
Daniel mulai masuk kesebuah kamar pas, disana ia memakai baju dengan cepat tanpa bersiul dan memuji dirinya sendiri. Ia yang biasanya memuji dirinya sendiri saat berpakain rapi dan necis kali ini tidak, dirinya masih mengingat pembicaraan antara Shasha dan Abra. Ia tak menyangka Shasha cukup sabar dalam menghadapi sikap mantan kekasihnya itu. 'Tapi bukankah itu karma yang pas bagi dia karena telah menduakan mantan kekasihnya dulu. Aku harap Asia akan merasakan hal yang sama' batin Daniel.
Setelah pakaian dikenakan segera ia keluar dan menemui Marcel yang sudah berada di depan untuk siap memperhatikan Daniel dalam balutan jas putih. Badan Daniel yang tinggi, tegap dan berdada bidang membuat jas putih yang dikenakan terlihat seksi dan pas hingga membuat Marcel terpesona dengan penampilan Daniel.
"Waw ... handsome. Ai yakin bini lu makin termehek-mehek dan langsung kasih lu jatah." goda Marcel dengan nada sens*ual.
Daniel yang mendengar itu hanya diam sambil melirik dingin ke arah desainer kemayu tersebut agar tak banyak bicara.
Marcel yang tahu arti dari tatapan itu segera diam dan tak banyak bicara, ia begitu paham bahwa lelaki di depannya ini ialah lelaki irit bicara mirip seperti Joshka.
"Oke, ayo lepas pakaianmu sekarang Ai mau ke kamar sebelah untuk pas baju neng sok geulis." ucap Marcel ketus dengan nada jengkel. "Baju taruh saja disana biar dia yang beresin," tunjuk Marcel kepada salah satu pegawainya.
Mendengar itu segera ia melepas jas yang tadi dicoba dan mengganti dengan pakaian sebelumnya dengan tergesa-gesa karena ia ingin keluar dan masuk ke kamar sebelah tempat yang ia yakini itu kamar pas tempat Shasha ganti.
Saat hendak membuka pintu dari balik pintu muncul seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. "Anda siapa? kenapa mau masuk kesini?" tanya seseorang lelaki berbadan tambun, berkepala botak dan berkulit eksotis.
"Saya mau melihat calon istri saya." jawab Daniel.
"Anda salah orang, di dalam itu calon bini gue!" lelaki tersebut berucap dengan melotot tak terima jika calon istrinya di akui oleh Daniel.
Marcel yang sedang membantu seseorang memakai gaun mendengar suara ribu-ribut.
"Sepertinya itu suara Daniel." gumam lirih Marcel sambil berjalan kearah pintu.
"Daniel ..., mau apa masuk sini?" tanya Marcel yang muncul dari dalam dengan nada lembut dan kemayu.
"Shasha ada di dalam kan?"Daniel menunjuk sebuah ruangan yang hendak ia masuki namun sebuah tangan berusaha menghalangi Daniel masuk.
"Bapak cari saya? saya disini pak." ucap Shasha yang muncul tiba-tiba dari belakang Daniel.
"Saya salah!" ucapnya kepada lelaki yang menghalangi dirinya masuk.
Mendengar suara Shasha segera ia membalikkan badannya.
"Darimana saja kamu?" Daniel berucap lirih sambil menarik tangan Shasha dan mengajaknya ke sebuah tempat yang tak dilewati banyak orang lalu menyandarkan Shasha ke dinding. Ditatapnya wajah Shasha lekat-leka, jarak antara keduanya begitu dekat.
"Pak, saya dari kamar mandi." Shasha berucap sambil sedikit merintih karena Daniel memegang tangannya yang tadi bekas di cengkram erat oleh Abra. Ia
"Maksudku sebelumnya." Daniel tak percaya dan masih berusaha bertanya.
"Dari situ." tunjuk Shasha pada sebuah ruangan tempatnya tadi mencoba gaun."
"Sebelum masuk ke butik kamu kemana, kenapa lama sekali! itu maksud saya!"
"Saya bertemu sebentar dengan teman di taman depan pak." Shasha berucap tanpa melihat wajah Daniel karena tak ingin kebohongannya terbaca Daniel.
"Ohh teman, yasudah ayo kita pulang." ajak Daniel sambil melepaskan tangan Shasha yang dipegangnya.
__ADS_1
"Maaf pak, saya tidak pulang dengan bapak." Shasha berbicara lembut.
"Kenapa? mau bertemu dengan siapa lagi?" ketus Daniel.
"Kenapa kamu mencurigai Shasha. Ingat kalian akan menikah besok jangan meluapkan emosimu karena capek mengurus semuanya dalam satu hati." Melly muncul dari arah samping, biarkan Shasha pulang dengan mami. Kamu antar calon mertuamu. Mami dan dady ada perlu dengan Shasha." Melly berucap sambil menggandeng tangan Shasha diikuti oleh pak Idris dan istri yang siap untuk diantar pulang oleh Daniel.
"Mau kemana mi?" tanya Daniel penasaran.
"Urusan wanita.! lagipula besok kalian akan menikah lebih baik jangan bertemu dulu."
Daniel paham dengan ucapan maminya, urusan wanita pasti tak jauh-jauh dari kata salon.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam sebelum pernikahan Daniel tidak dapat tidur nyenyak, dirinya masih belajar menghafalkan lafadz ijab qobul, nama serta mahar. Melihat Daniel yang sedari tadi berdiri gelisah sambil komat-kamit membuat kedua orangtuanya terutama Joshka penasaran hingga di dekatinya putra kebanggaannya itu.
"Dady lihat kamu mondar-mandir daritadi, apa yang sedang kamu pikirkan?" Joshka mendatangi Daniel sambil membawa secangkir susu hangat.
"Tidak ada, Dad." dusta Daniel.
"Yakin? apa kamu sudah mengetahui lafadz ijab qobul besok pagi?" goda Joshka.
"Daritadi aku menghafalnya namun begitu sulit, baru ini aku merasa kesulitan untuk menghafal." sambil menggaruk rambutnya.
"Coba pahami dan lakukan dalam hati maka akan lancar terucap dari mulutmu tanpa diperintah." nasehat Joshka untuk menenangkan hati anaknya.
Daniel yang mendengar nasehat Joshka berusaha untuk melakukannya. Setelah menghabiskan susu hangat yang diberikan olah Joshka kini ia pergi ke kamarnya untuk berlatih.
Shasha terbangun kala mendengar suara ketukan pintu.
Tok ... tok ... tok ...
"Bangun nak," Sally mencoba membangunkan anaknya dengan mengetuk pintu.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu yang sedang dibuka.
"Ada apa bunda? kenapa pagi-pagi sekali sudah mengetuk pintu." sambil Shasha menutup mulutnya dengan tangan kanannya karena sedang menguap.
"Kamu belum mandi! buruan sholat dan mandi kamu harus segera di make up."
"Ini hari Minggu bunda, Shasha pusing tak enak badan." Shasha membalikkan telapak tangannya dan diarahkan ke leher dan keningnya agar bunda percaya dengan kondisinya.
"Kamu lupa sekarang hari pernikahanmu. Ayo cepat Sha, nanti setelah ijab kamu istirahat lagi ya "
Shasha menepuk jidatnya, dirinya lupa bahwa hari ini adalah hari pernikahannya. Ia pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian seorang MUA masuk ke kamarnya dan mulai merias dirinya.
"Halo kak, aku Melisa ..., aku yang akan bikin kakak dari cantik jadi makin cantik." dengan suara melengking nan ceriwis Melisa berucap sambil mengeluarkan beberapa alat make up nya.
__ADS_1
"Nervous ya kak?" tanya Melisa untuk mencairkan suasana.
"Sedikit." mencoba tersenyum meski hatinya was-was.
"Tenang saja nanti setelah ijab akan terasa lega."
"Tapi aku bingung apa yang harus aku lakukan nanti saat berdua bersama pak Daniel."
"Haha pasti ini pertama ya kak? nanti Kakak akan bertemu seekor ular disana."
"Ular apa? apa pak Daniel memiliki ular?"
"Ya beliau memiliki ular apalagi jika ular tersebut tak sengaja tersentuh maka akan berubah menjadi besar dan akan menggigit erat saat memasuki gua."
"Gua apalagi? masa iya ular pak Daniel se ekstrim itu?" tanya Shasha tak percaya.
"Jelas kak, kakak belum tahu ya? itu rahasia kak, aku mengetahuinya dari para klienku mereka sampai merasa capek menghadapi ular tersebut."
"Memang apa yang diperbuat ular itu?" pertanyaan Shasha membuat Melisa tertawa riang.
"Ular itu akan berusaha menembus gua dan mencari jalan keluar hingga ia berhasil mengeluarkan bisanya."
"Jalan keluar apa kak?" tanya Shasha penasaran.
"Jalan keluar kak, ah masa kakak tak paham."
"Aku benar-benar tak paham kak."
"Jadi gini kak .-" sejenak Melisa berhenti untuk menghela nafas panjang. "Saat kakak melihat ular kecil dan berubah menjadi besar artinya itu sudah panas dimana ular tersebut sudah memasuki gua yang gelap dan ..-" suara Melisa dengan penuh ******* dan terhenti kala mendengar Shasha menjerit.
"Awww ...," jerit Shasha karena ia merasa kesakitan pada kakinya yang sengaja diinjak oleh Melisa.
"Maaf ya kak, aku sengaja. Itu latihan, nanti pertahankan jeritan tadi ya, aku yakin pak Daniel makin berg*irah.
Shasha yang masih bingung dengan ucapan Melisa masih berusaha keras berfikir tentang ular, gua, dan terakhir jeritan. Shasha merasa merinding dengan semua perkataan itu, ia ketakutan jika harus bertemu dengan seekor ular.
"Sudah kak, tenang saja semua butuh waktu. Justru kakak akan ketagihan dengan bisa ular tersebut."
"Apa ada orang yang ketagihan dengan bisa ular?" tanya Shasha tak percaya.
"Sudah nanti saja kakak tanya sendiri ke pak Daniel dimana ular itu disembunyikan." Melisa menahan tawa karena tak percaya jika calon istri dari klien VVIP begitu lugu.
"Okay, done, perfect. You look so beautiful in white." gumam Melisa.
to be continued .....
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak