TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 133. PENASARAN.


__ADS_3

Mendapat dukungan dari seseorang yang tidak ia kenal membuat Dion terharu. Dirinya tak menyangka keputusan nya untuk merebut dan membahagiakan wanita dari masa lalunya mendapat apresiasi.


"Alasannya?"


"Karena Shasha wanita kuat. Alasannya tak perlu ku beritahu mungkin kalian sudah mencari tahu lewat Yoga."


"Lalu kenapa dia disini?" tanya Dion kepada Riko.


"Emang cuman kamu aja yang kalau lembur ada yang nunggu-in," ejek Riko.


Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu yang hendak dibuka dari luar.


Shasha masuk dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Rachel," sapa Shasha kepada wanita manis yang ada di depannya.


"Sha, kamu darimana aku daritadi disini gak lihat kamu."


"Aku dari kantin," ucap Shasha enteng.


"Pantesan, daritadi kita nunggu gak muncul-muncul." ucap Riko dengan raut wajah jengkel.


"Nunggu, ngapain?"


"Bukannya kamu tadi ingin ke pantry dan aku pesan dua minuman,"


"Ohhh, air di pantry habis. Jadi aku ke kantin saja."


Mendengar alasan Shasha membuat Dion merasa lega. Sedari tadi sebenarnya Dion merasa takut, dirinya takut jika Shasha bersikap seperti dulu, tiba-tiba menghilang, acuh lalu mengajaknya bertemu dan meminta untuk berpisah. Namun setelah mendengar apa yang dikatakan Shasha dirinya merasa jika mantan kekasihnya itu hanya pergi ke kantin bukan pergi untuk meninggalkannya.


Di dalam hatinya, Dion merasa bahagia, namun sengaja tidak ia ungkapkan. Dirinya memilih untuk diam tak banyak bicara. Baginya dengan melihat kehadiran dan alasan dari wanita yang disayangi saja sudah cukup.


"Saya tinggal masuk dulu." ucap Dion datar tanpa ekspresi kepada mereka bertiga.


Melihat wajah Dion yang tak seperti biasanya membuat Shasha dilanda ketakutan jika bos nya itu marah karena sudah hampir se-jam meninggalkan tempat kerjanya dan memilih untuk pergi ke kantin karena rasa haus sehabis menaiki tangga karena lift karyawan sedang diperbaiki.


"Rachel, aku masuk dulu ya, gak enak sama pak Dion sudah hampir satu jam aku mangkir dari sini."


Rachel mengangguk dan tersenyum sambil menaikkan jempol tangannya sebagai isyarat OKE.


***


Saat ini Shasha  sedang berada di dalam ruangan nya mulai merapikan notulen hasil  meeting siang tadi, begitu juga dengan Dion yang sedang mempelajari dan menanda tangani beberapa berkas yang diberikan oleh Riko selama ketidak hadiran dirinya siang tadi. Dengan ekspresi wajah sumringah dirinya mengerjakan berkas tersebut, baginya kehadiran Shasha adalah imun alami rasa lelah nya, sambil menatap CCTV yang ia pasang di ruang kerjanya. Dirinya menatap CCTV pada ruangan sekertarisnya yang terhubung dengan ponsel-nya.


"Sudah hampir magrib kenapa dia tak beranjak dari duduknya?" batin Dion sambil menggigit pena miliknya.


"Untuk apa Rachel masuk ke ruangannya? Kita lihat saja apa yang dia bicarakan kepada Shasha."


Tok!


Tok!


"Sha, aku masuk ya," suara Rachel terdengar dari balik pintu.


"Iya,"


"Sudah jam segini, kamu gak pulang?" tanya Rachel dengan tatapan lembut.


"Belum, ini masih banyak yang harus aku kerjakan."

__ADS_1


"Jadi lembur ya, baiklah kalau begitu aku pulang duluan ya,"


"Sendiri?"


"Tidak, bersama Chocho." ucap Rachel yang tak sadar dengan panggilan sayang yang ia berikan kepada Riko.


"Chocho? Siapa?" goda Shasha.


"Hihihi," Rachel tersenyum sambil tersipu malu. "Sha, aku kemarin bertemu pak Daniel, apa benar sudah hampir beberapa bulan ini dia tak pulang?"


"Bertemu pak Daniel?" tanya Shasha kaget namun sepersekian detik ia menormalkan tatapan matanya. "Lalu?"


"Dia mengjakku bertemu di cafe dekat apartemen. Aku kira dia mau bicara apa tapi ternyata dia hanya bertanya padaku tentang kamu dan -"


"Rachel, ayo kita pulang." ajak Riko kepada Rachel yang tiba-tiba muncul sambil tersenyum manja kepada wanita yang baru ia pacari beberapa hari itu.


"Sha, lain kali aku cerita ya. Aku pulang dulu." pamit Rachel kepada Shasha dengan cepat-cepat.


Dengan perasaan kecewa Shasha melepas kepergian Rachel, padahal dirinya penasaran dengan cerita Rachel tadi.


Kini di ruangan tersebut tersisa dua orang seperti biasanya, yaitu bos dan sekretarisnya. Dion sengaja tidak beranjak dari ruangannya meski dirinya sudah selesai, dia penasaran dengan apa yang hendak diucapkan oleh Rachel tentang pertemuannya dengan Daniel


Apa ya kira-kira yang mereka bicarakan di cafe?


Apakah Daniel mengaku jika Shasha adalah istrinya?


Tunggu-tunggu darimana Shasha mengenal Rachel?


Melihat Shasha yang sudah mulai bersiap-siap membuat Dion tak tenang apalagi dengan berbagai pertanyaan yang ada di kepalanya. Dengan cepat ia memutar otak untuk memberi Shasha sebuah tugas yang tak penting.


Kring!


Kring!


Shasha : "Iya?"


Dion : "Apa kamu sudah mau pulang?"


Shasha : "Iya, kenapa?"


Dion : "Boleh aku minta waktumu sebentar saja untuk mengerjakan dokumen ini."


Shasha : "Ada berapa ya? Apa tidak bisa ditunda dulu?"


Dion : "Tapi ini harus selesai, yasudah kalau begitu aku kerjakan sendiri saja."


Shasha : "Iya maaf ya. Atau besok aku aya akan berangkat pagi-pagi mengerjakannya. Atau berikan soft copynya nanti akan ku kerjakan dirumah."


Dion : "Tidak, jika kamu gak bisa yasudah gak papa."


Setelah pembicaraannya Dion pun menutup teleponya, segera ia pun ikut bersiap-siap membereskan meja kerjanya. Setelah itu Dion keluar dan melewati ruangan Shasha. Dirinya sengaja tak menyapa Shasha, karena dia masih ingat akan ucapan bahwasannya Shasha tak suka lelaki yang banyak bicara.


Melihat Dion yang melewati dirinya tanpa bicara membuatnya heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan bos nya itu.


"Lha kenapa sekarang dia yang pulang duluan? bukannya dia yang akan ngerjakannya sendiri. Mana gak nyapa lagi, kenapa dia? sariawan?" ucap Shasha lirih sambil berjongkok mengambil barangnya yang jatuh dibawah meja kerjanya.


"Kamu mencari ini?" ucap Dion tiba-tiba berada di depan Shasha sambil berjongkok dan memberikan pena yang jatuh ke bawah meja.


"Dion ..., kamu membuatku kaget!"

__ADS_1


"Ckck, kaget kenapa? Emang aku hantu?"


"Gak gitu kamu ngagetin. Bukannya kamu tadi suruh aku ngerjakan -?


"Gak, sesuai dengan ucapanmu tadi, kerjakan besok pagi." ucapnya lalu pergi berlalu dari hadapan Shasha.


Dasar aneh,


"Aku gak lagi sariawan," ucap Dion yang tiba-tiba muncul sambil membuka pintu.


Darimana dia tahu jika aku sedang berkata demikian.


***


Saat ini Shasha sudah tiba di apartemen, dia penasaran dan ingin menemui Rachel untuk bertanya lanjutan dari percakapannya tadi sore. Sesampainya di ruang resepsionis ia bertanya pada seseorang penjaga meja tersebut.


"Maaf mbak, teman satunya yang biasanya disini rambutnya panjang, manis dan tinggi kemana ya?"


"Oh mbak Rachel?"


"Iya, bukannya dia hari senin sampai rabu jadwalnya masuk sore ya?"


"Kebetulan hari ini mbak Rachel izin, mungkin ada pesan mbak?"


"Oh gak, saya cuman ingin bertemu saja. Baiklah kalau begitu terimakasih."


Dion yang sedang duduk di ruang tunggu dekat resepsionis mendengar jelas jika Shasha bertanya keberadaan Rachel.


Sepertinya dia penasaran dengan ucapan Rachel tadi sore. Lebih baik aku yang harus bertemu dia dulu dan bertanya tentang pertemuannya dengan Daniel.


Setelah Shasha masuk ke dalam lift segera Dion juga menyusul. Dion tak langsung masuk ke dalam apartemennya ia memilih untuk melakukan gym terlebih dahulu. Sesampainya ditempat Gym dia melihat sosok yang ia kenal sedang berada disana. Dengan segera Dion menghampiri mereka berdua yang sedang asyik bersenda gurau.


"Kalian disini?" sapa Dion.


"Iya, akhirnya kita ketemu lagi bos." ucap Riko.


"Jangan panggil aku bos di tempat umum, alergi tahu." bisik Dion.


"Iya-iya, kamu ngapain disini?" tanya Riko.


Rachel yang heran mengapa sampai Riko tak tahu jika bosnya itu sudah lama membeli dan tinggal di apartemen ini. Mengetahui jika Dion sedang berfikir mencari jawaban maka Rachel memilih diam tidak berani berkata baginya tak ada gunaya jika sampai menceritakan tentang keseharian Dion disini.


"Aku nge Gym , disini." alasan Dion. "Apa kalian sudah selesai atau baru mulai?" tanya Dion.


"Sudah dari tadi, ini kita mau makan malam." ucap Riko.


"Kalau begitu boleh aku bergabung, karena ada yang ingin aku tanyakan kepada Rachel."


"Soal apa?" tanya Riko. Riko sebenarnya merasa keberatan, ia masih ingin berdua dengan Rachel namun karena antara dirinya dengan Dion sudah saling mengenal bahkan seperti keluarga sendiri.


"Boleh pak, ayo," ajak Rachel yang sengaja menyela ucapan kekasihnya itu.


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.


Terima Kasih.


__ADS_2