
Suasana dalam ruangan tampak tenang. Para tamu undangan masih terbawa suasana haru. Pembawa acara mengatakan jika kini saatnya calon pengantin pria yang bicara.
Gafi berdiri dari duduknya. Menundukan kepala menghadap pada kedua orang tua Dita. Pria itu juga menebarkan senyum pada semua tamu undangan. Tampak dia menarik napas sebelum bicara.
Di sudut ruangan Axel tampak gelisah. Tadi saat Dita bicara, dadanya sudah terasa sesak ditambah lagi Gafi. Pria itu semakin merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Sebentar lagi dia akan menyaksikan pernikahan keduanya.
Lisa yang melihat Axel duduk menyendiri mendekati pria itu. Dia hanya diam, karena tidak mungkin mengusir Lisa yang akan menimbulkan keributan.
"Selamat pagi semuanya. Terima kasih atas kehadirannya. Selamat pagi Ayah Reno dan Ibu Yuni," ucap Gafi memulai kata.
Axel merubah duduknya menghadap sang pengantin. Mengacuhkan Lisa yang berada di dekat dirinya.
"Ayah dan Ibu, jika kalian sudah menjaga putrimu Dita selama 20 tahun, sekarang bolehkah saya menggantikan posisi Ayah dan Ibu dengan menjaga dan membahagiakannya layaknya perhiasan dunia yang paling berharga."
Gafi menghentikan ucapannya. Memandangi kedua orang tua Dita. Mereka menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jika Allah mengizinkan, saya ingin menjadikan putri Ayah dan Ibu sebagai istri saya, menemani setiap langkah perjuangan saya, menjadi penyejuk hati saya dikala gundah dan menjadi penasihat saat saya melakukan kesalahan, dari awal saya mengenal Dita, saya merasa seperti telah menemukan orang yang tepat, sekiranya Ayah dan Ibu menyetujui, saya ingin melamar putri kalian dan melanjutkan hubungan kami berdua kejenjang pernikahan. Saya berjanji akan membahagiakan dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya.”
Ayah Reno berdiri, "Kami mengizinkan kamu untuk menikahi putri kami," ucap Reno dan kembali duduk.
Semua keluarga dan tamu bertepuk tangan untuk mengusir ketegangan yang terjadi. Hanya Axel yang tampak masih sangat tegang.
"Aku juga ingin menyampaikan sesuatu buat kekasih hatiku yang sebentar lagi akan menjadi istriku," ucap Gafi.
"Dita, aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, saya butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama. Itu … kamu. Jika dulu cinta pertamamu menorehkan luka, maka izinkan aku sebagai cinta terakhirmu untuk bisa menghadirkan surga. Dan di akhir kata, bersedia kah kamu untuk menjadi istri aku?" pintanya dengan penuh harap.
"Kak Gafi, sejak pertama kali bertemu, kehadiran kamu membuat kehidupan saya menjadi lebih berwarna. Kamu berusaha membuat saya tertawa walaupun saya sedang sedih, marah ataupun kecewa serta berusaha membimbing saya selama ini. Kamu yang telah menyembuhkan luka hati ini. Hal–hal tersebut mungkin hal kecil yang tidak memiliki arti tapi bagi saya, hal tersebut telah cukup membuat saya percaya bahwa kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi pasangan sehidup semati saya. Oleh karena itu lamaran ini saya terima dengan segala pertimbangan yang ada."
Kembali semua tamu undangan bertepuk tangan. Dan acara inti yang di tunggupun akan segera di mulai. Kembali Gafi dan Reno duduk berhadapan dan saling berjabat tangan. Setelah melakukan percobaan satu kali dan ternyata Gafi lancar, akad langsung dimulai.
"Imraan Nadhirrama Gafi," panggil Reno dengan suara tegas.
__ADS_1
"Saya, Yah," jawab Gafi.
"Aku nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandungku Salwa Dita Amanda binti Reno dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas, dibayar tunai," ucap Reno dengan lancar.
"Aku terima nikah dan kawinnya Salwa Dita Amanda binti Reno dengan mas kawin tersebut, Tunaiii," ucap Gafi dengan lancar dan sekali tarikan napas.
"Bagaimana saksi, SAH," tanya penghulu.
"SAHHH," ucap kedua saksi serempak. Semua tamu undangan tampak lega. Apa lagi pengantin pria, dia langsung tersenyum semringah.
"Yeayyy, dah kawin," ucap Gafi melompat mendengar kata sah dari saksi. Keluarga dan tamu undangan tertawa mendengar ucapan Gafi.
Axel berdiri dari duduknya. Entah menuju kemana. Saat Lisa ingin mengikuti, dia marah dan melarang. Ternyata dia memilih duduk di taman.
"Ada saatnya kamu merelakan seseorang yang kamu sayang saat kamu tahu kalau dia lebih bahagia dengan orang lain. Terkadang kamu harus merelakan seseorang yang tak bisa kamu miliki. Meskipun sulit namun itu hal yang terbaik untuk dirimu. Ikhlas tidak melulu soal merelakan. Tetapi ikhlas adalah kondisi di mana kita melepaskan tanpa adanya beban dalam hati. Dan pada akhirnya, yang pergi akan tetap pergi. Biarlah berlalu, karena melepas lebih melegakan daripada memaksa. Jika akhirnya aku hanya akan kehilanganmu setidaknya aku merasa bangga pernah bersamamu yang bisa sabar dan mengerti akan kekuranganku. Aku saja yang tak pernah menghargai saat kau ada."
__ADS_1
...----------------...