
Daniel bingung harus berkata apa kepada ibu mertuanya, dia tak mungkin menceritakan detail masalah pernikahannya dengan Shasha termasuk misi.
"Pernikahan kami baik-baik saja, apa yang kami bicarakan tadi adalah sesuatu yang wajar, setiap berumah
tangga pasti memiliki masalah, bun."
"Tapi bunda merasa itu tidak wajar, sebuah kata-kata yang masih bunda ingat tadi bahwa kamu tak ingin seorang anak lahir dari rahim Shasha, dan itu terbukti sampai saat ini kalian belum dikarunia anak." ucap Sally yang terlihat emosi.
"Itu tidak benar. Semua itu pernah kami ucapkan di awal menikah tapi seiring berjalannya waktu kami sadar
bahwa kami saling cinta dan aku ingin memiliki banyak anak keluar dari rahim istriku untuk meramaikan rumah kami nanti." jelas Daniel.
Mendengar penjelasan dari menantunya Sally diam tak berekspresi, dia merasa antara penjelasan Daniel dan apa yang diucapkan Shasha ada perbedaan. Dirinya memilih mengalah dan tidak lagi bertanya karena saat ini ia melihat Shasha yang sedang terbaring lemah di ranjang pasien.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu sayang? Kenapa kamu sampai nekat berbuat demikian? Kenapa kepintaranmu menutup kewarasanmu, Cha? Sampai saat ini Bunda masih tidak percaya jika kamu nekat berbuat seperti itu."ucapnya dengan sedih sambil memandang wajah Shasha yang terbaring lemah.
"Sebagai seorang ibu yang melahirkanmu, bunda ikut merasakan rasa sakit yang ada di hatimu meski bunda tidak tahu permasalahan apa yang sedang kamu hadapi. Kamu harus kuat sayang, percaya bahwa setiap masalah yang menerpa hidup kita adalah cara sang Kuasa menyapa kita dan yakin lah bahwa sebesar apa pun masalahnya pasti ada solusi nya."
"Untuk ucapan ayahmu jangan kamu simpan di hati, bunda yakin ayahmu hanya emosi sesaat. Dalam hati ayah yang terdalam dia begitu mencintaimu. Kamu anak perempuan satu-satunya bunda, jangan lagi berbuat nekat seperti itu lagi, sayang." sambil masih menangis Sally mengelus kening dan wajah anaknya yang terlihat rapuh dan lemah.
Melihat ibu mertuanya sedang berbicara kepada istrinya sambil menangis membuat Daniel memilih untuk keluar
ruangan dan mencari keberadaan dimana ayah mertuanya dirawat. Ia segera menuju ke meja administrasi untuk menanyakan ruangan ayah mertuanya. Setelah mengetahui nomor kamar segera ia berjalan dan menaiki lift agar segera bertemu mertuanya itu. Ruangan kamar yang dimaksud terlihat terbuka, dalam hatinya menduga sepertinya ruangan mertuanya sedang di visit oleh dokter, Daniel masuk dan terkejut saat melihat bahwa Abra berada di ruangan tersebut.
Untuk apa lelaki itu kemari?!
"Daniel, kamu sudah datang,"
"Ia ayah, bagaimana kondisi ayah?"
"Alhamdulillah baik, dokter ini yang merawat ayah bahkan saat bunda pulang dia yang menjaga ayah disini."
"Terima kasih dokter telah menjaga mertua saya." ucap Daniel dengan menekankan kata mertua kepada Abra.
"Sama-sama pak, sebagai manusia kita harus saling menolong." Abra tersenyum ke arah Daniel.
"Kalau begitu saya permisi dulu." pamit Abra.
Belum sempat pak Idris menanyakan kabar menantunya tiba-tiba Daniel pamit, "Ayah, Daniel keluar sebentar."
Ternyata Daniel keluar mengikuti langkah Abra, Abra yang tahu jika dirinya sedang diikuti memilih untuk melewati sebuah lorong sepi agar mereka berdua bisa leluasa berbicara.
"Abra, tunggu!" teriak Daniel.
Mendengar namanya dipanggil segera dia berhenti, "iya?" jawab Abra sambil membalikkan tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan kepada istriku?!" tanya Daniel penuh emosi.
"Aku tidak melakukan apa-apa, jangan menuduh sembarangan."
"Jika tidak mengapa dia sampai nekat berbuat demikian!"
"Berbuat apa? Apa maksudmu? Bunuh diri?"
Deg
Seketika jantung Daniel berhenti berdegup saat mendengar kata bunuh diri keluar dari mulut Abra.
"Bagiamana kamu tahu jika dia bunuh diri? Apa kamu yang melakukannya?"
__ADS_1
"Aku tidak serendah itu Daniel, aku akui dulu pernah hampir melecehkan nya saat kami bersama tapi dia
berhasilnya dan tidak mempertahankannya."
"Jika bukan kamu lalu bagaimana kamu bisa tahu jika dia melakukan perbuatan nekat itu!"
"Kamu lupa aku dokter disini, aku mendengar dari teman sejawatku jika pagi ini ada seorang wanita yang ciri-cirinya mirip dengan Shasha sekarang telah terbaring di sebuah kamar rumah sakit dan dari cerita keluarga pasien bahwa pasien tersebut nekat bunuh diri namun tidak berhasil dan seketika pingsan." jelas Abra.
Mendengar penjelasan Abra membuat Daniel semakin bertanya lalu siapa yang melakukan hal kurang aj*r kepada Shasha sehingga membuat istrinya merasa depresi seperti itu.
"Sehari setelah pak Idris masuk rumah sakit aku mendengar Shasha dibentak dan dicaci oleh ayahnya, bahkan aku yang mendengar merasa miris saat seorang ayah berkata jijik kepada anaknya. Dan sesaat setelah itu aku sengaja mengikuti kemana Shasha pergi namun dia menangkap basah diriku hingga dia memintaku agar tidak mengikutinya. Dari raut wajahnya, dia terlihat sedang bingung dan sedih, namun aku tidak dapat berbuat apa-apa
karena dia melarang ku untuk mengikutinya."
"Kalau begitu siapa?"
Tiba-tiba terdengar dering telepon pada ponselnya, sebuah nama yang ditungu-tunggu sedari tadi.
Daniel : "Apa? lu yakin! Apa itu asli atau hanya editan?" tanya Daniel dengan detail.
Daniel terasa lemas saat mendengar penjelasan dari seberang telepon.
Daniel : "Tolong selidiki lagi," ucap Daniel dengan lemas lalu menutup panggilan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Abra sambil menepuk pundak Daniel.
"Tidak, biarkan aku sendiri." ucap Daniel kepada Abra.
Abra yang kebetulan mendapat panggilan telepon dari seorang suster karena ada pasien emergency tidak
dapat menemani Daniel yang saat ini terduduk lemas di sebuah lorong yang sepi.
"Maaf, aku harus ke UGD."pamit Abra.
***
terlihat baik-baik saja namun dia mengalami depresi situasional, depresi ini merupakan sebuah depresi yang tidak menentu dan akan muncul dengan tanda-tanda pasien tiba-tiba murung dan dikhawatirkan Shasha akan kembali nekat melakukan bunuh diri.
Saat ini di sebuah kamar cukup luas, tempat tidur VVIP Shasha sedang berada, dirinya tidak sedang berbaring atau pun duduk, dia berdiri di depan jendela sambil melihat hujan yang turun dari balik jendela. Dimainkannya embun yang muncul dari sebuah kaca dengan menggambarkan sebuah pelangi. Dirinya menuliskan sebuah inisial nama lalu diberinya tanda cinta, yaitu DA
Seandainya aku setia dan tidak mencintai orang lain mungkin jalan hidupku akan berbeda.
Seandainya aku tidak bermain hati dengan seseorang sebelumnya dan langsung memilih perjodohan ini mungkin jalan hidupku juga akan berbeda.
Seandainya aku tidak memilih perjodohan ini dan mencari jodohku sendiri mungkin jalan hidupku juga akan
berbeda.
Shasha mulai menangis setelah menggambar pelangi dan beberapa inisial nama pada kaca.
"Ahhhhhhh ..... Kenapa kamu tega kepadaku?! teriak Shasha histeris.
"Gara-gara kamu ayahku membenciku!!!"
Seketika muncul beberapa perawat menenangkan dirinya dan memapah Shasha menuju ke ranjang.
Daniel yang melihat istrinya dari sebuah rekaman CCTV yang dipasang terlihat iba. Sejujurnya dia ingin sekali
bertemu dengan istrinya dan ada didekatnya namun keadaan dan lagi-lagi waktu yang tidak mendukungnya karena saat ini Shasha tidak mengizinkan orang-orang yang ada dikepala nya untuk datang termasuk dia adalah sebuah nama yang tidak ingin ditemui Shasha.
__ADS_1
Dokter psikiater yang merawat Shasha meminta kepada nama-nama yang disebutkan agar tidak mengunjungi pasien namun memperbolehkan melihat perkembangan Shasha dari sebuah rekaman CCTV.
Tak terasa sudah hampir sebulan lamanya, baik Daniel, Johan dan Bunda yang melihat kondisi Shasha merasa
bahagia karena kemajuan Shasha mulai terlihat.
***
Shasha yang sudah mulai dapat menerima kenyataan atas apa yang terjadi pada dirinya mencoba ikhlas, dirinya
tak menyangka jika Daniel suaminya benar-benar menerima dirinya dengan segala kekurangannya. Saat ini Shasha tinggal di sebuah rumah yang sangat besar dan memiliki banyak fasilitas milik keluarga Joshka yang terletak tak jauh dari rumah kedua orangtuanya. Disana Shasha ditemani beberapa maid saja, sedangkan Daniel tidak dapat menemani istrinya karena ia harus bekerja di Ibukota untuk menjalani beberapa agenda penting setelah cukup lama ia tinggalkan untuk bersama dengan istrinya setelah kepulangan Shasha dari rumah sakit.
Perlakuan yang diberikan Daniel saat ini begitu berbeda dari sebelumnya, dirinya benar-benar membuktikan ucapannya untuk menjadi suami yang baik bagi istrinya termasuk melindungi Shasha dari segala macam marah bahaya, terkesan berlebihan namun demi keamanan. Tanpa sepengetahuan Shasha, Daniel membatasi semua akses Shasha. Hal itu dia lakukan karena ia menuruti saran dokter agar Shasha yang masih dalam masa penyembuhan agar dihindarkan dari beberapa orang yang masih membuatnya memicu depresi nya.
Tak terasa sudah hampir tiga bulan lamanya Shasha harus terpisah dari Daniel, dia pun merengek agar bisa menyusul Daniel tinggal di Ibukota.
Shasha : "Bie, kapan kita bisa bersama?" tanya Shasha di seberang telepon.
Daniel : "Mungkin bulan depan, Ay. Kamu sabar ya."
Shasha : "Baiklah, aku ingin menemui teman ku?"
Daniel : "Siapa?"
Shasha : "Rianda."
Daniel : "Wanita yang selalu kamu ceritakan itu?"
Shasha : "Ya. Apa aku boleh menemuinya?"
Daniel : "Iya, asal jika kita bertemu kamu terlihat makin seksi dan menggoda."
Shasha : "Apaan sih, Bie."
Daniel : (Daniel terkekeh, mendengar istrinya berkata demikian.) "Ay, aku tutup dulu ya, aku harus meeting
dulu."
Mereka berdua pun mulai menutup teleponnya masing-masing, hari-hari yang dilalui Shasha saat ini lebih bahagia
dari sebelumnya namun cukup membosankan, dia memang memiliki aktiviras namun Daniel tidak mengizinkan kegiatan yang Shasha lakukan berada di luar. Seperti Shasha yang mulai rajin berolah raga dan senam pun harus dilakukan di dalam rumah bahkan untuk merawat diri harus dilakukan di dalam rumah. Daniel
memanggil beberapa orang dari salon ternama disana untuk datang ke rumah.
***
Tak terasa sudah satu bulan lamanya, Daniel menepati janjinya untuk mengajak Shasha kembali ke ibukota, sebelum berangkat mereka berpamitan kepada Sally. Dengan bahagia dan pelukan hangat Sally melepas anaknya untuk pergi ke ibukota sedangkan pak Idris yang masih tidak ingin menemui anaknya hanya melihat Shasha dari balik jendela. Dalam lubuk hatinya masih tersimpan rasa kecewa yang mendalam namun tidak dapat di pungkiri dirinya begitu rindu memeluk putrinya itu.
Sebelum berangkat, Sally berpesan kepada Daniel dan Shasha, "Lelah itu biasa, kecewa itu wajar. Namun, percayalah dalam pernikahan bukan tentang seberapa kali engkau lelah dan kecewa, melainkan tentang seberapa lama dan kuat engkau bertahan"
"Iya bunda, ucap keduanya.
Jujur hati Shasha merasa sesak dengan sikap ayahnya yang masih tidak ingin bertemu dengan dirinya, namun suami dan ibunya meminta sabar dengan sikap ayahnya yang seiring berjalannya waktu akan luluh.
.
.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.