
Shasha yang keluar dari ruangan Dion dan kini muncul dengan wajah segar, tampilan yang menawan dengan rambut diikat tinggi ala ekor kuda ditambah dengan make up flawless andalannya dapat membuat orang yang melihatnya terpesona tak terkecuali Dion. Dengan tatapan dalam, dipandangnya wajah cantik di depannya itu tanpa berkedip sedikit pun, sorot mata yang tajam membuat Shasha menjadi salah tingkah. Menyadari jika mantan kekasihnya itu merasa risih seketika Dion berdehem demi mencairkan suasana
“Ehem …., Kenapa tampilanmu jadi seperti ini?” ucap Dion sambil berdiri dari sofa tempatnya duduk.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Shasha sambil mengangkat tangan sambil meneliti pakaian yang sedang ia kenakan.
“Banyak, yasudah aku mandi dulu. Ingat jangan keluar ruangan sampai aku selesai.”
“Ya.”
Dion yang berjalan kemudian masuk ke ruangan pribadinya kini membuat Shasha bertanya-tanya.
Memang kenapa dengan diriku? Apa ada yang salah dengan pakaianku? Aku rasa tak ada masalah, lagipula ini pakaian ini ada ditempat kotak yang tadi disiapkan.
Kurang lebih tiga puluh menit Dion muncul dengan setelan jas yang menawan. Dirinya yang berharap mendapat pujian berulang kali mondar-mandir di depan Shasha sambil membuka ponsel. Ditunggunya pujian itu namun tak kunjung ia dapatkan hingga terdengar suara pintu terbuka sebagai pertanda kini Riko sudah datang, artinya jam kerja sudah hampir dimulai.
Mendengar suara pintu terbuka segera Dion berdiri dari tempatnya duduk saat ini dan berjalan cepat untuk memasuki ruangan nya. Kini Shasha duduk sendirian di ruangan nya ditemani alunan musik era tahun 2000an yang ia nyalakan. Melihat Dion dengan tingkah seperti itu membuat Shasha terheran.
Ada apa? Kenapa tiba-tiba berdiri? Hahahha mungkin dia lelah karena tidak aku ajak bicara.
Bagus lah, hussh sana-sana duduk lah dengan nyaman di kursimu.
Baru saja membatin tentang Dion, kini Shasha mendengar langkah kaki, yang ia yakini ini adalah langkah seorang pria yang dapat dikenali dari suara hentakan sepatu yang sedang dikenakan. Dan kini suara langkah tersebut terdengar semakin dekat hingga pintu yang digeser pun mulai terdengar.
Ternyata suara langkah itu adalah suara milik Riko, tanpa permisi dan mengetuk pintu kini ia duduk di depan sofa yang tepat berada di depannya. Riko yang duduk tidak berkata sepatah kata pun, ia hanya duduk memandangi wajah cantik dari sekertaris bosnya.
Kenapa wanita di depanku ini benar-benar cantik? Pantas saja Dion tak bisa melepaskan wanita ini.
Shasha yang dipandangi sedari tadi merasa tak nyaman, hingga ia mencoba bertanya.
"Pak, baru datang?" tanya Shasha basa-basi."
"Hem. Kamu datang jam berapa?"
"Baru saja," bohong Shasha.
Terdengar suara percakapan segera Dion keluar dari tempat kerjanya dan keluar untuk duduk tepat disamping Riko.
"Tumben sudah datang?" tanya Dion kepada Riko.
__ADS_1
"Iya." ucapnya singkat sambil tetap memandang wajah Shasha. "Dion, aku gak salah lihat kan? apa ini benar sekertarismu?"
"Kenapa memang nya?"
"Dapat yang beginian darimana sih?"
"Maksudmu?"
“Aku merasa iri dengan mu,kenapa kamu selalu dikelilingi wanita cantik sedangkan diriku satu saja belum tentu."
"Aku dapat di UKS, semua itu gara-gara bola basket."
"UKS? Bola basket?" Riko bingung dengan penjelasan Dion. Shasha yang mendengar jelas itu semua merasa tak enak jika ruangan nya dibuat bahan bergosip dua lelaki, kini ia memililh untuk keluar ruangan.
Shasha keluar berjalan menuju ke tempat ruangan kerjanya dulu. Dari jauh ia melihat teman-teman lamanya saling bercerita, bercanda dan mencicipi masakan yang biasanya dibawa oleh Dimas, dengan nafas panjang Shasha berusaha tegar dan meratapi nasibnya. Masalah rumah tangganya yang tak tahu harus dibawa kemana mengingat kini Daniel sama sekali tak memberikan kabar begitu juga dengan Johan yang sekarang benar-benar tak pernah lagi menguhungi dirinya termasuk Secil.
Dengan wajah menunduk Shasha mencoba menguatkan hatinya sambil melangkahkan kaki menuju ke toilet hanya untuk mencuci tangannya dan berkaca.
Mengapa masalah muncul bertubi-tubi setelah aku menyakiti Dion, bukannya dengan memilih Abra artinya aku sudah mendapatkan karma dan harusnya karma itu berakhir setelah kami berpisah.
Sambil menatap kaca ia melihat dirinya sendiri yang sedang meneteskan air mata. Lukanya yang belum karena penghianatan Abra dan kebahagiannya yang baru saja terukir kini hilang bagai pasir tersiram oleh air hujan. Sebuah mimpi yang diukir bersama Daniel tak tahu kemana arahnya dan perlahan mulai menguap. Rasanya itu hanya sebatas mimpi
Jam kerja telah dimulai, baik Shasha, Riko ataupun Dion kini mereka bertiga sudah berada di ruangan masing-masing. Siang ini adalah jadwal pertemuan Dion dengan klien, bagi Shasha ini jobdes pertama Shasha di luar kantor.
Tepat pukul sepuluh siang Dion keluar dari ruangannya,dan mengajak Shasha.
"Ayo, kita berangkat." ajak Dion.
Shasha merasa aneh, kenapa baru jam sepuluh Dion sudah mengajaknya keluar padahal jadwal meetingnya ditunda sore hari. Dia memilih untuk tidak banyak bertanya kepada Dion.
Apa meetingnya dipercepat? Mungkin klien tersebut menghubungi Dion secara personal.
Kali ini Dion tak lagi ditemani oleh Riko, dia mempercayakan pekerjaan di dalam kantor selama kepergiannya kepada Riko, baginya asistennya itu sangatlah kompeten dan tak perlu diragukan lagi.
Dion dan Shasha kini berada di lobi kantor, di depan mereka terlihat sebuah mobil merek Porscheberwarna hitam dove. Dion segera masuk diikuti dengan Shasha. Didalam perjalanan Shasha hanya diam berharap pertemuan dengan klien nanti dapat berjalan dengan lancar.
"Kamu kenapa?" tanya Dion.
"Gak papa pak,"
__ADS_1
"Coba ulangi tadi panggil apa?"
"Yang mana ya?" tanya Shasha dengan bingung.
"Kamu tadi jawab apa?"
"Gak papa, pak."
"Ya itu maksudku, Pak? Apa ada panggilan yang lebih keren dari itu?"
"Apa ya?"
"Kamu sadar gak sih sekarang kita berada dimana dan sedang apa?"
"Di jalan, kita sedang dinas luar kan. Apa ada yang salah dengan perkataan saya pak?"
"Ada banyak, salah mu banyak."
"Apa salah saya pak?"
"Salah kamu adalah berulang-ulang memanggil saya dengan sebutan BAPAK, padahal kita berada di luar kantor!" jelas Dion lalu diam tak bicara lagi.
Mendengar itu Shasha hanya diam dan binggung tak habis pikir hanya salah panggil saja bisa membuat Dion sampai marah seperti itu.
Dasar sensitif.
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di
ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih
__ADS_1