TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 35. TERPURUK


__ADS_3

Dari balik jendela helaan nafas yang dihembuskan Joshka terlihat berat saat melihat punggung anaknya. Dia pun mulai berjalan ke arah balkon dan menghampiri Daniel.


"Hi, jagoan Dady!" sapa Joshka pada anaknya.


"Dady!" ucap Daniel kaget melihat kedatangan Dady nya. "Kenapa Dady tidak memberitahu jika akan datang?" tanyanya kembali sambil memeluk.


"Dady ingin memberimu kejutan. Dady rindu kamu." ucapnya santai sambil duduk di kursi yang ada disana.


"Hanya rindu atau yang lain?" tanya Daniel penuh selidik.


"Iya, merindukan anak dan istri adalah hal yang lumrah." jawab Joshka enteng.


"Aku tak yakin hanya rindu. Apa Johan yang meminta Dady kesini?" tanya Daniel lagi yang masih tak percaya dengan ucapan Joshka.


Tiba-tiba terdengar suara yang menyapa mereka berdua, "Dad, apa kabar? pasti dia mencurigai ku gara-gara aku cerita." sapa Johan menghampiri keduanya.


"Baik, kamu bagaiamana? betul dia mencurigai mu." balas Joshka yang pura-pura menjawab pertanyaan Johan.


"Baik, dia selalu saja mencurigai ku, dad. Aku pamit mau menemui pembeli apartemen dulu." pamit Johan sambil berlalu.


Mendengar ucapan Johan akan menemui pembeli apartemen Joshka heran apartemen siapa dan yang mana karena sepengetahuannya Johan tinggal bersama Daniel di apartemen ini dan tinggal di sebelah rumah dinas.


"Pembeli apartemen, apa Johan membeli dan sekarang akan menjual? Atau kamu mau menjual apartemen ini?" tanya Joshka dengan kecewa karena tak menyangka anaknya akan menjual apartemen pemberiannya tanpa sepengetahuan dirinya.


"Tidak." jawab Daniel singkat.


"Lalu, apartemen yang mana?" tanya Joshka mulai curiga.


Pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh Daniel. Dirinya tak ingin menceritakan tentang patah hati yang sedang dia rasakan termasuk soal apartemen yang telah dia beli untuk Asia. Karena yang dia tahu dady nya akan marah jika Daniel menghamburkan uang berlebih untuk seorang kekasih apalagi sekarang mereka telah putus.


"Kenapa diam? ada yang kamu sembunyikan?" pancing Joshka.


"Tidak ada dad." ucap Johan bohong.


Mereka saling berbincang, namun ada yang tak biasa dari cara Daniel membalas semua ucapan Joshka, wajahnya yang masih terlihat murung membuat Joshka sebagai orangtua sedih melihat keadaan anaknya itu.


"Nak, bagaimana jika musim dingin ini kita liburan, ambillah cuti dan ajak kekasihmu."


pancing Joshka berharap anaknya dapat jujur dan bercerita kepada dirinya.


Daniel terkejut saat dady nya berkata, dia ingin berkelit dengan mencoba beranjak dari tempat duduknya namun bahunya ditahan Joshka seketika.


"Kamu kenapa? Dady merasa ada beban berat yang kamu rasakan. Ceritakan, nak jika kamu masih menganggap ku sebagai orangtua. Jika kamu memang mencintainya aku akan berusaha meyakinkan kepada mami tentang pilihanmu." pancing Joshka.


Daniel mengangguk lalu berucap, "maaf kan aku dad, aku telah membuat kalian kecewa, aku telah menjadi anak durhaka karena tidak pernah mendengarkan ucapan kalian. Aku ingin mengurus perusahaan dady yang ada di Indonesia, apa boleh?" tanya Daniel.


Joshka yang mendengar itu heran, yang dia tahu anaknya tak terlalu berminat dengan dunia bisnis. "Hem ..., tidak. Itu perusahaan yang dady bangun dari masih muda. Dady, memulainya dari nol hingga memiliki banyak cabang di luar negeri. Jika kamu ingin berbisnis maka kamu harus belajar dari nol, sebagai orangtua dady hanya mengajari dan memantau. Bagaimana apa kamu setuju?"


"Ia dad, aku ingin menjadi seperti dady."

__ADS_1


"Tidak, kamu tak boleh sepertiku tapi kamu harus bisa lebih dariku. Dady, akan memintamu mengurus cabang kita yang masih kecil itupun dimulai dengan statusmu menjadi karyawan biasa. Apa kamu mau?"


Daniel mengangguk mendengar peryataan Joshka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah pembicaraannya dengan Daniel, segera Joshka meminta seseorang untuk menyiapkan keberangkatan Daniel dan Johan ke Korea. Keberangkatannya terlihat mendadak namun itulah yang sebenarnya dia inginkan, karena dia tak ingin berada disini dan mengingat penghianatan cinta yang dia alami.


Daniel pergi tanpa sepengetahuan Melly, karena dia tak sanggup bila harus mengingat semua kesalahan dan rasa sakit yang Melly rasakan karena dirinya saat itu lebih memilih kekasih ketimbang kedua orangtuanya. Daniel memutuskan akan menemui Melly kelak jika dirinya sudah tidak rapuh dan mampu berdiri tegak.


Sedangkan Johan, pasti sudah berpamitan dengan kedua orang tua angkatnya itu sehingga Melly sebenarnya tahu kemana kedua anaknya tersebut akan tinggal.


Beberapa bulan kemudian


"Dad, kamu benar-benar keterlaluan. Kenapa memberikan anak kita posisi sebagai Office boy, setidaknya posisi sebagai karyawan biasa, kan bisa." ucap Melly sambil marah-marah.


"Office boy juga karyawan biasa, sayang." ucap Joshka enteng sambil menyeruput kopi.


"Dad, aku tidak bercanda. Aku serius. Aku seorang dokter, kamu seorang pengusaha terkenal lagipula dia dulu seorang diplomat kenapa sekarang menjadikannya sebagai office boy. Begitu juga dengan Johan kenapa kamu jadikan dia sebagai supir dari manager disana. Bahkan kamu menyembunyikan status bahwa mereka adalah anak dari pemilik perusahaan tersebut.


"Sayang, percayalah aku sedang mengajari kedua anak kita sebuah proses hidup. Tidak ada siapa pun yang berhasil mencapai puncak tanpa kerja keras, menjadi seorang OB ataupun sopir memang tidak akan membuat langsung ke puncak tapi akan membuatnya lebih dekat dengan tujuan yang ingin mereka raih." jelas Joshka kepada isterinya, Melly.


"Tapi, apakah mereka berdua bahagia dengan keadaan mereka disana? kamu bahkan tak memberikan uang saku dan fasilitas kepadanya, mereka hanya tinggal di sebuah mess kantor." tanya Melly yang masih tidak terima dengan keadaan anaknya.


"Sayangku Melly. Apa kamu lupa, aku tidak mungkin memberikan mereka fasilitas mewah. Mereka berdua sudah menjadi orang berada dari lahir dan aku ingin mereka mengetahui bagaimana cara menggapai kesuksesan dari bawah, dari menjadi batu biasa hingga menjadi batu permata. Ingat ya sayang, sejatinya rahasia sebuah kebahagian itu ada tiga hal yaitu; bersabar, bersyukur dan ikhlas."


"Sayang, kenapa kamu benar-benar mengagumkan. Aku beruntung memilikimu menjadi suamiku."


"Oya dad, kapan kita menemui Pak Idris dan istrinya?" tanya Melly dengan ekspresi bahagia.


"Melly ku sayang, jika kamu cerewet seperti ini artinya kamu sedang bahagia, dan jika kamu diam artinya kamu sedang dalam masalah." ujar Joshka sambil mencubit pipi istrinya dengan gemas. "Kamu mau membicarakan perjodohan itu ya? Aku setuju tapi bagaimana dengan anak kita, yang menikah itu Daniel sayang, bukan kita sebagai orangtua."


"Dad, kali ini jangan mencuci otakku. Kita sudah membicarakan ini lama. Pak Idris dan istrinya juga setuju, lagipula gadis itu pantas untuk Daniel. Aku yang melahirkan Daniel jadi aku mau yang terbaik buat Daniel dan aku yakin Acha lah orangnya."


"Dady tahu, mami yang melahirkan tapi dady juga berperan penting karena sudah membuat mami hamil." ucap Joshka sambil terkekeh.


"Iya, tapi aku yang mengandungnya."


"Karena mami wanita, mungkin jika dibalik dady menjadi wanita dan mami menjadi pria pasti dady yang hamil." gumam Joshka pelan. "Dady tidak menolak, namun dady minta lebih baik menuggu Acha lulus kuliah sambil menunggu Daniel meniti karirnya."


"Aku setuju menunggu Acha lulus karena sebentar lagi dia wisuda. Kalau harus menunggu Daniel meniti karir akan lama." rengek Melly kepada suaminya.


"Percayalah keturunan R-Joshka itu cerdas, aku pastikan genap Daniel dan Johan berusia 30tahun dia akan dikenal di dunia bisnis." ujar Joshka meyakinkan istrinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kota Incheon, Korea Selatan, siang hari.


Beberapa Minggu sebelumnya,

__ADS_1


Daniel dan Johan telah tiba di salah satu bandara terbesar di Korea Selatan. Setibanya disana tak ada yang menyambut mereka, berdua, tidak ada yang menjemput mereka. Kini mereka mencari taksi lalu mencari alamat mess.


Mereka berdua tidak terlalu menguasai bahasa Korea, sempat mengalami kesulitan beruntung pengemudi taksi dapat berbicara bahasa Inggris dengan begitu lancar. Sehingga tak perlu waktu lama kini mereka sudah berada di halaman mess.


Setibanya di mess mereka disambut dengan para pekerja yang terlebih dahulu tinggal disana. Sebagian dari mereka adalah orang Indonesia, hal itu membuat Daniel dan Johan beruntung karena mereka setidaknya dapat berkomunikasi dengan mudah.


Bagi mereka berdua berada di Korea sama seperti sebelum-sebelumnya dimana mereka berdua melakukan perjalanan bisnis. Namun bedanya, biasanya mereka selalu disambut layaknya seorang raja sedangkan sekarang suasana biasa saja justru mereka berdua dapat menilai mana pegawai yang memiliki perilaku baik dan tidak.


Banyak yang telah Daniel pelajari menjadi seorang OB selama beberapa minggu. Dirinya harus berangkat lebih pagi dari jam operasional kantor. Tugas yang selalu dia lakukan pada dasarnya adalah membersihkan serta merapikan meja, kursi, komputer; membersihkan lantai, menyediakan minuman, mengambil dokumen.


"Huh ..." Daniel menghembuskan nafasnya sambil duduk di bangku tempat basecamp para OB berkumpul.


Salah satu temannya yang juga seorang OB datang menghampiri, "bagaimana rasanya kerja jadi OB, menyenangkan bukan?rasanya bahagia kita dapat melayani kebutuhan para pekerja disini."


"Iya," ucap Daniel sambil mengangguk.


Tak terasa sudah satu bulan mereka bekerja disini, Daniel yang sibuk dengan pekerjaannya begitu juga dengan Johan. Mereka berdua sudah memiliki kesibukan yang berbeda-beda. Johan selalu berada di jalan, sedangkan Daniel yang selalu berada di kantor sehingga membuat keduanya jarang berbicara. Mereka hanya saling bicara, bercanda dan makan bersama jika sudah berada di mess.


Satu bulan telah berlalu,


Kring ... kring ...kring (bunyi alarm milik Daniel).


Kukuruyuk ... kukuruyuk... (bunyi alarm milik Johan)


"Niel, alarm lu kayak lagu anak-anak. Buruan lu matikan!" ledek Johan yang masuk ke kamar.


"Alarm lu juga, pake ngatain gue! gue paling sensi dengar suara itu. Rasanya gue pernah dengar itu suara dan reflek gue banting tuh ponsel."


"Awas aja lu banting ponsel gue. Gue gak habis pikir kenapa dia bisa sesabar itu saat dua kali lu banting ponselnya. Apa lu gak kangen sama dia terutama bibirnya yang pernah lu cumbu." goda Johan.


"Sudah lu gak usah resek! fokus gue karir, bukan wanita. Minggir!" kata Daniel sambil sengaja menabrak badan Johan yang berada di ambang pintu kamar.


Mendengar itu Johan hanya tersenyum. Seperti biasanya sambil menunggu Daniel selesai mandi dirinya berada di kamar sambil mengutak-atik ponselnya untuk bermain game.


Beberapa menit kemudian Daniel muncul dari ambang pintu dengan sudah memakai setelan baju kerja.


"Niel, dapat salam dari ajumma sebelah mess kita." goda Johan.


"Salam balik." ucap Daniel singkat.


"Daniel, selera lu berubah?" goda Johan lagi.


"Mulutmu, udah gue berangkat dulu." ucapnya sambil berlalu.


Saat sedang berjalan Daniel melihat seorang anak perempuan yang wajahnya mirip dengan seseorang yang dia kenal dulu. Dengan rasa penasaran Daniel menghampiri gadis tersebut lalu didekatinya dan ....


Hi, guys coba tebak siapa gadis yang bertemu dengan Daniel ??😉😉


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like, comment atau kasih vote...

__ADS_1


Terima kasih banyak


Salam sayang 🥰🥰


__ADS_2