
Tak terasa kini kehamilan Shasha sudah memasuki trimester ke tiga tepatnya usia kehamilan berada di minggu ke 32. Semakin bertambah nya usia kehamilan membuat Daniel semakin over protektif kepada istrinya, yang mana tidak membiarkan Shasha untuk pergi ke kamar mandi sendirian.
Semenjak kehamilan Shasha berusia 34 minggu, Daniel memilih untuk bekerja di rumah, hal ini ia lakukan karena dirinya tak ingin meninggalkan istrinya sendirian dalam keadaan hamil besar.
Dengan Daniel berada dirumah Shasha seperti bagai diawasi oleh seorang polisi, rasanya tidak bebas namun ia berusaha mengerti dan memahami suaminya.
Sikap Daniel yang over protektif baginya itu hal wajar yang terpenting saat ini Daniel tidak lagi sensitif dan menjengkelkan seperti sebelumnya. Sikap itu hilang semenjak usia kehamilan dirinya memasuki trimester tiga. Sama halnya dengan Johan, perbedaanya adalah Johan mengalami couvade syndrome sampai Secil melahirkan, sedangkan Daniel tidak.
***
Dengan bertambahnya usia kehamilan, keadaan fisik Shasha juga ikut berubah, biasanya seseorang akan cenderung malas untuk berolahraga karena badannya yang terasa berat. Berbeda dengan Shasha yang tetap aktif berolah raga. Melihat istrinya yang tetap energik, semangat dalam menjaga kebugaran dan kecantikan membuat Daniel kagum.
"Ay, kenapa wajahmu makin lama makin terlihat cantik." puji Daniel yang melihat istrinya tanpa berkedip.
"Aku cantik karena kamu yang merawatnya. Ssst ..., aku beritahu ya Bie, istri cantik tergantung dari dompet suami." balas Shasha dengan bergurau.
"Bisa saja. Tapi aura mu benar-benar terlihat. Apa aura ibu hamil memang terlihat cantik ya?"
"Bisa jadi bawaan bayi." jawab Shasha enteng.
"Bawan bayi, oh ya kita belum menyiapkan nama untuk anak kita."
"Aku punya ide, jika dia girl kamu yang memberi nama dan jika dia boy maka aku yang kasih nama. Bagaimana?" tawar Shasha.
"Setuju tapi jika laki-laki aku ingin tetap ada namaku dibelakangnya."
"Pasti sayang, tanpa kamu minta. Buktinya Ecka ada nama belakangmu."
***
Saat ini keluarga bahagia itu sedang berkumpul di sebuah kamar, dimana kamar itu akan menjadi milik seorang bayi yang beberapa minggu lagi akan lahir ke dunia. Para maid yang melihat keharmonisan keluarga ini terlihat sangat bahagia karena sebentar lagi rumah akan dihiasi oleh suara tangisan anak bayi.
"Ay, jangan terlalu capek. Biarkan aku dan jagoan kita yang menghias kamar si adik."
"Sayang jangan seperti itu, justru dengan kehamilan yang besar begini harus banyak gerak, biar cepat pembukaan."
"Tidak jika ada aku, aku akan melakukan semuanya untuk mu."
"Iya Bu, minta bantuan padaku. Abang Ecka siap membantu." ucap Ecka dengan tegas seperti suara pak polisi.
"Kenapa kalian berdua manis sekali. Ibu menjadi bahagia." ucap Shashsa kagum kepada dua jagoannya.
"Bu, apa nanti saat ibu melahirkan Ecka boleh ikut menemani ibu?"
"Tidak sayang, kamu masih kecil lagipula dokter pasti tidak akan mengizinkan anak kecil masuk."
"Kalau begitu ayah boleh?" tanya Ecka.
Daniel kaget, dirinya belum berfikir tentang hal tersebut. Di satu sisi ia ingin ikut masuk melihat proses kelahiran sang istri, di sisi lain dirinya takut tak sanggup melihat Shasha yang harus berjuang mengeluarkan anak mereka.
"Ayah? Bagaimana?" tanya Ecka lagi.
Melihat Daniel diam, Shasha tahu jika suaminya tidak tega melihat dirinya berjuang sendiri. "Tidak usah, ibu akan masuk sendiri."
"Tidak Ay, aku akan menemanimu sampai anak kita lahir." yakin Daniel.
***
Beberapa hari ini Daniel tidak dapat tidur dengan nyenyak, entah apa yang sedang dipikirkannya. Dirinya merasa tak tenang seperti ada yang menganggu pikirannya. Berulang kali ia menengok ke kamar Ecka dimana Shasha sedang tidur menemani buah hatinya itu.
Setiap kali melihat istrinya yang sedang tidur, Daniel melihat ada yang berbeda dengan wajah istrinya yang semakin hari semakin terlihat berseri.
Aku bersyukur memiliki istri seperti dirimu, tangguh, lembut dan mandiri.
__ADS_1
Aku pernah merasakan hidup tanpamu, dan aku merasa tersiksa.
Tolong jangan pernah tinggalkan aku. Aku mencintaimu istriku.
Tiba-tiba air mata keluar dari mata Daniel dan membasahi pipi Shasha. Shasha yang merasakan ada air menetes di pipinya mencoba membuka matanya, dilihatnya sang suami dengan wajah tepat memperhatikan dirinya.
Mata keduanya saling bertatapan, Shasha mengerutkan dahinya, seolah memberikan isyarat pertanyaan kenapa? mengapa menangis?
Paham dengan isyarat yang di lakukan Shasha Daniel pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya sambil mengelus rambut istrinya.
Shasha mencoba bangun sambil membetulkan posisi duduk nya, "Kenapa?"
"Aku mencintaimu lebih dari apapun." ucap Daniel sambil mengusap air matanya yang tak sengaja tumpah membasahi pipi Shasha.
"Iya aku tahu, aku juga mencintaimu, dia, dan dia." ucap Shasha sambil mengelus pipi Daniel yang sedang duduk, pipi Ecka yang sedang tidur dan perutnya yang terlihat begitu membuncit.
Baru saja dia mengelus perutnya tiba-tiba dirinya merasakan perutnya begitu mulas.
"Bie,, sepertinya maju dari jadwal. Ayo kita ke rumah sakit." ajak Shasha dengan tenang sambil mengelus perutnya dan sambil mengatur nafas.
Berbeda dengan Daniel yang panik karena baginya ini adalah pengalaman pertama.
"Mau apa?" tanya Shasha melihat suaminya.
"Aku gendong."
"Jangan sayang, aku berat. Aku bisa jalan sendiri ke mobil." ucap Shasha sambil mengambil tas yang sudah ia persiapkan.
Sedangkan Daniel sedang menghubungi dokter kandungan Shasha dan juga rumah sakit.
"Apa kamu bisa menahannya?" tanya Daniel kepada Shasha.
"Iya,"
"Kenapa? Jangan melihatku seperti itu. I am fine, Bie."
"Kamu kesakitan ya sayang?"
"Gak sama sekali, ini nikmat. Sebantar lagi kalian akan saling bertemu." ucap Shasha sambil mengatur nafas.
"Aku akan meminta orang-orang rumah sakit untuk mempersiapkan brankar untuk menjemputmu."
"Tidak. Aku tidak mau. Aku ingin berjalan dari tempat parkir hingga kamar pasien."
"Tapi -"
Ucapan Daniel terhenti karena Shasha memegang bahunya.
"It's okay. I love you." ucap Shasha yang kemudian dibalas oleh Daniel.
***
Saat ini Shasha berada di kamar pasien dan sedang di periksa oleh dokter Niko, dokter yang biasa memeriksa Shasha selama kehamilan anak kedua.
Dokter Niko tahu bahwa pasiennya ini pernah mengalami Abortus Immines, namun Shasha meminta kepadanya untuk tidak memberitahukan kepada Daniel karena dia tidak ingin suaminya khawatir. Pertimbangan lain yang dokter Niko setujui untuk tidak memberitahu keluarga pasien adalah kondisi Shashsa di kehamilan kali ini lebih baik dari segi nutrisi dan fisik.
"Bagaiamana Dok, kondisi istri saya?" tanya Daniel dengan suara tegang.
"Istri pak Daniel sudah mengalami pembukaan tiga, kita tunggu prosesnya ya, ibu. Mungkin besok pagi adik bayi akan lahir." ucap dokter dengan penuh riang.
Saat ini Shasha sedang berdua bersama Daniel di sebuah ruang VVIP rumah sakit. Shasha bercanda riang dengan Daniel, keceriaan dan tawa istrinya membuat ketegangan Daniel menjadi cair.
Saat sedang sama -sama terdiam Shasha mulai bicara.
__ADS_1
"Bie, terimakasih."
"Terimakasih untuk?"
"Untuk semuanya, kamu telah menjadi suami dan ayah terbaik untuk Ecka dan anak kita ini."
"Aku juga terimakasih, engkau telah menjadi ibu terbaik untuk Ecka dan anak kita ini."
"Bie, maafkan semua salahku. Aku pernah menyakitimu."
"Untuk apa bicara masa lalu? justru aku yang banyak salah dimasa lalu."
"Aku takut terlambat."
"Terlambat apa? Semuanya baik-baik saja kan Ay."
"Aku takut terlambat bilang jika aku benar-benar mencintai kalian bertiga. Kalian belahan jiwaku."
Setelah berkata demikian Shasha yang kelelahan karena menahan rasa mulas pada perutnya mulai tertidur. Berbeda dengan Daniel yang sedari tadi tangannya merasa kesakitan karena berulang kali Shasha mencubit dirinya.
***
Pagi hari telah tiba, suster yang memeriksa Shasha pada pagi hari terkejut saat melihat pembukaan masih belum bertambah. Ia pun kembali mengecek kondisi kandungan Shasha. Setelah memeriksa segera suster menghubungi dokter Niko untuk segera datang.
Tak lama kemudian dokter Niko datang dan memeriksa kondisi Shasha. Beberapa saat kemudian dokter mengatakan bahwa proses persalinan harus segera dilakukan, karena air ketuban mulai keruh dan harus dilakukan tindakan yaitu operasi Caesar.
Tak ada raut wajah ketegangan pada diri Shasha lain halnya dengan Daniel yang berulang kali mencoba berdiri tegak karena lututnya terasa lemas saat mendengar bahwa Shasha harus segera dioperasi.
Shasha ditemani Daniel menuju ke ruang operasi, baju yang Daniel dan Shasha kenakan pun sudah berubah. Terlihat meja operasi yang lengkap dengan lampunya.
Sebelum proses persalinan Shashsa berpesan kepada suaminya untuk tenang.
"Bie, relax. Jangan tegang."
Seperti biasa Daniel mengangguk sambil mencium kening istrinya. Sebelum jarum suntik mendarat pada pinggang, Shasha berpesan kepada suami tercintanya itu." Bie, aku pamit tidur dulu. Kamu yang kuat ya sayang. Aku percaya kamu bisa. Setelah anak kita lahir berilah dia nama terindah. Tolong jaga dan sayangi mereka."
Setelah berpesan kepada suaminya, dokter pun meminta izin. Daniel pun mengangguk dan beberapa detik kemudian perlahan Shasha tertidur.
Tit ... tit ....
Tit ... tit ....
Didalam ruang operasi terdengar suara detak jantung dan terlihat dokter yang sedang meminta beberapa peralatan yang telah disiapkan perawat untuk melakukan proses bedah.
Hawa dingin di dalam ruang operasi tak sebanding dengan rasa was-was yang dialami Daniel. Dirinya yang sedang melihat perut istrinya dibuka untuk mengeluarkan bayi mereka dan di tambah ucapan Shashsa yang terngiang di telinganya, dirinya mencoba berfikir keras tentang perkataan istrinya itu sambil tak hentinya melantunkan doa untuk proses kelancaran persalinan sang istri.
Dalam doa tanpa sadar dirinya meneteskan air mata, dirinya tak menyangka bahwa istrinya pernah berada di ruangan operasi sebelumnya saat melahirkan Ecka, buah hati pertama mereka. Saat dirinya sedang menghardik dirinya sendiri tiba-tiba terdengar suara yang sangat ia dan keluarganya tunggu.
Oek ..... Oek .....
Oek .... Oek .....
Terdengar suara tangisan bayi, membuat Daniel makin meneteskan air mata. Dirinya yang sedari tadi berada disamping Shasha tak henti-hentinya mencium kening sang istri sambil berbisik, "anak kedua kita lahir, dia baby girl . Bangunlah sayang. Aku akan memberitahu namanya."
Kini Daniel berdiri dan menghampiri bayi yang telah diukur, ditimbang dan dibersihkan. Segera Daniel menggendong buah hatinya dengan kasih sayang.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
__ADS_1
Terima Kasih.