TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 38. KEPERCAYAAN.


__ADS_3

Kini Johan dan Daniel kembali tinggal bersama namun bukan di mess maupun di rumah Ratih. Mereka saat ini berada di sebuah rumah cukup besar. Sebuah rumah megah yang memiliki luas bangunan kurang lebih dua ribu meter persegi dengan desain bangunan minimalis kontemporer. Mereka tinggal bersama Joshka.


"Ckck ..., baru ini rencana yang kita susun gagal." ucap Daniel sambil memberikan makanan ikan ke dalam kolam koi.


"Bukan gagal namun belum berhasil." jawab Johan sambil meneguk minuman.


"Sama saja, intinya kita tak dapat menyelesaikan sendiri. Aku rasa Ratih akan dendam." ucap Daniel khawatir.


"Jika dia masih diliputi amarah dan tidak sadar dengan kelakuannya mungkin akan seperti itu. Tapi ... sudahlah lebih baik kita jangan berfikir berlebihan setidaknya apa yang dilakukan dady adalah wajar. Dia pasti tak terima jika ada yang mengusik kehidupannya terlebih lagi itu adalah keluarga adiknya."


"Jo, kamu belum memberitahuku bagaimana ceritanya dady mengetahui bahwasannya paman sekeluarga masih hidup." tanya Daniel penasaran.


Johan pun menceritakan bagaimana awal mula dirinya bertemu dengan Joshka.


FLASHBACK ON


Di sebuah supermarket


"Joi ... Joi ...." panggil Joshka sambil berjalan cepat berusaha mengejar seseorang yang dia anggap mirip dengan saudara kembarnya.


Namun langkah Joshka terhenti saat melihat dari jauh seseorang yang dia anggap saudara kembarnya itu dihampiri lalu digandeng oleh wanita yang tak asing, yaitu wanita yang pernah dia kenal sebelumnya.


"Ratih ...." ucap Joshka lirih lalu segera bersembunyi. "Apakah firasatku selama ini benar bahwa Joi masih hidup dan memerlukan pertolongan." gumamnya dalam hati.


Tak jauh dari tempat Joshki dan Ratih berdiri, Joshka melihat wajah dan bentuk tubuh seseorang yang tak asing baginya.


"Johan? mengapa dia bersama Joi? apa dia tahu sesuatu? apa karena ini alasan dia memilih untuk menjadi pengawal pribadi." tanya Joshka penuh selidik.


Setelah melihat itu Joshka segera menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari jawaban dari semua pertanyaannya. Sebenarnya dia dan Melly sudah menyelidiki kematian Joshki sekeluarga namun belum mendapatkan titik terang justru kecurigaannya mereka kepada Leon,


suami Melly.


Beberapa saat kemudian


"Apa??? kurang ajar dasar wanita iblis tak tahu diri. Beraninya dia melakukan itu kepada adikku!" geram Joshka sambil meremas tangannya saat menerima telepon dari orang kepercayaannya.


Dirinya merasa berdosa bahwa selama belasan tahun dia mengira bahwa adik dan kelurganya telah meninggal namun ternyata mereka masih hidup, hidup menderita gara-gara cinta buta wanita iblis itu.


"Aku harus membawa Joshki dan keluarganya dalam keadaan sehat."


Seminggu kemudian, dia mulai meminta orang kepercayaanya untuk segera merencanakan penculikan di sebuah rumah yang diyakini adalah rumah milik Ratih. Tak butuh waktu lama hanya dalam sekejap rumah tersebut sudah dikuasai hingga membuat sang pemilik rumah bingung dengan apa yang terjadi termasuk Johan yang heran mengapa tiba-tiba ada banyak orang masuk dengan berpenampilan serba hitam dan menutup wajahnya sebagian.


Johan dibuat kewalahan siapa yang harus dia selamatkan, dia yang berada dekat dengan Joshki segera menyelamatkan papanya sedangkan untuk Alea dirinya yakin adiknya cukup pintar pasti bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan mama Lily, karena memang Alea saat itu sedang berada di taman bersama mama Lily.


Dengan segera Johan memapah papanya untuk menaiki mobil. Dirinya sengaja segera membawa papanya kedalam mobil karena dirinya takut jika penculikan itu akan mencelakai papanya. Setelah memasuki mobil dirinya tak menyadari bahwa mobil yang dia masuki adalah mobil yang berbeda, namun dirinya tak asing dengan mobil yang pernah dia tumpangi sebelumnya.


"Apa ini mobil Tesla tiga milik dady?" gumam Johan."


Sepanjang perjalanan Johan hanya mengingat-ingat jalan menuju rumah yang pernah dia tempati sebelumnya saat dirinya dan Daniel sedang perjalan dinas ke Korea guna membahas hubungan bilateral ketika Daniel masih menjadi seorang diplomat.


Mobil tersebut dengan canggihnya berjalan sendiri tanpa ada kemudinya. Tak terasa sudah hampir satu jam dirinya berada di jalan.


Sedangkan Alea dan Lily diajak seseorang dari salah satu penculik tersebut untuk masuk kedalam mobil. Didalam mobil mereka saling menggenggam tangan satu sama lain.


"Mau dibawa kemana lagi kita? sudah cukup hidup kita menderita." ucap Lily lirih.

__ADS_1


"Ma ..., mama yang tenang. Yakin kita akan lepas dari kesengsaraan ini. Mama jangan menangis." ucap Alea yang berusaha menghibur mamanya.


"Maafkan mama, tidak bisa membahagiakanmu melainkan membuatmu terbebani dengan kondisi mama seperti ini."


"Mama ..., jangan bicara begitu. Mama bukan beban tapi mama adalah tanggung jawabku."


"Dimana papamu? apa dia dengan perempuan itu?"


Alea tak menjawab itu, dia diam saja karena sudah dipastikan papanya pasti dengan wanita itu.


Tanpa mereka sadar bahwa seseorang yang berada dibalik kemudi itu adalah Joshka. Joshka yang mendengar semua ucapan itu tak sadar telah meneteskan air mata, dirinya terhanyut dengan kondisi yang dialami oleh adiknya sekeluarga.


Kini mereka tiba disebuah rumah mewah yang cukup besar. Joshka yang sengaja menutupi wajahnya dengan masker mulai membukakan pintu. Dengan hati-hati dia menurunkan kursi roda lalu membantu Lily untuk duduk di kursi roda. Alea yang mendorong kursi roda mengikuti langkah seseorang di depannya.


"Baik sekali orang ini, semoga penculik kali ini berhati malaikat." batin Alea.


Sesampai di depan kamar, Joshka berhenti dan menghadapkan dirinya di depan adik ipar serta keponakannya itu, lalu membuka maskernya.


"Dady??" teriak Alea tak percaya.


Lily yang sedang menundukkan kepalanya tersentak saat mendengar anaknya berteriak. Diangkatnya kepala, lalu dia pun tak sanggup mengucapkan kata-kata hanya air mata yang keluar.


"Apa kabar keponakanku tersayang? maafkan dady terlambat mengetahui kondisi kalian." ucapnya sambil memeluk keponakannya.


"Dad, terimakasih telah menyelamatkan kami. Aku percaya dan yakin kak Daniel dan bang Johan akan datang namun ternyata dady yang lebih dulu datang."


"Lily, bagaimana keadaanmu?" tanya Joshka.


"Keadaanku seperti ini kak, setidaknya aku akan lebih cepat pulih jika sekarang kami bertemu dengan kakak. Apa kak Melly disini?" tanya Lily sambil celingukan.


"Melly sedang berada di Finlandia, dia sedang menjaga ayah. Kondisi ayah tidak cukup baik setelah kabar kematian kalian." jelas Joshka.


"Iya, aku dengan anak buahku, dibantu dengan Johan."


"Johan, anakku?" tanya Lily lirih.


"Iya, pengawal yang selalu berada disamping papa itu adalah bang Johan, ma." ucap Alea.


"Mengapa aku tidak menyadarinya jika lelaki itu anakku. Johan sudah besar. Terimakasih kalian telah merawat Johan. Meski dia hanya seorang anak angkat namun aku begitu mencintainya dan kalian pun telah berhasil menjaga serta merawatnya."


Joshka yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Lalu, dimana papa sekarang? apa masih bersama wanita itu?" tanya Alea.


"Tidak. Joshki sedang perjalanan kemari bersama Johan, sedangkan Ratih sudah berada ditempat yang pas untuk dirinya."


Tak lama kemudian Joshki tiba bersama dengan Johan. Segera Joshki memeluk istrinya dengan erat sambil meminta maaf setelah itu dia memeluk Alea lalu mereka berempat pun saling berpelukan.


Setelah memeluk keluarganya tak lupa dia memeluk sang kakak yang dianggapnya telah berjasa besar dalam menyelamatkan keluarganya.


Dilain tempat Joshka yang tidak ingin mengotori tangannya maka dia memutuskan agar Ratih di proses hukum dengan dijatuhi beberapa macam tindakan pidana.


FLASHBACK OFF


"Papa Joshki sudah ingat?" tanya Daniel heran.

__ADS_1


"Hem, dia sudah ingat semuanya setahun pasca kecelakaan. Ratih yang tahu bahwa Joshki sudah ingat semuanya mengancam akan menyakiti dan membuat mama lebih menderita jika papa tak menuruti maunya." jelas Johan.


"Lalu dimana mereka semua, kenapa sedari kemarin tidak bertemu dengan paman, bibi, juga Alea?" tanya Daniel heran.


"Papa Joshki sedang menemani mama Liliy untuk proses terapi berjalan selama beberapa minggu ke depan, sedangkan Alea ...," jelas Johan.


"Alea, sedang berada di rumah sakit untuk menghilangkan bekas luka bakar yang berada di keningnya. Dady tak ingin luka itu membuat Alea teringat kejadian itu maka luka tersebut harus dihilangkan." ucap Joshka yang memotong kalimat Johan. kehidupan Alea setidaknya masa-masa kelam itu harus dihapuskan


"Dad ...," ucap Johan dan Daniel bersamaan.


"Kenapa kalian seperti orang lihat hantu?" tanya Joshka kepada kedua anaknya sambil meneguk minuman.


"Karena kita sedang membicarakan dady." goda Daniel kepada dady nya.


"Dad, aku tak ingin berada disini. Tolong jangan pisahkan aku dengan Daniel?aku ingin selalu bersama-sama dengan Daniel." rengek Johan dengan memelas.


"Johan, jangan macam-macam kamu dengan Daniel. Dia itu sudah dady jodohkan." jelas Joshka.


"Iya ... iya, dad."


Daniel yang mendengar itu hanya diam saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Daniel masih memikirkan semua ucapan Joshka beberapa hari yang lalu tentang pengangkatan dirinya menjadi CEO di perusahaan JM Corporate, perusahaan yang dirintis oleh dady dari nol. Tak hanya itu saja, dirinya tak menyangka jika dady yang menurutnya adalah sosok orangtua yang yang diam namun ternyata memiliki pengaruh yang begitu besar hingga mampu membuat orang yang bersalah benar-benar mengakui kesalahannya dan bahkan lenyap tak terlihat.


"Nak, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Joshka menghampiri Daniel yang sedang termenung.


"Dad, tidak...tidak ada." ucap Daniel.


"Jika ada yang ingin kamu tanyakan silakan. Dady, hanya memberi beberapa pertanyaan saja dimulai dari sekarang." goda Joshka.


"Apa yang sudah dady lakukan kepada Ken dan anteknya?"


"Kamu masih penasaran. Yang pasti membuat mereka jerah dan menyesal. Kamu akan melakukan hal yang sama jika menyangkut tentang pekerjaan."


Mendengar itu Daniel mulai mengerti


"Apa yang membuat dady mempercayakan diriku untuk menjabat CEO."


"Karena kamu adalah keturunanku."


"Tapi bagaimana jika aku tak mampu?"


"Aku akan memintamu mundur." ucap Joshka serius.


"Mundur?" tanya Daniel tak percaya.


"Aku memberimu posisi itu tak cuma-cuma. Aku akan memberikan tantangan, dimana dalam waktu satu tahun setelah kepemimpinan mu menjadi CEO laba perusahaan harus naik." ucap Joshka enteng.


Daniel yang mendengar ucapan Joshka hanya terdiam dan tak bergeming. Dia mencoba memahami ucapan dari tantangan yang diberikan oleh dady nya.


"Diam mu akan aku anggap berarti kamu sanggup. Dan perlu kamu tahu nak, dady bangga saat mengetahui dari beberapa karyawan disana bahwa kamu adalah orang yang ulet, rajin dan cerdas." puji Joshka kepada anaknya.


"Terimakasih dad atas pujian dan kepercayaannya. Untuk tantangan yang dady berikan Daniel akan berusaha. Tolong berikan aku restu. Mulai kapan aku akan berangkat ke Indonesia?" tanya Daniel tak sabar.

__ADS_1


"Besok pagi." ucap Joshka singkat sambil tersenyum kepada putra tunggalnya itu.


.....


__ADS_2