TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 140. MERESAHKAN.


__ADS_3

Tanpa Shasha sadari di tempat lain ada beberapa orang yang sedang memikirkan dirinya, mereka adalah Dion, Johan dan Daniel.


Dion yang semalam tertidur pulas setelah mengantarkan Shasha harus kecewa saat keesokan paginya ia berusaha mengecek aktivitas Shasha lewat ponsel namun tidak terlihat jika Shasha sedang ON, waktu terakhir ON saat malam hari beberapa jam setelah mereka tiba. Saat itu Shasha mengirimkan pesan kepada seseorang yang bernama Rianda.


Siapa Rianda?


Dion bertanya-tanya, sepanjang hari ia mencoba mengingat-ingat nama tersebut, sepintas ia pernah mendengar nama tersebut namun dirinya tak ingat dimana dan kapan ia tak asing dengan nama itu.


Sepertinya aku berlebihan, mungkin saat ini Shasha masih beristirahat setelah peristiwa semalam pasti dia merasa sedih dan enggan untuk melakukan aktivitas apalagi saat ini adalah hari Sabtu.


Lebih baik aku latihan saja untuk latihan basket, nanti setelah latihan aku akan mencoba mengecek kembali ponsel nya.


Dion mencoba mengalihkan kekhawatirannya untuk menyibukkan diri dengan berolahraga. Dion memang mencintai olahraga terutama basket adalah hobinya, dan karena basket lah dia dan Shasha dapat menjalin cinta.


Tak terasa sudah hampir dua jam Dion membakar kalorinya, harapannya agar lemak-lemar terbakar dan nafas melatih nafasnya agar tetap panjang sehingga ia tetap dapat bermain basket dengan baik. Kini ia memutuskan untuk pulang.


Saat hendak memasuki lift dia melihat seseorang yang ia kenal sedang keluar dari lift.


Johan! Untuk apa dia kesini sendiri? Setahuku dia adalah sekertaris sekaligus asisten pribadi Daniel.


Jika dia kesini artinya ia baru saja menemui Shasha, berarti saat ini ponselnya sudah aktif.


Segera Dion memencet tombol lift agar segera terbuka sehingga ia dapat segera masuk dan mengecek ponselnya.


Dengan langkah terburu-buru Dion membuka pintu apartemennya lalu masuk. Disambarnya ponsel yang berada di nakas dekat tempat tidurnya namun kekecewaan kembali menghampirinya. Ponsel Shasha masih tidak aktif.


Kenapa ponselnya masih tidak aktif? Apa dia sengaja?


Mungkin dia sengaja melakukannya agar tidak diganggu oleh Daniel maupun Johan. Buktinya tadi raut wajah Johan terlihat menegang dan bingung tak seperti biasanya yang tenang.


Apa sebaiknya aku meminta bantuan kepada Riko agar menghubungi Rachel untuk mengecek keberadaan Shasha di dalam?


Ah sudahlah, sepertinya aku harus memberinya ruang, lagipula aku tak harus melakukan hal seperti ini.


Besok saja saat di kantor, pasti aku bertemu dengannya. Aku yakin dia tak mungkin melakukan hal gila setelah peristiwa kemarin malam.


***


Di sebuah tempat parkir, Johan yang sedang duduk di dalam mobil terlihat sibuk  menghubungi seseorang dari seberang telepon, tak tahu apa yang sedang dibicarakan namun terlihat jelas dari sorot matanya jika dirinya tegang dan bingung.


Johan : " Kalian lacak, usahakan dia ketemu sekarang! Jika dia sudah ditemukan beritahu aku, awasi dia dari kejauhan." perintah Johan dengan suara lantang agar bodyguard suruhannya itu dapat bekerja sesuai dengan perintahnya.


Setelah berbicara keras lantang lewat telepon segera ia menelfon kembali nomor yang ditujunya, dan hasilnya sama seperti tadi.


"Kamu kemana Sha, maafin Abang." guman Johan dengan nada khawatir. Yang ia khawatirkan adalah bagaimana jika anak buah Leon masih mengincar Shasha, karena setahu Johan terakhir saat ditemukan seoarang wanita terkapar karena tusukan. Seharusnya tusukan itu ditujukan untuk Shasha namun beruntung salah sasaran.


Johan yang tak sabar segera menghubungi Secil, kekasihnya yang tak lain sahabat dari Shasha.

__ADS_1


"Dia kemana bang?" tanya Secil balik dengan nada yang tak kalah khawatir.


Sejenak Johan sadar jika tak mungkin Secil dapat mengetahui keberadaan Shasha karena secara diam-diam Johan telah memblokir nomor Shasha pada ponsel Secil, sehingga tanpa mereka berdua sadari mereka tak akan bisa saling bertukar kabar dan informasi.


"Bang, coba aku minta tolong Mutia."


"Jangan! Oh ini aku baru saja mendapat kabar keberadaan Shasha dari anak buahku." bohong Johan. Ia sengaja melakukan itu karena ia takut sampai terdengar di telinga Mami dan Dady, mengingat sekarang kondisi Joshka yang tidak sedang baik-baik saja.


Johan mencoba menenangkan dirinya, ia berusaha untuk tidak panik dan mengatasi masalah ini dengan tenang setidaknya ia akan segera memberi tahu Daniel bahwasannya saat ini Shasha sudah tak ada lagi di apartemen.


***


"Tidak !!!" teriak keras dari sehingga membuat dirinya terbangun.


Daniel terbangun dari tidurnya, sepertinya ia sedang mengalami mimpi buruk.


"Aku dimana?" dengan bingung ia bertanya pada diri sendiri dan melihat keadaan lingkungan sekitar kamar yang tak asing baginya namun membuatnya tak percaya dengan keberadaannya saat ini. Takut jika ia salah masuk kamar mengingat semalam ia pergi ke sebuah cub untuk meneguk banyak beberapa minuman keras.


Tanpa pikir panjang segera Daniel beranjak dari ranjang tempat tidur berwarna merah muda tersebut. Dan saat ia akan keluar dari kamar terhalang oleh seseorang yang akan masuk sehingga membuat dirinya terbentur oleh pintu.


"Uda sadar!" ucap Johan jengkel.


"Johan! Gue kira siapa. Gue takut kalau gue salah kamar."


"Lu ma selalu nyusahin, lu kalau gak kuat minum gak usah sok sok an minum segala. Berapa kali gue harus ganti seprei sampai akhirnya gue harus keluarin stok terunyu."


"Mau pulang kemana?"


"Gue harus ketemu Shasha. Gue gak mau kehilangan dia."


"Apa yang akan lu lakuin kalau lu kehilangan dia?"


"Kenapa pertanyaanmu begitu?" tanya Daniel heran, karena tak biasanya Johan berucap seperti itu. Sahabatnya itu selalu membela adik angkatnya itu meski beberapa bulan ini ia merasa Johan se haluan bersamanya yaitu tidak berpihak kepada Shasha.


"Gue cuman tanya."


"Gue gak tahu harus gimana, yang jelas separuh nafas gue hilang."


"Separuh nafas? lalu kemana aja lu selama ini?! Menyelesaikan misi? Terus gimana hasil dari misi lu itu?"


"Kenapa kamu bicara begitu? bukannya saat itu lu juga yang nyaranin gue untuk nyelesaikan misi tersebut? Kug sekarang lu balik nyerang gue!"


"Geu gak nyerang, gue cuman bicara kenyataannya. Apa misi lu selesai? dan selama lu menyelesaikan misi apa pernah lu perhatian dan awas kepada semua apa yang dilakukan Shasha? Gak kan? Lu malah sibuk mencari kesalahan Shasha dan percaya dengan segala macam apa yang perempuan itu ucapkan. Bahkan begonya lu cuma sadap ponsel wanita gila itu."


"Johan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Daniel yang mulai tak tenang. Dirinya hafal jika Johan bersikap seperti ini artinya sedang terjadi sesuatu.


"Lebih baik sekarang kita ke apartemen lu sekarang." ajak Johan kepada Daniel.

__ADS_1


Tanpa butuh waktu lama mereka berdua sudah berada di dalam mobil milik Johan. Dengan kecepatan tak biasa Johan mengendarai mobilnya dan hanya butuh waktu tak lebih dari satu jam mereka telah tiba.


Dengan langkah cepat segara Daniel keluar dari mobil padahal Johan belum selesai memarkir mobilnya dengan benar.  Saat hendak masuk ke lobi tanpa sengaja Rachel dan Daniel saling bertatapan, dengan malas Rachel memandang wajah Daniel. Daniel yang melihat itu hanya bersikap cuek dan melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam kamar apartemennya.


Pintu apartemen mulai terbuka, dengan segera Daniel masuk ke dalam kamar Shasha, dilihat kamar istrinya benar-benar bersih tak seperti biasanya, disana ia tak melihat kosmetik berjajar, beberapa rak buku yang tersimpan rapi kini tak terlihat menghiasi kamar tersebut. Tak hanya itu, segera ia mendekati laci yang ada di dekat tempat istirnya. Rasa kaget dan tak percaya kembali muncul saat ia melihat dua ATM pemberiannya lengkap dengan satu set perhiasan ada disana tersimpan rapi


Kemana Shasha?  Gak mungkin kan mimpiku berubah nyata?


Daniel pun segera keluar dari kamar Shasha menuju ke wardrobe. Namun saat hendak melangkahkan kakinya dia harus merasakan kesakitan karena menginjak sebuah kota. Dengan berjongkok segera Daniel mengambil sesuatu yang di injak tersebut, sebuah kotak yang tak asing baginya.


Kotak ini, lagi-lagi dia tidak memakainya.


Kotak yang beberapa hari lalu ia lempar. Setelah mengambil kota tersebut segera Shasha beranjak menuju ke ruangan arodrobe beberapa  Kali ini ia mimpinya benar-benar nyata. Disana ia tidak melihat koper Shasha. Setelah dilihatnya detail ternyata di ruangan ini sudah tidak ada lagi baju milik Shasha.


Seketika lutut dan kakinya lemas, ia tak menyangka jika istrinya kali ini benar-benar meninggakannya. Kejadian yang begitu cepat baginya, baru saja ia melihat apa yang ia rasakan kali ini ada didalam mimpi dan tanpa menunggu keeseokan harinya mimpi itu benar-benar berubah menjadi nyata.


Tanpa disadari Daniel, Johan berdiri sambil bersandar di pinggir pintu.


"Lu gak boleh nyerah, lu harus bisa memperbaiki semuanya."


"Apa yang harus gue perbaiki Jo, ini sudah terlambat. Ini semua salahku, seandainya aku tidak terbawa emosi mungkin tidak seperti ini." " Kenapa semuanya terjadi padaku Jo, vidio belum ditemukan sekarang justru aku benar-benar kehilangan istriku."


"Lu gak kehilangan Shasha, yang harus lu lakuin cari sekarang keberadaan Shasha. Gue yakin dia masih disini. Dan satu lagi, lu gak perlu lagi sok baik depan Asia karena vidio itu sudah ada ditanganku."


"Bagaimana caranya?" tanya Daniel penasaran.


"Selama ini Asia tak tahu harus menyimpannya dimana, dan begonya dia telah mengirimkan Vidio itu ke ponsel Shasha."


"Apa ? Jadi Shasha sudah melihat vidio asusila gue?"


"Maybe, dan sekarang induk vidionya sudah gue musnahin jadi lu gak perlu takut lagi dengan ancaman wanita halu itu.


"Thank's Jo, Gue akan cari Shasha dan mengajaknya kembali kesini untuk tinggal bersama ku. Dan aku berjanji akan segera mendaftarkan pernikahan kami lalu kami berbulan madu."


"Amiinn, semoga berhasil, Bro. Gue doain."


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.


Terima Kasih.

__ADS_1


__ADS_2