TERJEBAK KISAH MASA LALU

TERJEBAK KISAH MASA LALU
BAB 132. MENDAPAT DUKUNGAN.


__ADS_3

Sampai di kantor, Dion dan Shasha turun dari mobil. Mereka berdua berjalan beriringan, saat melewati pintu utama Shasha bertemu pak Mukit yang sedang bertugas.


“Sore pak,” sapa Shasha.


“Mbak Shasha, habis dari luar ya mbak?”


“Iya pak, bapak hari ini masuk sore?”


“Iya mbak. Ei pak Dion, siap grak!”


“Hai pak, gimana kabar kantor hari ini?” tanya Dion yang baru saja muncul setelah ia menerima telepon dan memilih menjauh dari Shasha.


“Kantor aman pak, tapi tadi –“


“Tadi kenapa, pak?” tanya Shasha reflek.


“Pak, kita masuk dulu ya,” ucap Dion cepat-cepat sambil mengerlingkan matanya kepada pak Mukit.


Pak Mukit yang paham maksud dari bosnya itu hanya mengangguk dan melihat punggung mereka berdua yang kini berjalan memasuki kantor.


Shasha yang mengekor di belakang Dion penasaran dengan ucapan pak Mukit yang terpotong tadi. Dirinya pun berjalan cepat menyusul Dion yang berada di depannya, hingga ia lupa jika dirinya sedang antri di lift khusus untuk CEO dan para direksi. Begitu lift terbuka Shasha hendak ikut masuk namun segera Dion mengangkat telunjuknya dan menunjuk ke arah lift sebagai isyarat bahwa Shasha dilarang masuk. Melihat gerakan tangan Dion membuat Shasha sadar dan mendengus kesal.”


“Oke,” ucap Shasha sambil menggerus giginya.


Dion sengaja melarang Shasha untuk tidak se lift dengan dirinya, karena saat ini masih jam kerja, dirinya tak ingin Shasha mendapat gunjingan dari beberapa staf lama terlebih kepada para wanita yang mengidolakan dirinya.


Lift yang dinaikinya terbuka, segera Dion keluar dan mampir ke pantry untuk membuat minuman untuk dirinya sendiri. Sebenarnya sih ia ingin membuat dua minuman untuk dirinya dan Shasha, namun saat ia hendak memasuki pantry ia melihat ada beberapa stafnya sedang berdiri disana sambil menatapnya dengan tatapan menggoda. Dion yang risih membalasnya dengan tatapan dingin tajam seperti tatapan elang yang hendak mencabik mangsanya.


Melihat tatapan menakutkan itu membuat beberapa karyawan wanita yang ada disana menjadi menunduk dan diam seketika.


Beberapa saat kemudian muncul Shasha dengan wajah tampak berantakan namun tetap terlihat cantik, entah apa yang membuatnya menjadi seperti itu.


"Mengapa wajahmu kusut begitu?" tanya Riko yang tiba-tiba muncul.


"Pak, saya sedang tak ingin bicara, saya lelah." ucap Shasha yang kemudian melangkahkan kakinya ke pantry untuk minum.


"Sekalian ya Sha, dua." ucap Riko sambil mengangkat dua jarinya.


Mendengar permintaan Riko, Shasha hanya melirik lalu melanjutkan langkahnya.


***


Setengah jam telah berlalu, minuman yang mereka tunggu tak kunjung datang.


"Kenapa lama sekali? Apa bikin minumannya di bulan!" ejek Riko.


Dion yang penasaran segera pergi ke pantry untuk melihat apa yang sedang dilakukan Shasha disana. Dengan langkah seribu ia berjalan kesana dan disana ia tak menemukan seseorang yang dimaksud.


Apa dia sudah kembali? Tapi jika dia kembali setidaknya akan berpapasan denganku disini.


Dion kembali ke ruangannya, memastikan pemikirannya dan hanya Riko yang ada disana seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Shasha belum kemari?" tanya Dion kepada Riko.


"Bukannya lu susul dia?"


"Disana tak ada orang sama sekali, ku kira ia sudah kembali." ujar Dion.


"Lha kemana dia? Coba di cari di toilet, yang aku dengar dia senang sekali berada di toilet."


"Toilet wanita?"


"Iyalah, masa toilet pria."


Kedua lelaki tampan itu segera beranjak dari ruangannya menuju ke toilet.


"Masa kita masuk ke toilet wanita?" tanya Dion.


"Bukan kita, tapi -" ucap Riko sambil menunjuk telunjuknya ke arah Dion.


"Gue?" tanya Dion tak percaya.


"Ya, dan gue menunggu di luar sambil memberi kode jika ada yang datang." jelas Riko.


Saat Dion masuk ke dalam toilet ia bingung dengan apa yang harus dia lakukan.


Aku ngapain disini? Sepertinya aku dikerjain Riko.


Apa aku buka satu-satu kamar mandinya?


Dengan rasa hati-hati dan was-was ia berharap tidak ada orang yang masuk ke toilet sebelum ia menemukan Shasha. Dilihatnya secara sekilas sepertinya tidak ada tanda-tanda orang berada di dalam toilet, namun matanya tertuju pada salah satu pintu toilet yang sepertinya terkunci dari dalam dan hanya terdengar suara gemuruh air dari dalam closet saat ditekan.


Bagaimana jika yang di dalam itu bukan dia?


Tak lama kemudian terdengar suara selot pintu dari dalam dibuka, dan munculah seorang wanita yang pernah ia lihat sebelumnya.


"Pak Dion," sapa wanita itu.


"I---iya, kamu kenapa ada disini?" tanya Dion dengan wajah tanpa bersalahnya.


"Harusnya saya yang bertanya itu ke bapak, apa bapak sedang mencari seseorang?" ucap Rianda penuh selidik.


"Tadi saya melihat peliharaan saya lari kesini," bohong Dion.


"Peliharaan? boleh saya bantu hewan apa?"


"Gak ... gak usah, saya cari sendiri saja. Karena saya lihat sepertinya lari kesini." "Acha ... Acha ...." panggil Dion dengan suara lembut.


"Acha, nama hewan bapak?" tanya Rianda.


"I---iya, mungkin dia sudah keluar. Baiklah lebih baik saya keluar saja dari sini." ujar Dion lalu keluar dari toilet.


Rianda yang melihat gelagat bosnya itu terlihat aneh, bahkan ia merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya.

__ADS_1


Acha, sepertinya aku pernah mendengar suara itu, kapan dan dimana ya.


Rianda yang bertanya-tanya dalam hati sambil berjalan mencoba mengingat-ingat nama yang tak asing baginya.


Acha, sepertinya aku pernah melihat nama itu dimana ya?


***


Setelah dari toilet mereka memutuskan untuk kembali ke ruangan.


"Kemana dia?" sambil berjalan Dion bertanya-tanya dalam hati.


"Aku ke toilet dulu ya, kebelet ni." pamit Riko sambil berjalan berlawanan arah.


Dion yang di pamiti hanya diam dan mengangguk.


Sampai di depan ruangan ia membuka pintu dan bau harum sedikit menyengat menganggu hidungnya.


Parfum siapa ini? Apa Shasha?


Kenapa parfumnya berubah tajam seperti ini?


Dari belakang ia meliahat seorang wanita dengan rambut yang mirip dengan Shasha.


"Akhirnya, aku menemukanmu. Darimana saja kamu?" batin Dion sambil berjalan masuk duduk di sofa yang ada di ruangan Riko.


"Darimana saja kamu? hanya karena lift saja kamu sampai seperti ini. Terus tadi kenapa wajahmu kusut seperti tadi?" tanya Dion yang masih berbicara dibelakang Shasha.


Tak ada jawaban dari wanita di depannya membuat Dion gemas.


"Kamu kenapa? ayo bicara!" ucap Dion sambil memegang pundak dan memutarnya.


Melihat wanita di depannya bukan Shasha membuat Dion kaget.


"Siapa kamu?" tanya Dion kaget.


"Dion, dia Rachel." ucap Riko yang tiba-tiba muncul. "Dia wanita yang pernah aku ceritakan waktu itu, dia sepupu Yoga." bisik Riko.


"Oh, saya kira kamu sekertaris saya."


"Maaf ya, dia memang seperti itu apalagi sama sekretarisnya."


"Tak apa, justru aku mendukung jika pak Dion bersama dengan Shasha."


.


.


To be continued.


Ditunggu kelanjutannya😉😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di ceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.


Terima Kasih.


__ADS_2