
Tanpa menunggu besok, segera Shasha mengambil ponselnya dan mencari sebuah nama yang sudah ia anggap sebagai seorang kakak. Kemudian ia mengrimkan pesan.
Shasha : “Kak …”
Tanpa menunggu lama segera Rianda menelfon tanpa membalas chat dari Shasha.
Rianda : “Iya Sha, ada apa?” tanya Rianda dari seberang telefon.
Shasha : “Kakak dimana?”
Rianda : “Biasa lagi dijalan, habis fitness. Tumben jam segini masih ON?”
Shasha : “Kak, bisa kita bertemu?”
Rianda : “Oke, ditempat biasa ya, setengah jam lagi aku sampai.”
Segera Shasha berkemas dan keluar ditempat biasanya ia bertemu, ternyata mobil Rianda sudah terparkir disana. Didalam mobil Rianda heran melihat mengapa Shasha berjalan ke arahnya sambil menyeret sebuah koper malam-malam begini. Rianda keluar dari mobil dan membantu Shasha meletakkan barang-barang ke dalam mobil.
“Bawa koper malam-malam begini kamu mau kemana?"tanya Rianda penuh selidik.
"A--aku mau," Shasha menahan ucapannya sambil matanya melihat ke atas menahan sesuatu agar tidak keluar dari matanya.
"Kamu kenapa? Ayo jelaskan ke kakak. Kenapa?" Rianda menatap mata Shasha dalam.
“Bawa aku ketempat yang jauh kak, aku ingin hidup menjauh.” Ucap Shasha sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar.
“Kakak gak tahan melihat orang menangis. Ayo cerita.” dengan nada suara lembut menatap Shasha dan memegang kedua pindah Shasha. Pandangannya terganggu saat melihat bekas merah yang muncul di pipi mulus Shasha. “Ini kenapa?” sambil memegang pipi Shasha yang merah tanda bekas tamparan.
“Gak papa kak,” tampik Shasha yang tak ingin bekas tamparan di pipinya dipegang Rianda. “Ini tidak seberapa, kak. Yang aku rasakan sakit ada disini." sambil menunjuk dadanya."Setelah peristiwa itu setidaknya akan mengingatkan ku bahwa dia bukan suami yang bisa melindungi.” lanjut Shasha.
“Suami? Ka-ka-kamu sudah menikah?”
“Iya,” sambil mengangguk yang artinya ia membenarkan pertanyaan Rianda.
“Apa suamimu yang melakukan ini?” tanya Rianda lagi sambil menunjuk bekas tamparan pada pipi rekan kerja yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
“Bukan, tapi mantan kekasihnya dan dia hanya diam melihat aku diperlakukan demikian."
"Diam? Kalian sudah menikah kan? Lalu kenapa dia hanya diam."
"Mungkin karena kami sedang berada di tempat umum."
"Apa hubungannya? Seharusnya dia bisa melindungi mu!"
__ADS_1
"Ceritanya rumit. Aku menyetujui beberapa syarat pernikahan yang dia ajukan bahwasannya kita hanya sepasang suami istri jika sedang berada diantara keluarga tetapi jika ditempat umum kita bukan siapa-siapa melainkan orang asing yang tak pernah mengenal."
"Kenapa?"
"Karena dia belum mencintaiku."
"Belum artinya masih ada kemungkinan dia mencintaimu? Karena aku rasa bulsh*t jika lelaki tidak mencintaimu."
"Kami menikah karena perjodohan, dan dia terlalu takut dengan masa lalunya ditambah masa laluku yang menurutnya sama dengan mantan kekasihnya. Oleh karena itu sebelum menikah ia memberikan beberapa syarat salah satunya adalah tadi. Namun seiring berjalannya waktu rasa bencinya berubah cinta dan baru saja dia mengucapkan cinta tiba-tiba mantan kekasihnya datang. Entah apa yang membuat dia tiba-tiba menurut dengan wanita itu, hingga dia meminta izin untuk menyelesaikan misinya yang mana ia harus baik dan romantis kepada wanita itu."
"Misi apa?"
"Aku tidak tahu."
“Lalu keputusan apa yang ingin kau ambil hingga memintaku menjemputmu malam-malam begini?”
“Aku merasa dia sudah benar-benar tidak menginginkanku.”
“Kamu yakin? Bukannya tadi kamu bilang, dia tidak akan mengenalmu jika ditempat umum?”
Sebelum berbicara Shasha menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata mencoba mengingat apa saja yang terjadi selama beberapa bulan ini termasuk kejadian beberapa hari yang lalu. “Ada banyak bukti yang menurutku dia sudah tidak menginginkanku, dan menurutku misi adalah sebuah alasan.” Sambil menahan rasa sesak pada hatinya.
“Jadi keputusanmu bulat meninggalkannya?”
“Artinya kalian bercerai?”
“Inginku seperti itu, kak. Karena lebih baik dicintai daripada mencintai.”
“Terkadang para orangtua memang egois dengan menjodohkan anak-anak mereka tanpa mereka tahu bagaiamana perasaan anak-anaknya yang sebenarnya. Jika kamu memilih pisah bagaimana degan orangtua kalian?”
“Aku ingin bercerai tapi bukan aku yang menggugat, aku hanya ingin pergi darinya sampai dia menggugat dan menceraikan ku.”
“Justru itu akan merugikan mu, Sha. Bagaimana jika dia datang kepadamu sesukanya dan meminta jatah padamu?”
“Tidak mungkin, karena selama menikah kami belum pernah berhubungan. Dan jika tiba-tiba dia datang kepadaku untuk meminta haknya maka dengan keras aku berhak menolak dan memintanya untuk memilih menceraikan ku atau mengulangi pernikahan.
“Bagaimana jika dia tidak mau dan berbuat kasar padamu?”
“Dia bukan orang seperti itu. Dia lelaki terpelajar dan dia tak mungkin berbuat kasar padaku.”
“Jika kamu menunggu dia sampai menceraikan mu bagaimana jika ada lelaki yang mencintaimu tulus dan mengajakmu menikah?”
“Untuk saat ini aku belum memikirkan pernikahan, aku ingin menata diriku terlebih dahulu. Aku ingin mengumpulkan uang dari hasil kerjaku ini, setelah itu aku akan melanjutkan pendidikan S2 ku di luar negeri.”
__ADS_1
“Tapi kamu gak mungkin harus menghindari itu Sha, cepat atau lambat akan muncul persoalan itu.”
“Akan aku pikirkan lagi, aku ingin seperti kakak yang bebas.”
Rianda tersenyum mendengar ucapan Shasha lalu mengambil nafas panjang. “Ternyata dibalik wajahmu yang lembut kamu menyimpan banyak beban.”
“Kak, kita dari tadi diam disini. Kapan kita jalan?” tanya Shasha yang menyadarkan Rianda bahwasannya sedari tadi mereka tidak jalan melainkan diam di mobil sambil bercerita.
“Lha, kamu juga gak nyuruh jalan. Gara-gara ini ni kita jadi bercerita.” Rianda menunjuk bekas tamparan yang ada di pipi Shasha.” tunjuk Rianda sambil menekan pedal mobil lalu mereka pun melaju meninggalkan jalanan yang berada di dekat apartemen.
Sepanjang perjalanan Shasha diam, dirinya berfikir apakah langkah yang diambilnya benar tanpa memberitahu keluarga besarnya atau salah, jika dia bercerita tentang keputusannya maka kedua orangtuanya akan kecewa dengan keputusan yang diambilnya namun jika dia menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya yang sesungguhnya maka dia takut jika keluarganya akan marah terutama ayah dan kakaknya akan murka.
Shasha tidak menginginkan adanya pertengkaran antara dua keluarganya, yang mana keluarga itu terjalin karena sebuah hutang budi, yang mana karena hutang budi itu maka dua keluarga yang tak saling kenal akhirnya saling mengenal dan mengawinkan anak keturunan mereka menjadi satu.
Shasha sendiri sangat mencintai mertuanya, baginya Melly bukanlah ibu mertua, dia lebih mirip seperti seorang ibu. Hampir setiap bulan ia mendapat uang bulanan dari Melly, Shasha sendiri hanya bertanya kabar kepada mertuanya tanpa menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya. Keinginan mertuanya untuk memiliki seorang cucu belum bisa dia wujudkan bukan karena ia tak mampu memberikan cucu namun karena dia dan Daniel sama sekali belum berhubungan suami istri. Yang mertuanya tahu jika anak dan menantunya itu sudah saling cinta dan untuk urusan cucu mereka percaya jika memang belum mendapat amanah dari sang Pencipta.
“Sha, apa kamu sudah makan?” tanya Rianda sambil memberhentikan mobil dan memarkirkannya dekat dengan sebuah tempat makan angkringan yang berada di pinggir jalan.
“Belum kak, Shasha gak selera.”
“Yakin gak selera? Sudah turun saja, aku jamin kamu akan ketagihan.” paksa Rianda sambil mematikan mesin mobilnya dan keluar dari mobil.
Shasha yang terpaksa akhirnya keluar dan mengikuti Rianda keluar dari mobil sambil berjalan dan antri menunggu giliran memesan makanan. Setelah mendapat giliran memesan makanan Shasha dan Rianda memilih untuk duduk di tikar bersama dengan beberapa pelanggan lainnya.
“Gimana seru ya?” tanya Rianda sambil mencelupkan tangannya di dalam kobokan air yang disediakan oleh penjual.
“Iya seru kak, kakak sering kesini?”
“Iya sering saat bersama almarhum. Kami sering kesini saat pacaran dulu. Tapi sekarang hanya aku yang datang kesini tanpa ada dia didekat ku.”
“Almarhum pasti senang, meski dia tak lagi disisi kakak namun dia bahagia karena kakak masih mengingat semua momen kebersamaan bersama dengannya.”
“Iya, aku gak mungkin lupa. Ayo kita makan, setelah itu kita akan pulang.”
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
__ADS_1
Terima Kasih.