TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 123. KEJUTAN.


__ADS_3

Turun dari mobil Shasha tak tahu harus berjalan kemana, karena jujur ia merasa kesepian jika harus berada didalam apartemen sebesar itu sendirian. Biasanya sesampai di apartemen ia akan disambut dengan omelan dari suaminya, kini tak dapat dipungkiri ia begitu rindu dengan omelan itu. Dirinya yang sudah memasuki lobi memencet tombol lift yang biasanya ia gunakan untuk menghibur dirinya. Saati ini kaki Shashsa berhenti di sebuah tempat terbuka yang penuh dengan beberapa mainan anak-anak, yaitu playground.


Disana Shasha melihat beberapa anak kecil bersama kedua orangtuanya sedang bermain bersama. Pemandangan itu membuat Shasha meneteskan air mata, ia teringat akan masa kecilnya yang amat sangat bahagia. Setiap akhir pekan ia dan kakaknya Erza pasti diajak oleh kedua orangtuanya untuk pergi ke taman kota. Mengingat momen tersebut membuatnya menjadi rindu kepada kedua orangtuanya.


Segera ia mengambil ponsel yang sedari tadi tidak ia sentuh sama sekali, bahkan ia tak tahu siapa saja yang sudah menghubungi dirinya. Banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab namun dibiarkannya, ia tak ingin tahu siapa yang sedang mengirimkan atau menghubunginya karena saat ini ia terfokus untuk menghubungi kedua orangtuanya.


Panggilan pertama tak ada jawaban, hingga panggilan ke dua tetap kedua orangtuanya tak mengangkat.


Kemana ayah bunda?


Apa ayah sedang ngopi bersama bapak-bapak disana?


Lalu bunda? Apa jangan-jangan bunda masih ada pengajian ya?


Yasudahlah, nanti akan aku coba telepon lagi,


Shasha pun menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. Ia kembali menikmati suasana sekitar di area bermain tersebut, kepalanya yang masih pusing mengingatkan dirinya untuk harus segera mengistirahatkan tubuhnya yang masih belum pulih. Seketika bayangan akan kesendirian di kamar sudah kembali muncul di benaknya bahkan ia mulai meratapi nasib kisah cintanya yang bagai roller cooster, baru saja bahagia kini harus kembali pahit dan getir.


Tak terasa jika saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, mau tak mau Shasha harus mengakhiri persinggahannya disini dan segera kembali, untuk membaringkan tubuhnya yang masih lemah ditambah dengan matanya yang mulai panas pertanda ia harus segera beristirahat.


Di dalam lift ia tak sendirian, dirinya bersama dengan beberapa orang, salah satu dari mereka adalah Dion. Baik Dion maupun Shasha tak menyadari jika mereka berdua berada di lift yang sama. Saat semuanya disana sudah turun hanya tinggal mereka berdua, tetap saja mereka masih belum tersadar dengan keberadaan keduanya. Dion sibuk dengan ponselnya sedangkan Shasha sibuk dengan pemikirannya.


Kini pintu lift sudah terbuka, Shasha dan Dion keluar. Kamar keduanya saling berhadap-hadapan. Saat Dion hendak memasuki kamarnya dirinya tahu unit didepannya adalah milik Daniel namun ia memilih untuk tidak melihat siapa yang sedang membuka pintu yang ada di depannya. Baginya tak mungkin jika Shasha yang masuk karena yang ia tahu jika Shasha sudah berada di dalam sedari tadi, jadi tak mungkin yang masuk itu Shasha pasti orang lain.


**


Tak terasa sudah hampir tiga bulan berlangsung, Daniel masih belum memberinya kabar apapun sehingga membuat Shasha khawatir. dengan keadaan Daniel sekarang. Kekhwatiran Shasha menjadi berlebihan karena Johan sudah tak lagi memberinya kabar, biasanya dia akan memberitahu informasi semua tentang suaminya itu.


Apa aku telepon bang Jo ya ? Kebetulan sekarang hari Minggu.


Johan : “Iya. Tumben telepon. Biasanya gak mau angkat telepon dan jawab.


Shasha : “Maaf ya bang. Abang dimana?”


Johan : “ Di kosan Secil. Ada apa?”


Johan : “Kenapa jadi tanya ke aku. Coba kamu cari tahu sendiri.”


Shasha : “Kug Abang gitu?


Johan : “Kamu yang kenapa? Sudah tahu Daniel sedang berjuang untuk kalian kenapa kamu malah enak-enakan.”


Shasha : “Enak-enakkan gimana bang? Shasha salah apa?”


Johan : “Kamu masih tanya kesalahanmu apa! yang aku tahu kamu bukan Shasha yang aku kenal dulu, aku tak meyangka jika kamu seperti itu."

__ADS_1


Shasha : "Bang, tolong jangan emosi dulu, jelasin ke Shasha, apa kesalahan Shasha."


Johan : "Kamu seakan tersakiti, padahal jelas-jelas yang aku dan Daniel melihat kamu dan bosmu keluar masuk apartemen bersama. Dimana hati nuranimu!”


Shasha : “Shasha gak ngerti maksud Abang, bos yang mana?”


Johan : “Sudahlah Sha, aku gak sangka kamu seperti itu. Tak lama lagi Daniel akan datang, biar dia yang akan menegurmu."


Setelah berucap demikian Johan pun memutuskan telepon sepihak.


Bos yang mana? Siapa? Pak Brata?


Kenapa masalahnya makin bertambah!! Aku rasa ini salah paham.


Daniel akan datang? Akhirnya ... misinya selesai. Artinya kehidupan rumah tanggaku sebentar lagi akan normal seperti orang lain. Tapi pertanyaaan apa yang akan Daniel tanyakan sepertinya aku melakukan kesalahan yang besar terlihat dari suara bang Jo yang sepertinya enggan mendengar suaraku bahkan menganggap aku wanita tidak baik.


Lebih baik aku menanyakannya pada Secil, siapa tahu bang Johan bercerita kepadanya.


**


Shasha yang sudah tiga bulan bekerja masih tidak tahu jika Dion adalah CEO ditempatnya bekerja dan hari ini ia dipanggil oleh Pak Denny untuk masuk ke ruangannya.


“Lu dipanggil sama pak Denny?” tanya Kevin dengan wajah serius.


“Iya, ada apa ya?” tanya Shasha balik.


“Dipindah? Maksudnya? Pindah bagian?” tanya Shasha tak percaya.


“Iya, bisa jadi.”


“Kenapa? Apa artinya pak Denny tak puas dengan kinerja ku?”


“Biasanya bukan bos yang minta, tapi atasannya Bos, Lu tahu kan siapa?” jelas Rianda dengan bijak.


Dengan wajah tegang Shasha berdiri dan berjalan keruangan pak Denny, sesampai disana tak banyak kata yang diucapkan atasannya tersebut, yang jelas atasannya itu meminta agar dirinya mengemasi barang-barangnya karena mulai hari ini Shasha akan menjadi sekertaris. Dengan langkah yang berat Shasha keluar dari ruangan bosnya itu, wajah yang di tekuk menjadi pertanda bahwa ia sudah lelah dan pasrah dengan semua peristiwa yang menghampiri hidupnya dalam beberapa minggu belakangan ini.


“Gimana? Lu jadi dipindah? Tanya Kevin.


“Pertanyaanmu senang banget.” ucap Manda ketus.


“Heem,” dengan wajah tertunduk lesu Shasha menjawab.


“Udah gak papa, toh kita masih bisa ketemu kan. Memangnya mau dipindah ke bagian apa?” tanya Rianda.


“Sabar, nasib anak baru memang begitu,” celetuk Dimas.

__ADS_1


“Sekertaris.” ucap Shasha.


"Wawwww, selamat ya, akhirnya bisa dekat-dekat sama cowo ganteng." suara riuh teman-teman Shasha


.


Rianda yang melihat itu tak kaget, karena sebenarnya ia tahu bahwa CEO baru tersebut adalah mantan pacar Shasha dan masih berharap untuk mendapat cinta dari teman barunya itu.


"Gak papa Sha, artinya kamu mampu disana, kalau kamu butuh bantuan kami semua akan membantumu." ujar Rianda.


Shasha yang sudah berkemas-kemas kini mulai membawa barang-barangnya untuk dibawa ke sebuah ruangan yang berada di dalam ruangan CEOnya.


Akhirnya aku akan menjadi bawahan pak Brata langsung, apa nanti setiap hari aku akan diminta untuk membuat kopi.


Tok!


Tok!


"Masuk!" perintah seseorang yang berada di dalam.


"Permisi pak, saya Shasha." ucap Shasha kepada seseorang yang sedang konsen dengan berkas yang sedang dibacanya.


"Oh, jadi ini suara dari seorang sekertaris yang membuat sahabatku tergila-gila." ujar Riko sambil memutar kursinya ke arah meja dan menaruh berkas tersebut ke atas meja.


Shasha tercengang saat melihat siapa lelaki yang ada di hadapannya, ia adalah lelaki yang pernah ia lihat di taman dekat apartemen saat sedang bersama Rachel dan Yoga.


"Kenapa? Kaget ya?" tanya Riko.


Shasha hanya tersenyum menanggapi ucapan Riko, senyuman Shasha yang simpel membuat lesung pipi dan gigi gingsulnya terlihat dan sontak membuat Riko kagum dan diam seketika. Riko tak menyangka jika wanita di depannya ini benar-benar cantik.


Gila, pantas saja Dion tak bisa lepas. Meski sudah menjadi istri orang tapi bentuk tubuhnya masih seperti gadis, apa benar dia belum disentuh oleh suaminya seperti apa yang dikatakan Yugo. Mengapa wanita secantik ini harus bermasalah dengan rumah tangganya.


"Eheem ..." Shasha berusaha menyadarkan Riko yang sedang melamun.


"Maaf, gue gak konsen. Lu jadi cewe bisa gak cantik itu dibagi-bagi. Jangan diambil sendiri. Sana masuk, ada yang mau ketemu sama lu."


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2