TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 171. JANJI DANIEL.


__ADS_3

Kini Daniel dan kedua anaknya masuk, saat itu juga untuk pertama kali dirinya melihat wajah istrinya tanpa menggunakan ventilator. Wajah natural istrinya terlihat jelas, wajah sang istri yang lama tertidur tampak terlihat sayu namun kecantikan sang istri tidak ada duanya.


Tuhan, terimakasih Engkau masih memberiku kesempatan untuk melihat senyumannya.


Melihat istrinya tersenyum kepada dirinya membuat hatinya menghangat.


"Ibu .... Aku dan Zy datang." ucap Ecka dengan riang sambil berlari kecil ke arah Shasha.


"Ecka anak ibu ...." ucap Shasha lirih.


"Ay ...., aku datang bersama kedua anak kita." ucap Daniel dengan gembira sambil memegang tangan istrinya.


Tak kuasa menahan rasa rindu Daniel pun mencium kening istrinya berulang kali tanpa lelah.


"Ayah ... Aku juga ingin mencium ibu." ucap Ecka yang menggoda ayahnya.


Mendengar itu Shashsa tersenyum kepada sang putra dan mulai sedikit memiringkan kepalanya agar putranya itu dapat mencium dirinya.


"Aku rindu ibu." ucap Ecka sambil mencium ibunya.


"Ibu juga."


"Siapa nama putri kita?" tanya Shasha lirih.


"Zyva Himalaya ..." jawab Daniel.


"Nama yang bagus" ucap Shasha sambil tersenyum. "Ecka anak ibu. Ibu minta maaf kepadamu. Jika waktunya tiba tolong dengarkan kata-kata ibu. Jadilah Abang yang baik dan contoh untuk adikmu. Sayang dan jaga dia." ucap Shasha sambil mengelus rambut dan pipi putranya.


"Pasti ibu, Ecka akan melakukannya." jawab Ecka tanpa curiga.


Setelah berbicara dengan suami dan anaknya, beberapa saat kemudian Shashsa diam sambil tersenyum dan mengangguk.


Daniel yang melihat istrinya diam sambil tersenyum dan mengangguk merasa heran dengan siapa dia tersenyum.


"Sayang, are you okay?" tanya Daniel.


"Ya. Sayang, apa kamu mencintai ku?" tanya Shasha kepada suaminya.


"Pasti, kamu ragu?" tanya Daniel sedikit sedih dengan pertanyaan istrinya.


"Sama sekali tidak." ucap Shasha sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Karena aku ingin kamu berjanji untuk kuat." ucap Shasha sambil melihat mata suaminya.


"Kuat? Aku selalu kuat Ay, kamu tahu sendiri kemampuan ku saat kita honeymoon." Daniel bercanda kepada istrinya.


"Semuanya, bukan hanya itu." jawab Shasha sambil memperlihatkan bibirnya yang terlihat pucat.


"Pasti Ay, aku akan selalu kuat. Semua itu demi kamu dan kedua anak kita." jawab Daniel dengan lugas.


Beberapa saat kemudian Daniel melihat istrinya berbicara sendiri sambil menghembuskan nafas panjang dan tidur. Kemudian terdengar bunyi suara -


Tit ........ Tit.......... diikuti dengan suara yang tangisan Zy.


Oek .... Oek ....


Setelah terdengar bunyi tersebut segera Dokter dan perawat masuk untuk memeriksa kondisi Shasha.


Sedangkan Daniel mengajak kedua anaknya untuk keluar dari ruangan.


***


"Ayah kita mau kemana?" tanya Ecka kepada ayahnya.


Daniel tak menjawab pertanyaan anaknya ia hanya menarik nafas dalam sambil berjalan ke arah sebuah ruangan tepat dimana sekarang istrinya berada.


Kenapa ayah diam, tidak menjawab pertanyaan ku?


Ada apa sebenarnya?


Ecka tidak berani bertanya lagi kepada ayahnya, karena ia melihat wajah ayahnya sama seperti saat ibunya belum sadar.


Kenapa semua yang ada disana menangis?


Tunggu ... Bukannya itu kakek, Oma dan Opa.


Paman, bibi dan juga aunty kenapa dengan mereka?


Papa Erza dan mama Jihan juga berada disini.

__ADS_1


Tapi .... mengapa semuanya menangis?


Ada apa??


Tuhan .... Ada apa dengan ibuku?


Kenapa ibuku?


Ecka bertanya-tanya dalam hati. Ia berulang kali melihat wajah ayahnya lalu ia menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti, nak?" tanya Daniel menoleh kebelakang melihat anaknya yang tak ingin digandeng Daniel.


"Ada apa ini yah? Kenapa? Jawab Ecka ayah." tanya Ecka.


Seketika Daniel berjongkok dan memeluk anaknya.


"Ayah ... Ayah tak sanggup mengatakannya."


"Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan ibu?" tanya Ecka penasaran.


Daniel mengangguk.


"Apa ibu tiada?" tanya Ecka kepada Daniel.


Seketika Daniel memeluk anak lelakinya itu dengan erat.


Seketika air mata Ecka membasahi baju Daniel. Tangisan putranya begitu terasa di pundaknya. Ia sendiri yang menangis berusaha menahan dengan merapatkan kedua mulutnya.


"Bawa aku ke ibu ayah? Aku ingin melihat ibu."


Segera Daniel menggendong putranya itu sambil berlari ke sebuah ruangan dimana istrinya berada.


"Ibu ..... ini Ecka Bu.... Ibu jawab Ecka!" teriak Ecka sambil turun dari gendongan ayahnya dan berlari menuju tempat ibunya terbaring.


Melly dan Joshka yang sedang menggendong Zy melihat cucu pertamanya sedang bersimpuh menangis dekat ibunya, mereka tak kuasa menahan air mata. Tak terkecuali, semuanya yang ada disana.


Daniel sendiri yang sedang berada di samping Shasha tak kuasa untuk menahan tangis yang sedari tadi ia tahan.


Erza yang melihat adik iparnya menangis di dekat adiknya mulai mendekati dan mengelus pundak adik iparnya.


"Daniel .... ikhlaskan istrimu. Sekarang dia sudah tenang, rasa sakitnya telah hilang. Kamu lihat senyumnya ... Dia terlihat pergi dengan tenang."


"Ayah .... Apa yang dikatakan papa Erza benar. Ibu tersenyum Yah."


Daniel masih tak ingin mengangkat wajahnya ia memilih untuk tetap menaruh wajahnya di dekat tangan istrinya.


"Daniel ...., kamu sabar Nak. Bukan hanya kamu yang merasa kehilangan tapi kami semua." ucap Joshka menenangkan anak semata wayangnya itu.


"Harusnya ayah yang lebih dulu pergi kenapa harus anak ayah." ucap Idris yang mendekati anaknya.


"Jangan bicara seperti itu, ayah. Kematian seseorang tidak dapat diminta dan dihindari. Kematian itu akan datang menjemput tanpa mengenal waktu, keadaan dan usia. Oleh karena itu kita yang hidup harus ikhlas melepas dan mendoakan karena nanti kita juga akan menunggu giliran untuk menunggu ajal menjemput. Saat ini adalah giliran Shasha, adikku. Dia meninggal pasca operasi karena sesuatu hal." ucap Erza menenangkan semuanya terutama ayah dan adik iparnya. "Kita yang ditanggalkan harus sabar, kalian lihat adikku sedang tersenyum, dia sudah tidak merasakan sakit. Tolong lihatlah dia adikku." ucap Erza sambil bergetar.


Daniel sadar dengan ucapan kakak iparnya. Segera iya mendongakkan kepalanya dan melihat istrinya. Dengan mengusap air matanya ia berusaha ikhlas menerima semuanya.


Begitu juga dengan mertuanya yang berusaha untuk kuat. Melly yang sedari tadi menggendog Zy merasakan kepedihan yang sama, dia juga larut dalam tangis kini mencoba menghapus air matanya. Meski dirinya hanya seorang mertua, namun baginya Shasha adalah penyelamat hidupnya karena pernah menyelamatkan Daniel dari penculikan.


Sejak saat itu ia selalu berusaha melindungi Shasha dari segala macam ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh Leon, mantan sahabatnya yang dendam kepada menantunya itu. Karena banginya Shasha adalah sumber kematian putra kesayangannya, yaitu Zavier.


Kini Melly telah menghapus air matanya, sebisa mungkin ia menguatkan hatinya untuk melepas menantu kesayangannya.


Menantuku sayang, pergilah dengan tenang. Mami akan selalu mencintaimu sampai kapanpun, cinta mami tak akan pudar meski dunia kita telah berbeda.


Mami akan membantu Daniel merawat kedua anak kalian.


Melly berucap dalam hati sambil memeluk erat Zy yang sedang digendongnya.


Tak hanya Melly yang tersadar dengan ucapan kakak Shasha, Sally sang ibu yang sedang duduk lemas melihat ke arah Shasha perlahan mulai bangkit di papah oleh Jihan untuk berjalan ke arah anak perempuan nya itu.


"Bunda mencintai mu Acha, Nesha Himalaya Ayesha. Kamu putri kesayangan bunda, bunda ikhlas melepas kepergian mu, rasa sakitmu sekarang telah hilang. Pergilah dengan tenang, kami semua yang disini akan selalu menjaga, mendidik dan merawat kedua anakmu." ucap Sally lalu mencium kening putrinya.


***


Di sebuah pemakaman yang cukup sederhana namun tetap terlihat mewah Daniel memilih sebuah tempat peristirahatan terakhir untuk sang istri. Dia yang sedang berdiri disamping anak lelakinya menggunakan baju serba hitam lengkap dengan kopiah menghiasi kepalanya.


Raut wajah Daniel begitu kusut, dia terlihat lemah dan tak bergairah, gurat kesedihan pada wajahnya masih terlihat. Dirinya bukan tidak ikhlas melepas kepergian istrinya namun rasa kesedihan masih menghinggapi perasaannya karena telah ditinggalkan oleh belahan jiwanya.


Dilihatnya jenasah Shasha yang sudah dikebumikan, hati Daniel terasa sesak. Dia membayangkan setelah pulang dari sini maka ia tidak akan bertemu dengan istrinya lagi.


Senyum hangat, sapaan lembut dan harumnya aroma kopi, masakan dan parfum istrinya tidak akan ia rasakan lagi. Yang tersisa hanyalah sebuah kenangan indah.


Kini tanah kuburan itu telah dihiasi sebuah nama yang terukir di atas batu nisan yang di tersebar beraneka warna bunga segar yang biasanya berada di tanah kubur.

__ADS_1


Istriku, Nesha Himalaya Ayesha ....


Aku melepasmu bukan karena aku tak mencintaimu, tapi ....


Aku melepasmu karena aku tahu ini yang terbaik untukmu.


Istriku ....


Terimakasih untuk waktu enam tahun pengabdian mu menjadi istriku.


Maafkan aku yang belum memberikan kebahagian banyak untukmu, berbeda denganmu yang telah memberiku kebahagiaan yang tak terkira.


Aku berjanji dua sumber kebahagiaan itu akan aku jaga dengan sepenuh hati, akan aku didik dan jadikan dia lelaki dan wanita mandiri, cerdas dan pemberani seperti mu.


Beristirahatlah dengan tenang...


Tunggu aku disana, kita akan berkumpul di surga.


Aku mencintaimu istriku ...


Daniel berucap dalam hati saat jenasah istrinya itu dikebumikan. Hatinya yang masih berduka terlihat jelas terpancar dari wajahnya. Sesak di hatinya masih begitu terasa, dirinya masih membayangkan setelah ini ia tidak akan bertemu dengan istrinya lagi.


Ia menutup matanya dalam-dalam diiringi dengan air mata yang tumpah dari kedua matanya.


Kini satu persatu orang yang mengantarkan Shasha pergi meninggalkan makam, yang tersisa hanya Daniel dan Ecka serta seorang lelaki yang jauh dari makam Shasha.


"Sayang, ayo kita pulang." ajak Daniel kepada anak lelakinya.


"Tunggu ayah. Bolehkan aku bertanya?"


"Silakan,"


"Apa ayah akan menikah lagi setelah ibu tiada?" tanya Ecka datar sambil melihat kearah makam ibunya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Aku hanya ingin tahu jawaban ayah saja."


"Apakah pertanyaan itu harus dijawab?"


"Iya."


"Doa ayah hanya satu, ayah ingin selalu berjodoh dengan ibumu baik di dunia maupun di akhirat. Dan tujuan hidup ayah saat ini bukan untuk mencari wanita namun ayah akan mendidik, menemani dan mengantarkan kamu dan Zy hingga menjadi orang yang sukses seperti apa yang aku dan ibumu cita-cita kan.


***


Tujuh belas tahun kemudian di sebuah kampus terkenal di dunia.


"Selamat ya Nak atas keberhasilan mu." ucap Daniel.


"Terimakasih ayah, semua ini karena ayah. Ayah telah menepati janji ayah untuk tidak pernah menggantikan posisi ibu dengan wanita lain. Ternyata apa yang dikatakan ibu benar, ayah adalah ayah terhebat, ayah sanggup merawat Zy yang saat itu baru berusia beberapa Minggu. Ayah hebat. Terimakasih ayah." ucap Ecka sambil memeluk erat ayahnya.


"Kenapa kalian berpelukan lama sekali? Aku kan juga ingin." rengek Zy kepada ayah dan kakaknya.


Ecka menghampiri adiknya. Kini mereka berdua saling berpelukan. Zy memberikan ucapan selamat kepada kakaknya.


Daniel tak kuasa menahan tangisan harunya, kedua anaknya yang tumbuh tanpa belaian dari seorang ibu kini telah tumbuh menjadi anak yang sesuai ia dan almarhum istrinya impikan.


©©©©©©©💟💟💟💟💟💟©©©©©©


.


.


TAMAT.


Setelah meninggalnya Shasha, Daniel memutuskan untuk konsen mendidik dan memberi kasih sayang penuh kepada anaknya. Dia memilih menjadi seorang duda. Tepatnya menjadi HOT DADY. Dirinya tak perduli dengan ucapan rekan bisnisnya yang memintanya untuk menikah lagi dan mempertanyakan bagaimana dengan hasrat seksualnya.


Bagi Daniel, sebuah hasrat seksual memang sebuah kebutuhan setiap insan namun ia mengesampingkan itu semua dengan banyak beribadah dan berolahraga. Ia mengisi aktivitasnya dengan bekerja dan merawat dua buah hatinya, dan selalu menyempatkan diri untuk setiap Minggu mengunjungi makam sang istri.


Dengan kesibukannya itu Daniel tak pernah merasa kesepian meskipun tidak ada wanita dewasa disampingnya. Baginya kebahagiaan itu bukan hanya milik nya saja tapi juga milik kedua anaknya. Meski tanpa hadirnya seorang ibu ditengah-tengah Ecka dan Zy tapi orangtua, mertua, kakak ipar, sepupu dan para sahabat begitu menyayangi mereka berdua sehingga mereka tak pernah merasa kekurangan kasih sayang.


💙💙💙💙💙💙💙💙🐾🐾💙💙💙💙💙💙


Di akhir cerita TERJEBAK KISAH MASA LALU, saya selaku author mengucapkan terimakasih banyak kepada kalian semua para pembaca setia.


Dukungan kalian begitu berarti, dan telah menjadi semangat author untuk terus berkarya..


Tolong mampir dan dukung juga karya kedua author:


Remember Me, Dears.

__ADS_1


__ADS_2