
Shasha mendapat izin dari Dion untuk menemui seseorang yang mencarinya. Ia pun mulai berjalan untuk memasuki lift.
Siapa ya yang datang menemuiku? Kenapa hatiku deg -deg an ya?
Apa aku akan bertemu ... Gak gak mungkin. Dia gak mungkin mendatangiku ditempat umum seperti ini.
Tapi kalau bukan dia lalu siapa? bukannya tadi para karyawan wanita menjadi heboh dengan kedatangannya? Kalau tampan dia memang tampan.
Ah sudahlah, kalaupun dia yang datang aku akan menghadapinya.
"Bu, silakan tamunya sudah menunggu dari tadi," ucap resepsionis yang mempersilahkan Shasha untuk masuk di ruang tamu dengan konsep minimalis yang terlihat segar dan natural dengan penambahan tanaman dalam pot pada ruangan.
"Siapa?" tanya Shasha lirih kepada Tara yang merupakan resepsionis.
"Namanya itu mirip kayak nama kakak. Dia itu tinggi, kulitnya laki banget, badannya mirip tentara, dan sepertinya dia belum nikah." Tara menjelaskan ciri-ciri sambil berusaha mengingat-ingat nama orang yang ingin bertemu dengan sekertaris bosnya itu.
Mengetahui jika nama yang mencarinya mirip dengan namanya ditambah dengan ciri-ciri yang disebutkan maka dipastikan dia adalah kakak nya. Namun sekejap ia ragu jika itu adalah kakak nya karena yang ia tahu jika kakaknya saat ini masih berada di Jerman sedang menempuh pendidikan militer.
Masa iya Kak Erza?
Bagaimana jika bukan?
Bukannya tadi Tara bilang kalau dia belum menikah?
Tapi bagaimana jika itu benar-benar Kak Erza?
Jika benar Kak Erza, jangan sampai bertemu dengan Dion jika sampai tahu bisa gawat.
Selama ini Shasha berusaha menyembunyikan tempat dirinya bekerja, karena yang kedua orangtuanya dan kakaknya tahu jika Shasha bekerja dikantor Daniel milik Joshka , ayah Daniel.
Untuk mengantisipasi itu Shasha pun meminjam telepon Tara untuk menelfon Dion, namun berulang kali Dion ditelpon tidak diangkat.
Haduh, gimana ini jangan sampai Dion kesini. Bisa gawat, apalagi Kak Erza tahu tentang hubunganku dengan Dion dulu.
"Kak, kenapa bengong, itu tamu daritadi nungguin."
"Oh iya, tunggu. Ini aku baru ingat ada info penting yang harus ku sampaikan ke pak Dion." bohong Shasha, karena tak mungkin ia memberitahu Tara yang sebenarnya.
"Apa Kak, coba aku telefon lagi aja. Siapa tahu nanti diangkat."
"Coba Kakak hubungi lewat ponsel saja siapa tahu diangkat,"
"Aku gak bawa ponsel."
"Gini aja, nanti kalau pak Dion mau masuk ke ruangan itu kamu bicara yang keras ya, kamu ucapkan salam yang keras ke pak Dion. Kasih tanda pokoknya biar aku langsung keluar.
"I-i-iya kak," Tara sebenarnya bingung mengapa Shasha terlihat seperti bingung sendiri.
Mau tak mau Shasha masuk ke ruangan itu untuk menemui seseorang yang berada di sana.
Dari belakang terlihat begitu mirip jika seseorang yang ingin bertemu dengan dirinya tak lain adalah kakaknya.
"Kak Erza," sapa Shasha dengan sedikit ragu kepada kakaknya yang sedang membaca koran yang tersedia disana.
"Kamu habis istirahat?" sambil melipat koran yang habis dibacanya.
”Iya kak, Kakak dari tadi? Apa kakak sudah makan?"
"Lumayan. Sudah tadi keluar sebentar terus balik lagi kesini." ucap Erza dingin.
"Kakak kesini sama siapa?"
"Jihan, tapi dia tidak ikut kemari."
"Oh, kakak sedang libur?" tanya Shasha berusaha untuk mencairkan suasana yang dianggapnya kaku.
"Bukan libur tapi izin tepatnya. Sejak kapan kamu bekerja disini?"
"Hampir satu tahun. Kenapa suamimu menyuruhmu bekerja?"
"Kenapa meman gnya kak? Gak ada salahnya kan kalau aku bekerja. Kakak kan tahu dari dulu cita-citaku bahkan sebelum aku menikah aku meminta agar tetap diijinkan bekerja." ucap Shashsa lirih.
"Sekarang kamu tinggal dimana?"
"Di -- di kontrakan ei apartemen, Kak."
"Yang benar yang mana kontrakan atau apartemen!" bentak Erza.
Dion yang sudah mengetuk pintu berkali-kali tersentak kaget saat mendengar Erza membentak Shasha.
Kenapa nada suara kak Erza seperti itu ?
__ADS_1
Setahuku dia tak pernah membentak Shasha.
Apa lebih baik aku masuk saja ya, untuk mencairkan suasana.
Tidak ..., lebih baik bukan aku. Aku akan menyuruh Riko untuk masuk dan memanggil Shasha dengan berbagai alsan yang jelas agar Shasha tidak dimarahi oleh kakak nya.
Tok!
Tok!
Terdengar suara ketukan pintu membuat Shasha semakin deg-degan, dia takut jika yang mengetuk pintu adalah Dion.
"Maaf mengganggu." ucap Riko kepada kedua orang yang berada di ruangan tersebut.
"Iya pak Riko, ada apa?" tanya Shasha sambil menghela nafas karena merasa lega ternyata bukan Dion yang datang.
"Kamu di panggil bos, setengah jam lagi meeting akan berlangsung." bisik Riko namun sengaja agak ia keraskan suaranya agar terdengar oleh Erza.
Mendengar jika adiknya setengah jam lagi akan meeting segera ia pun pamit.
"Acha, kakak pamit dulu." ucap Erza sambil menatap Shasha dengan dingin.
Setelah berpamitan kepada Shasha, spontan Shasha menyalimi tangan kakaknya tanpa mencegah kakaknya yang hendak keluar dari ruang tunggu tersebut.
Shasha tersadar jika tak seharunya ia membiarkan Kakaknya keluar tanpa ia menemeninya. Shasha pun berlari dan menyusul kakaknya.
"Kak!" teriak Shasha sambil menyusul kakaknya yang sudah berjalan hampir keluar dari pintu masuk.
"Apa? Jangan bertingkah seperti anak kecil. Kamu sudah dewasa."
"Shasha, tinggal di kontrakan dan apartemen. Jika Shasha lembur Shasha pulang ke apartemen itupun tetap atas ijin Mas Daniel." bohong Shasha.
"Kita buktikan ucapanmu nanti. Sehabis Isya datang dan temui kakak di hotel X, ajak suamimu juga. ucap Erza tanpa melihat ke arah Shasha.
Shasha hanya mengangguk tanpa menjawab, ia tak tahu harus bagaimana menghubungi suaminya itu karena sudah lama ia tak menghubungi suaminya.
Sambil berjalan ke dalam untuk masuk ke dalam lift Shasha berfikir.
Bagaimana cara aku menghubungi Daniel? Nomor nya sudah aku hapus lagipula aku juga sudah memblokir nomor nya.
Aduh bagaimana ini?
"Dia kakak ku," ucap Shasha sambil melangkah keluar lift bersama Riko.
"Jangan-jangan yang dibicarakan para gadis di kantin tadi adalah kakakmu?"
Shasha yang sibuk berfikir bagaimana cara menghubungi Daniel tidak dengar jika Riko sedang mengajaknya bicara. Bahkan ia sendiri tak tahu jika ia sedang melewati lantai yang licin padahal lantai tersebut sudah diberi tanda agar tidak melintasi lantai tersebut.
Shasha yang hampir tergelincir beruntung ada seseorang yang memegangi dirinya dari belakang.
Pandangan mata keduanya saling bertatapan bahkan tak berkedip. Mata bulat seperti kacang almond, hidung mancung dan bibir tipis membuat yang memandangnya terpesona dan ini lah alasan mengapa dirinya sampai sekarang tidak dapat move on dari cinta pertamanya itu.
Melihat lelaki di depannya ini membuat Shasha berfikir apakah karena dirinya bekerja di kantor Dion membuat Erza marah kepadanya.
"Woi ... woi ... lepas woi ...! ini kantor dunia nyata woi..! ini bukan taman bunga seperti di film-film India!" Riko berucap sambil bertepuk tangan agar mereka berdua sadar.
Dion yang tersadar segera melepaskan Shasha.
"Kamu gak papa."
"Gak, kamu mikirin apa?"
"Gak ada," bohong Shasha sambil membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Yakin gak papa?" tanya Riko.
"Iya, aku masuk dulu ya, aku akan segera mempersiapkan dokumen untuk meeting."
Shasha tidak tahu jika apa yang diucapkan Riko tadi hanyalah alasan agar percakapan antara Shasha dan kakaknya selesai.
"Meeting? Sepertinya dia mengigau." ucap Dion sambil mengerutkan keningnya.
"Tadi aku berucap asal, setelah aku mendengar bagaimana kakaknya membentak dirinya."
"Makasih Ko' " terimakasih ya sudah membantunya
"Aku susul dia dulu ya," pamit Dion sambil berjalan cepat karena hendak menyusul Shasha..
Dengan segera Dion menyusul Shasha yang sudah berada di ruangannya.
"Sha, meeting nya dibatalkan tidak jadi hari ini." Dion berkata saat masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Syukurlah," sambil berucap Shasha menata kembali map yang sudah ia persiapkan untuk meeting.
"Oh ya Sha," Dion memundurkan langkahnya menuju ke meja Shasha.
"Ada apa pak?"
"Tadi, itu kak Erza?"
"Iya,"
"Apa tak masalah aku tidak menyapanya?"
"Gak papa pak."
"Bagaiamana kabarnya?" tanya Dion basa-basi, karena sebenarnya pertanyaan Dion tidak kesana dia hanya ingin memancing Shasha agar terjebak dengan pertanyaan dari dirinya.
"Entah, aku sendiri belum menanyakan kabarnya tapi dia sudah pasang wajah menakutkan begitu."
Akhirnya Shashsa terpancing dengan pertanyaan ku.
Jadi kak Erza marah? Kenapa dia marah?
Lebih baik aku cari tahu dimana kak Erza menginap.
"Mungkin kak Erza merindukanmu makanya dia terlihat marah," jelas Dion berusaha menghibur Shasha.
"Tapi sebelumnya dia gak pernah seperti itu."
"Mungkin dia sedang banyak pikiran."
"Apa jangan-jangan dia tahu statusku yang sebenarnya ya?"
"Status? Status pernikahan mu? " tanya Dion yang mempertegas maksud dari pertanyaan Shasha.
"Iya, kamu tahu sendiri kan tadi dia datang jam berapa dan aku yakin dia sudah tanya ke orang-orang."
"Buat apa dia tanya, aku rasa bukan itu."
"Lalu apa ya? Kenapa kelihatannya dia semarah itu?"
"Mungkin masalah lainnya."
"Apa ya Dion?"
Dion kaget dia tak menyangka jika Shasha mengajaknya bicara layaknya seorang kawan bukan antara atasan dan bawahan.
"Mungkin kamu tidak pernah mengubinginya, makanya dia marah."
"Bisa jadi sih, karena semenjak istirnya melahirkan aku tak pernah berkabar."
"Mungkin itu."
"Oya, untuk status pernikahanku hanya kalian saja kan yang tahu?"
"Kamu khawatir Tara kan?"
"Ya, karena tadi Kak Erza bicara lumayan keras."
"Tenang saja, aku sudah mengaturnya."
Mendengar itu, setidaknya Shahsha dapat mengelus dada dan bernafas lega ternyata Dion dan Riko menepati janjinya.
"Baiklah, aku tinggal masuk ke dalam dulu ya Sha. Ada yang harus aku selesaikan." pamit Dion, dirinya yang masuk ingin segera meminta anak buahnya mengecek dimana Erza menginap.
Saat ini ia sedang sendiri, dirinya masih berfikir bagaimana cara menghubungi Daniel.
Aha, aku ada ide.
Kenapa gak dari tadi sih...
.
.
To be continued.
Ditunggu kelanjutannya😉😉
Jangan lupa tinggalkan jejak diceritaku ya guys, bisa like,comment atau kasih vote.
Terima Kasih.
__ADS_1