
"Kamu paham. Suami itu dihormati! kamu memang masih kecil tapi tolong kamu tahu diri, sadar dan belajar apa yang harus dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Ayah tak menyangka kamu lebih memilih tidur di ruang tamu ketimbang tidur dengan suami sendiri."
"Ayah, saat itu Shasha bukan menghin..."
Belum sempat Shasha menjelaskan bahwasanya ia tidak menghindar namun dengan cepat ia mendapat kedipan mata dari bunda agar tidak melanjutkan penjelasannya disaat sang ayah sedang marah, karena akan percuma jadinya. Justru akan membuat ayah semakin emosi.
"Apa? apa? kamu ingin membela dirimu? ingat Shasha jangan kamu ulangi itu lagi. Ayah tak suka kamu membangkang.
"Ia ayah." jawab Shasha sambil menunduk.
"Cepat, segera kamu berbenah! pukul berapa sekarang? apa keseharian mu seperti ini?"
Shasha menunduk dan menggelengkan kepala.
"Jadi begini kelakuanmu semasa kuliah jauh dari ayah bunda? gak sholat, mandi siang. Awas saja jika kamu terlambat lulus kuliah!"
"Tidak yah, Shasha tidak ...."
"Jangan sela, ayah sedang bicara! Wanita itu minimal bangun sebelum fajar. Apalagi jika sudah bersuami harus bangun sebelum suami. Kamu paham!" bentak ayah tanpa melihat wajah anak perempuannya itu.
Sally tak menyangka bahwa suaminya begitu marah dengan Shasha. Suaminya tak pernah marah seperti itu sebelumnya.
Daniel yang mendengar kemarahan dari ayah mertuanya kaget, ia tak percaya bahwa Shasha yang dikira menjadi anak kesayangan dari sang ayah tak akan pernah dimarahi dan dibentak namun ternyata pemikirannya salah.
Segera Shasha menuju kamarnya dan mandi secepat kilat agar tak membuat Daniel menunggu lama. Didalam kamar mandi Shasha menangis sedikit, ia kaget dengan bentakan ayahnya. Karena tak ingin membuat ayahnya semakin marah maka ia pun hanya butuh waktu kurang dari lima menit sudah selesai mandi. Segera Shasha berganti pakaian dan siap untuk menghampiri Daniel yang sudah menunggu ditemani oleh Ayah, bunda, Erza dan juga Jihan. Mereka semua sedang asyik bercengkrama sambil minum minuman favorit masing-masing dari mereka ditambah dengan cemilan yang telah disediakan bunda.
"Bunda, Shasha pamit." Shasha muncul dari belakang lalu mencium tangan, dilanjutkan dengan pelukan erat dan tangisan kecil ibunya hingga membasahi baju Shasha.
"Bunda, Shasha kan gak kemana-mana." Shasha berucap sambil mengusap air mata Sally.
"Bunda tahu. Hati-hati ya disana. Turuti semua ucapan suamimu, jangan bertindak sendiri dan gegabah."
Shasha mengangguk, lalu menghampiri ayahnya.
"Shasha, balik yah." ucap Shasha sambil mengambil jemari ayah untuk disaliminya.
__ADS_1
Lalu ia beranjak ke Erza dan Jihan. Satu persatu ia menyalami Erza dan juga Jihan.
"Acha, jaga diri. Kami berdua sayang kamu." ucap Erza.
"Sayang bukan berdua, tapi kita bertiga sayang aunty." protes Jihan sambil memegang perutnya.
Shasha tersenyum mendengar perkataan Jihan, namun hatinya merasakan sakit dan ingin menangis keras saat melihat ekspresi ayah yang masih terlihat emosi dan juga tangannya terasa kaku saat hendak diminta bersaliman.
"Daniel, aku titip adikku Shasha." Ucap Erza sambil menggenggam tangan Daniel sambil berbisik, "Usianya masih mudah bimbinglah dia."
Begitu juga dengan Sally dan Pak Idris.
"Nak Daniel, kami berdua titip Shasha. Tolong jaga, nasehati dan juga selalu ingatkan dia untuk makan. Oia satu lagi."
"Apa bunda?"
"Tolong lebih sabar ya."
Daniel hanya mengangguk. Begitu banyak nasehat yang diberikan keluarga Shasha kepada dirinya. Kini keduanya telah masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan.
Seluruh keluarga dirumah tahu bahwa ayah sedang tak sabar untuk segera masuk kedalam kamar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di dalam kamar.
Pak Idris memasuki kamarnya, sambil mencari-cari sesuatu, ia mencari beberapa album foto. Setelah foto yang ia cari ketemu kini ia mulai membuka dan melihat beberapa gambar kedua anaknya yang masih kecil.
Sebuah senyum tergambar dari bibirnya. Seakan ia kembali ke masa dimana kedua anaknya masih memanggil dirinya dengan suara khas anak kecil yaitu cadel.
Halaman per halaman dibukanya hingga ia menemukan sebuah foto ketika Erza sedang menggunakan baju karnaval bertema hari pahlawan sedangkan saat itu Shasha, dirinya dan juga sang istri ikut mengawal Erza menggunakan sepeda motor yang dihias.
Dirabanya foto-foto Shasha yang tersenyum memperlihatkan rambut Shasha yang panjang di kucir ala kuda dengan hiasan pita merah putih, senyum Shasha yang memperlihatkan beberapa gigi depannya yang ompong, serta lesung pipinya yang terlihat jelas menambah kesan cantik, imut dan manis Shasha kecil kala itu.
"Acha, anakku. Kamu begitu mirip dengan almarhum nenek, pantas saja sebelum kakek menghembuskan nafas terakhir ia ingin sekali ditemani terutama dirimu karena rasa rindu yang begitu dalam. Kini kamu telah dewasa meski umurmu masih terbilang mudah namun permintaan perjodohan tak dapat ayah tolak demi keselamatanmu. Kamu telah menyelamatkan lelaki yang kini menjadi suamimu, dan kamu sendiri yang memutuskan untuk menikah segera." ucapnya sambil menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Maafkan ayah, ayah tadi membentakmu dengan keras, bahkan terlihat dari tatapan matamu bahwa engkau begitu kaget. Sekali lagi maafkan ayah, Nak. Ayah tadi sengaja berkata seperti itu karena ayah takut .., ayah takut suamimu tak sabar mendidikmu. Ayah kaget saat kamu memutuskan untuk menikah segera, tanpa kata ba bi bu. Ditambah dengan sebuah mahar fantastis yang diberikan suamimu. Ayah takut, ayah takut jika mahar besar ditambah Daniel yang merupakan seorang pengusaha muda sukses dan juga kaya dengan mudah melepasmu. Ayah tak mau itu, Nak." lanjut pak Idris lirih sambil menyeka air matanya yang tanpa sadar keluar membasahi pipi.
Tangis ayah mulai mereda tatkala terdengar suara langkah yang mendekat. Sebuah langkah yang tak asing ditelinganya.
"Ayah, kenapa menangis?.." sapa lembut seseorang tersebut.
"Tidak?" jawab ayah singkat yang lagi-lagi membuat lawan bicaranya menggelengkan kepala tak percaya bahwa ayah membohongi dirinya sendiri karena tak ingin orang lain tahu jika dirinya sedang bersedih.
"Sudah ayah, kami semu tahu bahwa ayah begitu sangat mencintai anak-anak. Shasha sendiri pun tahu bahwa kemarahan ayah tadi terjadi karena ayah cinta dan peduli dengan rumah tangganya.
"Ia tapi sekarang ayah menyesal. Ayah menyesal telah memarahi Shasha."
"Dan sekarang ayah merindukan Shasha, bukan?" tanya Sally.
Ayah hanya mengangguk.
"Yasudah nanti malam kita hubungi Shasha ya, kita tanya kabarnya." jelas Sally menenangkan suaminya.
"Sekarang ayo ikuti bunda, ada yang ingin bunda tunjukkan.
"Apa? kenapa tidak disini saja?ucap pak Idris.
"Jika disini maka sudah bukan kejutan lagi."
"Baiklah ayah akan menyusul kesana."
"Jangan lama-lama ya ayah."
to be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1