
Selama tidur baik Daniel dan Shasha merasa gelisah. Daniel gelisah karena merasa dirinya menjadi lelaki brengs*k yang menjilat ludah sendiri. Dia sendiri tak mengerti mengapa ia bisa seperti itu.
'God, ada apa dengan diriku?!' sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal. 'Berulang kali pertanyaan itu muncul di otakku, masa iya aku tertarik dengan nya?! Tidak!. Kira-kira apa yang kulakukan tadi apa dia merasakan? 'Ah tak mungkin, tadi aku melihatnya dia benar-benar sudah tidur lelap.'
Apa yang dipikirkan Daniel ternyata sama dengan Shasha.
'Sepertinya tadi aku tidak mimpi. Tadi benar-benar nyata. Aku merasakan ada yang menyentuh bibir dan juga gunung kembar'ku. Bukannya dia tak tertarik padaku! Tapi benar tadi itu seperti nyata, jelas-jelas aku masih sadar, aku masih belum tidur!' sambil membalikkan badannya ke arah sebaliknya.
'Tapi ..., aku tak menyalakannya jika ia melakukannya, ini salahku! andai saja aku tak menggunakan baju ini mungkin tadi tak akan terjadi! Sekuat-kuatnya keyakinan seseorang jika dihadapannya disuguhkan sesuatu yang menarik apalagi yang dihadapannya halal makan kata-kata tidak bisa jadi iya,.Ternyata benar, nafsuh dapat mengalahkan keyakinan! Sepertinya aku harus mencari cara agar kejadian ini tak terulang lagi, karena tak mungkin hanya dalam hitungan seminggu setelah menikah Daniel sudah mencintaiku.'
Selama memejamkan mata Shasha berpikir keras bagaimana cara agar dirinya tak sampai menggoda Daniel. Dirinya hanya akan memberikan hak Daniel jika ia sudah melihat rasa cinta tumbuh pada suaminya itu.
Dalam kepura-puraan'nya memejamkan mata muncul dua nama yang akan ia repotkan selama beberapa hari kedepan, dia adalah Secil dan Mutia. Untuk beberapa hari kedalam Shasha akan tinggal ke kosan sahabatnya itu secara bergantian.
Ide Shasha tersebut muncul seketika tanpa ia ingat dan sadar jika mertuanya masih berada di sini.
Capek memikirkan hal tersebut membuat keduanya baik Shasha dan Daniel tertidur pulas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi hari.
Shasha yang kini ada di dapur telah bergulat dengan wajan dan sutil. Saat sedang mencuci bekas peralatan masak Shasha merasa ada orang lain yang berada di dapur selain dirinya dan benar ternyata orang tersebut tak lain adalah Daniel. Daniel sedang mengambil minuman yang sudah disediakan Shasha diatas meja makan, yaitu secangkir kopi latte.
"Tumben kamu buat kopi latte?" suara Daniel memecahkan suasana hening diantara mereka.
"Hanya untuk variasi saja, pak,"
"Kenapa harus love pattern?"
"Karena itu yang paling mudah." tanpa melihat Daniel bicara.
"Kemana Mami?"
"Mungkin masih dikamar."
__ADS_1
"Sha, kemari! Ada yang ingin aku bicarakan."
"Bicara langsung saja pak."
"Kamu kenapa sih, kesini sebentar apa susahnya!"
"Yang mau bicarakan bapak, bapak saja kesini."
"Kamu kenapa sih!"
"Bapak yang kenapa!"
"Kenapa apa?" sambil meneguk kopi buatan Shasha.
"Apa yang bapak lakukan semalam! Kenapa bapak men——" ucapan Shasha terhenti ketika Daniel menutup mulutnya dengan posisi Daniel berada tepat dibelakang Shasha.
"Ssst ..., gak usah dibicarakan sekarang." bisik Daniel tepat ditelinga Shasha, hingga membuat Shasha menggeliat geli karena kumis Daniel.
Tanpa mereka sadari Melly muncul dan mengagetkan mereka.
Mereka berdua menjadi salah tingkah namun tak juga beranjak dari tempat masing-masing. Daniel yang masih berdiri dibelakang Shasha sambil menutup mulut Shasha dari belakang begitu juga dengan Shasha yang tidak memberontak sikap Daniel kepadanya.
Setelah mengatakan itu Melly segera duduk sebentar di pantry guna mencicipi pancake buatan Shasha.
"Mami tahu, kalian berdua malu'kan makanya gak ada yang melihat mami sekarang." "Oke-oke Mami akan kembali ke kamar dan tak akan menganggu kalian berdua yang sedang mesum di dapur." lanjut Melly sambil masih mengunyah pancake yang ada di tangan kanannya.
Beberapa detik kemudian setelah sepeninggal Melly segera Shasha mengigit tangan Daniel yang masih menutup mulutnya dengan sangat keras.
"Aw ... Aw ... Sakit tahu!" teriak Daniel lirih sambil mengibaskan tangannya yang kesakitan bekas dari gigitan Shasha."Kenapa gigitan'mu mirip kucing! Dasar kucing liar!"
"Dasar kucing garong! saya juga sakit" ketus Shasha.
"Sakit darimana?! justru saya yang sakit.!" mengusap-usap bekas gigitan yang membekas.
"Tuh berewok bapak nempel di telinga dan pipi saya!" sambil mengelus-elus bagian pipi dan telinga yang terkena duri-duri kumis milik Daniel.
__ADS_1
"Dasar aneh! baru ini ada cewe yang risih sama berewok ini." memegang
"Bukan saya yang aneh tapi selera mereka yang aneh. Mungkin mereka seumuran dengan bapak. Tua!" sambil melepas celemek yang menempel di tubuhnya.
"Kamu bilang saya tua!"
"Ia tua, memang bapak tua!" Shasha berjalan menuju ke wardrobe untuk mengambil baju.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa saat kemudian.
Setelah mengambil pakaian dan pergi menuju ke kamar untuk membersihkan badan. Shasha yang masuk ke dalam kamar mandi tak menyadari jik Daniel memiliki niat terselubung yaitu ingin mengerjai Shasha.
Shasha yang tengah asyik membersihkan anggota badannya tiba-tiba merasa ada yang tak biasa, yaitu lampu di kamar mandi tina-tiba padam. Shasha menyangka bahwa ini adalah hal yang wajar sehingga ia melanjutkan kembali aktivitasnya di dalam kamarnya di. padahal tanpa ia sadari bahwa mati lampu adalah ulah dari Daniel yang jengkel kepada dirinya.
Selama lampu padam, Shasha berusaha tetap melanjutkan mandinya meski tanpa adanya penerangan. Selesai mandi ia tak dapat melihat pakaiannya sehingga mau tak mau ia harus keluar dari kamar mandi ranoa menggunakan pakaian yang tadi dia bawa.
Sebelum keluar dari kamar mandi Shasha membuka pintu kamar mandi dan berusaha mengintip memastikan bahwa tak ada orang lain di dalam kamar selain dirinya.
Setelah dirasa aman segera ia keluar dari kamar mandi dan mulai membuka handuk yang dipakainya untuk menutupi tubuh polosnya itu.
"Aman, tak ada orang lain selain aku." gumam Shasha dengan penuh keyakinan.
Shasha tak mengetahui bahwa di balkon ada seseorang yang sedang melihat ke arah kamar dan betapa terkejutnya orang tersebut saat melihat pemandangan tersebut.
Meski dirinya merasa tak ada seorang pun di dalam kamar namun dirinya merasa tak aman maka ia pun dengan kilat mengganti pakaiannya sedangkan seseorang di balkon yang tak lain adalah Daniel merasa pemandangan gratis tersebut terlalu cepat untuk dinikmati.
Selesai mengganti pakaian segera Shasha keluar dari kamar dan menuju ke ruang pantry untuk mengisi perutnya dengan beberapa cemilan yang tadi dia buat. Baru beberapa kecap ia merasakan nikmatnya pancake buatannya ia kaget dan menghentikan kecapan'nya saat melihat Daniel keluar dari kamar.
tobe continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak