TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 62 S2. Liburan


__ADS_3

Keesokan harinya Gafi dan Dita sedang mempersiapkan segala yang dibutuhkan buat mereka menghabiskan waktu liburan di Villa selama satu minggu ke depan. Setelah sarapan, mereka pamit pada kedua orang tua Dita.


"Hati-hati, jika ada apa-apa langsung hubungi kami," ucap Reno, saat melepaskan kepergian putrinya.


Gafi mengangkat koper dan memasukan ke bagasi, setelah itu menjalankan mobilnya meninggal kan area rumah mertuanya, dengan kecepatan sedang menuju Villa yang akan mereka datangi.


Villa yang akan mereka tempati adalah sebuah Villa pribadi milik orang tua Gafi, yang dibeli sejak tiga tahun yang lalu, terletak dikawasan pegunungan yang dihimpit perkebunan nanas dan stroberi serta air terjun yang tidak jauh dari sana.


Hawa segar pasti sudah tidak diragukan lagi yang membuat Dita berpikir bahwa tidak buruk juga rencana bulan madu ini. Dia memang yang tidak mau bulan madu ke luar negeri, karena mau mengurus pindah kuliah.


"Kak, singgah di minimarket dulu yah, aku mau beli sesuatu," pinta Dita pada Gafi.


"Apa yang mau di beli, Sayang?" tanya Gafi menatap Dita dengan lembut.


"Aku ingin beli cemilan untuk menemani sepanjang perjalanan," jawab Dita.


"Oke, Sayang." Gafi melanjutkan menyetir mobilnya sambil sesekali melirik ke kanan dan kiri mencari minimarket atau supermarket terdekat.


Hampir lima menit mereka disana melewati jalan tol yang menghubungkan pembatas kota dan daerah pegunungan dimana Villa mereka berada, di depan perbatasan terlihat satu indoapril yang sedang buka. Melihat itu, Gafi segera menepikan mobilnya di halaman indoapril tersebut.


"Yuk, turun," ajak Gafi yang membuat Dita mengangguk.


Gafi turun dari mobil disusul Dita yang langsung masuk kedalam indoapril tersebut. Melihat itu Gafi mengikuti istrinya memilih barang yang dia ingin beli.


"Kamu mau beli snack marsmellow?" tanya Gafi dengan mengangkat bungkusan marsmellow.


"Gak suka, ini terlalu manis. Takut akunya makin manis," jawab Dita meraih kembali bungkusan marsmellow tersebut dari tangan Gafi, dan mengembalikan ke tempa semula. Gafi mencubit hidung istrinya gemas mendengar jawabannya.

__ADS_1


Dita lalu memasuki area minuman, mengambil beberapa botol air mineral dan teh kemasan siap minum serta beberapa teh kemasan low sugar untuk suaminya.


"Udah semua kan?" tanya Gafi pada Dita yang sedang berdiri didepan rak parfum.


"Okey, yuk kekasir," jawab Dita berjalan ke kasir disusul Barra dibelakangnya.


"Mbak itu, belanjaan saya yah," ujar Dita pada kasir tersebut, sambil menunjuk Gafi yang sedang kewalahan membawa belanjaannya.


Kasir tersebut mengangguk kemudian mulai menghitung jumlah barang dan harga tersebut sebelum memasukkannya ke dalam kantong.


"Total semuanya jadi, tiga ratus ribu enam ratus rupiah." Kasir tersebut tersenyum pada Gafi. Dia mengangguk kemudian mengeluarkan uang tiga ratus lima puluh ribu yang tidak ia ambil sisanya.


"Terima kasih, pengantin baru, Pak?" tanya kasir tersebut menunjuk Dita.


Gafi mengangkat alisnya dan menatap lekat kasir disana. "Pengantin Baru, kok berpikiran begitu?"


"Kami bukan hanya mau bulan madu, tapi sekaligus pacaran halal," jawab Gafi.


"Selamat menempuh hidup baru, Pak," ucap kasir itu.


"Teima kasih," jawab Gafi dan Dita serempak.


Kasir tersebut mengangguk yang disusul perginya Gafi dan Dita keluar dari indoapril tersebut. Dengan bergandengan tangan berjalan menuju mobil.


Dita meraih kantong kresek dari belanjaannya tadi dan mengambil es krim coklat yang ia beli, ia menarik kepala Gafi menghadap kepadanya dan mengecup bibir suaminya pelan dan dalam. Disela ciuman tersebut Dita menyuapi es krim tersebut kepada Gafi yang membuat pria itu menjadi kaku seketika.


"Enak?" tanya Dita pada Gafi yang belum sepenuhnya menelan es krimnya.

__ADS_1


Gafi yang tadi kaku tersenyum dan menarik kepala Dita dan me*lu*mat bibir istrinya yang membuat es krim di mulut pria itu belepotan dibibir wanitanya dan juga bibirnya.


Setelah selesai mereka hanya saling berpandangan kemudian melanjutkan perjalanan mereka dengan Dita yang bersandar di bahu Gafi sambil sesekali menyuapi pria itu es krim. Dita sangat menikmati perjalanan ini.


"Kak Gafi, tahu emang jalannya? Katanya udah tiga tahun sejak di beli nggak pernah kesana?" tanya Dita


"Bismillah, tahu kok," jawab Gafi fokus menyetir dan memasuki area yang di kanan kirinya adalah kebun milik penduduk sekitar.


"Kita telpon pengurus villanya aja yah, biar bisa dikasih tahu jalannya atau telepon Mama Alya," usul Dita meraih handphone yang ada di dashboard.


"Nggak usah," tahan Gafi yang membuat Dita mengurungkan niatnya. "Nanti kalau udah benar-benar nggak tau, baru kita telpon. Lagian suami kamu ini masih muda belum pikun,"


Dita hanya memutar kedua bola matanya mendengar penuturan suaminya dan kembali bersandar di bahu suaminya. Dia harus percaya pada suaminya.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang yang berarti sudah 5 jam mereka dalam perjalanan. Sementara itu Dita mulai khawatir karena sedari tadi yang mereka lewati hanya pepohonan setelah melewati wilayah perkebunan.


"Yakin, Kak?" tanya Dita memastikan.


Gafi menggaruk tengkuknya. "Yakin,"


Dita hanya menghela napas panjang kemudian mengambil handphonenya namun belum sempat dia menelepon, bar sinyal di sisi kanan atas layar handphonenya menunjukkan simbol bahwa di daerah tersebut sedang tidak ada sinyal.


Disaat Dita yang menyerah dengan handphonenya tiba-tiba mobil mereka berdua berhenti ditengah jalan yang membuat wanita itu menatap Gafi bingung.


"Kayaknya mogok," jawab Gafi menjawab pertanyaan atas tatapan penuh tanya istrinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2