TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 81. MERESAHKAN.


__ADS_3

"Oke, jadi itu mau kamu ya." ucap Daniel.


"Bukan mau saya, tapi itu mau bapak. Kenapa jadi bapak yang merubah-rubah sendiri?"


"Aku tak merubah, aku tadi hanya bertanya. Lagipula setelah aku mengetahui semuanya apa tak boleh aku merubah keputusan?"


"Apa hubungannya tahu semuanya dengan merubah keputusan? maksud bapak apa?"


Seketika Daniel sadar bahwa masih terlalu cepat ia membuka hati untuk Shasha.


"Tidak, tidak jadi. Abaikan ucapan saya tadi. Oiya, Mami sudah kembali ke Finlandia jadi kamu bisa kembali ke kamarmu." Daniel pergi meninggalkan Shasha kedalam kamar.


"Pantas dari tadi suaranya begitu lantang, ternyata tak ada Mami dirumah." gumam Shasha lirih.


Selesai membersihkan dapur dan mengisi perut kini Shasha berjalan menuju kamarnya untuk mengambil pakaian.


Pintu yang tertutup itu perlahan dibukanya namun tak dapat dibuka. Berulang kali ia coba untuk membuka namun hasilnya nihil. Kemudian Shasha menuju ke kamar Daniel dengan maksud meminta bantuan


Tok!


Tok!


Tok!


"Ada apa?" Daniel membuka pintu tanpa menggunakan baju dan hanya menggunakan celana pendek.


"Pintu sebelah tertutup, aku tak dapat mengambil pakaian dan tidur disana." jelas Shasha sambil menundukkan wajahnya.


"Terus?"


"Pakaianku ada disana."


"Tak ada, aku sudah melihatnya tadi Mami memindahkannya semua ke wardrobe."


"Oh, baik pak." Shasha pun berlalu dari kamar Daniel yang sudah tertutup. Segera ia menuju ruang wardrobe dan mengambil baju lalu menuju ke kamar mandi yang berada di sebelah.


Shasha yang sudah selesai mandi ia mulai membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


'Lebih baik seperti ini, tidur tenang tak ada kucing garong.' batin Shasha. Ia pun mematikan lampu di ruangan tersebut dan mulai memejamkan matanya.


Dalam tidurnya ia memikirkan siapa nanti yang akan datang di acara wisudanya. Kedua orangtuanya pasti hadir namun akan aneh jika ia tak mengajak Daniel. Namun jika ia mengajak Daniel makan orang akan tahu jika ia adalah istri dari Daniel seorang pengusaha terkenal dan itu adalah hal yang dihindari Daniel.


Setidaknya ia harus mendiskusikan hal tersebut dengan Daniel bagaimana mengatasinya.


"Baiklah, masih ada waktu seminggu untuk bicara dengan bapak." gumam Shasha lirih sambil memejamkan mata.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seperti biasanya Shasha selalu bangun pagi dan menyiapkan semuanya. Daniel yang baru bangun dan keluar kamar segera menuju ke pantry untuk mengambil minuman yang sudah tersedia lagi-agi harus melihat pemandangan indah yang menyejukkan matanya. Melihat Shasha dari arah belakang dengan rambut panjang sebahu yang diikat keatas membuat leher jenjang putih terekspos ditambah dengan pakaian mini dress dengan panjang diatas lutut membuat Daniel mendelik dan menelan ludah.


"Gila ini dari arah belakang, gimana jika aku melihat dari arah depan! Dia benar-benar meresahkan." gumamnya lirih.


"Siapa yang meresahkan, pak?" tanya Shasha yang muncul di depan Daniel sambil membawakan roti bakar.


"Kamu."


"Kenapa saya, pak?" tanya Shasha heran.


"Sudah sana kamu lanjutkan itu masaknya, jangan dekat-dekat saya." bentak Daniel.


Mendengar itu Shasha segera memutar tubuhnya dan kembali ke dapur untuk melanjutkan memasaknya.


"Betulkan, apa kataku. Dia selalu bisa membuat ular di dalam ini berubah ukuran." sambil menggaruk tengkuk lehernya dan menahan sesuatu yang mulai membesar.


Setelah selesai menghabiskan cemilan yang ada di depannya segera Daniel masuk kedalam kamar dan bersiap untuk membersihkan diri. Sedangkan Shasha yang mendapat pesan masuk dari Melly meminta dirinya untuk menyiapkan pakaian kerja untuk Daniel. Melly sengaja meminta Shasha melakukannya agar kedekatan diantara mereka berdua terbangun.


Dengan berat hati Shasha menyiapkan pakaian kerja formal milik Daniel, hingga kaos kaki, jam tangan dan semua printilan milik Daniel. Selesai menyiapkan semuanya Shasha mengambil ponsel dan memfotonya lalu dikirimkan kepada Melly sebagian bukti.


Selesai menyiapkan semuanya segera Shasha membersihkan tubuhnya lalu pergi menuju kamar mandi yang berada disamping dapur dengan membawa baju ganti.


Shasha yang berjalan melewati Daniel sengaja tak menoleh ke arah meja makan namun dirinya bersuara, "saya numpang masuk kamarnya ya, pak?"


Meski tak mendapat jawaban dari Daniel dirinya tetap masuk ke kamar tersebut karena ia harus bercermin untuk menyisir rambutnya sambil mengoleskan sedikit bedak dan lipgloss untuk bibirnya.


Keluar dari kamar Daniel segera ia menuju ke ruang tamu untuk bersantai sambil membuka aplikasi novel favoritnya di ponsel.


Sedang seru-serunya membaca ia mendengar ada suara bel dari balik pintu.


Ting tong.


Ting tong.


Ting tong.


Tanpa mengintip ia membuka pintu tersebut sedangkan Daniel yang mendengar ada suara bel hanya menggerutu, "ngapain sih paket acara ngebel, biasanya juga buka sendiri."


"Maaf, mau cari siapa?" tanya Shasha kepada seseorang yang sengaja membelakangi pintu.


Mendengar Shasha berbicara membuat seseorang tersebut hanya dapat memendam suaranya meski rasanya gemas dan rindu ingin memeluk.


"Maaf, mau cari siapa?" tanya Shashsa lagi.

__ADS_1


Puas mendengar suara indah Shasha dengan segera ia membalikkan badannya dan membuka kaca matanya.


"Apa kabar adik kesayangan ku? Lama aku tak melihatmu." Johan mencubit pipi Shasha dengan gemas.


Merasakan kedua pipinya yang ngilu karena habis dicubit membuat Shasha mengelus bekas cubitan tersebut, "Lebay, baru kemarin kita ketemu dirumah."


"Hehehe, masuk ya. Capek ni. Mana sebentar lagi harus ikut suamimu ke kantor." sambil terkekeh Johan masuk. "Sha, kamu ada makanan gak, Abang lapar ni."


"Ada bang, kebetulan bapak sedang makan."


"Bapak siapa?" tanya Johan heran. "Bapak lu ada disini?"


"Iya bapak, bapak Daniel."


"Kenapa harus dipanggil bapak. Dia itu kan suami lu."


"Terus dipanggil apa harusnya?" tanya Shasha balik.


"Yank .., Beb ..., Hunny ..., Sweety ..., Baby .., Kak ..., atau Abang. Itu kan enak di dengar. Tua banget jadinya."


"Gak ada yang lain ya bang pilihannya?"


"Ya minimal panggil Abang kan kesannya gimana gitu. Apa jangan-jangan dia yang gak mau dipanggil gitu?"


"Bukan bang, tapi Shasha yang belum coba panggil bapak dengan panggilan romantis." bela Shasha, karena mau bagaiamana lagi Johan termasuk yang hadiri di pernikahan mereka.


"Coba panggil dia dengan kata-kata romantis, buat dia yakin jika kamu itu lebih baik dari yang sebelumnya. Kamu kan tahu sendiri dia lelaki galon," ujar Johan.


"Galon, apa itu bang?"


"Lu gak tahu? GALON ... Gagal Move On."


Mendengar itu Shasha hanya menahan tawanya dengan menutup mulutnya agar tak terdengar suara tawanya.


Berbeda dengan Daniel, dia yang mendengar pembicaraan Johan dan Shasha merasa kesal dan menghampiri keduanya.


"Lu bilang gue galon? sialan!"


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak

__ADS_1


__ADS_2