
Setelah pembicaraannya dengan Asia membuat Yoga menaruh iba kepada Shasha. Karena sebenarnya korban disini adalah wanita cantik berlesung pipi itu. Dari penyelidikan yang ia lakukan diam-diam, bukan Shasha yang membakar rumah kosong. Namun Leon yang tak mau menerima kenyataan dan menganggap Shasha yang salah sehingga dia dendam. Sedangkan Asia dan saudara kembarnya tak pernah dipandang oleh ayahnya kini mulai mencari cara agar sang ayah mau melihat mereka.
Kedua saudara kembar tersebut tak tahu apa yang membuat ayahnya tak pernah menganggap mereka berdua sebagai anaknya, yang mereka tahu ayahnya seperti itu setelah kematian sang kakak. Yoga yang tahu alasan mengapa Leon bersikap demikian, dirinya hanya tersenyum miris melihat kondisi keluarga yang tak harmonis itu.
Yoga berniat akan pindah haluan untuk selalu melindungi Shasha dan berharap agar Daniel dan Shasha tak pernah berpisah dan selalu bersama.
.
.
Malam hari di kantor Shasha
“Sha, lu mau pesan apa?” tanya Rianda yang sibuk dengan ponselnya karena sedang mengecek promoan makanan.
“Hemmmm, apa ya kak? Aku ngikut aja kak. Saya suka semua kak.” sambil terkekeh Shasha menjawab.
“Oke, ngikut gue aja ya. Pilihan gue selalu enak kug.” Gue ulangi pesan enam ya.” teriak Rianda.
“Oke.” jawab mereka berbarengan.
Mereka berenam tampak begitu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Shasha yang masih baru sesekali berdiri bertanya kepada seniornya tentang sesuatu yang masih belum ia mengerti dengan senang hati mereka menjawabnya.
Ponsel Rianda berdering, segera ia mengangkat ponselnya dan berbicara dengan raut wajah bahagia. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Mbak Rianda, pesanannya datang.” ucap seorang satpam yang bertugas jaga malam.
“Makasih ya pak Badi.” dengan senyum Rianda berucap dan tak lupa memberikan satu bungkus pesanan kepada satpam tersebut.
“Lho mbak?”
“Sudah ambil saja. Bapak belum makan juga kan? Kalaupun sudah bawa saja gak papa.”
Pak Badi pun menerimanya dengan wajah ceria. “Terima kasih ya, Mbak. Semoga Mbak Rianda makin cantik dan bertemu pangeran yang tampan sedunia.”
“Kug tampan sedunia pak, yang ada nanti saya sakit hati pak.”
“Terus, mbak Rianda maunya yang bagaimana?”
“Yang laki dan tanggung jawab.” jawab Rianda.
Belum sempat pak Badi berucap Aamiin, Dimas yang keluar dari ruangan segera memunculkan kepalanya.
“Woi lapar woi …,” Dimas berbicara dengan nada besar.
“Pak sudah dulu ya, saya dan tim harus segera kerja lagi.” sambil membalikkan badan ia kemudian meninggalkan pak Badi dan masuk ke dalam ruangan.
Kini Shasha dan rekan kerjanya menikmati makanan yang tadi mereka pesan. Mereka tampak menikmatinya begitu juga dengan Shasha. Beberapa dari mereka sambil makan menyempatkan diri untuk bertanya kepada Shasha, yang merupakan anak baru.
“Sha, gue dengar lu pernah belajar di luar ngeri ya?” tanya Bahar dengan wajah innocent nya.
Mendengar pertanyaan yang salah membuat Amanda gemas.
“Luar negeri kali Har- Bahar, pertanyaan lu bikin emosi tau gak!”
“Oh maaf lidahku keselimpet.” Bahar beralasan.
“Iya, itu gak sengaja juga kug kak. Ada dosen yang sudah aku anggap kayak saudara, karena keisengan beliau tanpa dosa daftarin nama ku buat ikut program beasiswa ke Eropa.”
“Wah, dosen pelanggaran tuh. Tapi akhirnya lu keterima. Keren!” puji Rianti.
“Finlandia coy, kalau gue yang disuruh pilih gue pilih ke Portugal. Seru kali ya.”
__ADS_1
“Ia sayangnya gak ada yang daftarin lu.” ucap Rianda. “Terus gue dengar-dengar lu jago banget bikin kopi dan itu salah satu nilai plus buat lu.”
“Masak sih kak,” Shasha menjawab seakan tak percaya.
“Iya gue dengar-dengan juga begitu. Kebetulan si owner senang banget sama kopi. Makanya semua pantry disini di fasilitasi alat pembuat kopi. Dan yang paling lengkap ya mesin kopi di lantai kita”
“Owner? Pak Brata itu owner kak?” tanya Shasha dengan heran.
“Iya, apa waktu itu beliau tak memperkenalkan diri?”
“Gak kak. “
“Owner kita memang T.O.P, dia gak gila pujian. Dia benar-benar low profile. Gue dengar-dengar audit besok itu akan dipantau oleh CEO baru kita. Mulai besok dia akan bertugas disini.”
“Betul dengar-dengar anak pak Brata itu tampan dan tak banyak bicara. Yang gue tahu dia itu jago banget main basket.”
“Gue bisa bayangkan betapa tampannya dia.” Rianti membayangkan wajah CEO barunya.
Pembicaraan mereka berhenti ketika makanan malam pun usai. Mereka kembali ke pekerjaan masing-masing. Sedari tadi Shasha merasa tak tenang, berulang kali ia melihat jam di tangan dan ponselnya. Berharap jam yang ia lihat menunjukkan pukul ya ng berbeda pula. Namun apa yang ia harapkan sungguh tak mungkin. Rianda yang tahu bahwa rekan kerjanya ini terlihat panik.
“Lu, nanti pulang bareng gue aja. “ bisik Rianda.
“Jangan kak, nanti kakak kemalaman.”
“Apaan sih kemalaman. Gak kali, sudah tenang saja. Gak usah ngerasa gak enak.”
Setengah jam kemudian pekerjaan yang mereka kerjakan sudah selesai. Satu per satu dari mereka keluar meninggalkan ruangan dan yang tersisa adalah Rianda dan Shasha.
“Kak beneran ni gak papa?” tanya Shasha ragu.
“Iya gak papa. Lagian searah.”
Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Di dalam mobil Rianda membuka pembicaraan agar suasana tak canggung.
“Hihihi, mungkin karena pertama kali kenal kak. Nanti kalau sudah lama pasti kakak akan tahu sebenarnya.”
“Sebenarnya kalau ternyata lu itu cerewet?”
“Gak cerewet sih kak. Sebenarnya aku tuh kalau mau bicara harus dipancing dulu soalnya kadang bingung bicaranya harus dimulai darimana.”
“Lha kayak sekarang, gue tadi tanya apa ei sekarang lu mulai cerita.” “Oia Sha, boleh tanya gak?”
“Silakan kak.”
“Cincin lu bagus banget. Dari pacar?”
Shasha hanya tersenyum sambil memegang cincinnya.
“Kug ketawa, senyum-senyum sendiri lagi.” “Lu jangan nakutin gue. Ni jalanan sepi.”
“Apaan si kak, kakak kira aku kemasukan,”
“Lha lu ditanya malah senyum. Dari cowo lu ya?”
Shasha mengangguk dan tersenyum. Dalam hati ia tak mungkin mengatakan yang sesungguhnya jika dirinya sudah menikah.
“Seneng ya. Gue kira lu uda nikah.”
Mendengar itu Shasha mulai salah tingkah, ia tak menyangka jika rekan kerjanya akan berucap demikian.
“Kakak ngaco.”
__ADS_1
“Habis cincin itu mahal banget. Gue tahu itu custom, Sha. “
“Kakak kug bisa bicara begitu?”
“Heem, Kakak dulu pernah punya model cincin unik seperti itu cuman bentuknya aja berbeda. Cincin itu pemberian almarhum suamiku.”
“Almarhum? Suami?” tanya Shasha tak percaya.
“Heem, aku ini janda tahu. Janda tapi belum beranak. Saat itu aku baru saja menikah , belum sempat aku sampai rumah impian kami berdua tiba-tiba kami mengalami kecelakaan. Saat itu aku tak sadar dan suamiku meninggal langsung di tempat.”
“Kak, maafkan aku. Aku telah membuat kakak sedih.”
“Tidak Sha, aku bahagia. Akhirnya aku berani menceritakan ini semua. Aku tak tahu harus bercerita kepada siapa. Rasanya dadaku sesak sekali. Semua itu gara-gara aku yang mengimingi suamiku untuk segera melakukan bela duren.”
“Kalau boleh tahu kapan itu kak?”
“Baru beberapa bulan yang lalu, di Jalan X. Apa kamu pernah mendengarnya?”
Shasha mulai mengingat bahwa saat itu sehari setelah pernikahannya dirinya dan Daniel kembali ke Jakarta, dan saat itu mereka melihat ada sebuah kecelakaan. Shasha tak pernah menyangka bahwa salah satu korbannya selamat dan kini sedang berada disamping Shasha.
“Ia waktu itu aku perjalanan dari luar kota dan melewati jalan itu kak.”
“Ia Sha. Oia ini alamat apartemen mu yang mana?”
“Depan mini market itu berhenti kak, nanti biar Shasha jalan soalnya ada yang perlu dibeli.”
“Oh gitu. Oke, sudah sampai. Sampai ketemu besok ya.” “Maaf jadi curhat tadi.”
“Gak masalah kak, bye. Makasih.”
.
.
Malam hari di apartemen Daniel.
“Kenapa apartemennya gelap. Bukannya dia takut gelap?”
Daniel penasaran dicarinya istrinya di dalam kamar, satu persatu kamar dibuka ternyata tak menemukan sosok Shasha. Daniel yang panik segera membuka isi lemari, karena ia takut jika istrinya itu akan kabur.
“Dia tak kabur, tapi kemana dia, kenapa sampai jam segini tak ada di apartemen.”
Daniel mulai menghubungi Jason, dia meminta bantuan Jason agar membantu mencarinya.
“Lu, telfon kek. Kenapa tanya nya ke gue? Emang gue suaminya?”
“Sialan lu.”
“Lu aneh tanya ke gue. Makanya lain kali pasang GPS di ponsel istri lu.” Saran Johan.
Daniel mencoba masuk ke dalam kamar Shasha berharap apa yang ia takutkan tak terjadi. Dan ternyata ia tak menemukan apa yang dicarinya.
Berarti dia pakai cincin pemberianku. Setidaknya jika ada yang hendak menggodanya pasti akan mundur. Karena cincin pemberianku terdapat ukiran namaku.
.
.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak