TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 158. PERTEMUAN DANIEL DENGAN ECKA.


__ADS_3

"Apa ini saat yang tepat gue harus memberitahu dimana keberadaan istri dan anaknya?" batin Johan.


"Jo, apa yang sedang lu pikirkan?" tanya Daniel membuyarkan lamunan Johan.


"Tidak ada." jawab Johan.


"Raga gue seperti gak bernyawa. Hidup gue hampa." celetuk Daniel.


"Lebih baik lu cari pasangan Niel. Mau sampai kapan lu hidup sendiri?" pancing Johan.


"Gue gak sendiri, gue masih sah suami Shasha. Gue begini karena Shasha lagi menghukum gue."


"Menghukum? Lu yakin? Istri lu cantik, pastinya banyak yang mendekatinya."


"Meski dia cantik dan menarik tapi gue percaya istri gue, dia bukan tipe wanita yang haus belain."


"Percaya, sejak kapan lu percaya sama istri lu? Dia memang tidak haus belain tapi wanita mana yang tidak haus perhatian?"


"Sejak dia memilih pergi dari hidup gue. Wanita memang haus perhatian tapi tidak berlaku untuk wanita ku. Dia beda." ucap Daniel yakin.


"Bagaiamana jika ada lelaki lain yang lebih segalanya hadir di hidupnya?"


Mendapat pertanyaan seperti itu Daniel tidak dapat menjawab dengan cepat, jujur dirinya tak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa diam? Lu gak bisa jawab."


"Gu--gue gak tahu harus bagaiamana." ucap Daniel dengan nafas berat, rasanya dadanya sesak jika benar-benar Shasha melepasnya.


***


Sudah seminggu ini Daniel tidak masuk, dirinya beralasan sedang tak enak badan. Johan yang tahu bahwa itu hanya alasan Daniel, karena sesungguhnya dia tahu kemana sahabatnya itu pergi.


Mata-mata Johan memberitahu jika mobil Daniel saat ini berada di depan gerbang sebuah sekolah taman kanak-kanak. Kebetulan saat ini jam menunjukkan jam pulang sekolah.


Satu persatu siswa telah dijemput, Shasha yang sudah berjanji kepada Ecka, putra semata wayangnya untuk menjemput namun tak kunjung datang, Ecka yang menunggu di dalam kelas bersama salah satu temannya mulai jenuh dan memilih untuk bermain di halaman sekolah.


Daniel yang sedari tadi sabar menunggu mulai tak tahan untuk segera memeluk darah dagingnya. Ia pun berdiri di depan sekolah. Tiba-tiba muncul seorang satpam.


"Bapak mau menjemput? Bisa tunjukkan kartu penjemputan nya, pak?" punya satpam kepada Daniel.


Daniel yang tak tahu jika harus seperti itu ia pun bingung namun tetap terlihat tenang.


"Maaf saya tidak membawa kebetulan tadi istri saya yang menyuruh saya menjemput."


Tiba-tiba seorang anak kecil muncul dihadapan satpam.


"Pak, sepertinya itu ayah Ecka." ucap salah seorang anak yang sama-sama sedang menunggu jemputan orang tuanya. "Ecka ... ayahmu datang menjemput!" teriak Chiko, salah satu teman Ecka yang sama-sama menunggu.


Ecka yang mendengar itu segera berlari keluar melihat kebenaran ucapan Chiko.

__ADS_1


"Itu ayah kamu ya Ka, karena wajah kalian mirip." ucap Chiko dengan polos.


Ecka diam dan heran melihat sosok Daniel yang menurutnya benar mirip seperti dirinya. Daniel yang melihat itu hampir meneteskan air matanya namun sebisa mungkin ia tahan.


Tak tahu apa yang ada dipikiran seorang anak kecil melihat seseorang yang begitu mirip dengan dirinya sedang berdiri tepat dihadapannya.


Melihat Ecka diam, segera Chiko mengambilkan tas Ecka yang masih berada didalam kelas.


"Ini milikmu, akhirnya ayahmu datang menjemput. Hati-hati di jalan ya." ucap Chiko sambil memberikan tas dan si satpam mulai membuka gerbang.


Daniel yang tahu jika yang didepannya adalah anaknya segera dia jongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan sang putra sambil menggenggam kedua tangan anaknya.


"Maafkan ayah baru muncul, Nak." ucap Daniel dengan suara yang berat.


"Apa kamu ayahku? ucap Ecka dengan nada seorang anak empat tahun. "Jika kamu ayah ku maka kamu tidak boleh menangis saat melihatku. Karena ibu berkata laki-laki tak boleh nangis.


"Apa benar begitu, kalau gitu aku akan mengusap air mataku." ucap Daniel sambil mengusap air matanya.


"Yang seling menangis itu ibu, dan aku yang mengusap ail matanya." celetuk Ecka yang membuat Daniel gemas.


"Oh ya, jika sedang apa ibu menangis?"


"Setiap kali melihat DLAKOL , ibu selalu menangis."


"Kalau begitu aku akan memberimu hadiah karena selalu menemani ibu."


"Hadiah apa?"tanya Ecka dengan senang.


"Ay?" panggil Daniel sedikit kaget.


Shasha yang melihat suaminya sedang menggendong anaknya hanya melihat mereka dengan tatapan tak percaya.


Daniel menatap Shasha dengan tatapan iba, berharap dirinya diberi kesempatan agar dapat bersama dengan putranya.


"Ayah, kamu tidak bisa membawaku jika tanpa ijin dali ibu. Jadi minta ijin lah kepada ibu maka aku akan ikut."


"Ay, izinkan aku membawanya sebentar," pinta Daniel dengan suara lirih. "Please," lanjut Daniel berucap dengan nada penuh harap.


"Ecka pulang dulu bersama ibu, ganti baju baru setelah itu Ecka bisa bermain bersama ayah."


"Jadi ibu mengizinkan ayah belmain belsama kita?"


"Ya, ayah akan bermain bersama Ecka karena ibu harus segera kembali ke kampus."


"Ayah, turunkan aku, aku pulang belsama ibu setelah itu kita bisa belmain."


Daniel dengan besar hati menurunkan sang putra dan mengikut mobil Shasha dari belakang.


***

__ADS_1


Kini Shasha dan sang putra sudah sampai di depan rumah, namun Shasha tak kunjung membuka kan kunci mobil. Putranya yang ingin sekali segera turun berusaha memahami situs yang terjadi dengan melihat ibunya.


"Ibu ...ibu kenapa? Apa ibu tidak ingin turun? Atau ibu ingin mengajak ku bermain di kampus?"


"Tidak, maafkan ibu Nak. Ibu ... ibu sayang Ecka, jika ayah sudah datang jangan pernah tinggalkan ibu."


"Ibu kenapa minta maaf ? Ecka sayang ibu."


"Ayo kita turun." ajak Shasha kepada putranya.


Daniel yang sudah menunggu di dekat pintu mobil sang anak segera menggendong sang putra saat Ecka turun dari mobil.


Shasha yang berada di dapur segera menelfon pegawainya agar untuk beberapa hari ini kedai tutup sementara baik online maupun offline.


"Kenapa kedainya kamu tutup? Apa kehadiranku menganggu?" tanya Daniel yang tiba-tiba muncul.


"Tidak, kali ini aku memberimu kesempatan untuk bermain bersama Ecka." jawab Shasha sinis.


"Akan aku gunakan kesempatan itu." ucap Daniel dengan bahagia.


Setelah berkata ia segera meninggalkan Daniel dengan melewati Daniel begitu saja tanpa memandang wajah Daniel. Daniel paham jika saat ini istrinya perlu waktu untuk berdamai dengan keadaan.


Setelah kepergian Shasha segera Ecka dan Daniel saling bermain. Ecka tampak begitu bahagia hingga dirinya rela tidak tidur siang.


***


Malam tiba, sekitar pukul sembilan Shasha datang. Daniel yang sedang tidur bersama sang anak dikamar tidak mengetahui jika Shasha telah tiba.


Segera dirinya masuk dan mengecek kedalam kamar sang anak, dia melihat keadaan kamar anaknya yang gelap, dia tahu jika Ecka mirip dengan dirinya yang tak terlalu senang dengan gelap.


Dengan langkah mengendap-endap dia menuju ke arah nakas tempat lampu tidur berada menggunakan Namun tiba-tiba tangannya ada yang menarik hingga membuat sebagain tubuhnya jatuh diatas tempat tidur dan ia merasakan ada sosok tubuh yang menghalangi tubuhnya tepat didepannya.


"Lep-" Shasha yang hendak teriak mulutnya ditutup.


"Jangan teriak atau anak kita akan bangun." bisik Daniel.


Shasha menurut, namun dirinya masih membuang muka dihadapan Daniel.


Melihat istrinya menurut membuat Daniel berpikir bahwa Shasha sama dengan dirinya yang sama-sama sedang merasakan rindu. Saat Daniel hendak mencium istrinya itu tiba-tiba ia merasakan tangannya terpelintir hingga membuat dirinya meringis kesakitan.


Melihat suaminya kesakitan segera Shasha bangun dan meninggalkan suaminya berdua dikamar bersama sang anak.


.


.


Ditunggu kelanjutannya😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2