keadaan kesehatan Dita. Seluruh keluarga melihat dari kaca, menunggu dokter selesai memeriksa. Setengah jam lamanya, barulah dokter keluar dari ruang di mana Dita terbaring lemah.


Reno dan Yuni langsung menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang ICU itu. Dia sudah tidak sabar menunggu kabar.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Reno dengan napas terburu.


"Keadaannya sudah mulai stabil. Pasien juga telah sadar. Salah seorang bisa masuk untuk menjenguk. Hanya boleh satu orang. Bapak dan Ibu bisa bergantian masuknya," ucap Dokter itu.


"Baiklah, Dok. Terima kasih atas bantuannya," ucap Reno.


Dokter itu mohon pamit setelah mengobrol. Dia masih ada pasien yang lain. Reno meminta Yuni yang masuk duluan. Gantian dengan yang lainnya.


"Ingat, Bu. Jangan perlihatkan kesedihanmu," pinta Reno.


Yuni hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Setelah mengganti pakaian dengan baju steril, wanita itu masuk. Dia memilih duduk di samping ranjang aebelah kanan.


"Sayang, apa kamu mendengar ucapan Ibu. Jika kamu mendengar coba kamu gerakan jari tanganmu," ucap Yuni.

__ADS_1


Yuni melihat terus ke arah jari putrinya tanpa kedip, berharap bergerak. Setelah menunggu beberapa saat, jari itu bergerak. Mencoba menggenggam tangan ibunya. Yuni merasakan kebahagiaan yang tiada tara.


"Sayang, kamu telah sadar, Nak," ucap Yuni bahagia.


Mata Dita perlahan terbuka. Dia melihat ibunya yang memeluk tangannya di dada. Air mata Yuni jatuh membasahi pipi. Melihat anaknya membuka mata, dia berdiri dan mengecup pipi sang putri dengan lembut.


Luka di seluruh tubuh sang putri membuat Yuni takut menyentuh. Dia hanya berani mendekatkan wajahnya.


"Sayang, alhamdulillah akhirnya kamu sadar," ucap Yuni dengan mengelus rambut Dita secara pelan.


"Ga ... fi ...," ucap Dita dengan terbata.


"Ada di ruangan sebelah kamu, Nak. Nanti kita bisa melihat suami kamu itu," ucap Yuni.


"Sayang, katakan apa yang sakit," tanya Yuni akhirnya.


Dita menggelengkan kepala. Dia bukannya tidak merasa sakit, seluruh tubuhnya terasa remuk. Namun, Dita teringat bagaimana Gafi melindunginya. Dia memikirkan keadaan sang suami.


"Kak Gafi," ucap Dita lagi dengan terbata. Air mata keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


"Gafi selamat, Sayang. Nanti jika kamu sudah bisa bangun, kita bisa temui. Sekarang kamu harus bisa segera sembuh agar bisa melihat Gafi,: ucap Yuni.


Cukup lama Yuni mengobrol dengan Dita. Hingga dia pamit karena giliran Reno yang akan menjenguk. Setelah Yuni keluar, Reno langsung masuk.


Melihat ayahnya, tangis Dita makin pecah. Dia yang begitu manja dengan sang ayah, rasanya ingin memeluk dan mengadu. Dita merasa belum tenang karena belum melihat keadaan suaminya Gafi.


Axel sedang mengurus administrasi untuk kepindahan Dita ke kamar rawat inap. Dokter mengatakan, wanita telah diizinkan keluar dari ruang ICU.


"Ayah ...," panggil Dita pelan. Dia langsung terisak.


Reno mendekati wajah sang putri dan mengecupnya. Reno menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya.


"Kak Gafi, Yah," ucap Dita. Dia masih belum bisa tenang sebelum melihat langsung keadaan suaminya.


"Gafi di rawat di kamar sebelah, nanti kalau kamu sudah mulai membaik, kita lihat," ucap Reno.


"Ayah tidak bohong. Kak Gafi tidak apa-apa?" tanya Dita lagi.


"Sayang, yang pasti suami kamu sedang di rawat. Sekarang kamu semangat biar cepat sembuh dan bisa dekat Gafi," ujar Reno.

__ADS_1


"Ya, Allah. Aku sebenarnya tidak ingin berbohong. Tapi tidak mungkin juga aku mengatakan yang sebenarnya, jika suaminya masih kritis dan kemungkinan matanya tidak bisa melihat," gumam Reno dalam hatinya.


...----------------...


__ADS_2