
Dibawah indahnya langit malam Shasha duduk seorang diri, sambil merenung dia memegang cangkir berisi minuman hangat kesukaannya yaitu matcha latte. Dirinya merenung memikirkan jalan hidupnya yang tak pernah ia bayangkan akan seperti ini.
Apa aku terkena karma? Tapi mengapa karma yang aku alami harus terjadi berulang kali?
Lagi-lagi kata-kata karma yang terlintas di benak Shasha. Penghianatan yang dulu pernah ia lakukan kepada Dion seharusnya sudah selesai saat dia menjalin cinta dengan Abra. Saat itu karma yang ia terima lebih pedih. Dirinya dikhianati, dimanfaatkan dan hampir dilecehkan.
Bayang-bayang karma mulai hilang saat ia dijodohkan namun karma mulai muncul di awal pernikahan mereka. Daniel memberikan syarat yang tak pernah ada dalam benak seorang wanita yang mana saat kecil ia selalu membayangkan kehidupan pernikahan yang begitu indah seperti tokoh Barbie yang menikah dengan pangeran impiannya.
Sepertinya itu hanya ada di cerita anak kecil sebagai sebuah dongeng indah untuk penghantar tidur.
Dan apa yang terjadi padaku aku bukanlah seorang Clara Drosselmayer yang memiliki kemampuan magic, aku bukan Rapunzel yang memiliki kuas ajaib, aku bukan Odette yang dapat memecahkan mantra, dan aku bukan pricess Annika yang memiliki pegasus sebagai pelindung.
Aku hanyalah diriku sendiri, jika ada yang menyakitiku wajib bagiku untuk memilih antara bertahan atau melepaskan.
Sudahlah buat apa aku memikirkan ini. Mungkin itu bukan karma tapi takdir. Aku akan terima takdir ini, aku tahu Engkau tak akan memberi cobaan diluar batas kemampuanku. Dan apa yang terjadi padaku sekarang artinya Engkau telah menganggap diriku mampu untuk menyelesaikan dan melewatinya.
Lelah memikirkan semuanya kini Shasha kembali melihat ke atas, dimana bulan dan bintang sedang tersenyum padanya. Entah senyum apa yang dikeluarkan oleh keduanya. Senyum ramah atau senyum mengejek.
Senyum dengan ramah karena menemani Shasha dalam kesendirian atau senyum mengejek karena melihat Shasha yang sedang duduk sendirian.
Malam semakin dingin, secangkir matcha latte yang menemani dirinya mulai habis tak tersisa dan yang tersisa hanyalah kesedihan.
**
Pagi ini Shasha tidak begitu semangat untuk berangkat kerja. Dirinya baru bangun pagi sekitar jam tujuh pagi.
"Kenapa aku baru bangun?" tanya Shasha heran dan tersentak kaget saat melihat korden dikamarnya sudah terbuka.
"Lalu siapa yang membuka korden ini?" sambil berdiri Shasha mulai mendekati korden dan membuka jendela.
Tiba-tiba muncul seseorang dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Kakak? Bagaiamana bisa masuk?"
"Kamu lupa? kemarin kuncinya ada dua dan gak sengaja kebawa. Dari kemarin kamu dihubungi gak bisa, aku klakson dari tadi juga gak nyambung makanya aku masuk aja."
"Makasih ya kak, perhatian kakak benar-benar ngalahin orang pacaran." ucap Shasha sambil terkekeh.
"Makanya jadi adik ipar ku aja, seru tau!"
"Emang kakak mau punya adik ipar janda?"
"Gak papa kali, aku kan juga janda. Janda itu semakin di depan tahu. Apalagi model jandanya kayak kita, janda yang masih orisinil."
"Ada-ada aja." sambil tersenyum Shasha mulai membereskan tempat tidurnya.
"Aku gak bercanda, aku ini serius. Kita ini janda-janda meresahkan tau."
"Kak, aku ini belum janda lho."
"Oh iya ya, aku lupa."
__ADS_1
Setelah pembicaraan yang tak berfaedah kini Shasha mulai bersiap-siap untuk mandi sedangkan Rianda mulai mempersiapkan sarapan pagi untuk dia dan sahabatnya.
Selesai sarapan keduanya pun mulai bersiap untuk berangkat ke kantor.
Seperti biasanya di dalam mobil Rianda selalu membuka pembicaraan terlebih dahulu, dan seperti biasanya Shasha selalu tertawa dengan apa yang Rianda bicarakan.
Bagi Shasha sosok Rianda adalah seorang sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara perempuan. Dan hanya dirinya yang tahu jika sebenarnya Rianda adalah pribadi yang hangat, cerewet dan periang bukan pribadi yang cuek bebek dan dingin seperti saat di kantor.
**
Kini mereka berdua telah sampai di sebuah parkiran gedung sebuah perusahaan terkenal di Ibukota. Terlihat dua orang wanita cantik sedang berjalan menuju ke dalam gedung perkantoran. Dari jauh terlihat sebuah mobil elit telah memandangi mereka berdua. Meski hanya memandangi dari belakang namun ia yakin bahwasannya wanita dengan panjang rambut sebahu itu adalah istrinya.
Cepat atau lambat aku akan menemukan keberadaan mu, aku ingin menyelesaikan masalah diantara kita dan memulainya dari awal lalu membangun apa yang pernah aku bicarakan dan janjikan padamu.
Setelah puas memandangi bagian belakang istrinya ia pun mulai menginjak pedal mobilnya dan melajukan kendaraanya dengan cepat.
***
Tok !
Tok!
"Masuk!"
Mendengar jawaban dari Dion segera Shasha masuk dan memberikan beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Dion.
"Coba kamu jelaskan berkas apa ini?" tanya Dion. Dirinya sengaja meminta Shasha menjelaskan isi dari dokumen yang ada di depannya agar ia dapat berlama-lama memandang wajah sekretarisnya itu secara langsung dan cukup lama.
"Aku ingin kamu yang menjelaskan, mataku lelah membaca." ucap Dion penuh alasan.
Meski malas namun sebagai seorang sekertaris ia berusaha profesional menjelaskan agar atasannya itu bisa jelas dan dapat memahami.
Dion melihat bibir Shasha yang sedang berbicara, terlihat bekas tamparan di pipi Shasha yang masih terlihat.
Bekasnya belum hilang, pasti rasanya sakit .
"Bagaiamana Pak, apa ada yang masih belum dipahami?" tanya Shasha.
Dion yang sedari tadi tidak fokus dengan penjelasan Shasha karena ia sibuk memandang wajah cantik mantan kekasihnya itu.
Mendengar Dion tak menanggapi pertanyaannya kembali Shasha bertanya untuk yang kedua kali.
"Bagaiamana pak, apa ada yang masih belum dipahami?"
Dion yang ditanya masih tidak menjawab, hingga membuat Shasha berfikir untuk mengagetkan Dion yang dianggapnya sedang melamun.
Dilihatnya ada sebuah tutup minuman yang ada diatas gelas, dengan iseng Shasha menjatuhkannya ke lantai dan terdengar suara gaduh hingga membuat Dion kaget terbelalak.
"Ada apa?" tanya Dion kaget.
"Daritadi ngelamun terus, bapak ngelihatin apa?"
__ADS_1
"Gak - gak ada." jawab Dion yang bingung sendiri.
Melihat Dion yang terlihat bingung membuat Shasha memberanikan diri untuk berucap "Kalau gitu saya keluar dulu." ucap Shasha sambil membalikkan badannya yang hendak keluar.
"Tunggu, jangan keluar dulu ada yang mau aku tanyakan."
Shasha yang sudah membalikkan badannya hanya menghela nafas panjang sambil berkata, "apa lagi yang mau ditanyakan!"
Mau tak mau Shasha pun duduk di depan Dion yang sudah menunggu dirinya untuk menjawab pertanyaan dari bosnya itu.
"Kenapa ponselmu gak aktif dan baru aktif pagi tadi?"
"Kenapa pertanyaannya pribadi?"
"Gak, gak pribadi, ini masalah kerjaan. Kamu tahu tidak malam Minggu kemarin harusnya kita makan malam dengan customer dari PT.ABC tapi berulang kali aku menghubungimu gak bisa."
"Maaf, lagipula itu malam Minggu diluar jam kerja saya kan, Pak?"
"Setidaknya ponsel jangan kamu matikan."
"Iya pak, maaf."
"Sebagai gantinya malam ini kita harus datang ke acara makan malam yang mereka adakan."
"Acara makan malam? hanya kita atau beberapa perusahaan yang hadir.
"Kenapa?"
"Saya rasa bapak paham apa alasannya."
"Apa kamu tak mau menemuinya?"
"Jangankan menemuinya aku berharap tidak lagi bertemu dengannya."
Apa kali ini kamu benar-benar membenci suamimu?
Sejujurnya aku tak tahu harus senang atau sedih melihatmu seperti ini.
Tapi dapat kulihat dari sorot matamu jika kamu masih mencintai suamimu, kamu tak benar-benar membencinya.
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.
__ADS_1