
Kebun Teh Rancabali
Setelah mendengar ucapan Reno dan Rachel, mereka akhirnya mengalihkan pembicaraan. Tidak lagi membahas kedekatan Farhan dan Andin.
Akhirnya mobil yang dikendarai Dodi sampai di tempat tujuan. Kelima orang itu tampak antusias kecuali Rachel. Dia hanya mengikuti langkah mereka.
Perkebunan teh Rancabali terletak di Patengan, Rancabali, Kabupaten Bandung. Kebun teh ini hanya berjarak sekitar 8,5 kilometer dari kawasan Kawah Putih. Selain menikmati pemandangan kebun teh, pengunjung juga dapat melakukan beragam kegiatan menarik, seperti berkunjung ke pabrik teh.
Kebun teh ini berada di ketinggian 1.628 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tak heran, sering terlihat kabut putih yang menyelimuti area perkebunan teh Rancabali ini.
"Kamu ikut ke dalam melihat kebun teh dan berfoto?" tanya Farhan.
"Aku menunggu di sini saja. Aku capek, Mas," ucap Rachel.
__ADS_1
Farhan menatap wajah istrinya. Dari tadi dia hanya diam. Apa Rachel masih marah dengannya, pikir Farhan.
Yuni, Mia dan Dodi mendekati Rachel dan Farhan. Mereka berdiri di samping keduanya. Hanya Reno yang sedikit menjaga jarak. Pria itu masih saja memperhatikan Rachel.
"Yuk, Farhan. Nanti keburu sore. Kita mau lihat petani memetik daun teh sekalian," ajak Mia.
"Kamu benar nggak mau ikut?" tanya Farhan lagi.
"Iya, Mas. Aku menunggu di warung saja sambil makan jagung bakar. Kepalaku sedikit pusing," ujar Rachel.
Rachel hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dia lalu berjalan menuju salah satu warung. Farhan dan keempat temannya masuk ke kebun teh. Wanita itu memandangi kepergian suaminya hingga menghilang dari pandangan.
Setelah Farhan dan sahabatnya menghilang dari pandangan, Rachel berjalan masuk ke kebun teh itu juga. Dia menolak pergi bersama Farhan dan sahabatnya hanya untuk menjaga hatinya. Rachel hanyalah manusia biasa, sekuat apapun dia menahan hatinya untuk tidak berharap pada suaminya, tapi tetap terasa sakit jika Farhan menyebut nama wanita lain, apa lagi dia pernah mengakui jika wanita itulah yang dia cintai selamanya.
__ADS_1
Rachel tersenyum menatap pemandangan indah yang terbentang dihadapannya. Dengan menggunakan kamera ponselnya, Rachel memotret hamparan kebun teh dihadapannya.
Bulan madu yang dijalaninya saat ini hanyalah kamuflase saja. Buktinya dia hanya sendirian saat ini. Tidak seperti yang pernah dia baca dan lihat di film. Bulan madu yang ada dalam pikirannya begitu indah, bukan seperti yang dia jalani saat ini.
Saat Rachel sedang asyik memandangi kebun teh, dia dikagetkan dengan kedatangan Reno. Entah sejak kapan teman pria suaminya itu ada di sini. Pria itu lalu memberi nasehat pada Rachel.
"Jangan berteduh dengan orang yang belum selesai dengan masa lalunya. Karena mau sekuat apa pun kamu bertahan, akan kalah dengan masa lalunya. Mau sewarna apa pun kita, mau sebaik apa pun kita, akan percuma. Dia tidak akan pernah memandang ke arah kita. Pergilah! Dan biarkan dia terjebak dan hidup dengan masa lalunya. Mungkin dia masih ingin merasakan sakit hati dan menjadi mainan masa lalunya," ucap Reno sama Rachel.
Rachel tersenyum memandangi Reno. Apa yang diucapkan pria itu ada benarnya.
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku. Bukankah batu karang akan hancur juga jika setiap hari dihantam ombak. Aku berharap Mas Farhan akan berubah dan melupakan masa lalunya jika aku tetap ikhlas dan sabar mendampinginya," ucap Rachel.
"Sebaik apapun kita. Setulus apapun kita. Sesayang apapun kita, sebanyak apapun pengorbanan kita, tidak akan pernah berharga di depan orang yang tidak bersyukur memiliki kita. JANGAN PERNAH JADI PELANGI UNTUK ORANG YANG BUTA WARNA," ucap Reno, mencoba menasihati Rachel.
__ADS_1
...****************...