TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 11 S2. Menemui Dita


__ADS_3

Setelah mobil yang dikendarai Dita menghilang, Axel keluar dari kamar. Dia melihat mamanya Rachel menangis. Lalu mendekati dan duduk di samping wanita yang telah melahirkan dirinya itu.


"Mama, kenapa Mama menangis?" tanya Axel heran. Seharusnya mama Rachel senang bertemu Dita.


Rachel menghapus air matanya. Menatap Axel dengan intens. Hal itu makin membuat Axel jadi salah tingkah. Dia lalu merubah duduknya, makin mendekat ke Rachel.


"Kenapa Mama memandangi aku seperti itu?" tanya Axel lagi.


"Kamu telah berhasil membuat seorang anak berpisah dari orang tuanya," ucap Rachel pelan.


"Kenapa aku? Emang apa yang aku lakukan?" tanya Axel. Dia belum mengerti dengan apa yang diucapkan mamanya.


"Dita memutuskan kuliah ke luar kota. Mama yakin semua untuk menghindari kamu. Jika saja mama bisa menahannya, pasti akan mama lakukan. Tapi mama terlalu egois jika memintanya bertahan, karena itu akan membuat dia lebih sakit hati."


Axel terkejut mendengar ucapan mamanya. Dia tidak mengira jika Dita datang untuk pamit. Axel lalu berdiri, meninggalkan mamanya.


Tanpa di duga, Axel mengendarai mobilnya menuju rumah Dita. Kebetulan kedua orang tua Dita tidak di rumah. Mereka pergi ke pesta. Setelah meminta izin pada bibi, Axel naik ke lantai atas, di mana kamar gadis itu berada.

__ADS_1


Kamar Dita tidak terkunci dan pintunya terbuka lebar. Axel masuk tanpa permisi. Dia melihat Dita yang sedang mengepak barang yang akan dibawanya.


"Apa ini yang dinamakan sahabat? Sekian tahun bersama, tapi kau tidak ada pamit saat akan pergi jauh!" ucap Axel tanpa basa basi.


Mendengar suara yang tidak asing di telinga, Dita menoleh dan tampak Axel berdiri di dekat pintu kamarnya. Namun, Dita mengacuhkan pria itu. Dia kembali ke aktivitasnya tadi.


"Apa kau tidak menghargai persahabatan kita selama ini?" tanya Axel.


Dita menghentikan kegiatannya dan memandangi pria yang dulu sangat dikagumi. Namun, semua berubah sejak pria itu menorehkn luka yang begitu dalam. Dia berdiri ber


"Sahabat ...? Apa kau merasa kita selama ini bersahabat?" tanya Dita.


"Kau masih dendam denganku? Hanya sekali aku berkata kasar, tapi kau ingat selalu. Kalau begitu, aku minta maaf atas ucapanku saat itu," ucap Axel lembut.


"Aku sudah memaafkan kamu," ujar Dita.


"Jika kau telah memaafkanku, aku minta, jangan pergi. Tetaplah di sini!" ucap Axel memohon.

__ADS_1


"Aku pergi bukan karena marah denganmu. Aku pergi untuk mengejar masa depanku. Jangan ge-er, Axel!" ucap Dita.


"Jika kamu pergi juga, berarti persahabatan kita memang benar-benar berakhir. Memang aku pernah meminta kamu pergi, tapi maksudku agar engkau bisa mencari pria lain yang bisa jadi kekasihmu, bukan pergi menjauh seperti ini," ucap Axel.


"Persahabatan kita memang telah berakhir dari enam bulan lalu!" ujar Dita.


"Baiklah, kalau memang ini maumu. Jika kau ingin menjauh dariku dengan kuliah keluar kota, maka pergilah. Mungkin aku tidak akan pernah menemui kamu lagi. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal," ucap Axel.


Axel melangkah pergi meninggalkan kamar Dita. Dia berjalan pelan, berharap gadis itu memanggilnya, tapi hingga tangga terakhir, Dita tidak juga memanggil namanya.


"Aku pernah mencintaimu dengan berlebihan. Sampai aku mengemis kepadamu untuk tidak meninggalkan aku. Sampai aku merendahkan harga diriku sendiri dihadapanmu. Tapi tetap saja aku tidak ada artinya dimatamu. Ternyata sesakit ini perjuangan untuk mencintaimu. Maaf, aku akan pergi," gumam Dita dalam hatinya.


Axel tidak percaya dengan apa yang gadis itu lakukan. Dia tahu jika Dita sangat manja pada kedua orang tuanya. Apakah dia bisa mandiri nantinya? Tanya Axel dalam hatinya


Di dalam kamarnya Dita terduduk di lantai. Akhirnya semua benar-benar berakhir. Mungkin tadi terakhir kali dia melihat pria itu


"Maaf, biar aku mundur saja. Sudah terlalu banyak sabar yang sia-sia. Aku keliru berpikir kau akan berubah seiring aku bertahan. TERNYATA KAU TAK BUTUH SABAR. Melainkan aku yang kurang sadar. Seharusnya ku lepaskan kau lebih awal agar tidak ada lagi manusia yang rela menyakiti dirinya sendiri, demi seseorang yang perasaannya entah tumbuh untuk siapa."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2