
"Ay, aku datang. Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Daniel sambil mengelus rambut istrinya.
Shasha yang masih terbaring selama 14 hari masih belum menunjukkan kemajuan, rasa sedih semakin menyelimuti Daniel. Harapan demi harapan ia tetap tanamkan meski sebuah kata putus asa terkadang muncul di sanubarinya.
Seketika ia mencoba menelaah perkataan dokter yang mengatakan bahwa kondisi istrinya masih sama tidak mengalami perubahan bahkan terbilang lemah. Dokter yang menangani Shasha meminta agar Daniel sekeluarga tetap berdoa dan berharap akan datang keajaiban.
Tak tahu harus berbuat bagaiamana melihat istrinya dengan kondisi seperti itu. Dengan wajah sendu dan penuh doa ia mengelus lembut rambut istrinya, dipandanginya wajah sang istri dalam-dalam hingga tanpa sadar air mata kembali menetes. Rasa takut mulai menghantuinya, dirinya tak siap kehilangan Shasha yang merupakan belahan jiwanya.
Dia juga tidak dapat membayangkan kedua anaknya harus besar tanpa belaian seorang ibu terutama Zy yang baru saja lahir berumur 14 hari sama seperti lamanya Shasha yang terbaring di ruang ICU.
***
Didalam kamar yang cukup besar, tepatnya sudut kamar terdapat seorang lelaki tampan, dari usainya sepertinya kepala empat namun dilihat dari wajah masih berusia kepala tiga, matanya yang biru dan wajahnya yang tampan kini tak terlalu tampak karena tertutup oleh sedih yang menyelimuti hari-hari nya, dia adalah Daniel.
Sampai saat ini, dirinya tak percaya jika kehidupan rumah tangganya diuji dengan cobaan seperti ini. Di pojokan kamar Daniel terduduk lemas, ia memikirkan nasib kedua anaknya, dirinya sendiri merasa tak sanggup jika kembali berpisah dengan istrinya untuk yang kedua kalinya apalagi jika harus terpisah untuk selamanya. Shasha adalah wanita yang selalu melindungi nyawanya, memberinya kebahagiaan nyata salah satunya adalah dua anak yang tampan dan cantik padahal Daniel merasa belum pernah memberi kebahagiaan kepada istrinya.
Dalam kamar yang sengaja ia redupkan cahayanya, ia yang menangis dan tetap berdoa berharap kepada sang pencipta untuk diberikan keajaiban.
"Sayang .... Apa kamu sedang bercanda?
Jika kamu bercanda, tolong hentikan sayang. Aku mengaku menyerah, aku kalah sayang.
Atau kamu hanya mengujiku?
Aku juga tidak bisa, aku tak sanggup. Aku memilih menyerah. Aku membutuhkanmu, Ay.."
Daniel bergumam sendiri sambil kembali meneteskan air mata yang tumpah di lantai karena tak sanggup menahan kesedihannya.
Tok ... Tok ...
"Ayah ... Apa kau di dalam?" tanya Ecka. Dirinya yang pulang dari sekolah melihat mobi yang biasanya ayahnya gunakan sedang terparkir.
Suara ketukan pintu membuat Daniel menyeka air matanya, ia tak ingin anaknya melihat dirinya menangis. Kerena yang Ecka tahu jika keadaan ibunya saat ini baik dan masih pemulihan setelah melahirkan Zy, adiknya.
"Ayah?" tanya Ecka lagi sambil mengetuk pintu.
"Iya nak, tunggu." jawab Daniel.
Beberapa saat kemudian Daniel keluar dari dalam kamar.
"Ada apa jagoan ayah?" tanya Daniel lembut.
"Kenapa mata ayah merah?" tanya Ecka penuh selidik.
"Masa? Apa iya? Sepertinya ayah agak flu." ucapnya seperti salah tingkah, padahal ia sedang berusaha berbohong dengan pura-pura memencet hidungnya yang tidak gatal.
Ecka yang melihat gelagat ayahnya tahu jika ayahnya sedang berbohong, ia tahu jika saat ini ayahnya sedang memikirkan keadaan ibu. Karena sudah beberapa Minggu ini ayahnya sering sekali pulang malam bahkan terkadang pagi. Meski ia tidak pernah bertanya kemana ayah nya pergi hingga larut namun ia tahu jika ayah nya baru pulang dari rumah sakit untuk menemani ibunya yang masih berada disana.
Dari gelagat ayahnya Ecka merasa jika ibunya tidak baik-baik saja. Namun ia berusaha tidak menaruh sedih dihadapan sang ayah karena ia tak ingin ayahnya semakin terbebani.
***
Keesokan harinya,
Rasa penasaran Ecka yang cukup tinggi, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada ibunya mengapa sampai membuat ayahnya harus sering pulang larut dan mata ayahnya yang bengkak seperti habis menangis hampir setiap hari.
Kebetulan hari ini adalah hari ibu ia ingin memberikan kejutan kepada ibunya dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Ia berharap dengan kehadirannya ibunya akan segera pulih. Sang supir harus bagaimana, ia tahu jika istri majikannya sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan berbagai alat yang menempel. Ia bingung bagaimana cara menolak permintaan anak dari majikannya karena Daniel melarang dirinya untuk mengantar Ecka ke rumah sakit.
Segera sang supir menelpon Alea yang merupakan anak dari majikannya dulu. Dirinya heran mengapa anak majikannya itu justru membantunya untuk mengantarkan Ecka bertemu dengan ibunya.
Disebuah parkiran rumah sakit, Alea menunggu kedatangan keponakannya. Tak begitu lama terdengar suara mobil berhenti tepat disebelahnya.
Ecka keluar dari mobil dan menghampiri bibinya.
"Sayang, apa kamu ingin melihat ibu?" tanya Alea lembut kepada keponakannya.
"Ia, aku rindu ibu. Dimana ibu? Apa ibu sudah sehat, aunty?" tanya Ecka sambil mencium tangan Alea untuk salim.
__ADS_1
"Ibu ada disebuah tempat, namun berjanjilah pada aunty untuk tidak menangis saat bertemu ibu."
"Oke aunty, aku ingin memeluk ibu dan mengatakan bahwa aku rindu ibu. Aku rindu disayang ibu."
Mendengar itu Alea membalikkan tubuhnya ia menyeka air matanya.
"Kalau begitu berjanjilah pada aunty, jangan menangis apapun yang kamu lihat nanti, karena jika kamu nangis maka ibu akan sedih dan menangis."
Ecka mengangguk.
Alea diam-diam memasuki ruang ICU bersama dengan Ecka, entah bagaimana caranya seperti ada yang mempermudah dirinya dan Ecka untuk masuk menemui Shasha.
Mereka berdua yang masuk tidak melihat jika di dalam ada Daniel. Begitu juga dengan Daniel yang sedang menundukkan wajahnya tidak tahu jika anak pertama nya sedang berdiri di sampingnya bersama sepupunya, Alea.
Ecka tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ibunya yang sedang terbaring dengan sebuah alat yang dirinya sendiri tidak tahu alat apa itu, air matanya hampir tumpah namun ia hapuskan dengan cepat, karena ia ingat ucapan Alea bahwa ibunya akan menangis dan sedih jika melihat dirinya menangis.
Alea yang melihat kondisi itu tak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Dirinya menengadah kepalanya ke atas agar air matanya cepat mengering terkena hembusan AC.
Dengan langkah pelan ia secara tiba-tiba meletakkan tangannya diatas tangan ayahnya yang sedang menggandeng tangan ibunya.
"Ibu ... Ecka datang. Ternyata, ibu tidur disini. Pantas saja Ecka mencari ibu dikamar tidak ada, di kamar Zy pun juga tidak ada, ternyata ibu disini.
Ibu ... Ayo bangun... Ecka rindu. Ibu tahu hari ini hari apa? Hari ini hari ibu.
Aku membawakan makanan kesukaan ibu, nasi goreng. Ecka yang membuatnya sendiri tadi di sekolah. Berhubung tadi ibu tidak datang di sekolah maka Ecka membawanya kemari. Apa ibu mau mencobanya?"
Ecka berucap sambil mengeluarkan kotak makan dari tak bekal yang dibawanya.
Daniel tertegun dan tak percaya dengan kehadiran putranya yang tiba-tiba muncul sambil mengajak bicara Shasha.
"Ecka, kenapa kamu disini Nak?" tanya Daniel kaget melihat keberadaan anaknya.
"Tolong jangan marah ayah, Ecka rindu ibu. Ecka ingin memberikan ini kepada ibu di hari ibu, karena ibu begitu menyukai nasi goreng."
"Ayah tidak akan bisa marah kepadamu, maafkan ayah yang tidak jujur padamu tentang keberadaan dan keadaan ibu." ucap Daniel sambil memeluk dan memangku anaknya.
"Terimakasih ya sayang."
Alea yang melihat itu benar-benar tidak dapat menyembunyikan tangisannya dan ia memilih untuk keluar dari ruangan tersebut. Begitu juga dengan beberapa Dokter dan perawat yang melihat pemandangan itu dari balik kaca.
***
Saat ini Daniel berada di bangsal rumah sakit bersama Alea. Tatapannya begitu tajam.
"Mengapa kamu bawa Ecka kemari?" tanya Daniel dengan tatapan tak suka.
"Aku tak sanggup menolak permintaannya, dia begitu dekat dengan Shasha dan aku kasihan melihatnya. Jangan kamu merasa bahwa dirimu saja yang butuh dan ingin melihat Shasha. Sadar Daniel, kami semua termasuk kedua anakmu juga ingin melihat ibunya bagaiamana pun kondisinya. Siapa tahu dengan keberadaan Ecka bahkan Zy akan membuat Shasha terbangun dari tidur panjangnya."
Seketika Daniel terdiam, apa yang diucapkan sepupunya itu ada benarnya. Ia pun diam, tak ingin berdebat dengan sepupunya iapun memilih untuk kembali ke ruang ICU, tempat istrinya terbaring.
Sesampainya di ruangan tersebut, dari luar pintu kaca ia terkejut saat melihat kedua anaknya kini berada di dalam, tepat disamping Shasa bersama dengan pak Idris, ayah Shasha.
Bukankah itu ayah?
Siapa anak bayi yang digendong ayah?
Astaga itu kan Zy ....!
Daniel yang hendak berjalan ke arah ruangan Shasha merasa langkahnya berat tiba-tiba ia teringat ucapan Alea tadi saat di bangsal. Seketika ia menghentikan langkahnya dan kembali berjalan
Tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan terlihat disana pak Idris sedang menggendong Zy sedangkan Ecka duduk di kursi samping ibunya. Jari jemari Shashsa di belai lembut oleh Ecka, ia melakukannya sama seperti yang dilakukan ibunya kepada dirinya saat keduanya sedang bersantai sambil bercerita.
"Ibu ... ibu sering melakukan ini kepadaku. Sekarang aku yang melakukannya untuk ibu. Apa ibu suka...? Sama, aku juga menyukai nya Bu.
Oh ya Bu, Zy datang .... Zy bilang ia ingin juga dimainkan jari-jarinya seperti yang ibu lakukan padaku.
Tapi tenang Bu, aku sudah melakukannya dan Zy suka.
__ADS_1
Aku akan selalu menjaga Zy seperti pesan ibu saat Zy masih di dalam perut."
Pak Idris yang mendengar ucapan cucunya tak kuasa membendung air matanya. Ia tak menyangka anak perempuan satu-satunya yang ia sayangi dan yang pernah ia hina karena salah paham kini terbaring di sebuah ranjang rumah sakit setelah melahirkan cucunya.
"Anakku, ayah datang membawa kedua anakmu untuk menjenguk mu. Mereka mirip seperti Erza dan kamu.
Acha anakku, bangunlah nak. Ayah ingin mengulang masa-masa dimana ayah masih muda dan selalu mengajak mu bermain.
Berilah kesempatan pada ayahmu ini untuk bisa bercanda, berkumpul dengan mu, kakakmu dan semua cucu ayah-bunda.
Bangunlah Nak ...." ucap Idris sambil meneteskan air matanya.
"Kakek ...., Ibu belum ingin bangun, mungkin ibu sedang bermimpi tentang kita. Lebih baik kita keluar saja. Dari tadi kita sudah menganggu ibu tidur." ucap Ecka kepada sang kakek.
Setuju dengan ucapan cucunya, pak Idris yang menggandeng Ecka untuk keluar dari ruangan tersebut kaget mendengar suara Zy menangis padahal selama di dalam ruangan ia begitu manis dan diam.
Oek ... Oek ....
Zy yang menangis keras diambil alih oleh Melly namun tangisannya masih tetap, begitu juga dengan Sally yang mencoba untuk bergantian menggendong dan hasilnya tetap menangis. Kini Zy digendong oleh Daniel juga sama masih tetap menangis.
Daniel yang bingung dengan Zy yang terus-terusan menangis.
"Zy .... Zy sayang kenapa menangis?" tanya Daniel sambil mendekap hangat anaknya.
Zy yang biasanya diam tidak rewel jika di dekap masih sama bahkan tangisannya kencang hingga ia mulai mengingat ucapan Alea.
Kini Daniel mengajak kedua anaknya untuk masuk. Sesaat, ketika masuk Zy pun langsung diam dan tidak rewel.
Zy, sepertinya kamu merasakan kehadiran ibu disini ....
Tuhan ..., anak sekecil ini dapat merasakan kehadiran ibunya meski istri hamba masih terbaring tapi ia bisa merasakan dan tenang berada disamping ibunya ....
Daniel menatap dalam wajah sang putri yang begitu tenang saat sudah berada di dalam ruangan.
"Ibu .... Zy tadi nangis tapi setelah bertemu ibu ia diam." ucap Ecka.
Dan seketika terdengar suara gelak tawa Zy sambil tersenyum.
"Ayah ... sepertinya Zy sedang senyum kepada ibu."
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Daniel dan Ecka hanya terdengar suara Zy saja.
Pemandangan mereka bertiga membuat orang dibalik kaca terharu termasuk seorang dokter yang menangani Shasha. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi sirine dari ruangan Shasha. Segera para dokter dan perawat masuk ke dalam sedangkan Daniel dan kedua anaknya keluar dari ruangan tersebut.
Daniel yang keluar dari ruangan istrinya berharap yang terbaik untuk sang istri.
***
Sekitar 45 menit dokter yang memeriksa Shasha keluar dan meminta keluarga secara bergantian untuk masuk karena pasien ingin bertemu.
Rasa syukur berulang kali keluar dari mulut keluarga yang menjenguk saat mendengar ucapan dokter, karena kini Shasha telah sadar dan ventilator pun telah dilepas hanya EKG monitor dan cairan infus saja yang masih terpasang.
Mengetahui jika istrinya telah sadar ia tanpa egois meminta mertuanya untuk masuk terlebih dahulu. Pak Idris dan Sally memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara dengan putrinya. Tak tahu apa yang sedang dibicarakan di dalam. Begitu juga dengan Melly dan Joshka yang memilih masuk setelah besannya itu keluar.
Kedua orangtuanya yang sudah masuk dan kini adalah giliran Daniel dengan kedua anaknya. Raut wajah mertua dan kedua orangtuanya seperti sedang menahan sesuatu namun tak tahu apa.
Bukannya seharusnya mereka bahagia karena Shasha sadar...
Mungkin hanya perasaanku saja...
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
__ADS_1
Terima Kasih