
"Kenapa? keberatan?"
"Serah. Ngapain pagi-pagi kesini? bawa koper lagi." tanya Daniel curiga.
"Tinggal sama kalian lah." jawab Johan enteng sambil memasuki pintu.
"What!" Daniel dan Shasha kompak menjawab.
"Kenapa kalian? wajar saja, gue kan tamu jauh apalagi gue kan saudara sepupu meski anak angkat," Johan terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Tapi Abang mau istirahat dimana? kamar kami hanya satu." jelas Shasha.
"Adik yang baik. Tuh contoh istri lu, setidaknya dia masih bertanya harus tidur dimana gue." " Ni, tidur dikamar lainnya." sambil mengeluarkan kunci dari dalam sakunya.
Daniel yang melihat kunci tersebut paham jika itu adalah kunci kamar sebelahnya. Yang mana kamar tersebut menjadi kamar tempat tidur Shasha kemudian diambil alih oleh Maminya dan sekarang akan digunakan oleh Johan.
"Kenapa kunci itu ada di elu?" tanya Daniel.
"Ya dari Mami dunk. Kalian itu gak peka ya, tujuan gue datang kesini itu buat mata-matai kalian. Semua kegiatan kalian kecuali kegiatan bikin anak, itu yang gak akan gue pantau."
"Tapi buat apa memata-matai kami Bang, memang kita ngapain?" "Sampai berapa lama Bang?"
"Kalian gak ngapa-ngapain, yang jelas kehadiran gue disini akan berdampak positif buat kalian berdua." Johan berucap dengan sombong. "Hahaha yang jelas sampai aku tak betah tinggal disini." lanjut Johan sambil tertawa.
"Positif apanya, yang ada akan muncul banyak aura negatif." Daniel yang kesal berjalan menjauhi Johan yang sedang bersantai di ruang tamu. "Huh, dasar tamu tak diundang." gumam Daniel lirih sambil memasuki kamarnya.
"Tuh suami lu mirip bebek, langsung ngacir padahal ada tamu. Kasih minum kek, minimal sambut dengan makanan kek."
"Ia kek, baik kek, silakan makan kek, silakan minum kek." Shasha yang ikutan kesal mencoba meledek Johan. Ia kesal karena mau tak mau ia akan sekamar lagi bersama Daniel, dirinya takut jika kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi. Mengingat Daniel masih belum mencintai dirinya, dan ia takut jika akan ada setan yang menguasai keduanya maka benar-benar benih Daniel junior akan tumbuh di rahimnya.
"Lho, kug kamu ikutan ngolok Abang, Sha? Apa sekarang kamu sefrekuensi dengan Daniel?" "Dasar suami istri resek!" gerutu Johan.
Shasha menuju ke kamar Daniel.
Tok!
Tok!
Tok!
"Pak, saya masuk." Shasha mengetuk pintu dengan bersuara lirih.
"Ya."
"Bagaimana ini pak?"
"Apanya?"
__ADS_1
"Ya kitanya pak. Bagaimana kita tidurnya?"sambil malu-malu Shasha berucap.
"Ya tinggal tidur," kesal Daniel mendengar pertanyaan Shasha.
"Iya tahu, maksud saya kita sekamar?"
"Iyalah, mau gimana lagi. Terpaksa!"
"Pak, boleh saya kasih ide?"
"Apaan?"
"Selama kita tidur sekamar, saya yang tidur di kasur tapi tanpa bed cover, dan bapak tidur di sofa tapi pake bed cover."
"Enak di kamu gak enak di aku."
"Oke, sekarang gini saja. Bapak mau di sofa atau tempat tidur?"
"Yasudah sekarang bapak pilih. Tidur di sofa dengan bed cover atau tidur di atas tempat tidur tanpa bed cover?"
Sejenak Daniel berfikir, lalu bertanya, "kenapa harus ada bedcover dan tidak. Tempat tidur kan sudah sepasang dengan bed cover,"
"Sudahlah, bicara dengan bapak percuma. Maunya menang sendiri. Gini nih punya suami anak tunggal tajir pula, gak mau ngalah." gerutu Shasha sambil membersihkan tempat tidur Daniel yang masih berantakan.
"Apa, suami?"
"Kamu sadar gak sedang bicara dengan saya?"
"Sadar."
"Kita sedang bersama, gak canggung kamu bilang gitu?" tanya Daniel dengan nada dingin.
"Gak, biasa aja." sambil berjalan mengambil pakaian kotor Daniel yang ada dalam keranjang.
"Mau kemana?"
"Ni jorok!" sambil menunjuk baju yang ada di keranjang kotor.
"Jorok apanya, ini pakaian masih wangi gak dicuci sebulan juga wangi tau."
"Bukan wanginya pak, tapi kebersihannya itu yang penting."
"Ih sok bersih."
"Biar." sambil berlalu dari hadapan Daniel dan keluar dari kamar.
Shasha yang keluar dari kamar beberapa saat kemudian disusul oleh Daniel, yang hendak berangkat. Kali ini ia tidak lagi pergi ke kantor bersama Jason. Jason yang kini dipindah tugaskan ke cabang Korea.
__ADS_1
"Niel, lu uda siap, lu ––?" teriak Jason yang keluar dari kamarnya namun ucapannya terhenti kala melihat Shasha keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian mini dress yang pasti mengekspos bagian dalam tubuhnya.
"Sha, gak salah kamu pakai baju beginian?" tanya Johan. "Ini masih pagi, bisa-bisa suami mu gak mau berangkat ni."
Mendengar samar-samar Johan yang bicara membuatnya penasaran apa yang dibicarakan antara Shashsa dan Johan. Segera ia menghampiri keduanya.
"Pakai ini!" sambil melepaskan jas lalu memasangkannya kepada Shasha. "Kamu gak punya malu, ada saudaraku setidaknya tutuplah tubuhmu dengan pakaian yang lebih longgar!" hardik Daniel.
Tanpa banyak bicara dan dengan perasaan marah Shasha reflek menarik tangan Daniel menuju ruang wardrobe. Lalu dikuncinya kamar tersebut.
"Hei, apa-apaan! mau apa!" Daniel berucap lirih.
"Bapak buka lemari itu!" tunjuk Shashsa dengan suara yang tak kalah lirih.
Dengan malas Daniel membuka lemari yang dimaksud.
Melihat isi lemari Daniel mendelik'kan matanya, ia tak menemukan baju dengan kain yang utuh yang ada baju kurang bahan semuanya. Adapun baju sedikit tertutup tapi kurang pas sekali jika dipakai didalam ruangan.
"Apa maksudnya menunjukkan ke aku?"
"Bapak masih tak paham maksudnya."
"Bagaiamana saya bisa tahu kalau kamu tak menjelaskan!"
"Jika semua baju yang ada di lemari modelnya seperti ini apakah saya salah jika pakaian saya begini?"
Belum sempat Daniel menjawab dari arah pintu kamar wardrobe terdengar ketukan yang memekikkan telinga.
Tok!
Tok!
Tok!
"Woi, penghuni kamar ini ayo keluar, jangan lama-lama dikamar. Gue tahu kalian pengantin baru. Setidaknya jangan buat tamu jadi mupeng, dunk!"
"Saya gak ada waktu buat jawab pertanyaan kamu, yang jelas baju kurang bahan ini semua hanya boleh dipakai jika hanya ada kita. Kalaupun tak ada baju lainnya setidaknya tutupi dengan mukenah seperti kamu lakukan saat itu." sambil membuka kunci pintu dan meninggalkan Shasha yang masih ada di dalam kamar.
"Sha, Abang pinjam suami lu bentar ya. Mau kerja biar keturunan kita selalu cukup dan bergelimang harta." pamit Johan sambil melambaikan tangan kepada Shasha.
Shasha hanya tersenyum simpul saat Johan berpamitan. Hanya dia dan Daniel yang tahu bahwa dirinya sedang dibuat kesal dengan keegoisan Daniel yang seenaknya jika berucap dan bersikap.
To be continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
__ADS_1
Terima kasih banyak