TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 129. USIL.


__ADS_3

Shasha yang sedang membereskan beberapa dokumen tiba-tiba ingat jika siang nanti akan ada pertemuan dengan klien di sebuah hotel. Segera ia mengorganisir beberapa isi notulen dari pertemuan sebelumnya dimana saat itu ia masih belum menjadi seorang sekertaris, tak hanya itu ia juga menyempurnakan laporan yang kemarin sudah di cek oleh Dion untuk dipresentasikan.


Dengan serius Shasha mengerjakan bahan-bahan yang akan dibawanya nanti saat meeting, mungkin Shasha tidak menyadari jika saat ini ia belum merapikan diri. Rambutnya yang belum tersisir rapi, wajahnya yang masih penuh aroma bantal guling membuat Dion yang baru masuk sehabis membuatkan minuman di ruang pantry harus  menahan tawa melihat wajah polos tanpa make up.


"Apa ada yang lucu?" tanya Shasha tanpa melihat ke arah Dion.


"Tidak," jawab Dion sambil menaruh dua cangkir minuman di meja sofa.


"Lalu kenapa tertawa?" tanya Shasha yang masih penasaran.


"Kamu sadar gak kalau kamu itu cantik."


Perkataan Dion sontak membuat Shasha melihat kearah Dion sejenak dan menghentikan aktivitas mengetiknya.


"Apa tadi bicara apa?"


"Kamu sadar gak kalau kamu itu bahaya."


"Bahaya? bukannya tadi bilang aku cantik?"


"Lha, uda tahu ngapaian tanya apa yang aku ucapakan."


"Eng--enggak, maksudku tadi. Iya tadi aku dengar kamu tadi bilang aku cantik terus bilang aku bahaya. Kan itu dua kata yang berbeda."


"Iya beda, siapa bilang sama?"


"Gak, gak ada yang bilang sama. Maksudnya kenapa dari cantik bisa jadi bahaya. Itu maksud ku"


"Huh, kalau kamu punya wajah seperti ini sainganku akan semakin banyak. Bahaya kan!" ucapnya sambil mencicipi teh buatannya lalu bersandar santai di sofa.


Mendengar celutakn Dion, Shsaha pura-pura tak mendengar, dan kembali memfokuskan pandangannya ke monitor. Ia sengaja melakukan itu karena ia tak ingin Dion membahas masalah pribadinya tentang sebuah pernikahan yang sudah ia jalani.


"Menikmati teh hangat tanpa gula dengan memandang wanita cantik dan manis di depanku sudah cukup rasanya. Perut kenyang, batin tenang." guman Dion lirih, yang suaranya tetap dapat terdengar oleh Shasha.


"Sampai saat ini aku selalu berdoa agar bisa melihatmu disetiap pagiku, dan saat ini doaku telah terkabul meski bukan yang seperti ini yang ku maksud tapi setidaknya aku bersyukur." lanjut Dion yang masih bergumam lirih.


Niat Dion berkata seperti itu karena ia masih berharap agar Shasha memilih dirinya dan menyadari jika Daniel bukanlah lelaki yang pantas untuk dipilih. Namun sepertinya ucapannya sia-sia, Shasha sama sekali tak ucapannya bahkan tak melirik kepadanya sekalipun.


Sepertinya dia terlalu mencintai lelaki itu, kamu bodoh Sha, harusnya hatimu terluka dan sakit jika melihat semua isi vidio itu! Bukan malah tenang dan terkesan tak peduli.


“Sha, diminum dulu.” ucap Dion untuk mencairkan suasana.


“Iya,” ucap Shasha sambil menatap layar komputernya.


“Kamu sedang apa?” tanya Dion berusaha membuka obrolan.


“Jangan mengajakku bicara, aku sedang sibuk.” ucap Shasha sinis.


“Kenapa sekarang bicaramu tidak formal?” tanya Dion sambil mengertukan dahinya.


“Dion, aku sudah bilang jangan tanya-tanya dulu. Aku sibuk!”


Shasha tak menanggapi ucapan Dion, kali ini ia benar-benar sibuk. Dion yang memahami sifat Shasha pun hanya bisa tersenyum sambil mengingat-ingat masa-masa dikala mereka menggunakan seragam putih abu-abu.


Tok!


Tok!

__ADS_1


Terdengar suara pintu diketuk, Dion yang yakin bahwa itu adalah ketukan dari Kirun yang merupakan OB (Office boy) yang khusus membersihkan ruangannya dan juga ruangan milik Riko. Dengan seribu langkah segera Dion berdiri di depan pintu sambil membuka pintu yang baru saja diketuk.


“Jangan masuk!” ucap Dion lirih sambil keluar dari ruangan itu dan menemui Kirun.


“Kenapa pak? Tapi saya kan harus membersihkan ruangan bapak.”ucap Kirun meyakinkan Dion agar tetap mempercayakan dirinya untuk membersihkan ruangannya. Saat ini Kirun merasa sedih karena ia menyangka jika Dion tidak puas dengan cara kerjanya.


“Bi-biarkan aku yang membersihkannya.” Ucap Dion terbata sambil mengambil sapu dan sulak yang dipegang oleh Kirun.


“Jangan pak,” ucap Kirun spontan sambil kembali merebut sapu dan sulak yang ambil paksa Dion. “ Nanti yang ada gaji saya dipotong jika bapak mengerjakan pekerjaan saya.” Lanjut Kirun yang hendak masuk ke dalam ruangan.


Dion yang panik segera menarik baju belakang Kirun hingga membuat Kirun mundur dan bertanya. “Pak Dion, kenapa jadi aneh? Hayo ada apa hayo. Jangan-jangan bapak sedang mesum ya di dalam?” ucap Kirun menggoda bosnya.


“Sembarangan kamu, saya gak mungkin seperti itu. Saya bilang tunggu sini ya tunggu! Mana biar saya saja yang membersihkan.” Ucap Dion serius sambil mengambil beberapa peralatan kebersihan yang dibawa oleh Kirun.


Dari belakang Kirun menatap punggung Dion dengan heran, tak biasanya atasannya itu berucap serius kepadanya.


Apa kerjaku kurang bersih sampai pak Dion harus turun tangan membersihkan ruangannya sendiri?


Ah gak juga, kemarin pak Dion memujiku, yasudahlah mungkin dia rindu olahraga, makanya ingin bersih-bersih.


Dion yang masuk dengan membawa sapu dan sejenisnya segera membersihkan ruangan dengan cepat, dirinya yang terbiasa hidup mandiri semenjak kematian kedua orangtuanya membuat Shasha kagum. Dia tak menyangka seorang Dion penakluk lapangan basket dapat menyapu dengan baik dan benar.


“Kenapa kamu memandangku seperti itu?” tanya Dion sambil melirik dan mengentikan aktivitasnya yang sedang menyapu.


“Gak,” ucap Shasha yang kini mulai fokus kepada layar monitor nya lagi.


Dion pun kembali menyapu lalu mulai menggoda Shasha dengan mencabut bulu pada sulak yang sedang ia pegang kemudian di arahkan ke telinga Shasha dari belakang.


"Dion! geli!” teriak Shasha.


"Hahaha," Dion yang mendengar Shasha teriak karena kegelian membuatnya tertawa dan melanjutkan aksinya lagi dengan kembali menggoda Shasha.


Tak puas menggoda Shasha dengan cara seperti itu kembali Dion menggoda dengan mengarahkan sulak ke monitor hingga menutupi pandangan Shasha.


"Dion !" Shasha memandang mantan kekasihnya itu dengan tatapan geram.


"Apaan sih daritadi memanggilku terus." dengan nada tak bersalah Dion.


"Kamu yang apaan, aku serius ini."


"Aku kan lagi bersih-bersih," sambil tetap mengelap sulak ke arah monitor Shashsa.


"Ya, tapi kenapa monitor ini terus yang dibersihkan, kan ada monitormu juga."


"Oh ia ya, harusnya semua monitor. Aku lupa," Dion terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Kadir yang berada di depan kamar semakin penasaran, siapa yang berada di dalam bersama pak Dion.


Siapa sebenarnya yang berada didalam? Jangan-jangan pacar  pak Dion?


Ah sudahlah siapapun yang ada didalam, setidaknya aku bersyukur.


Selesai membersihkan ruangan nya kini Dion segera mengecek ponselnnya, berharapa pesanannya akan segera sampai.


Selang beberapa menit kemudian Dion turun menuju lobi dan kembali, sambil membawa sebuah kotak bungkusan yang berisi beberapa pakaian, lengkap dengan sepatu dan tas.


__ADS_1


Shasha yang masih fokus mengerjakan pekerjaannya, tak menyadari kehadiran dirinya yang datang.


"Sudah berhenti, kenapa dari tadi fokus dengan yang ada di depanmu." perintah Dion.


"Tanggung, sebentar lagi selesai.


Melihat sikap Shasha yang mulai keras kepala membuat Dion memutar otak bagaiamana cara agar Shasha bisa sarapan pagi, mandi dan berganti pakaian.


Tanpa banyak bicara segera Dion membuka bungkusan makanan.


"Buka mulutmu," perintah Dion sambil menyodorkan makanan ke mulut Shasha.


"Dion, apa-apaan. Sudahlah! Biarkan aku makan sendiri."


"Aku bilang buka mulutmu, ayo buka."


Shasha yang dipaksa pun mau tak mau akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan yang dilakukan oleh Dion kepada dirinya.


"Gimana enak?"


"Iya. Ini makanan fovoritku, Bubur ayam porsi separuh -"ucapan Shasha terputus saat diselah oleh Dion.


"Porsi separuh tanpa kacang tanah, banyakin kerupuk dan telur rebusnya, betul kan?".


Mendengar ucapan mantan kekasihnya itu, ia tak menyangka jika Dion masih hafal dengan menu kesukaannya. Dengan lahap dirinya makan dan tak perlu menghabiskan waktu setengah jam untuk menyelesaikan makanannya.


Selesai menyuapi dan memberikan minum segera Dion menghampiri meja Shasha dan menekan tombol powe di layar monitor sehingga layar pun berubah menjadi mati.


"Dion kamu apa-apan!" teriak Shasha sambil menampakkan barisan giginya


"Kamu yang apa-apaan, ayo cepat mandi, cuci muka, gosok gigi, dan ganti baju. Jam berapa ini!" sambil melihat jam yang terpasang di tangannya.


"Tidak!"


"Kenapa tidak?" tanya Dion bingung.


"Aku tidak akan mandi sebelum kamu menyerahkan ponselmu kepadaku."


"Kenapa memangnya?"


"Jangan kamu kira aku tak tahu, bahwa kamu menyambungkan CCTV itu dengan ponselmu."


"Oke, ini bawa ponselku. Kamu simpan yang rapi. Cepat mandi, atau aku akan menggendongmu masuk ke dalam dan kita mandi bersama."


Mendengar ancaman Dion segera Shasha masuk ke kamar rahasia yang semalam ia gunakan tidur, dengan membawa kotak pakain yang tadi sudah disiapkan.


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di


ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2