TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 86. MATI LAMPU.


__ADS_3

"Kalian benar-benar keterlaluan, aku yakin setelah semalam membunuh setan pasti kalian lapar dan makan dengan lahap, bukan karena kelaparan!" Johan jengkel namun juga bahagia kerena dengan dirinya menginap di hotel pasti akan membuat mereka berdua lebih bebas.


"Membunuh setan, Abang kira kita pemburuh hantu?" kesal Shasha yang tak paham dengan maksud Johan.


"Niel, lu lihat sendiri kan bini lu, dia itu masih anak-anak. Bahkan istilah membunuh setan pun ia tak paham." ujar Johan kepada Daniel.


"Lu kira gue paham." jawab Daniel yang sengaja tak tahu dengan maksud Johan.


"Ah percuma bicara dengan kalian. Sha, tolong buatin Abang makanan dunk, semalam gak makan masakan mu bikin Abang rindu." ucapnya sambil menghampiri Shasha yang sedang berada di dapur.


"Abang, maaf ya. Hari ini dan selanjutnya Shasha gak masak."


"Kenapa?"


"Karena Shasha gak enak ba --, uwek ... uwek ..." belum sempat Shasha melanjutkan ucapannya ia sudah merasa mual dan berkeringat dingin.


"Sha, lu gak papa?" Johan panik melihat Shasha.


Beberapa saat kemudian, Shasha kembali merasakan mual lagi.


Uwek!


Uwek!


"Sha, are you okay?" Johan masih panik melihatnya, sedangkan Daniel yang mendengar Shasha mual segera menghampirinya.


"Cengkal! saya bilang apa tadi. Makanlah! ucap Daniel sambil reflek memijat tengkuk Shasha.


"Gak usah sok baik ya pak" ucap Shasha lirih yang hanya dapat didengar oleh keduanya.


"Niel, lu keterlaluan. Uda tahu bini lu sedang berisi malah lu ajak bunuh setan." Johan sengaja meledek saudara sekaligus sahabatnya itu.


"Apaan si lu! dari tadi bunuh setan terus di otak lu!"


FLASHBACK ON


Setelah pertengkaran, baik Shasha dan Daniel masih setia berada di kamar yang berbeda. Daniel yang berada di kamarnya dan Shasha yang berada di kamar wardrobe. Mereka berdua sama-sama sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hingga hampir tengah malam Daniel yang merasa kelaparan terpaksa harus keluar kamar dan makan.


Dibukanya kulkas dan ia menemukan ukepan ayam, sepertinya Shasha sengaja membuat ukepan untuk persediaan selama beberapa hari ke depan agar dirinya tak terlalu repot.


Selesai menggoreng dan makan, Daniel yang hendak kembali ke kamar tiba-tiba lampu mati dan ia mendengar Shasha berteriak.


Aaahhhhhhh

__ADS_1


Daniel mendengar suara teriakan Shasha dan segera berlari untuk menghampiri sumber suara.


"Sha, kamu gak papa?" tanya Daniel panik.


"Gak papa gimana, ini gelap pak, saya takut!"


"Yasudah sekarang kamu keluar, sini sama saya." ajak Daniel.


"Gak. Saya gak mau. Saya gak bisa lihat pak." rengek Shasha.


"Kamu kenapa sih jadi manja gini, biasa aja bisa kan!" bentak Daniel.


"Pak, saya gak manja!" sambil bersuara gemetar Shasha berucap.


"Yasudah cepat keluar!" perintah Daniel.


Shasha yang ditunggu tak kunjung keluar, sehingga membuat Daniel khawatir.


"Sha ... Shasha ... jawab saya. Jangan bercanda, gak lucu." bentak Daniel.


Tak mendengar suara Shasha membuat Daniel panik, ia tak ingin terjadi apa-apa pada istri diatas kertasnya itu.


Daniel berniat untuk mendobrak pintu.


Berhasil mendobrak, segara ia mencari keberadaan Shasha dengan cara berjalan meraba-raba.


"Sha, kamu dimana?"


Masih tak mendengar suara Shasha, Daniel pun makin panik. Baru beberapa langkah setelah dirinya memasuki kamar ia mendengar suara seperti ketukan sebuah cincin yang ditatap'kan pada sebuah lemari.


Dalam kegelapan Daniel berjalan mengendap-endap sambil berpegangan pada benda sambil membayangkan letaknya agar ia tak sampai tertabrak.


Akhirnya ia menemukan Shasha yang sedang duduk bersandar di pojokan lemari miliknya.


"Kamu tak apa-apa?" sambil mendekap Shasha kedalam pelukannya dan mengelap keringat yang ada pada dahi Shasha yang membasahi bajunya.


"Pak, saya takut."


"Tenang, ada saya."


"Pak, sampai kapan ini selesai."


"Tenang, ponselku mati, aku tak dapat menghubungi siapapun. Ponselmu mana?"

__ADS_1


"Mati pak."


"Kenapa sama! Aku heran kenapa apartemen semahal ini harus mengalami mati lampu yang lama. Apa tak ada cadangan listrik!" kesal Daniel.


Mati lampu kira-kira berlangsung hampir satu jam. Selama mati lampu tak banyak yang dilakukan oleh keduanya, sesekali mereka saling bertanya satu sama lain, termasuk alasan mengapa Shasha takut dengan kegelapan. Mendengar hal itu Daniel merasakan iba, setidaknya Shasha pernah mengalami sebuah peristiwa menegangkan setelah menyelamatkan dirinya. Tak hanya takut akan kegelapan, Shasha begitu takut dengan binatang-binatang melata.


"Apa itu semacam phobia?" tanya Daniel.


"Untuk hewan melata sepertinya tidak sampai, aku hanya merasa pusing jika mendengar suara atau melihat bentuknya."


"Untuk yang gelap?"


"Sama, aku hanya merasa cemas saja jika berada di kegelapan yang teramat gelap namun jika hanya suasana yang tamarin aku merasa nyaman."


"Kenapa sekarang ucapan mu begitu santai? bisanya saya."


"Maaf pak, saya terbawa suasana."


"Tak apa, santai saja."


Setelah saling bercerita kini mereka saling bermain tebak nama-nama buah, hewan, iklan dengan awalan abjad kesepakatan yang mereka sebut.


Suara gelak tawa keduanya begitu lepas dan tanpa beban, bahkan mereka berdua lupa jika mereka sebelum mati lampu sedang bertengkar.


Satu jam lebih tak terasa mereka saling bercanda dalam kegelapan hingga listrik kembali menjadi terang. Daniel yang duduk sebagai sandaran Shasha merasa nyaman hingga membuat Shasha tertidur di pelukan Daniel.


Merasakan tubuh Shasha yang bersandar dan tertidur di pelukannya. Beberapa saah kemudian lampu menyala, Daniel tak tega membangunkan Shasha hingga ia pun tertidur sambil duduk dan memeluk Shashsa.


Sebenarnya pikiran nakal Daniel sudah muncul namun perasaan lelah dan kasihan dengan kondisi Shasha membuat Daniel mengurungkan niat nakalnya.


Shasha terbangun saat mendengar namanya dipanggil membuat dirinya terbangun, dengan pelan-pelan ia mengangkat tangan Daniel yang memeluk dirinya dalam tidur. Shasha sendiri kaget bagaimana bisa dirinya bersandar tidur di dada Daniel dengan posisi Daniel yang duduk bersandar pada sebuah lemari.


Rasanya ingin berteriak, entah teriakan bahagia atau teriakan lainnya, yang pasti ia tak menyangka bahwa ia dapat melakukan momen langkah, dimana Daniel dan dirinya dapat bermesraan hangat tidur bersama meski bukan kemesraan dalam berhubungan suami istri.


Shasha yang masih belum berdiri padahal berulang kali namanya disebut. Ia masih sibuk memikirkan kejadian romantis semalam. Bibirnya yang merah alami mulai tersenyum lebar. Rasanya ingin mengulang kejadian semalam, ia yang sebenarnya masih betah untuk berada dalam pelukan Daniel terpaksa harus bangun karena malu jika sampai Daniel bangun gara-gara suara keras Johan dan melihat dirinya dengan mata yang sudah tak terpejam.


FLASHBACK OFF


To be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...

__ADS_1


Terima kasih banyak


__ADS_2