
"Sha ... Shasha sayang, darimana saja kamu?kenapa ponselmu baru aktif ? maafkan kakak telah menampar, menjambak dan menendang bahkan membiarkan beberapa tanganmu robek. Itu semua kakak lakukan karena kakak bingung disatu sisi kakak mencintaimu tapi aku tak mungkin melepas dia yang sudah banyak membantu finansial hidupku." cakap Abra panik.
Abra menjelaskan panjang lebar dan meminta maaf tapi tak ada sedikitpun balasan dari seberang telepon.
"Sha, kakak minta maaf. Beri kakak kesempatan lagi! Ayo bicara sayang! kakak tahu kakak salah tapi percayalah cinta ini hanya untukmu."
"Apa sudah selesai anda bicara?! Mulai saat ini jangan ganggu dia lagi. Dia akan segera menjadi milikku." bentak Daniel dengan penuh penekanan sambil menutup telepon kasar dan memblokir nomor Abra.
Tak lama kemudian Shasha keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian yang sudah digunakan. Crop top t-shirt berwarna putih dipadupadankan dengan celana sporty. Daniel yang melihat gaya berpakaian Shasha terpesona.
"Kita kembali jam berapa pak?"
"Satu jam lagi." jawab Daniel cuek.
"Kalau satu jam lagi kenapa harus ganti sekarang pak?" tanya Shasha kesal.
"Jangan protes. Sekarang duduklah disana dan jawab pertanyaan saya. Kamu tahu kenapa saya disini?"
"Tidak." jawab Shasha singkat sambil mengambil dan mengoles salep pada bagian kulitnya yang terluka.
"Ini semua gara-gara kamu. Jika kamu menuruti apa yang dikatakan dokter kemarin kamu tak akan seperti ini dan aku juga gak akan repot-repot harus datang kesini melihat wanita lemah yang sedang meringkuk kesakitan karena ulah kekasihnya."
"Jadi bapak sudah tahu masalahnya."
"Tidak semuanya. Yang saya dapat simpulkan bahwa kamu mendapatkan karma. Lelaki yang kamu pertahankan justru menyakitimu, bukan." kata Daniel sinis.
"Betul. Bapak benar saya sudah menerima karmanya."
"Menyesal?"
"Pasti pak."
"Terlambat. Lalu dengan menyesal dapat mengobati luka lelaki yang kamu sakiti?" ejek Daniel.
"Saya ... saya tak tahu pak, kenapa bapak marah-marah sama saya? saya salah apa sama bapak?!" tanya Shasha heran.
"Karena saya benci dengan wanita sepertimu. Mantan kekasihku telah meninggalkanku setelah banyaknya pengorbanan yang sudah aku berikan! itulah mengapa aku sangat membencimu!"
"Itulah cinta pak, cinta memang perlu berkorban. Jika bapak tak mau berkorban jangan bermain cinta. Kenapa jadi emosi dan benci sama saya!"
"Karena kalian berdua sama. Sama-sama memilih lelaki yang kalian anggap mampu membuat kalian lebih bahagia."
"Itu hal yang wajar pak. Wanita mana yang suka hidup menderita? wanita mana?"
"Jawabannya mudah. Kamu bertanya wanita mana? tak perlu susah-susah jawabannya adalah kamu dan dia. Sudah jelas lelaki yang benar-benar mencintaimu malah kamu duakan dan kamu lebih memilih seorang yang sekarang membuatmu seperti ini. Rugi bukan!" kata Daniel sinis.
"Iya saya rugi, saya menyesal. Saya berjanji kelak saat ada seseorang yang benar-benar sayang dan cinta maka saya akan membalas cintanya berlipat-lipat."
"Meski kamu tak mencintainya?"
"Iya, saya akan belajar mencintainya."
"Aku tak percaya dengan ucapanmu."
"Untuk apa bapak percaya dengan ucapan saya, emang bapak cinta sama saya?" tanya Shasha sambil melebarkan matanya melihat Daniel.
"Gak lah!"
"Oke. Lalu untuk apa bapak kesini dan darimana bapak tahu bahwa saya ada disini?"
"Sudah aku beritahu, gara-gara kamu disini makanya aku dipaksa disini."
"Apa karena Tante Melly dan tuan Joshka yang menyuruh?"
__ADS_1
"Darimana kamu tahu dan bagaiman kamu mengenal orangtuaku?"
"Hanya menebak. Saya mengenal tante Melly saat di Finlandia, beliau menceritakan kejadian 13 tahun lalu dan untuk Tuan Joshka saya mendengarnya dari bunda dan ayah. Beliau memberitahuku tentang perjodohan kita."
"Lalu apa tanggapanmu?"
"Saya tidak tahu yang saya tahu menuruti ucapan orangtua adalah yang terbaik."
"Berarti kedua orangtuamu tidak memberitahu semuanya dia hanya membahas perjodohan kita."
"Mereka memberitahu semuanya dan alasan mengapa saya harus menerima perjodohan ini. Kedua orangtua saya takut tidak bisa menjaga saya jika kelak mereka tiada karena setelah peristiwa itu keluarga kami sering mendapat teror yang intinya mengancam nyawa saya namun Yang Kuasa selalu melindungi saya melalui campur tangan kelurga bapak makanya saya selalu selamat."
"Itulah masalahnya. Kedua orangtuaku merasa berhutang kepada dirimu karena telah menyelamatkanku, dan mereka ingin aku bisa menjagamu dengan cara kita menikah."
"Mengapa bapak tidak bilang jika sudah memiliki kekasih? buktikan bahwa pilihan bapak itu tepat."
"Berulang kali sudah kucoba hingga akhirnya dia lebih memilih meninggalkanku."
"Kalau begitu turuti saja kemauan orangtua bapak." kesal Shasha.
"Artinya kamu setuju dengan perjodohan ini?"
"Saya akan menuruti ucapan orangtua saya."
"Tapi saya gak mau dijodohin sama kamu! Kamu ngerti gak sih?!"
"Yasudah tinggal bapak bilang saja bahwa bapak MENOLAK. Beres kan?"
"Gak semudah itu menolak keinginan orangtuaku aku merasa bersalah kepada orangtuaku terutama nyokap."
"Yasudah bapak terima saja. Kalau bapak gak cinta sama saya setidaknya nanti kita sama-sama belajar saling cinta. Beres kan pak!"
"Beres beres otakmu itu yang gak beres. Dimana-mana orang nikah itu karena cinta bukan belajar cinta. Dalam kamus hidupku aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai dan dia juga mencintaiku."
Daniel yang mendengar itu hanya mendelik dan tak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran Shasha.
"Makin ngaco kamu bicara. Sudah ku bilang kamu sudah ku black list dari daftar wanita idealku."
"Bapak pikir bapak paling OKE sedunia." gumamnya lirih.
Meskipun lirih ternyata Daniel mendengarnya dan menjawab.
"Memang saya OK." ucapnya dengan penuh angkuh.
"Oke darimana pak? bapak ingat tidak ciuman yang bapak lakukan di taman perpustakaan dan bapak mendekap saya saat saya sedang tidur? bapak gak setia kan padahal bapak masih menjadi kekasih Asia kan?"
"Kapan? saya lupa saya gak ingat!" dusta Daniel.
Dan tiba-tiba terdengar dering telepon dari kamar hotel. Daniel merasa terselamatkan dengan suara telepon tersebut dan segera diangkatnya ternyata panggilan tersebut berasal dari resepsionis hotel yang memberitahu bahwa pak Danang sudah menunggu mereka di lobi.
Segera Daniel berdiri dan hendak keluar kamar sambil membawa ponselnya yang dia taruh diatas meja sedangkan Shasha yang melihat itu hanya berjalan santai dan mengambil kopernya dari dalam kamar.
Melihat Daniel yang sudah keluar kamar segera Shasha juga keluar lalu menyusul Daniel yang sudah berada di lift terlebih dahulu dan pintu lift pun tertutup Daniel yang melihat Shasha hendak masuk ke lift tak berusaha mencegah pintu lift tertutup dia hanya mengangkat tangannya lalu menggerakkan ke kanan dan ke kiri sambil berucap "sampai ketemu dibawah".
"Usia boleh matang tapi kelakuannya setengah matang. Dasar tua-tua labil." kesal Shasha.
Cling (suara lift terbuka)
Shasha masuk ke dalam lift didalam lift dia sendiri dan saat pintu lift terbuka ada seseorang yang hendak masuk. Mereka berdua pun saling pandang dan terkejut.
"Bang! Sha!" ucap mereka bersamaan.
"Kamu baru datang atau mau pulang?" tanya Arden.
__ADS_1
"Pulang, kalau Abang?"
"Abang nanti siang kembali, ini mau ke tempat Zamora." ucap Arden sambil melihat wajah Shasha dengan pandangan yang tak biasa.
"Hem, enaknya punya Kakak perhatian. Salam buat Zamora ya."
"Itu kenapa wajahmu jadi begitu dan itu kenapa ada plester nempel-nempel di tangan?" tanya Arden sambil memegang beberapa bekas luka Shasha yang ada pada tangan dan pipi.
Seketika pintu lift terbuka, Daniel yang sedang duduk menghadap kearah lift kaget melihat Shasha seperti sedang berciuman. Melihat itu Daniel mendelik dan tertegun tak percaya dengan apa yang dilihatnya namun dia berusaha menenangkan hatinya yang dirasa tak seperti biasanya. Kenapa rasa itu datang lagi. Agar tidak terlihat dia pun menutup wajahnya dengan koran yang berada disampingnya layaknya sedang membaca.
Shasha dan Arden keluar dari lift.
"Ayo non silakan, sini saya bawakan kopernya. Oya kemana den Daniel? " kata pak Danang sambil membawa koper milik Shasha.
"Aku disini, ayo masuk. Dasar keong lambat." ucapnya sambil melewati Shasha dan Arden yang berdiri."
"Kamu sama dia?" tanya Arden bingung sambil membantu memasukkan koper Shasha ke dalam bagasi.
"Iya nanti aja ya bang aku cerita. Aku naik dulu keburu dia ngamuk." bisik Shasha sambil tergopoh-gopoh.
Saat Shasha hendak memasuki mobil dia hendak membuka pintu mobil penumpang namun tak bisa.
"Den, itu non Shasha mau masuk."
"Biar saja, biar dia duduk depan bersamamu." ucapnya cuek.
Pak Danang yang melihat itu hanya heran, Shasha pun mulai membuka pintu mobil depan dan kini dirinya duduk di dekat pak Danang.
"Non maaf pintu mobil belakang agak lecet jadi non duduknya di depan." jelas pak Danang.
"Tenang saja pak. Aku malah suka di depan pak. Oya pak kita hendak kemana sekarang." tanya Shasha sambil tersenyum manis kepada pak Danang.
"Saya akan mengantar ke stasiun, non."
"Perjalan kita berapa jam ya pak dari sini ke stasiun?"
"Kurang lebih setengah jam jika tidak macet, non."
"Setelah sekian lama pak, akhirnya saya naik kereta lagi."
"Kita gak tanya. Bisa diam gak. Mulut itu dijaga, di kunci gak dibuka terus. Pusing saya dengar kamu ngoceh." maki Daniel.
Seketika Shasha diam, padahal tujuannya ingin mencarikan suasana saja tapi malah suasana jadi semakin tegang. Sepanjang perjalanan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tak terasa kini mereka tiba di stasiun.
Pak Danang segera mengeluarkan koper milik Shasha dan akan membantu Shasha menarik koper tersebut.
"Tak perlu pak saya saja. Terimakasih sudah mengantar." ucap Shasha lembut.
"Iya non, sudah tugas saya. Non yang sabar sama den Daniel." nasehat pak Danang kepada Shasha sambil menyerahkan tiket kereta kepada Shasha.
Shasha tak bicara hanya melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk layaknya seperti huruf O sambil tersenyum.
Segera Shasha menarik koper lalu mencari kereta yang harus dia tumpangi. Setelah menemukan keretanya lalu dicarinya no kursi yang tertera pada tiketnya. Nomer kursi tempatnya duduk dia melihat Daniel yang sedang duduk bersandar sambil meluruskan kakinya serta melipat kedua tangannya dan menggunakan kacamata berwarna coklat. Sok tampan.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak
Salam sayang 🥰🥰
__ADS_1