TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 45. Pelukan Terakhir


__ADS_3

Reno membuka chat yang dikirimkan Rachel. Rahangnya tampak mengeras, menahan amarah. Takut emosinya meledak pria itu berdiri dan ingin pamit.


Melihat Reno berdiri, semua mata temannya tertuju pada pria itu. Memandangi dengan penuh tanda tanya.


"Maaf aku pamit. Aku menyesal atas sikap kalian semua. Terutama denganmu Farhan. Seharusnya kau menjaga perasaan istrimu yang baru saja sembuh. Jika dia tertekan, bukan saja fisiknya yang sakit tapi juga pikirannya bisa terganggu," ucap Reno dengan tangan mengepal menahan amarah.


Andin tersenyum sinis memandangi Reno. Semenjak dulu, pria itu selalu saja menentang hubungannya dengan Farhan.


"Ada hubungan apa kamu dengan Rachel, kenapa begitu membelanya?" tanya Andin akhirnya.


"Tidak perlu ada hubungan untuk membela yang benar. Kau tentu saja lebih membela sikap Farhan, karena ada maksud tertentu. Yang lebih aku herankan sikapmu Yuni dan juga Mia. Sebagai wanita, kalian berdua tidak memiliki perasaan. Bagaimana jika kalian berada di posisi Rachel, apa kalian yakin tidak akan ngereok?" tanya Reno.


"Jangan menuduh tanpa bukti, Reno. Emang apa maksud aku mendekati Farhan. Aku hanya ingin menjalin siraturahmi," ucap Andin.


"Orang bodoh saja tahu maksud kamu mendekati Farhan lagi. Dan yang lebih bodohnya, Yuni dan Mia mendukungmu. Aku berdoa agar kalian tidak merasakan sakit seperti Rachel, karena aku yakin kalian tidak akan sanggup. Maaf aku pamit. Aku masih waras," ucap Reno.


Farhan berdiri dari duduknya. Berjalan mendekati Rachel.

__ADS_1


"Maaf, Reno. Aku kurang setuju dengan ucapanmu. Kenapa kamu menuduh aku tidak menjaga perasaan istriku. Aku sudah minta maaf atas sikap Yuni, Mia dan Andin," ucap Farhan.


"Jika kamu emang minta maaf atas sikap mereka, berarti secara tidak langsung kamu mengakui apa yang mereka ucapkan itu salah. Seharusnya kamu juga mengatakan pada mereka jaga sikap, dan jaga ucapan. Aku pastikan Kau akan menyesal atas sikapmu ini! Aku tidak peduli kalian mau bicara apa. Bagiku kalian semua sama saja, SAMPAH," ucap Reno.


Dodi tidak terima dikatakan sampah. Dia langsung berdiri dari duduknya. Namun, tubuhnya di tahan Farhan.


"Biarkan saja. Kita bisa bicarakan semua dengan baik-baik," ujar Farhan.


"Aku hanya marah dikatakan sampah. Ucapannya yang lain itu benar. Kalian terkadang emang keterlaluan. Jika emang dia baru sembuh, wajar saja jika Farhan yang ke dapur. Wajar juga jika dia mengatakan jangan bertemu lama-lama karena butuh waktu istirahat. Kita datang emang di waktu yang tidak tepat," ucap Dodi.


Mendengar penuturan Dodi yang panjang kali lebar, ketiga sahabat ceweknya dan juga Farhan, serempak memandanginya. Heran saat dia juga membela Rachel.


Dodi menjawab dengan anggukan kepala. Melihat jawaban dari pria itu, ketiga sahabat wanitanya itu berdiri.


"Kalau begitu kami pamit," ucap mereka bertiga serempak.


Farhan tidak mau mencegah kepergian ketiga sahabat wanitanya itu. Dia tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


Saat semua telah pulang, Farhan masuk ke kamar. Mencari keberadaan istrinya itu. Tidak melihat adanya Rachel, Farhan keluar kamar. Mencari keberadaan wanita itu. Di dapur, ruang tamu, hingga musala. Namun, tidak juga dapat ditemui.


Saat melewati kamar tamu, barulah Farhan kepikiran untuk mencari Rachel di ruang itu. Pria itu mengetuk pintu dengan suara pelan. Tiga kali mengetuk barulah Rachel keluar. Farhan mengajak istrinya itu ke kamar mereka.


"Kenapa tadi tidur di kamar tamu? Kamu marah denganku serta teman-teman?" tanya Farhan saat keduanya telah berbaring.


"Aku hanya ingin istirahat, Mas. Lelah dan masih lesu," ucap Rachel pelan.


"Kalau begitu kita istirahat saja. Sekali lagi maafkan teman-temanku jika ucapannya menyakiti," ucap Farhan.


"Aku telah memaafkan semuanya. Aku juga minta maaf Mas, jika selama ini belum bisa menjadi istri yang baik," ucap Rachel.


"Sudah aku maafkan. Kita tidur saja lagi," ucap Farhan mengajak istrinya memejamkan mata.


Saat Farhan telah menutup mata, wanita itu memandangi wajah suaminya itu dengan intens. Tanpa kedip. Rachel memeluk suaminya untuk terakhir kalinya.


"Mas, aku harus pamit. Jaga diri baik-baik ya. Jika suatu saat kita bertemu kembali, jangan sungkan untuk menyapaku. Aku pamit pergi besok. Malam ini izinkan aku memelukmu hingga pagi menjelang," gumam Rachel pada dirinya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2