
Hari ini adalah pertama Shasha kerja. Tepat pukul tiga pagi Shasha sudah bangun. Kali ini Shasha bangun lebih pagi dari biasanya karena ia harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya terlebih dahulu, tak hanya itu jarak kantor dan apartemen yang lumayan cukup jauh sehingga butuh waktu kurang lebih satu jam setengah.
Saat ini sudah menunjukkan pukul enam, dan sudah saatnya Shasha bersiap untuk mandi. Hanya butuh waktu tak sampai setengah jam ia sudah selesai mandi. Segera ia menyiapkan bekal yang akan dia bawa yaitu garlic bread, telur rebus dan air mineral. Setelah itu ia menyempatkan untuk meneguk segelas susu hangat kemudian ia bersiap untuk berangkat. Sebelum berangkat ia sempat melirik dan mengajak bicara bunga anyelir pemberian polisi yang memberhentikan dirinya dan Secil kemarin.
Hai bunga, betah ya disana. Aku berangkat dulu. Jadilah penjaga di apartemen ini ya
Dengan langkah cepat ia berjalan melewati lobi karena ia ingin cepat sampai ke halte untuk membeli e-tiket dan memilih busway sesuai koridornya. Namun saat ia berjalan tiba-tiba ada sebuah mobil yang menghampiri langkahnya. Melihat ada sebuah mobil menghampiri langkahnya ia diam untuk memberi kesempatan mobil tersebut berjalan ternyata mobil tersebut tetap diam. Shasha mengira jika mobil tersebut memang benar-benar diam dan ia pun melanjutkan langkahnya, namun mobil yang diam tadi kini berjalan lirih mengiringi langkahnya lagi. Rasa jengkel mulai menyelimuti dirinya, tanpa banyak bicara dia menghampiri mobil tersebut dan mengetuk kaca mobil penumpang.
Tok!
Tok!
“Buka!” perintah Shasha.
Kaca mobil belum terbuka, padahal ia berniat untuk menegur apa maksud mengikuti dirinya. Belum sempat menegur, dirinya merasakan ada seseorang dari belakang menepuk pundaknya.
“Hai, kita ketemu lagi.”suara seseorang yang menyapa Shasha
Shasha menoleh kebelakang mendengar seseorang sedang menyapa dan menepuk pundaknya.
“P-pak polisi? Ucap Shasha dengan terbata. “M—mmaf pak saya kemarin gak bawa ponsel makanya saya kasih milik sahabat saya. Tapi tolong jangan ajak berdebat sekarang karena saya harus berangkat.” sambil mengisyaratkan tangannya seperti memohon.
“Kalau gitu saya maafkan kamu jika kamu menuruti saya.”
“Pak tolong, saya sedang tak ingin berdebat, biar kan saya lewat karena saya tak ingin tertinggal busway. Ini hari pertama saya kerja pak.” Sambil melirik jam tangan miliknya
“Terserah kamu, maaf kemarin kamu tukar dengan nomor ponsel temanmu dan maaf kali ini kamu harus membalasnya dengan menuruti kemauan saya.”
Tak ada pilihan akhirnya Shasha menurut.
“Oke mau bapak apa?”
“Simpel, naiklah ke mobil. Aku akan mengantarmu.”
Segera Shasha masuk kedalam mobil, sedangkan Yoga yang tak lain nama lain dari polisi tersebut tersenyum bahagia akhirnya wanita yang dikaguminya kini berada di dalam mobilnya.
Didalam mobil Shasha tak tahu harus berkata apa, dirinya benar-benar tegang. Karena ia sedang berada di dalam mobil bersama lelaki yang sekarang sedang mengenakan pakaian polisi. Yoga pun segera menutup pintu mobil Shasha lalu menuju ke arah kemudi. Setelah dirinya membuka pintu mobilnya ia duduk dan bersandar di bangku kemudinya. Sebelum mengemudi ia melihat ke arah sebelahnya. Tahu jika dirinya sedang dilihat membuat Shasha tetap mengarahkan pandangannya kearah depan.
Yoga tahu jika wanita disebelahnya ini sedang salah tingkah karena sedari tadi dirinya melihat ke arah Shasha tanpa segera menancapkan gas. Sudah sekitar lima menit Yoga tak kunjung menjalankan mobilnya.
“Pak, kita berangkat tidak? Jika tidak saya keluar dulu saya harus segera sampai ke kantor.”
“Sepertinya kamu melupakan sesuatu,”
“Apa pak?”
Tanpa banyak bicara Yoga pun mendekatkan tubuhnya ke arah Shasha, Shasha pun segera mundur.
“Maaf maksud bapak apa?”
“Jangan salah sangka, sabuk pengamannya belum kamu pasang. Segera pasang atau saya yang akan memasangnya.”
Mendengar itu Shasha segera memasang sabuk pengamannya.
__ADS_1
Di dalam mobil Shasha hanya diam tak banyak bicara. Dia berusaha mematikan ponselnya yang ia lihat sedari tadi adalah jam tangan yang ada ditangannya yang mana sudah ia setel setengah jam lebih cepat dari jam di kantor.
Shasha yang diam di dalam mobil sedang membayangkan tempat kerja baru namun bayangan akan tempat kerjanya hilang saat Yoga mulai bersuara dan bertanya.
“Apa kamu sudah menikah?”
Shasha sengaja tak menjawab karena ia sendiri tak tahu harus berkata apa lagipula baginya pertanyaan yang ditanyakan Yoga adalah menyangkut pribadinya, sehingga tak harus ia membalas. Apalagi Yoga adalah orang lain.
“Seharusnya bapak tahu jika sedang berkendara dilarang berbicara karena sangat membahayakan.”
Tahu jika dirinya seharusnya tak bertanya privasi dan itu terlihat antara pertanyaan dan jawaban yang sangat melenceng jauh. Yoga pun memilih diam tak melanjutkan pertanyaannya.
Tak terasa kini mereka telah sampai di kantor milik Shasha. Sebenarnya Shasha merasa heran bagaimana sampai Yoga bisa tahu alamat kantor baru dirinya padahal sedari tadi di dalam tak ada pembicaraan keduanya tentang dimana alamat kantor Shasha.
“Ah bodoh! Lagipula dia kan polisi, akan sangat mudah dalam mencari sesuatu yang sulit diketahui orang namun mudah untuk ia dapatkan.” ucapnya dalam hati.
“Oke terima kasih pak.” ucapnya sambil menutup pintu mobil.
Yoga yang melihat itu tak banyak berkata, setidaknya dengan mengajak Shasha semobil membuat dirinya paham bagaimana sikap Shasha yang sebenarnya.
.
.
Dengan cepat ia berjalan menuju ke gedung perkantoran nya . Dilihat keadaan kantor yang masih sepi, dan ia hanya melihat beberapa sekuriti sedang melakukan pergantian shift. Terlihat ada seorang sekuriti yang usianya kira-kira sudah menginjak kepala lima.
"Pagi mbak, karyawan baru ya?" tanya sekuriti yang bernama Mukit dengan wajah sumringah.
"Pagi juga pak Mukit. Iya saya karyawan baru." sapa Shasha dengan senyum tiga jarinya.
"Itu dari bet nama bapak," sambil tersenyum ramah Shasha berucap.
"Hahaha, oh iya ya," pak Mukit tersenyum renyah.
"Saya masuk dulu ya pak,"
"Iya mbak. Selamat bekerja."
Shasha tersenyum mendapat ucapan semangat dari teman barunya itu. Sekarang Shasha berjalan ke arah lift untuk menunggu di ruang tunggu karena memang jam kerja belum dimulai dan masih belum ada karyawan yang datang. Sambil menunggu waktu ia mulai mengecek ponselnya dan melihat banyaknya pesan masuk dari Secil.
Ada apa ni anak telpon dan kirim pesan kayak orang pacaran aja.
Dirinya membalas satu persatu pesan dari Secil. Di pesan terakhir Shasha membaca bahwa Secil mengirim pesan singkat bahwa polisi yang memberhentikan mereka kemarin tahu jika Shasha telah mengerjainya.
“Telat, Ciel. Barusan gue ketemu lagi sama dia.” ucap Shasha lirih tanpa memberitahu Secil jika pagi ini mereka baru saja bertemu dan semobil.
Selesai membaca dan membalas pesan Secil segera Shasha menuju ke toilet untuk membetulkan penampilannya. Dirinya hanya mengoleskan lipstik dan sedikit lip balm pada bibirnya agar terlihat fresh di hari pertama dirinya bekerja.
Tak terasa jam sudah menunjukkan setengah jam dari waktu jam kerja, beberapa karyawan sudah mulai berdatangan termasuk seorang HRD yang meng-interview dirinya kemarin.
Melihat kehadiran Shasha, sang HRD yang namanya Novia itupun melemparkan senyum kepada Shasha. Shasha pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis. Dilihat dari usianya Novia terlihat sudah berumur namun ia masih terlihat masih energik.
Tepat pukul delapan, jam kantor dimulai. Shasha dipanggil untuk ke ruang HRD, di dalam ruangan HRD Shasha diminta untuk menandatangani sebuah surat pernjanjian kerja dan ia pun diberitahu tentang jobdes yang akan Shasha lakukan. Setelah berada di ruangan HRD segera dirinya naik lift menuju keruangan tempatnya bekerja. Ruangan Shasha berada di lantai paling tinggi, dimana di lantai tempatnya bekerja dirinya se-lantai dengan CEO-nya.
__ADS_1
Dirinya kini berdiri dan akan masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar terdiri dari beberapa meja. Disana ia dapat melihat sebuah ruangan tertutup yang diyakini itu adalah ruangan milik managernya yang mana nant8 ia akan berjalan kesana terlebih dahulu sebelum duduk diantara para rekan-rekannya yang ada disini.
Tok!
Tok!
Shasha masuk, tak sampai tiga menit dirinya keluar diikuti oleh managernya. Kini dirinya dipersilakan untuk memperkenalkan diri dan mulailah ia bekerja.
Hari pertama bekerja semua rekan-rekannya memberi banyak pelajaran kepada Shasha, karena Shasha memiliki otak yang encer dengan cepat ia memahaminya. Memiliki rekan kerja yang cekatan seperti Shasha membuat mereka senang. Begitu juga dengan Shasha, ia tak menyangka dirinya dapat dengan mudah dan cepat mengikuti pelajaran baru, baginya ini adalah pengalaman baru Shasha.
Tak terasa sudah empat jam, saatnya jam istirahat. Shasha memilih untuk tidak ikut rekan-rekannya ke kantin karena ia akan memakan roti garlic dan telur rebus yang dibawanya tadi. Sambil makan ia membaca beberapa dokumen yang diberikan rekannya untuk ia pelajari.
Jam istirahat pun selesai, beberapa rekanya mulai berdatangan dan mereka kembali melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Saat sedang enak-enaknya bekerja pintu ruangannya ada yang mengetuk.
“Pak Sodik, ada apa pak?” tanya Rianda salah seorang rekan Shasha.
“Ini mbak, ada titipan makanan ditujukan untuk mbak ….” pak Sodik tak dapat meneruskan ucapannya.
“Untuk mbak siapa pak?” tanya Amanda.
“Maaf bapak gak bisa baca ini, tulisannya jelek.” dengan polos pak Sidik berucap.
HAHAHAHAHAHA
Semua orang yang berada di ruangan pun tertawa kecuali Shasha, bukan karena lucu tapi ia benar-benar terlalu fokus dengan dokumen yang ada di depannya.
“Sini pak, biar saya yang baca.” ucap Rianda mengambil alih paket makanan yang dibawa pak Sodik. “Untuk gadis berkemeja tosca dan pencil skirt abu-abu,” Rianda berkata.
Semua orang yang berada disana mulai melihat ke arah Shasha.
“Ehem, hari pertama kerja sudah dapat kejutan dari …, tulisan siapa ya ini?” Rianda berusaha berfikir siapa yang memberikan hadiah makanan kepada rekan kerja barunya itu.
“Coba lihat.” Amanda mengambil kertas yang ada ditangan Rianda.
“Ini kan tulisan tangannya pak Mukit.”
Mendengar kata pak Mukit membuat Shasha tersadar, segera ia menoleh ke arah Rianda dan Amanda.
“Pak Mukit sekuriti ya mbak?” tanya Shasha.
“Iya, kamu kenal?”
“Iya mbak, tadi pagi saya berkenalan dengan pak Mukit.”
“Ini makan siang buat kamu. Mbak kira dari teman divisi lain. Ternyata dari pak Mukit, beliau memang seperti itu, suka sekali mengabsen siapa saja karyawan yang belum makan siang. Maklum istrinya itu ibu kantin disini.”
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak