
"Oke saya buka tapi bapak mandi dulu, dan bed cover itu untuk saya," ucap Shasha.
"Seenaknya saja! apa yang sedang kamu sembunyikan?"
"Tidak ada,"
"Lalu?"
"Saya ... saya pakai baju kurang bahan."
"Oh begitu. Tenang saja aku tak akan terpesona sekalipun engkau tak menggunakan apapun." sambil melepas dasi dan bajunya Daniel berjalan ke arah keranjang kotor.
Mendengar itu Shasha menjadi lega dan juga pasrah bahwa semenarik dirinya tetap Daniel tak akan tertarik padanya seperti saat dulu ia belum mengetahui masa lalunya.
Segera Shasha membuka, melipat dan meletakkannya di loker dekat tempat tidur. Saat Shasha membalikkan badannya ia melihat Daniel yang hanya menggunakan celana kain panjang dan bertelanjang dada. Meski melihat Daniel dari belakang namun mampu membuat jantung Shasha berdegup kencang hingga membuat ia menelan ludah.
'Ada apa ini? apa aku mulai tertarik? Hissshhh ...., aku tak boleh melihatnya terlalu lama bisa-bisa copot jantung ini'
Belum sempat dirinya membalikkan badan, Daniel yang lebih dulu membalikkan badan.
"Kamu ngapain berdiri disitu, awas!" Daniel berjalan kearah Shasha berdiri.
Shasha tak menjawab ia hanya tertunduk dan mencoba menghindari Daniel yang berada tepat di depannya.
"Awas!” Daniel berjalan kesamping berniat untuk berjalan menghindari Shasha namun Shasha melangkahkan kaki kearah yang sama dengan Daniel.
Kejadian itu berulang dua kali hingga membuat mereka berdua emosi.
"Pak, minggir!"
"Kamu yang minggir!"
"Bapak mau kemana sih?"
__ADS_1
"Tidur!"
"Bapak gak mandi!"
"Gak, awas!"
Shasha memilih diam dan menunggu Daniel berjalan terlebih dahulu.
"Aku tidur!" sambil mematikan lampu ia mulai tidur. Dirinya sengaja mematikan lampu agar tak melihat Shasha yang memakai pakaian kurang bahan. Diakuinya ia tertarik saat melihat Shasha dari cermin.
Keluar dari kamar mandi Shasha kaget melihat kamar yang gelap.
"Kug gelap, kan gak kelihatan," gumamnya lirih. "Iya-iya saya tahu ini kamar bapak, setidaknya tunggu saya keluar dari kamar mandi dulu baru matikan lampu." sambil mengomel Shasha mencoba berjalan sambil meraba menuju ke bed sofa tempat dirinya tadi tertidur.
Daniel yang masih belum tidur mendengar Shasha yang sedang mengomel dan dia hanya tersenyum puas mengerjai Shasha.
Meski habis mengomel Shasha tetap dapat melanjutkan tidurnya karena badannya begitu capek. Namun tidak bagi Daniel, meski dirinya merasa letih namun ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya, ia masih terbayang akan wajah cantik yang tadi ia kira itu adalah hantu cantik atau bidadari. Tak hanya memikirkan wajah, Daniel juga memikirkan baju kurang bahan yang terisi penuh oleh lekuk tubuh Shasha yang jarang terekspos namun kini dapat ia lihat sebagian dan hampir jelas.
Sebagai seorang lelaki normal itu adalah hal yang maklum dan lumrah jika ia ingin melihatnya lagi.
Sambil menunggu setengah jam Daniel mencoba melihat ponselnya dari balik bed cover. Ia mencoba membunuh waktu setengah jam dengan membuka emailnya.
'Kenapa setengah jam terasa begitu lama?' sambil men-scroll halaman emailnya.
Daniel mulai mengatur nafasnya agar ia tidak gegabah.
Dilihatnya waktu sudah berjalan 15 menit.
'Haduh kenapa lama sekali?! ah mungkin dia sudah tidur.' Daniel keluar dari balik bed cover dan turun dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju ke sofa bed yang ditempati Shasha.
Daniel duduk tepat disamping Shasha yang sedang tertidur, diamatinya wajah Shasha dengan jelas, dilihatnya sebuah bibir tipis yang menggoda untuk di cium namun sebisa mungkin ia mencoba menahannya. Selesai puas memandang wajah dan bibir kini pandangan Daniel beralih ke tempat lain yaitu dua gunung kembar yang hampir keluar.
'Gila! ini benar-benar gila! kenapa aku harus disuguhi pemandangan seperti ini! ****!! bisa-bisa runtuh imanku. Iman? tapi kan aku halal jika menyentuhnya'
__ADS_1
Daniel mulai mengulurkan tangannya untuk memegang namun saat hampir menyentuh ia menjadi ragu dan menarik kembali tangannya.
'Bagaiamana jika dia bangun? ah bodoh dia kan istriku, mau aku apakan juga kita sudah halal. Salah sendiri kenapa pakai baju seperti ini'
Daniel mulai mengulurkan lagi tangannya dan sudah berhasil menyentuh bagian atas.
'****, kenapa sekarang aku jadi kepanasan begini mana ular di dalam ini mulai membesar'
Lagi-lagi Daniel menarik tangannya lagi, dirinya takut Shasha terbangun karena tiba-tiba Shasha mulai menggerakkan badannya. Seketika Daniel bersembunyi dibelakang bed sofa hingga Shasha kembali tidur dengan tenang.
Daniel yang sembunyi mulai berdiri dan kembali melihat Shasha yang menurutnya sedang tidur pulas.
Tak bosan-bosan Daniel memandangi wajah cantik istrinya itu. Ingin rasanya ia mengecup bibir Shasha yang merona secara alami bukan karena pemerah lipstik, wajah Shasha yang cantik alami membuat membuat dirinya semakin kagum ditambah dengan keseksian istrinya yang tak pernah ditunjukkan membuat dirinya tergoda dan harus menjilat ludahnya sendiri. Yang mana baru kemarin ia berkata tak akan menyentuh istrinya sampai ada rasa cinta tumbuh dan baru saja tadi ia bilang tak akan tergoda sekalipun Shasha tak mengenakan pakaian.
Terlalu lama berfikir dan memandang wajah teduh Shasha membuat dirinya tak sabar ingin menerkam semua milik istrinya itu.
Saat ini ia merasa dunia berada digenggaman nya, rasa yang dulu pernah ia rasakan kini mulai kembali. Sebuah rasa nyaman yang tak dapat ia bayangkan. Status yang ia punya saat ini membuatnya ingin melakukan lebih namun tiba-tiba ia teringat akan ucapan Shasha Saya tidak mau benih yang ada di perut saya nanti akan tumbuh hanya dengan satu cinta.
'Deg. Kenapa aku melakukan ini! Ini nafsuh! ini bukan cinta! Aku tak mungkin secepat ini jatuh cinta lagi padanya, aku tak boleh jatuh ke lubang yang sama.'
Baru beberapa menit Daniel mencium dan merab*h Shasha tiba-tiba dirinya menghentikan aktivitas sembunyi-sembunyi nya itu dan yang lebih mengagetkan adalah Shasha membuka matanya saat Daniel masih berada tepat di atasnya dengan jarak yang hanya bisa diukur dengan jengkal jari.
"Bapak mau apa?" Shasha pura-pura kaget bertanya padahal tanpa Daniel sadari jika sedari tadi Shasha belum tidur dan ikut menjadi imbas dalam merasakan kenikmatan yang dilakukan oleh Daniel.
Mendengar Shasha bersuara membuat Daniel tak kalah kaget. Segera ia menjauhkan diri dari Shasha.
"Kamu, kk––amu tidur bersuara, aku terganggu!" bohong Daniel sambil berdiri dari duduknya lalu berdiri menjauh dari tempat dimana Shasha berbaring.
'Hem, bohong! untung aku bangun. Kalau tidak mau jadi apa diriku ini. Dasar mau nabur benih tapi gak cinta, memangnya saya siapa!' geram Shasha sambil membalikkan tubuhnya menghadap kearah bed sofa.'
tobe continued
Ditunggu kelanjutannya😉😉
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...
Terima kasih banyak