
"Tapi dengar dulu penjelasanku. Aku tahu kamu masih mencintaiku dan kamu tidak benar-benar marah bukan?" Abra berucap sambil berusaha meraih tangan Shasha.
"Kepercayaan diri kakak terlalu tinggi." tawa sinis Shasha terdengar.
Beberapa saat kemudian Shasha mencoba mengatur nafasnya yang sedikit tersengal karena ia mulai sedikit emosi.
"Dalam percintaan ada masanya untuk berharap dan ada waktu untuk berhenti serta ada saatnya untuk memperjuangkan namun ada juga saatnya untuk mengikhlaskan. Dan pada tahap ini aku telah rela dan ikhlas melepas semuanya. Semua kenangan enam tahun yang pernah ada diantara kita aku lepas. Diantara kita sudah berakhir. Lepaskan tanganku!" bentak Shasha sambil mencoba melepas tangannya yang dicengkeram Abra.
Bulir air mata keluar dari kedua mata Shasha, air mata yang sedari tadi ditahannya agar tidak tumpah akhirnya mengalir tanpa permisi melewati kedua pipinya yang terlihat berseri.
Bekas goresan kaca yang masih terlihat di kening dan juga bekas luka kecil yang ada pada ujung bawah bibir masih samar terlihat. Melihat semua bekas luka membuat hati Abra menangis, ia tak menyangka kelakuannya telah membuat seseorang yang dia cintai sakit. Apa yang telah ia lakukan saat itu benar-benar bukan kehendaknya, ia dipaksa untuk membuktikan bahwa Shasha bukan orang istimewa Abra.
Melihat Shasha menangis Abra mengusap air mata tersebut dan mencoba memegang bekas luka itu.
"Jangan sentuh aku!" suara bergetar Shasha bercampur dengan air mata yang tanpa permisi masih turun.
"Izinkan aku untuk menyentuhmu dan biarkan aku mengusap air matamu. Tangisanmu saat itu membuat hatiku perih."
"Terlambat. Semuanya terlambat. Sekarang lepaskan aku.!"
"Tidak, aku masih ingin melihatmu, kamu tak tahu bagaiamana tersiksanya aku setelah hari itu ku coba menghubungimu berulang kali namun tak ada jawaban. Hingga seseorang mengangkat panggilan teleponku dan dia mengatakan untuk tidak menganggumu lagi. Itu adalah telepon terakhirku karena kamu tak pernah mengangkat panggilanku."
Shasha yang mendengar semua ucapan Abra menganggap bahwa itu adalah bualan Abra. Ia sendiri tak pernah memblokir nomor Abra yang ada justru setelah kejadian itu Abra sama sekali tidak menghubungi dirinya.
"Cukup kak ... cukup. Hubungan kita sudah selesai. Pilihlah dia, apa pun kekurangannya menjadi kelebihanmu. Mungkin kita tidak ditakdirkan sebagai kekasih melainkan mantan kekasih." ucap Shasha penuh penekanan.
"Aku menyesal Sha. Kenapa saat diawal pertemuan kita niatku salah. Namun semakin dijalani rasa cinta dan sayangku mulai tumbuh, dari tak suka menjadi suka."
"Stop jangan bicara menyesal. Semua itu sudah terlambat. Toh kalian berdua juga sudah tidur sekamar layaknya suami istri. Jadi lupakan dan lepaskan aku. Lebih baik cintai dia dan jangan sampai terlambat, belajarlah dari kesalahan."
"Aku tak akan dengan mudah melepasmu karena ada yang ingin ku jelaskan padamu."
__ADS_1
"Apa lagi?! jelasin apa?! aku lelah!" ucapnya Shasha jengkel.
"Ikut aku!" ajak Abra sambil menarik paksa tangan Shasha yang hampir lepas dari genggamannya.
Shasha yang ditarik paksa dan cepat oleh Abra memilih untuk tidak berteriak ia hanya pasrah mengikuti kemana arah Abra membawanya. Daniel yang melihat Shasha ditarik paksa dengan pelan-pelan mengikuti kemana arah keduanya berjalan. Ia sengaja tidak menyelamatkan Shasha karena rasa penasaran dengan masalah mereka berdua.
Daniel berhenti dan bersembunyi dibalik deretan bunga rimbun. Dengan jelas terdengar dan terlihat Abra sedang mengajak berbicara Shasha dengan serius.
"Lepas kak! apa hak kakak melakukan ini semua padaku?!" Shasha mulai geram dengan sikap Abra.
"Dengarkan aku. Aku melakukannya karena aku tak ingin dihina orang, terlebih oleh wanita tua itu, ia adalah istri pakdeku. Karena hinaan dia aku bertekad untuk menjadikan caciannya nyata yaitu aku harus bisa menjadi dokter. Aku yang berasal dari sebuah keluarga broken home dimana ayah memilih untuk berpisah dan menikah dengan selingkuhannya. Selama ini aku, Brian dan mama harus hidup sendiri. Mama yang hanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil tidak sanggup memenuhi kehidupan kedua anaknya dan yang membantu biaya ekonomi keluarga adalah pakde mulai dari aku dan Brian sekolah hingga kuliah. Beliau yang kaya tak memiliki anak beliau begitu baik namun istrinya tidak. Oleh karena itu Aku tak ingin menjadi miskin aku ingin bergelimang harta." Jelas Abra dengan suara lemah sambil tetap menggenggam tangan Shasha.
"Lalu?"
"Tanpa sengaja aku bertemu dengannya hingga dia memberi semuanya namun seiring berjalannya waktu aku mengetahui sifatnya dia tak tak seperti mu. Kamu tak pernah sekali pun membalas perlakuan kasar bahkan membentak diriku di depan umum meski selama kita pacaran kamu yang membiayai semuanya."
"Antara kita sudah selesai dan penjelasan dari kakak sudah aku dengar. Jadi sekarang biarkan aku pergi. Lepaskan aku!" Shasha berusaha melepas genggaman erat tangan Abra yang mencengkram tangannya.
"Omong kosong apa lagi yang Kakak ucapkan! Apa perlu aku ingat-ingat bagaiamana kakak menamparku berulang kali hingga aku terjatuh dan mengenai vas bunga!"
"Aku tahu aku salah, aku tak bisa melindungimu, aku takut dia mengambil semua fasilitas yang telah dia berikan."
"Kalau kakak takut pilih saja dia, berhenti mencintai aku.!" ucap Shasha keras.
Jengkel karena ia tak dapat membujuk Shasha ia mulai emosi. "Nesha Himalaya Ayesha, jangan sombong kamu! masih bersyukur aku mau mengajakmu kembali karena tak mungkin akan ada lelaki yang mau menikahi wanita yang pernah dicab*li."
"Dicab*li? Abra Giovani apa anda amnesia aku rasa anda belum berhasil menggauli saya bukan! jadi saya belum tersentuh saya masih suci."
"Kamu memang masih suci tapi aku adalah lelaki pertama yang pernah melihat indahnya tubuhmu oleh karena itu kamu berharap aku menikahimu." Abra berusaha mengingat semua kesalahan fatalnya agar Shasha bimbang dan memutuskan untuk tidak melepas dirinya dan mau untuk dijadikan yang kedua.
Mendengar ucapan Abra membuatnya teringat akan kelakuan Abra. Rasa ragu dalam diri Shasha untuk melepas Abra kembali muncul bahkan ia lupa jika besok adalah hari pernikahannya dengan Daniel.
__ADS_1
Shasha diam tak berontak seperti tadi ia hanya diam dengan tatapan kosong memandang ke arah air mancur. Abra yakin bahwa apa yang sudah dia ucapkan mampir membuat Shasha bimbang dan ragu.
"Abra Giovani, aku bukan wanita rapuh dan lemah seperti dulu. Justru aku beruntung hari dimana aku disiksa oleh kalian. Aku akan menantikan hari itu, dimana aku bangkit karena telah mampu melupakanmu. Dan Tuhan Maha Penyayang, Tuhan telah mengirimkan lelaki terbaik yang pernah aku kenal dan beliau akan menerima semua kekuranganku." ucap Shasha sambil berusaha berdiri dari bangku tempat Shasha dan Daniel duduk.
Melihat kepergian Shasha dirinya tak dapat bergerak, kakinya menuntut untuk tidak bergerak lari menjauh. Ia yakin Shasha benar-benar kecewa kepada sikapnya terlebih dengan semua ucapan Shasha. Tanpa dia sadari air mata keluar dari kedua matanya.
Melihat Shasha yang sudah pergi meninggalkan Abra membuat Daniel was-was dan ingin segera menyusul Shasha.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Daniel yang sudah keluar dari persembunyiannya melihat kearah dimana Shasha tadi berjalan namun tak kunjung menemukannya hingga ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil sambil menunggu Shasha muncul karena ia tak ingin masuk kedalam butik tanpa kehadiran Shasha. Lama menunggu yang dicari tak kunjung muncul hingga Daniel mendapati ponselnya berdering.
Daniel : "Ia mi, Daniel masih nunggu Shasha."
Melly : "Shasha yang mana yang kamu tunggu, Shasha menantuku sudah disini. Ayo cepat kesini!" omel Melly kepada Daniel lalu mematikan sambungan teleponnya.
Daniel tak menyangka ternyata Shasha sudah berada di dalam butik.
"Cepat masuk tinggal giliranmu sekarang." perintah Joshka.
Didalam Daniel tak melihat Shasha, ia yang masih menunggu desainer mengambil baju yang pas dipakai oleh dirinya. Lima menit kemudian Gea sang desainer muncul sambil membawa sebuah setelan jas putih single breasted suit dengan aksen dasi dan dekorasi sapu tangan bermotif garis-garis sebagai pemanis.
"Yuk, dicoba dulu." ucapnya dengan nada kemayu.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
__ADS_1