TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 70. INGUS, BUKAN HAHA HIHI


__ADS_3

Di dalam mobil.


Setelah masuk ke dalam mobil, mereka berdua tak saling menyapa. Shasha yang fokus melihat kearah spion untuk memastikan apakah mata ayahnya terlihat bersedih atau tidak. Sedangkan Daniel fokus membenarkan posisi duduknya sambil memanasi mesin mobil.


Shasha bahagia saat melihat mata ayahnya yang merah dan sedikit sembab. Hati Shasha menjadi menghangat layaknya sebuah luka yang terobati. Kemarahan ayahnya tadi telah membuat dirinya sedih, hatinya bagai tertusuk duri, manakala ayah yang merupakan cinta pertama dari anak perempuannya dengan tega dan keras memarahi dirinya.


Melihat ayah yang sedang mengusap air matanya membuat Shasha ingin keluar dari mobil dan memeluk ayahnya. Namun apalah daya, ia memilih untuk tetap berada di dalam mobil karena akan lebih leluasa memandang wajah keluarganya terutama wajah sang ayah.


Dilihatnya Shasha yang masih fokus ke arah spion membuat Daniel menunda untuk beberapa menit agar mobil tidak berjalan dulu. Dirasa waktunya sudan cukup, kini Daniel mulai menyalakan klakson pertanda mobil akan segera bergerak. Dari kaca spion Shasha masih melihat keluarganya melambaikan tangan.


Perlahan mobil sudah mulai berjalan pelan makin lama makin jauh. Daniel melihat Shasha yang sedari tadi tidak dapat menahan air matanya yang mengalir dari ujung mata hingga jatuh membasahi pipi.


Melihat wajah sembab Shasha membuat suasana suasana didalam mobil menjadi tak nyaman. Niatnya yang ingin mengerjai Shasha malah membuat Shasha dimarahi ayahya. Melihat bekas air mata yang keluar membuat Daniel berinisiatif mengambil beberapa lembar tisu untuk diberikan kepada Shasha.


"Ni, ambil."


"Buat apa pak?"


"Usap tuh ingus yang keluar, jangan bikin mobil saya kotor." bohong Daniel.


Shasha menerima tisu tersebut lalu diusapnya ingus yang dimaksud Daniel. Kemudian ditaruhnya bekas ingus tersebut ke dalam kotak kecil sampah yang ada di dalam mobil.


"Loh- loh, kenapa kamu buang disini?" tanya Daniel.


"Kenapa pak."


"Kenapa-kenapa apa kamu tidak takut jika ada yang berfikir macam-macam?"


"Memangnya kenapa itu kan kotak buat taruh sampah pak?"


"Ia tapi jangan taruh bekas tisu disitu."


"Memangnya kenapa, pak?" tanya Shasha heran.


"Apalagi itu tisu banyak lagi." ujar Daniel dengan khawatir.


"Memangnya kenapa pak?"


"Bagaimana jika orang berfikir negatif tentang bekas tisu itu?"


"Memang kenapa dengan bekas tisu? bukannya tadi bapak yang kasih buat usap ingus saya,"


"Itu dia masalahnya, orang akan mengira bahwa kita habis haha hihi di mobil."

__ADS_1


"Haha hihi apa pak? ini kan bekas ingus pak bukan bekas haha hihi." protes Shasha.


"Kamu tahu maksud haha hihi?."


"Tida, makanya karena saya gak paham jelas maksud bapak jadi apa persamaan haha hihi dan ingus?" protes Shasha.


"Sudahlah, lain kali kamu akan tahu maksudku. Didepan ada minimarket. Kita berhenti disana, kamu buang itu isi dari kotak kecil. Aku mau masuk kedalam dulu." sambil keluar mobil lalu menuju ke minimarket.


Shasha menuruti semua yang diucapkan Daniel tanpa ada yang tersisa. Sehabis membuang dan ia pun mencuci tangannya di wastafel yang berada di halaman depan minimarket.


Setelah mencuci tangannya ia kembali ke dalam mobil dan tak lama kemudian disusul Daniel masuk dengan membawa beberapa makanan untuk pengganjal lapar.


"Ni makan, kamu pasti belum makan, kan?"


Daniel memberikan roti sebagai sarapan dirinya dan Shasha. Ia sengaja tidak mengajak sarapan pagi di restauran karena jadwal terbang tinggal satu jam lagi, jadi mereka berdua harus tiba di bandara segera.


"Sha, tisu disini mana?" tanya Daniel sambil mengunyah makanan.


"Yang mana? yang didepan sini?" perjelas Shasha.


"Ia."


"Saya buang pak." jawab Shasha enteng sambil mengunyah roti.


"Kenapa di buang!" Daniel bertanya nyaring.


"Tapi yang didepan itu kan tisu bersih Shasha!! kamu benar-benar ya! kamu gak paham sama ucapan ku."


"Udah pak, jangan marah-marah. Itu habiskan dulu roti di mulut bapak nanti pada menyembur keluar semua.


Daniel merasa dikerjai oleh bocil yang duduk disebelahnya ini. Ia merasa jengkel namun ia berusaha berdamai dengan hatinya bahwasannya ucapan Shasha tidak sepenuhnya salah.


Didalam mobil Daniel menahan amarahnya karena setelah tiba nanti dia akan membuat banyak peraturan yang harus dilakukan Shasha selama bersama dengan dirinya.


Tak terasa kini mereka berdua telah berada di bandara. Sasha keluar dari mobil hanya membawa tas selempang tak banyak barang yang dia bawa karena memang semua barang-barangnya ada di tempat kos.


"Pak, ada apa kita menunggu disini?" tanya Shasha penasaran.


"Diam."


Mendapat jawaban tak enak Shasha pun berdecak kesal.


"Pak, maaf menunggu." ucap seorang lelaki yang muncul dari arah belakang Shasha.

__ADS_1


"Tak apa, ini." ucap Daniel sambil memberikan kunci mobil kepada lawan bicaranya itu.


"Baik pak, akan saya rawat mobil ini selalu."


"Saya masuk dulu." pamit Daniel sambil meninggalkan lelaki tersebut diikuti oleh Shasha yang melemparkan senyum hingga membuat lawan bicara Daniel salah tingkah.


Daniel dan Shasha masuk ke bandara untuk check ini karena tinggal beberapa menit lagi pesawat mereka akan berangkat. Sama seperti biasanya Shasha selalu mengekor dibelakang Daniel karena memang Daniel tidak pernah menyuruhnya untuk berada disampingnya jika tidak disuruh.


Beberapa pasang mata yang melihat akan mengira bahwa mereka berdua hanya dua orang asing yang tak saling kenal. Mereka tak akan menyangka jika Shasha yang memiliki wajah imut dan masih begitu muda ternyata sudah menjadi istri dari seorang pengusaha dengan karir cemerlang yaitu Daniel Habibie.


Di dalam pesawat seperti biasanya tak banyak kata keluar dari mulut keduanya Mereka memilih untuk sibuk dengan diri sendiri hingga memejamkan mata sampai satu jam lamanya perjalanan ditempuh.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saat ini mereka telah tiba di bandara, disana Daniel sudah dijemput oleh Jason.


"Selamat siang pak, bagaiamana kabarnya bos?" tanya Jason penuh bahagia dan senyum lebar.


"Baik."


"Hi, Sha.. Gimana kabarnya?" tanya Jason riang


"Baik juga mas. Mas sendiri bagiamana kabarnya?"


"Saya selalu baik. Yuk let's go." ajak Jason yang sudah siap mengemudi.


Seperti biasanya, Shasha memilih untuk duduk disamping Jason ketimbang duduk di dekat Daniel.


"Bos, kita antar mbak Sasha dulu?"


"Langsung apartemen saja."


"Siap bos. Mau kecepatan angin atau kecepatan kuda bos?" tanya Johan.


"Terserah kamu, yang penting kita cepat sampai."


"Jangan cepat-cepat. Bagaimana jika terjadi hal tak diinginkan? kalian berdua enak amal sudah banyak, bagaiamana denganku?" ucap Shasha tanpa melihat ke arah keduanya.


Perkataan Shasha membuat mereka berdua tak bisa bicara. Apa yang diucapkan Shasha begitu mengena di kedua telinga mereka.


to be continued


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...


Terima kasih banyak


__ADS_2