
Syifa keluar dari ruangan dan memanggil dokter. Dia juga tidak lupa mengatakan pada kedua orang tua Gafi jika putranya telah sadar.
"Kak, mungkin ini hanya sementara. Ini karena Kak Gafi lama tidak sadarkan diri, sehingga sulit melihat. Kakak jangan kuatir," ucap Dita berusaha menenangkan.
"Dita, ini tak mungkin. Seandainya aku memang tidak bisa melihat lagi, apa gunanya aku hidup. Kenapa tidak ambil saja nyawaku sekalian!" ucap Gafi.
Dia menggenggam tangan Dita erat. Sepertinya takut istrinya akan pergi. Dokter masuk dan meminta Dita menunggu di luar. Agar Dokter lebih leluasa memeriksa.
Dita mendekati Gafi, dan meminta izin keluar. Gafi tampaknya keberatan. Setelah dokter yang mengatakan barulah dia mengizinkan.
"Dita, jangan lama perginya. Aku takut," ucap Gafi.
"Tidak akan lama, Kak. Setelah dokter memeriksa keadaan Kak Gafi, aku akan kembali lagi," ucap Dita.
Dia keluar di bantu perawat karena Syifa sudah tidak diizinkan masuk. Sampai di luar ruangan Syifa telah menunggu. Dita langsung memeluk dan melepaskan sebak di dadanya. Tangisannya pecah.
Alya mendekati menantunya dan memeluk bahu wanita itu. Dia tahu apa yang terjadi dari Syifa.
Alya tidak begitu terkejut karena dokter pernah mengatakan kemungkinan buruk tersebut. Tapi sebagai seorang ibu, hatinya sangat sedih menerima kenyataan itu. Bagaimana nanti dia mengatakan kebenarannya pada Gafi jika dia tidak akan bisa melihat keindahan dinia ini lagi.
__ADS_1
Setelah Dokter memeriksa, dia meminta waktu kedua untuk bicara dengan salah satu keluarga pasien. Papanya Gafi yang pergi menemui.
Gafi segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Dita meminta ayahnya mengurus semuanya dan meminta agar Gafi bisa sekamar dengannya.
Awalnya pihak rumah sakit keberatan karena setiap kamar VVIP hanya diisi satu pasien. Namun, entah apa yang dikatakan Reno, pihak rumah sakit akhirnya setuju.
Dita memeluk ibunya Yuni dan mengatakan semuanya, jika Gafi tidak bisa melihat. Yuni mencoba menghibur dan memberikan semangat buat putrinya dalam menghadapi cobaan ini.
Setelah Gafi dipindahkan keruangan di mana dia biasa di rawat. Dita berdiri dengan bantuan karena kakinya masih terasa sakit jika diinjak. Dia duduk di samping sang suami. Digenggamnya tangan Gafi erat.
"Dita, apakah ini kamu?" tanya Gafi membalas genggaman tangan sang istri.
Alya berdiri di dekat kepala sang putra. Mengusap rambutnya pelan. Gafi lalu meraih tangan itu.
"Mama, apa benar ini Mama?" tanya Gafi .
"Iya, Nak!" Hanya itu yang dijawab Alya. Wanita itu sudah tidak bisa menahan Tangisnya. Air matanya jatuh dan mengenai wajah Gafi.
"Mama, Mama menangis?" tanya Gafi.
__ADS_1
Alya tidak menjawabnya. Dia memeluk kepala sang putra dan menciumnya. Keluarga yang lain tidak bisa juga menahan air matanya. Rachel sampai keluar dari kamar. Dia takut tangisannya di dengar Gafi dan akan membuat pria itu makin sedih dan tertekan.
"Ma, apa aku selamanya tidak akan bisa melihat lagi? Apa aku akan buta selamanya?" tanya Gafi.
"Tidak, Nak. Kami semua sedang berusaha mencari donor mata buat kamu. Akan kami usahakan dengan berbagai cara," ucap Alya.
"Ma, kenapa aku harus hidup jika hanya membuat susah begini. Seharusnya aku mati saja," ucap Gafi.
Dita yang mendengar ucapan suaminya menjadi sedih. Dia menarik napas dalam sebelum bicara.
"Apa Kak Gafi sudah tidak mencintai aku lagi? Kenapa Kakak berkata begitu? Aku selalu berdoa Kak Gafi sadar dan bisa bersamakub lagi, tapi Kak Gafi lebih memilih meninggalkan aku," ucap Dita dengan suara serak karena menahan sebak di dada.
Dita menjauh dari putranya. Dia sudah tidak tahan lagi. Keluar dari ruangan dan dia melepaskan tangisnya di luar ruangan.
"Dita, aku sudah tidak bisa apa-apa. Aku hanya akan menyusahkan," ucap Gafi.
"Bagiku yang terpenting Kak Gafi sehat, apa pun keadaannya. Jika Kakak tidak bisa melihat, ada aku yang bisa menjadi matanya. Jika tidak bisa berjalan, ada aku yang menggantikan kaki Kakak. Aku yang akan membantu semuanya. Aku ini istrimu, Kak. Apa Kakak lupa dengan kenyataan itu, jika kita telah menikah dan harus saling berbagi dan membantu," ucap Dita.
Gafi tampak mengeluarkan air matanya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Baginya tidak akan guna hidup ini jika tidak bisa melihat lagi.
__ADS_1
...----------------...