
Shasha hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya itu. Kini ia mulai berkonsentrasi untuk sibuk membuat topping ayam.
Tak terasa waktu sudah masuk siang. Shasha yang tak kunjung muncul untuk berbincang dengan para sahabatnya membuat Daniel penasaran. Ia pun mulai mencari keberadaan istrinya.
Dilihatnya di dapur tidak ada keberadaan Shasha. Ia mulai mencari ke meja makan tetap tak melihat hingga ia mencoba melangkahkan kakinya ke teras. Di teras ia melihat Shasha sedang tertunduk di pojokan teras sambil sesekali mengusap air mata.
Kenapa dia?
Apa aku berbuat salah hingga dia menangis?
Tapi ..., apa salahku?
Daniel yang penasaran mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan agar tidak terdengar.
"Ay, kenapa?" tanya Daniel sambil duduk tepat disebalah sang istri.
Shasha diam tidak bicara ia hanya mengusap sisa air matanya yang tumpah.
"Katakan padaku, apa yang membuatmu menangis agar aku tidak mengulangi nya lagi."
Shasha menggelengkan kepalanya. Daniel semakin penasaran, ia curiga dengan ponsel yang ada ditangan istrinya itu. Dengan lembut ia meraih ponsel tersebut dan dilihatnya sebuah gambar keluarga.
"Kamu rindu ayah-bunda?" tanya Daniel lembut sambil mengelus rambut istrinya.
Shasha mengangguk tak menjawab.
"Ayah merindukan mu, berulang kali beliau bertanya padaku tentang kabar mu bahkan beliau pernah diam-diam datang ke ke apartemen kita untuk menemui mu."
"Lalu?" tanya Shashsa terkejut.
"Bukan Daniel namanya jika tidak cerdik. Aku bilang kamu sedang berada di luar negeri."
"Pasti ayah kecewa saat itu?"
"Kecewa karena tidak melihatmu."
"Apa artinya ayah benar-benar mengharapakan kehadiranku? Apa benar ia ingin melihatku?" tanya Shasha yang masih tidak percaya.
"Iya, beliau sudah tahu yang sebenarnya, Dion yang mengakui semua kesalahannya di depan ayah dan bunda. Semenjak itu bunda jadi uring-uringan kepada ayah karena tidak percaya dengan anaknya sendiri."
"Kasihan ayah. Libur semester nanti izinkan aku untuk mengajak Ecka bertemu dengan ayah dan bunda."
__ADS_1
"Jika menunggu libur semester lalu kapan kita akan honey moon? Lebih baik kamu ambil cuti saja, bukankah cutimu masih banyak?" tanya Daniel.
"Bie, kamu menyelidiki ku?" tanya Shasha penuh selidik.
"G-gak,ngapain!" jawab Daniel panik. Dirinya keceplosan harusnya tidak mengatakan itu karena sejujurnya Daniel telah menaruh mata-mata dikampus tempat istrinya mengajar untuk mencari tahu segalanya tentang istrinya.
"Jangan bohong! Jika kamu bohong hidungmu makin panjang sayang." ucap Shasha sambil mencubit hidung Daniel.
***
Malam ini adalah malam terindah bagi Shasha dan bagi para pecinta mie pedas buatannya. Hari ini Shashsa sengaja meminta suaminya dan para suami untuk melayani para pelanggan yang datang.
Oleh karena itu Obby yang merupakan seorang karyawan tunggal Shasha hanya memasak tanpa mengantar kan pesanan karena ke tiga lelaki tampan itu lah yang mengantar. Sedangkan Rianda dan Dion yang masih di mabuk asmara memilih untuk mengajak Ecka jalan.
Mereka bertiga tampak begitu sabar melayani pelanggan yang datang, ketampanan mereka mampu membuat para pelanggan terkesima namun mereka semua harus kecewa karena keempat lelaki tersebut memakai baju dengan tulisan sudah beristri dengan gambar wajah istri masing-masing lengkap dengan namanya.
Obby yang melihat itu menahan tawa, ia tidak mungkin tertawa terbahak-bahak karena dirinya sungkan terutama kepada Johan yang merupakan anak buah Johan.
Tak terasa sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan persedian mie juga telah habis. Kini mereka bertiga ditambah dengan Obby sama-sama menghitung penghasilan hari ini.
"Bu Bos, malam ini pendapatan naik pesat dari biasanya. Dua kali lipat." ucap Obby.
"Benarkah?" kaget Secil. "Penghasilan jual makanan hits ternyata besar juga ya. Aku jadi mau."
Arden dan Johan hanya manggut-manggut mendengar ucapan istri mereka. Berbeda dengan Daniel yang merasa sedih. Dirinya yang saat ini merasa letih tiba-tiba membayangkan bagaimana dengan Shashsa yang berjuang sendiri. Dirinya yang bertiga merasa letih sedangkan Shasha yang hanya berdua ditemani oleh Obby. Belum lagi saat Shasha hamil waktu itu.
"Kamu benar-benar mengagumkan, Ay." batin Daniel sambil melihat dan mengagumi istrinya yang berjuang sendiri untuk membesarkan Ecka.
"Kalian tahu tidak kenapa pendapatan malam ini melebihi target?" tanya Shasha yang sedari tadi menyimak ucapan para sahabatnya.
"Tidak," jawab Mutia dan Secik diikuti oleh para suami mereka.
"Itu karena para suami kita yang berada di depan untuk menyapa pelanggan." jelas Shasha.
"Iya, suami gue keren tadi bawa mangkuk banyak banget." ucap Secil dengan nada gemas kepada suaminya.
"Suami gue juga keren gak cuma suami lu." balas Mutia.
"Tapi, kalau menurut gue bukan karena kita, tapi karena kaos keramat itu." celetuk Arden.
Kini mereka berenam saling tertawa sambil melihat kaos yang mereka pakai.
__ADS_1
"Siapa yang pesan kaos itu?" tanya Johan.
"Gue," ucap Secil dan Mutia bersamaan dengan bangga.
"Momennya pas banget." ucap Daniel.
"Iya, gue dan Secil sengaja pesan itu kaos lama banget, berharap kita bisa honey moon bareng." ucap Mutia sambil terkekeh.
Saat sedang asyik tertawa, Johan sadar bahwa ada yang tak lengkap.
"Sha, kemana ponakan gue?"
Belum sempat menjawab tiba-tiba Rianda muncul diikuti Dion yang sedang menggendong Ecka.
"Daniel, maaf kami kemalaman." ucap Dion.
"Tak apa, bagaiamana jagoan ku apa dia menyusahkan kalian?" tanya Daniel kepada Dion.
"Tidak, justru kami senang. Dengan kehadiran Ecka orang-orang mengira kami telah menikah." ucap Rianda santai.
"Dion, apa kamu paham maksud dia. Pulang dari kota ini segera kalian menikah saja. Jangan ditunda." bisik Daniel sambil menepuk bahu Dion.
"Pasti secepatnya, aku taruh Ecka dulu ke kamar ya." ucap Dion lalu berjalan menuju ke kamar Ecka.
***
Rianda yang saat ini berada di dapur untuk membuat makan untuk dirinya dan Dion merasa kaget karena tiba-tiba Daniel muncul.
"Daniel, lu bikin kaget." ucap Rianda sambil mengelus dadanya.
"Sorry. Rianda, aku tidak tahu harus berkata apa. Terimakasih atas segala apa yang telah kamu lakukan kepada istri dan anakku. Kamu telah melindunginya dan memberinya jalan."
"Dari awal aku melihat Shasha, aku sudah menganggap dia sebagai adikku. Bahkan saat itu aku sempat berfikir ingin menjadikan Shasha sebagian adik ipar ku namun melihat Shasha yang begitu mencintaimu aku mundur. Bahwa hubungan ku dengan Shasha lebih baik seperti ini saja, bukan lebih."
"Sekali lagi terimaksh Rianda."
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.