
Daniel yang tersadar segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki kantor.
"Siang pak," sapa beberapa sekuriti disana.
Daniel yang tak seperti biasanya hanya menatap mereka tanpa senyum hingga membuat mereka yang ada disana bertanya apa yang terjadi dengan bosnya yang tampan ini.
"Mas Jason, kenapa pak Daniel tiba-tiba diam seperti orang melihat hantu?" tanya pak Kasim, seorang sekuriti senior disana.
"Entah pak, mungkin sedang banyak pikiran, pak." jawab Jason asal.
Jason sendiri tak mengerti apa yang terjadi dengan Daniel, "apakah ada hubungannya dengan pertanyaan tadi?" tanya Jason curiga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Daniel yang biasanya dingin dengan beberapa karyawan kini malah makin dingin jika mereka berada di dekat Daniel. Namun sikap Daniel tersebut justru malah membuat beberapa karyawan wanita makin jatuh cinta.
"Haduh ... Makin klepek-klepek gue di dekat pak Daniel."
"Iya, makin gemesin. Jadi pingin cubit-cubit pipinya itu." balas pegawai wanita lainnya.
"Coba, sekertaris pak Daniel wanita, hem betapa bahagianya tuh sekertaris. Tapi untung Mas Jason ya."
"Iya, dan gue lebih tertarik dengan Mas Jason. Wajahnya itu begitu oriental sekali. Meski dia duda aku tetap suka."
"Iyalah siapa yang gak suka sama mas Johan, dia duda tanpa anak."
"Tuhan, berikan aku salah satu dari mereka. Aku akan menjaga mereka sepenuh hatiku."
Obrolan mereka terhenti kala Daniel dan Jason muncul dan melewati ruangan pantry yang berada di paling ujung dekat lift.
"Sore pak, tumben sudah mau pulang?" tanya salah satu karyawan yang ada disana.
Daniel hanya fokus melihat kapan pintu lift akan terbuka sedangkan Jason berusaha membalas senyum mereka semua yang ada di pantry serta membalas pertanyaan salah satu karyawannya. "Iya, mari semuanya."
Segera mereka berdua memasuki lift, di dalam lift Daniel tetap tidak berbicara seperti sebelum-sebelumnya. Jason yang tak enak karena sudah seminggu ini Daniel begitu serius, pembahasan mereka hanya tentang pekerjaan. Mau tak mau di memberanikan diri untuk mengajak Daniel bicara.
"Bos, apa bos tidak tertarik dengan salah satu karyawan wanita kita yang ada di pantry tadi?" tanya Jason.
"Mereka semua yang ada disana bukan tipeku." jawab Daniel singkat.
"Lalu seperti apa tipe idaman, bos?" tanya Jason lagi.
"Kenapa?" tanya Daniel balik sambil mengerutkan dahinya.
"Saya penasaran saja. Saya yakin dia akan menjadi wanita beruntung karena dapat meluluhkan hati bos."
Daniel yang mendengar ucapan Jason hanya dapat bertanya-tanya dalam hatinya. ' wanita beruntung saat itu ada dua, dia yang pergi menghianatiku dan dia yang ku campakkan karena ketakutan ku dengan masa lalunya'
ujar Daniel dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ditempat lain.
Setelah sidang skripsi Shasha begitu bahagia, dia begitu puas dengan semua tanggapan dosen pengujinya, dia tak menyangka dapat mempertahankan semua isi dari skripsinya, dan tak satupun pertanyaan yang tidak bisa dia jawab. Untuk revisi skripsi hanya beberapa saja. ' Revisi hanya sedikit, akan aku selesaikan dan segera aku akan memberi kejutan Kak Abra.' batin Shasha dengan tersenyum sendirian.
Keluar dari ruangan sidang dirinya sudah disambut dengan kedua sahabatnya. Secil dan Mutia belum mendaftarkan ujian skripsi mereka karena mereka belum selesai dan masih perlu bimbingan skripsi.
Sesampai ditempat parkir mereka bertiga dikagetkan dengan kemunculan seorang pria tampan yang tiba-tiba meminta maaf kepada Shasha agar tidak mencintainya dan pernyataan cinta yang ditujukan kepada Mutia.
Didalam perjalanan kos Shasha mereka bertiga masih tak percaya.
"Mut, siapa Mr.A?" tanya Shasha.
__ADS_1
"Siapa?" jawab Mutia dengan pura-pura bertanya kembali.
"Apa dia teman kampus kita?" tanya Shasha lagi.
"Tidak, dia ..., dia begitu tampan Sha. Saat itu dia yang menolongku dari kerumunan itu, awalnya gue menolak karena gue kira dia copet dan gue reflek memutar tangannya." cerita Mutia sambil membayangkan saat-saat pertemuannya dengan Mr.A.
"Keren, lalu apa kalian sudah bertemu lagi?"tanya Shasha lagi.
"Belum, tapi aku yakin kita akan bertemu lagi." ucap Mutia yakin.
"Lu yakin banget." ejek Secil.
"Biarin, lu pernah tahu tidak optimis dan doa itu bisa bikin sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin." jelas Mutia.
"Betul, itu namanya jatuh cinta. Sama kayak gue sekeras apa pun kalian gak suka sama kak Abra tapi gue optimis dan yakin sama perasaan gue jadi kalian gak akan bisa bikin luntur cinta ini ke dia." ujar Shasha.
"Beda kali, kalau lu itu cinta buta. Lu udah berulang kali disakiti masih aja lu terima dia. emosi Secil.
"Sudah-sudah. Hari ini kita gak usah bahas cowok, kita rayakan kelulusan Shasha sesi 1. Kita masak-masak yuk." ajak Mutia
"Kenapa ada sesi 1?" tanya Shasha dan Secil bersamaan.
"Ya kan belum wisuda, baru sidang skripsi." jelas Mutia.
"Oooo ..., baiklah kalian belanja dulu ya, gue mau rebahan dulu, semalam gue gak tidur gue berdoa buat kemudahan Shasha sidang tau!"
"Ih lu ngaku-ngaku doa. Lu nonton drakor sampai subuh gitu. Sampai opa Song Joong Ki nonton lu tidur." ejek Mutia.
Mendengar itu Shasha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dirinya tak percaya bahwa memiliki sahabat seperti mereka berdua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kini Shasha bersiap untuk berangkat ke Jogja menemui Abra sang pujaan hatinya. Dia ingin memberikan kejutan kepada Abra akan kedatangannya tanpa memberitahu. Mereka berdua sudah lama tidak bertemu, terkahir pertemuan mereka saat di awal semester itupun hanya satu hari saja.
Rasa rindu Shasha kepada kekasih begitu sangat mendalam, meski sudah berulang laki tersakiti namun dirinya tetap memaafkan karena memang rasa cintanya yang besar dibanding rasa kecewa dia. Rasa kecewanya pernah muncul di awal mereka menjalin hubungan dan pernah muncul lagi saat dirinya mengetahui bahwa Abra telah berselingkuh, hingga kecewanya kembali muncul saat Abra memintanya untuk memilih beasiswa atau bertemu dengan mamanya.
Saat ini dirinya sudah berada di sebuah bus, bus antar kota yang akan mengantarnya ke kota Jogja. Dirinya berpamitan kepada sahabatnya untuk pulang ke rumah.
Didalam bus Shasha merasa bahagia namun juga kadang dia merasa was-was karena ini perjalanan pertama nya tanpa pamit kepada kedua orangtuanya. Sebelumnya Shasha tak pernah pergi jauh tanpa pamit.
Tak terasa sudah dua jam perjalanan yang dilaluinya tinggal lima jam lagi. Shasha menghabiskan waktunya dengan membaca novel online di ponselnya. Capek membaca dia habiskan waktunya dengan tidur.
Lama tertidur di dalam bus kini Shasha sudah memasuki wilayah Jawa tengah, dan sebentar lagi sampai di kota Jogja. Dirinya yang sudah mengetahui dimana apartemen tempat Abra tinggal dari Brian, adik Abra. Brian sudah memberitahu Shasha agar tak perlu memberi kejutan datang ketempat kakaknya namun Shasha memaksa.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Shasha yang sudah sampai di Jogja segera menaiki taksi dan menuju ke hotel tempatnya menginap selama beberapa hari kedepan selama di Jogja. Rencana Shasha tiga hari berada di kota Jogja.
"Huh, akhirnya aku sampai juga disini. Besok pagi-pagi sekali aku akan ketempat kak Abra." gumamnya sambil menghela nafas panjang dan berbaring di tempat tidur.
Belum sempat dirinya menutup mata tiba-tiba ponselnya bergetar ada pesan masuk.
'Kak Jihan? tumben kak Jihan kirim pesan biasanya langsung telepon. Apa gak usah dibuka aja ya? tapi ...'
Belum membuka pesan telepon bergetar.
'Akhirnya telepon'
Kak J : "Dek, kamu dimana?"
Shasha : "Shasha di Jogja sama Secil dan Mutia. Kita berlibur kak.
Kak J : "Em, kalian berlibur. Oke, hati-hati ya."
Shasha : "Kak, jangan bilang kak Eza ya kalau aku ada disini." rengek Shasha.
__ADS_1
Kak J : "Iya tapi kamu harus bisa jaga diri ya dek, kakak gak mau kamu kenapa - kenapa." ucap Jihan dengan nada khawatir.
Shasha : "Iya kak. Uda dulu ya kak. Gak enak sama Secil, Mutia nih."
Kak J : "Oke, bye dek."
Shasha akhirnya menutup sambungan telepon dirinya sambil menghela nafas panjang, "Huh ..., kak Jihan untung gak tanya yang lain-lain." gumam Shasha.
Tanpa dia sadari bahwa sebenarnya Jihan menelpon dirinya untuk melacak keberadaan Shasha. Dia melakukan nya karena memang itu perintah dari Melly, yang merupakan bodyguard yang dikirimkan untuk selalu menjaga Shasha.
Kini Shasha tertidur dan sudah memasang alarm agar besok pagi-pagi sekali dia akan datang ke apartemen Abra.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kukuruyuk ... kukuruyuk ....
Kukuruyuk ... kukuruyuk ....
'Jam berapa ini?' ucap Shasha kepada dirinya sendiri sambil mengambil ponselnya yang ada di dekat nakas tempat tidurnya.
'Harus cepat ni, gue mau kasih kejutan buat kak Abra.'
Segera Shasha berdiri menuju ke toilet untuk mandi sewangi mungkin tak lupa menggosok gigi juga. Dia tak ingin pertemuannya kali ini membuat Abra kecewa. Setelah mandi segera dia memakai cropped cardi warna putih, yaitu warna favorit Abra yang dipadu padankan dengan dengan rok plisket bermotif pola, serta menggunakan sneakers putih senada dengan warna kaos. Untuk rambut Shasha memilih rambutnya digerai.
'Ok, done. Gue cantik kan. Hi cermin gue cantik kan? ya kan? ya kan? ... Semoga kak Abra makin sayang. Aaminn.'
Segera Shasha memesan taksi untuk menuju ke apartemen Abra. Setengah jam menunggu pesanan taksi tak kunjung datang, diulanginya pesanan taksinya untuk yang kesekian kalinya namun bukan tak kunjung datang melainkan permintaan Shasha ditolak. Dicobanya lagi pesan dan hasilnya sama. Shasha yang diburu waktu tak pendek akal dia mendatangi resepsionis hotel dan meminta bantuan untuk dipesankan taksi. Tak butuh waktu lama pesanan taksi pun datang.
"Selamat pagi, mba." sapa sopir taksi.
"Pagi pak." jawab Shasha dengan senyum.
"Mau kemana hari ini mba? Saya siap mengantar." tanya pak sopir.
"Saya mau ke apartemen X, pak."
"Siap mba."
Sepanjang perjalanan Shasha mengumbar senyumnya, tak henti-henti dia tersenyum hingga membuat sang sopir yang melihat dari spion mengagumi kecantikan Shasha.
"Mba ... Mba, dari tadi senyum. Lagi bahagia sekali ya mba?" tanya pak sopir.
"Iya pak, kelihatan ya pak?" tanya Shasha dengan riang.
"Kelihatan sekali, mba. Saya lihat mba jadi semangat."
"Oia? kug bisa pak?"
"Pagi-pagi dapat penumpang cantik dan murah senyum bikin aura mobil saya bagus, semoga rezeki saya hari ini juga bagus."
"Aamiin pak, bismillah semoga rezeki bapak Baskoro hari ini lancar."
"Aaminn, makasih mba sudah di doakan. BTW tahu nama saya darimana mba?"
"Itu di tanda pengenal bapak didepan." jawab Shasha.
Selama perjalanan menuju apartemen Abra Shasha menghabiskan waktu dijalan dengan berbincang riang dengan sopir taksi gaul tersebut. Hingga tak terasa kini Shasha sudah tiba di depan apartemen Abra.
...
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak
Salam sayang 🥰🥰